Monday, November 19, 2012

Ke Tanah Melayu

Beberapa hari sebelum  liputan hore ke Malaysia, sesekali pikiran saya sudah sibuk memilah antara “kami” dan “mereka,” orang Malaysia. Apa yang menjadikan kami “Indonesia” dan apa yang membuat mereka “bukan Indonesia.” Menginventaris apa yang kita miliki, dan apa yang tidak mereka miliki.

Beberapa jam awal berada di Kuala Lumpur, ternyata sangat mudah untuk segera merasa seperti di “rumah.” Seperti berada di  sebuah kota di Indonesia dengan versi yang lebih tertata. Dengan ruang yang lebih lapang untuk pejalan kaki, pohon dan taman yang lebih banyak, monorel yang tak membelah jalanan karena melintas di atas, dan bus yang layak dan nyaman. Sesekali macet, tapi bukan apa-apa dibanding Rasuna Said pukul 6 petang. 


Rasanya seperti makin berada di rumah, saat saya memencet remote TV dan mendengar logat Jakarta dalam sinetron pendek Indonesia. Pindah ke saluran lain, ada liputan wisata yang dibawakan sepasang artis Malaysia ke Medan. Di saat lain, sebuah kuis diadakan dengan hadiah paket liburan ke Bandung. Suasana Indonesia semakin lengkap dengan suara penyanyi Indonesia, Rosa, yang terdengar dalam taksi yang membawa saya dan beberapa teman menuju Malaysia Tourism Center, yang akan membawa kami tour keliling kota. 

Sempat keki, saat tour membawa kami mampir ke sebuah toko produsen dan penjual batik, yang kata sang tour guide adalah busana nasional mereka. Saya berusaha terus mengingat bahwa batik itu memang ada dan berasal dari berbagai tempat di dunia, dengan motifnya masing-masing. Motif khas Malaysia, adalah flora. Juga dilukis dengan canting, tapi dengan kain dibentangkan, dan dalam posisi berdiri. Jelas berbeda dengan yang dilakukan ibu-ibu pembatik di Jawa yang bersimpuh membatik motif-motif batik yang lebih detail. 

Berada di dalam toko batik, yang juga menjual aneka barang kerajinan lain, serasa seperti berada dalam toko souvenir di Yogyakarta atau Bali. 


Kami tak membeli apapun. 

Museum Nasional adalah tujuan kami selanjutnya. Isinya tentu tentang sejarah Malaysia, yang pasti juga adalah sejarah Nusantara. Saya tertegun saat menatap sebuah Kitab Bahasa Melayu - tafsir Jawa yang ditulis dalam aksara Jawa, berasal dari Pattani, Thailand Selatan. 

Selanjutnya, berbagai benda yang tak  asing seperti keris, dan keris besar yang mereka sebut sundang, wayang, hingga relief Candi Borobudur, mengisi sebagian besar isi museum. Pakaian adat yang dipajang adalah baju kurung Sumatra yang saya kenakan saat perayaan pernikahan saya di Bengkulu. 

Mendadak saya tak lagi mampu dan tak mau memberi batas antara “kami” dan “mereka,” orang Malaysia.
Rumah adat Malaysia juga adalah rumah panggung seperti di Sumatra.
Ayah sopir yang mengantar kami, adalah orang Medan. Seorang pedagang kaki lima di China Town, Jalan Petaling, yang menjual barang dengan harga sangat murah pada kami, ternyata lahir di Surabaya.

Melihat mereka, kami, kita, saya mulai melihat dunia dalam gambar yang lebih besar sebagai satu kesatuan.

"Race is a social concept, not a scientific one.
--  Dr. J. Craig Venter

Scraps of trip

-    Seorang pedagang kaki 5 di China Town (yang lahir di Surabaya tadi), menawarkan tumpukan kaos souvenir Malaysia seharga 6 ringgit, sambil berkata “Ini buatan Indonesia juga. Murah. Orang Singapur juga beli dari Indonesia.” Ia bilang, kaos-kaos itu tadi siang sudah diborong orang-orang Indonesia yang beli untuk oleh-oleh. Diimpor untuk dibeli lagi oleh Indonesia :-/
-    Pusat kajian Bahasa Melayu ada di 15 negara (termasuk Swiss dan Jerman), yaitu yang di universitasnya menawarkan program studi bahasa Melayu. Tapi Indonesia tak ada dalam daftar tersebut.
-    Saat janjian dengan sopir yang mengantar jemput kami di KL, tanpa ragu kami menyebut sebuah plang di depan kami bertuliskan “Laluan Sehala,” yang kami kira adalah sebuah nama jalan. Esoknya, kami baru sadar bahwa plang tersebut ada di hampir seluruh penjuru kota. Ternyata Laluan Sehala berarti : jalan satu arah. Hehe

