Sunday, August 24, 2014

Kepada Tuhan yang Sama yang Membelah Lautan untuk Musa

Kepada Tuhan yang pernah kusebut dengan nama-nama berbeda. Kudekati dengan cara-cara berbeda. Kubayangkan dengan sinar maupun sosok yang berbeda.

Seumur hidup, aku diberitahu dan membaca, bahwa Engkau melakukan hal-hal besar di masa lalu. Engkau adalah Tuhan yang sama yang membuat tongkat Musa membelah lautan untuk Israel. Engkau meniupkan mukjizat terbesar dalam rahim Maria, yang kedatangannya dinantikan kembali di akhir zaman.  Engkau memillih seorang yang buta aksara untuk menurunkan ayat-ayat-Mu.

Kini Engkau tetap Tuhan yang sama, yang suara-Mu barangkali – di telinga dan mataku- tertimbun nyaring suara TV, dering peringatan  pesan masuk di telepon genggam, terhalang kelebatan cepat gambar-gambar di layar.

Di tengah semua itu, Tuhan, Engkau seakan berhenti bicara. Tak lagi ada. Berhenti bertindak. Mengharap pertolongan dan keajaiban-Mu, seperti dalam Alkitab, menjadi  doa yang ganjil dan usang. Orang yang (menyangka dirinya) mendapat bisikan-Mu pasti serta merta dicap gila. Padahal semua orang setiap hari, aku yakin, mengharap hal serupa bisikan itu.

Aku berkali-kali menggunakan nama-Mu untuk membenarkan tindakanku, dan kecewa jika ternyata jalan yang kupilih tidak berujung kelapangan. Dengan gusar aku bertanya-tanya, mengapa Engkau tidak memberi tanda, sebuah petunjuk yang harusnya membuatku tidak mengambil sebuah jalan yang tidak berujung cahaya. Buntu. Semu.

Memungut pelajaran besar – yang diajarkan dengan keras – dari jalan buntu itu pun seperti tidak sebanding dengan kesedihan dan luka yang dirasakan akibat menempuhnya. Apalagi ketika ada orang lain yang ikut serta menyusuri jalan yang sama.
Dan semakin banyak “kenapa” yang belum bisa kuajak berdamai. Bahkan aku lelah mencoba meminta.

Kepada Tuhan yang sama yang meletakkan pelangi, busur panah-Nya di langit, sebagai perjanjian-Nya  dengan Nuh dan penghuni semesta, setelah air bah.  

Di batas kesombongan dan putus asa, aku menagih janji-Mu. Janji untuk membuatkan rencana indah yang tepat terurai pada waktunya. Sekaligus bertanya-tanya apakah aku sendiri yang sudah mengacaukannya.
Bisakah semua kembali pada tempatnya dan berjalan seperti semula?
Atau Kau berubah pikiran dan sedang membentangkan rencana lain?

Kepada Tuhan yang menempatkan kemudian menyelamatkan Yunus dari dalam perut ikan.
Pada akhirnya aku tahu (atau menyangka) bahwa Kau mengizinkan semua keputusan manusia terjadi, dengan setiap jengkal gelap terang dan berat ringan akibatnya.

Tapi kali ini Tuhan, aku ingin dipilihkan jalan saja. Sekali ini, aku ingin dibuatkan peristiwa ajaib yang membuatku takjub dan akhirnya berkata, “Inilah yang diinginkan Tuhan.” Sehingga tak ada orang yang bisa menyebutku salah langkah (lagi).

Kepada Tuhan yang membolak-balikkan jalan hidup Ayub.
Katanya keajaiban-Mu di masa kini ada di balik peristiwa-peristiwa kecil sehari-hari. Aku yang sering luput memperhatikan, atau memilih mengabaikan.

Yang masih kuyakini, bahwa mencoba memahami-Mu dan jalan-Mu, Tuhan, pada akhirnya seperti upaya menampung lautan dalam genggaman tangan - yang bahkan tak sanggup memeluk diriku sendiri.