Wednesday, October 31, 2012

Agama Setengah

Seorang teman Kristen yang bersekolah di Inggris pernah ditanya oleh teman sekelasnya yang atheis, “Mengapa kamu beragama?”
Ia menjawab, “Karena agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian.”
Si atheis : “Sebutkan negara di dunia ini yang menurutmu paling beragama, sekaligus paling membantu menciptakan perdamaian dunia.”
Teman saya terdiam. Ia tak yakin punya jawaban.

Meski saya tak suka ditanya “apa agamamu,” saya percaya pada Satu Kekuatan besar yang menciptakan kehidupan manusia, dan melakukan ritual agama yang saya maknai sendiri secara personal. Tapi…saya (berusaha untuk) tidak menyembah agama dan ritual-ritual di dalamnya.

Menurut saya, ritual itu tidak lepas dari konteks budaya dan sejarah. Meninjau ulang, apalagi merevisi simbol dan ritual dari sebuah agama, tentu akan mengubah otentitas agama itu sendiri. Tapi bagi saya, tinjauan ulang terus menerus itu harus dilakukan agar sebuah agama mencapai tujuan yang sesungguhnya. Bukan hanya sebagai status atau kebiasaan usang yang dibela mati-matian agar selalu tetap sama – tapi sesungguhnya mati.

--ditulis di Hari Raya Kurban, saat pengurus masjid berkata, “Pertambahan jumlah kambing dan sapi yang dikurbankan tahun ini menunjukkan pertambahan kadar keikhlasan dan keimanan umat.”


And I thought, how come?!


Dan di bawah ini adalah foto halaman masjid pasca ibadah hari raya. Manifestasi iman - yang katanya setengahnya adalah kebersihan - setelah mendengarkan kotbah tentang iman :).


Sunday, September 9, 2012

The (other) One that Got Away :)

These are my close college-mates. About two years after graduation, we have the same reason to gather more regularly : saying good luck to one of us who continue her study abroad. That's why we hardly ever to have photos of a full team :).
The first one who'll finish her master degree is Caca. Next month, she'll be back from Leeds, England.
The second is Unique, the one who stand on the left side, who's currently spending 3 months of holiday before coming back to Cosenza, Italy, this end of month.
And...now we're saying good luck to Tasha (the one that sit on my right), who'll leave for America (PS : amazingly, she'll be majoring non-profit NGO management!)
Have a great journey, Tas! :)






Sunday, July 1, 2012

#LewatDjamMalam

Iskandar baru saja kembali pulang dari perjuangan perang kemerdekaan. Sekuat tenaga, ia berusaha menjadi manusia "normal" seperti rekan-rekannya yang telah lebih dulu pulang. Mengenakan pakaian perlente, ia bekerja di kantor, tidur di rumah (calon mertuanya) yang nyaman, datang ke pesta, dan bersiap memiliki istri. Namun, pemikiran ulangnya tentang revolusi yang selama ini – ia kira – ia perjuangkan, menyanderanya.


Bolak balik ia bertanya, pada dirinya sendiri dan Gunawan, mantan atasannya, "Apakah orang-orang yang telah kubunuh itu memang benar-benar bersalah?" Ia terus dibayang-bayangi wajah dan tangisan wanita dan anak-anak yang telah ia bunuh atas nama revolusi.


“Bersalah atau tidak, itu tidak penting untuk revolusi!” jawaban Gunawan itu lambat laun membuat Iskandar yakin, bahwa laki-laki itu sebenarnya hanya memanfaatkan “revolusi” dan dirinya untuk mengambil harta jarahan para korban yang ia tuduh sebagai pengkhianat, untuk memperkaya diri sendiri.

Iklan #LewatDjamMalam saat itu. Setelah film selesai, saaya & semua penonton menunggu-nunggu credit title, tapi tak muncul. Anggaplah ini sekaligus credit title :)


Kondisi yang familiar dengan situasi sekarang kan? :) Yang mengagumkan, di tahun 2012 ini sekalipun, butuh keberanian luar biasa untuk membuat film yang menyorot sisi gelap sebuah pergerakan yang oleh sebagian besar orang dianggap suci. Bayangkan bagaimana legenda perfilman Indonesia, Usmar Ismail, membuat film itu pada 1954. Saat itu, bahkan kudeta atas nama revolusi pada 1965 saja belum terjadi.


Entah karena menyadari bahwa film ini begitu penting sebagai sebuah catatan sejarah maupun sebagai karya seni, National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation yang didirikan sineas dunia Martin Scorsese, merestorasi (memindahkan versi asli ke dalam bentuk digital) film berjudul “Lewat Djam Malam” ini. Sebelum diputar di Indonesia, film ini telah diputar di Festival Film Cannes pada 17 Mei, dalam kategori World Classic Cinema.

Saat bersiap-siap akan menonton film itu, saya sudah merelakan diri (dan uang) saya, untuk menerima kenyataan jika saya memang tidak akan benar-benar mengerti isi film itu karena ke”klasik”annya (semua yang berjudul klasik sering dianggap berat kan?). Karena tadinya tak berharap mengerti, jadi saya menonton film ini semata-mata untuk memuaskan rasa penasaran saja. Saya ingin tahu kenapa film ini dianggap penting – dan memang demikian. Ditambah lagi mengingat bahwa restorasi film ini menghabiskan dana 3 M. Dari jumlah itu, Indonesia hanya menyumbang 25 juta ;).


Jadi, saya pikir, betapa sayangnya melewatkan film yang di Jakarta, hanya diputar di Blitz Grand Indonesia (itu pun pukul 12 siang saja – yang pasti sepi penonton), dan di Plaza Senayan itu. Di waktu tayang yang seharusnya ramai pun film ini tetap sepi peminat sih. Hanya ada sekitar 30 orang, itu pun sudah bersama saya dan 4 teman.


Nyatanya, film yang “hanya” menceritakan kisah utama Iskandar dalam 24 jam itu sangat gamblang. Sederhana, tapi tajam. Dialog-dialognya menusuk, ke hati dan pikiran. Berikut beberapa petikannya :

“Revolusi belum selesai! Kau tahu itu. Apa guna merdeka, jika periuk nasi kita masih ditentukan oleh orang asing?”

“Aku seperti orang asing yang hidup dalam lingkungan orang-orang yang suka bicara yang bukan-bukan. Mereka tidak bersungguh-sungguh melakukan sesuatu.” (Iskandar tak habis pikir bagaimana orang bisa “santai” berpesta atau duduk di kantor, saat “revolusi” belum selesai)

“Kalau mau jujur, jangan hidup di sini!” (Gunawan – koruptor- pada Iskandar)

Puja (germo), membicarakan Laila – PSK yang mengoleksi gambar-gambar benda yang ingin ia beli suatu saat nanti : “Kerjanya hanya memimpikan hal-hal yang tidak mungkin bisa ia miliki.”
Iskandar : “Semua kita mengira kita bakal kaya. Apa bedanya dengan Laila?”

“Siapa yang akan kita lawan? Pemerintah? Bukankah dulu kita berjuang menegakkan pemerintah?

“Kau tak boleh menjadi hakim sendiri.”


“Siapa yang tidak kuat melawan kelampauan, akan hancur.”






Wednesday, April 4, 2012

Atas Nama Moralitas

Indonesia adalah rumah bagi isi kepala beragam spektrum ekstrim.

Beberapa waktu lalu, saya ditugasi meliput sebuah acara Komnas Perempuan. Kali ini temu nasional itu membahas tentang undang-undang diskriminatif atas nama moralitas dan agama. Pada sebuah sesi tanya jawab, dengan berapi-api, seorang pria dari sebuah LSM bertanya kepada kepala biro hukum Kemendagri yang sedang duduk sebagai pembicara. “Gara-gara Anda tidak merevisi undang-undang pernikahan, jutaan anak perempuan di bawah umur di negara ini dinikahi oleh orang-orang seperti Syekh Puji!” katanya. Meski tentu saja kegeraman itu harusnya ditujukan pada Departemen Agama, namun semangatnya jelas layak didukung. Penegakan hukum yang melintasi batas-batas bias agama, dalam hal ini, adalah satu-satunya  jalan menyelamatkan anak-anak itu.