Tuhan yang melumpuhkan Goliat di kaki Daud dan memberikan gada dan tongkat untuk menuntunnya ke air yang tenang, aku (ingin) percaya bahwa jalan ini justru adalah keajaiban. Setidaknya biarkan aku mengira demikian. Siapapun akan merasa lebih tenang jika menganggapnya begitu.


Pada ujungnya, sebelum aku memulai perjalanan yang lain, barangkali aku tidak menjadi lebih bahagia, bijak, atau kuat. Tapi setidaknya…sekali lagi aku mencari-Mu setelah sekian lama.

2 comments:

Anonymous said...


Apakah artinya kelimpahan tanpa pengemis?
Keramahan tanpa tamu?
Jadilah pengemis. Jadilah tamu;
Karena kecantikan mencari cermin,
Air memanggil pencari yang haus.

Putus asa dan kefakiran
adalah ceruk pengikat merah delima.
Kefakiranmu adalah buraqmu,
janganlah menjadi peti mati,
yang hanya menunggang
pundak orang lain.

Bersyukurlah kepada-Nya
akan keterbatasanmu,
tanpa itu, boleh jadi engkau bersikap
bagaikan Fir'aun.
Musa a.s, merintih dalam doanya,
"Rabbi, inni lima anzalta 'ilayya min khayri fakiir." [1]

Jalan Musa a.s. sepenuhnya tersusun dari
putus asa dan kefakiran,
dan itu adalah satu-satunya Jalan
menuju Rabb.

Sejak engkau bayi,
kapankah keputusasaan
pernah mengecewakanmu?

Jalan setapak yang ditempuh Yusuf a.s.
membawanya dibuang ke dalam sumur;
janganlah menghindar
dari papan catur alam dunia ini,
karena ini adalah permainan-Nya,
dan selalu kita yang terkunci mati.

Lapar membuat roti tawar
lebih lezat daripada halvah.
Ketidaknyamananmu
adalah salah cerna spiritual;
carilah lapar, rindu dan kebutuhan.

Seekor tikus mengerat sedikit demi sedikit.
Rabb memberinya akal
selaras dengan kebutuhannya.
Tanpa kebutuhan,
Rabb tak akan memberi apa pun.

Bagaimana engkau akan menarik perhatian Rabb?
Bukankah hutangmu pada-Nya tak terhitung?

Seorang pengemis akan memperlihatkan
kebutaan serta kustanya,
tak akan dia berkata,
"Wahai tuan, berilah aku roti;
karena aku adalah seorang hartawan
pemilik lumbung dan istana."

Bawalah seratus kantung emas
dan Rabb akan berkata,
"Bawalah qalb-mu."

Dan jika yang engkau bawa
adalah qalb yang mati,
bagaikan peti mati di atas pundakmu,
Rabb akan berkata,
"Wahai penipu, Engkau bagai kuburan!
Persembahkan qalb yang hidup,
qalb yang hidup!"

Jika tak engkau miliki pengetahuan,
hanya prasangka semata,
punyailah prasangka yang baik akan Rabb.
Itulah jalannya.

Jika engkau hanya bisa merangkak,
merangkaklah kepada-Nya.

Jika tak mampu engkau berdoa dengan jujur,
setidaknya persembahkan doamu yang kering,
munafik dan penuh keraguan pada-Nya;
karena Rabb, dengan Rahmat-Nya,
juga menerima mata uang penuh karat.

Jika engkau miliki seratus keraguan akan Rabb,
setidaknya kurangilah menjadi sembilan puluh.
Itulah jalannya.

Wahai pencari,
walaupun telah seratus kali
engkau ingkari janjimu,
bertaubat, dan bertaubatlah kembali!
Karena Rabb telah bersabda,
"Ketika engkau sedang mi'raj
atau terpuruk di dalam sumur,
ingatlah Aku, karena Akulah
Jalan itu."

(Maulana Jalaluddin Rumi)

Lucia Priandarini said...

Terima kasih. Siapapun Anda. Mata ini basah di hari sepagi ini.
27 Agustus 2014, pk. 03.36

Share this blog