Persis keesokan harinya, saya datang ke sebuah talkshow dalam rangkaian acara pesta buku agama. Seorang penulis fiksi bernuansa agama sedang bicara di panggung. Sebutlah Kang A. Itu pertama kalinya saya benar-benar mendengarkan ia bicara langsung. Saya mengagumi si penulis yang sudah mengeluarkan banyak buku best-seller yang diangkat ke layar lebar. Pada sesi tanya jawab, seorang pria bertanya, “Bagaimana tanggapan Kang A tentang undang-undang pernikahan di Indonesia yang tidak memperbolehkan perempuan di bahwa usia 16 tahun untuk menikah? Padahal kita tahu, di jazirah Arab, pada usia belasan mereka sudah boleh menikah.”
foto : getty images

Jawaban Kang A sungguh tak saya sangka-sangka. “Pertanyaan yang bagus! Itulah masalah di negara kita! Ini karena orang zaman dulu imannya lebih kuat daripada manusia zaman sekarang. Orang sekarang takut kalau disuruh berkeluarga di usia muda. Mereka tidak percaya kepada Allah semata. Padahal, buyut saya dulu menikah di usia 15, istrinya 13 tahun. Tidak ada tuh anak-anaknya yang terlantar.” Saat memandang ke sekeliling, saya lebih terkejut lagi karena hanya saya satu-satunya orang yang menggeleng-gelengkan kepala dengan dahi berkerut. Pengunjung yang lain mengangguk-angguk tanda setuju.

Dan kedua seruan bertolak belakang itu terucap lantang di negara, tepatnya kota yang sama.

Friday, March 2, 2012

Indonesia Bagian Kiri

View from the top 


Saat berada di Maumere, seorang teman wartawan menceritakan celetukan seorang warga Papua - yang menurut saya pasti isi hatinya tidak jauh berbeda dengan warga Flores : "Saya ingin bertanya. Mengapa Garuda itu selalu menoleh ke kanan? Ke Jawa, ke Jakarta. Tidak bisakah sekali-sekali ia menoleh ke kiri, memikirkan nasib kami warga Indonesia timur ini?" :(

Bandara Frans Seda. Tragedi tas saya yang jebol - tanpa kompensasi


Tidak hanya pemerintah, disadari atau tidak, kita sendiri enggan menoleh, apalagi bertandang ke Indonesia bagian kiri. Perlu 2 - 3 kali transit dari Jakarta untuk bisa sampai ke tanah Flores, dengan mempersiapkan nominal yang mungkin sama dengan berlibur 2 -3 kali ke Singapura atau Bangkok. Ditambah, harus siap bersahabat dengan listrik (dan air) yang kadang antara ada dan tidak, dan juga sarana dan layanan seadanya.


 "Sebuah rumah itu belum lengkap tanpa babi," kata Ryan, LO kami di Maumere. Di Flores, babi diternakkan sebagai harta yang punya nilai tukar tinggi. Saya duga, babi-babi ini juga hidup makmur. Dugaan itu terkonfirmasi setelah Ryan menambahkan, "Kami hanya makan buah segar, langsung dipetik dari pohon. Kalau sudah jatuh ke tanah, kasih ke babi saja!" :)


Kami - yang datang dari Jakarta - selalu berteriak heboh setiap aneka olahan ikan khas Flores sampai di meja kami. Apalagi yang disajikan bersama ALPUKAT. 
Di saat seperti itu, teman-teman Flores akan memandangi kami dengan heran & berkata, "Kasihan ya orang Jakarta. Tidak pernah makan ikan segar." 





Warga Flores - setidaknya Maumere - punya minuman fermentasi sendiri serupa arak Bali. Namanya MOKE. Cara penyulingannya seperti di gambar di samping.
Mereka membawa moke saat bekerja - misalnya di ladang, sebagai penambah tenaga (katanya). 
Saat mencobanya pertama kali, saya menyimpulkan bahwa itu minuman alkohol terenak dan paling bersahabat yang pernah saya minum. Tapi, saat saya mencobanya lagi di sebuah akhir pekan, saya merevisi kesimpulan itu. Rasanya jauh lebih keras. "Moke yang beredar di malam minggu selalu adalah moke kualitas terbaik," sahut seorang teman Flores, terkekeh, saat saya komplain. 


Kain tenun Flores (yang terkenal dari Sikka) ini dijual terlalu murah! Setelah mewarnainya selama berbulan-bulan, dan menenunnya berminggu-minggu, mereka hanya menjualnya seharga seratus ribu rupiah! (seukuran taplak meja makan yang panjang).
Belum ada pusat penjualan kain tenun yang layak dan terorganisir. Saat saya datang ke Sikka, mama-mama penenun itu menjual kain mereka di DEPAN RUMAH mereka. Menanti turis datang. LSM yang membeli kain mereka untuk dijual kembali ke luar negeri, membelinya dengan harga yang tidak sepadan dengan jerih payah mereka.  
 



Tidak ingin berpisah jauh dengan kerabat yang sudah meninggal, warga Flores menempatkan makam leluhur mereka di depan/ samping rumah.



Seperti di belahan Indonesia lain, di Flores, sehari-hari mama-mama tua mengunyah  sirih dan pinang


MUSIK. Warga Flores tak bisa hidup tanpa musik (dan menari). Kendaraan umum (mikrolet) di Maumere - dan di sebagian besar kota memutar musik dengan suara kencang, menciptakan dentuman-dentuman yang memekakan telinga. 

Jual ikan pun harus sambil mendengarkan musik!


Gereja tertua di Kabupaten Sikka, sekaligus tertua di Flores. Didirikan Portugis pada 1889


Nasi merah organik di Flores justru lebih murah dibanding nasi putih. Mereka menanamnya sendiri di pekarangan rumah. 



Mana yang pertama dipegang? Selanjutnya? Lalu yang mana lagi? :)












It's called naive fashion :)












Wanita Flores & kain-kain cantiknya



Tenun lintas generasi :).
Diperlukan kerjasama dua orang untuk menenun sehelai sarung.
Greenland-nya Indonesia :)

Friday, January 27, 2012

Back to Backpack


Menurut saya, tidak ada jenis tas yang lebih rasional daripada tas ransel. Bentuknya yang relatif besar sangat memungkinkan memuat banyak benda. Posisinya yang bergantung di punggung membuat kedua tangan bisa bergerak bebas. Super praktis. 

gettyimages
Masalahnya, tas ransel itu elemen yang super salah jika ingin tampil lebih feminin. Sejak memasuki tahun kedua kuliah, seiring dengan bergantinya kaos-jins-sepatu converse dengan blus-rok-flat shoes, saya sudah menjaga jarak dengan ransel dan hanya menyapanya saat akan traveling (yang mana bisa dibilang sangat jarang). 

Bertahun-tahun setelah masa itu, tepatnya beberapa hari lalu, di hari ulangtahun, saya menghadiahkan tas ransel untuk diri sendiri. Entah kenapa rasanya senang sekali kembali mengenakannya, meski hanya dipakai untuk membawa sepatu dan baju olahraga ke kantor, maksimal 2 kali seminggu. Seperti sebuah tanda kembalinya jati diri dan masa muda yang tanpa beban. hehe.
Udah, cuma mau cerita itu :-D

Friday, January 13, 2012

Pelawak (Harus) Jenius

Sering ditertawakan, bukan karena bodoh. Justru sebaliknya.

fotografer : Wari Artiko
Kapan terakhir kali bicara di hadapan orang banyak?
How did it feel?
Bagaimana kalau tiba-tiba kita harus merancang sesuatu untuk membuat sekian banyak orang itu tertawa?
Pasti stress.
Apa yang akan dikatakan?
Bagaimana jika ternyata lawakannya tidak lucu?

Bayangkan seorang pelawak harus menjalani itu semua. Meski mereka punya bakat alami sekalipun untuk tampil di muka umum, perlu mental baja untuk tetap berusaha melucu jika tak ada seorang pun tertawa.



Saat mengunjungi rumah Melaney Ricardo, sang ayah menyambut kami dengan jabat tangan dan obrolan panjang.
“Melaney di rumah suka ngelucu juga nggak Pak?” saya bertanya.
Pak Ricardo : “Oh enggak! Dia orangnya sangat tegas dan serius.”

Dengan bangga, ia lalu bercerita tentang anak sulungnya itu yang lulus cum laude dari fakultas hukum. Seperti orangtua umumnya, awalnya sang ayah meminta Mel untuk jadi pengacara atau semacamnya.

Namun ternyata selama kuliah, Mel menekuni minatnya yang lain menjadi penyiar radio. Setelah terbukti sempat menjadi penyiar terbaik di HardRock, Ricardo membebaskan sang putri berkarier di bidang yang jauh dari disiplin kuliahnya.

“Jadi presenter itu IQnya harus tinggi. Harus banyak baca untuk dapat bahan siaran. Saat dalam perjalanan di mobil, Mel juga suka mendengarkan pidato tokoh-tokoh besar,” katanya. Saya mendengarkan sambil sesekali memandangi foto tiga bersaudara yang berjajar dengan toganya masing-masing.
And  I agree with him.

NB : Meski begitu, saya nggak bilang semua pelawak itu jenius ya :)

Stories inside my head

Share this blog