Monday, January 17, 2011

"Eco-Friendly" atau "Self-Friendly?"

Seorang kenalan berkebangsaan Jerman mengaku datang ke Indonesia dengan menempuh jalur darat dan laut. Menurutnya bepergian lewat jalur darat dan laut dengan kendaraan massal lebih ramah lingkungan dibanding jalur udara. Alasannya, nitrogen yang dihasilkan dari hasil buangan mesin pesawat mengakibatkan kerusakan lapisan ozon lebih parah daripada  yang diakibatkan CFC (Cloro Fluoro Carbon)

Ia memilih susah payah menghabiskan waktu berhari-hari mencapai Indonesia dibanding beberapa belas jam di pesawat, hanya karena tak ingin ikut ambil bagian dalam perjalanan yang disebutnya merusak lapisan ozon. Mendengar itu, untuk beberapa detik saya bingung harus kagum atau melontarkan pertanyaan “Ha? Segitunya ya?”

Jadi ingat saat suami saya pertama (dan terakhir) kali mengendarai sepeda lipatnya dari rumah ke kantor. Begitu sampai rumah dengan pakaian basah kuyup oleh keringat, ia mengeluh beberapa kali nyaris tertabrak kendaraan bermotor, mata jadi merah terkena debu meski sudah pakai kacamata, belum lagi panas matahari Jakarta yang dengan cepat membakar sumbu kesabaran. Alhasil, besoknya ia berhenti naik sepeda dan kembali mengendarai kendaraan bermotor. 

Melakukan perubahan gaya hidup atas nama cinta lingkungan memang tidak pernah mudah. Berganti naik kendaraan umum setelah bertahun-tahun nyaman berkendara sendiri ; menggunakan popok kain untuk bayi dan repot mencucinya setiap hari, sementara ada popok sekali pakai buang ; menyediakan waktu khusus untuk mendaur ulang sampah dapur jadi pupuk ; membawa sampah dalam tas saat belum menemukan tempat sampah ; membawa kotak makan sendiri untuk menghindari pemakaian stereofoam saat membeli makanan. Sebagian (besar) orang mungkin akan berkata : “Ah, yang benar saja!” Hidup harusnya jadi lebih mudah dari hari ke hari. Tapi semua hal di atas rasanya menjadikan hidup jadi lebih rumit.

Namun memang begitulah adanya.Sebuah tujuan besar seperti menyelamatkan lingkungan memang harus diawali kesediaan mengubah hal-hal kecil setiap hari. Selain kesediaan untuk menyediakan tenaga, waktu, dan ketekunan lebih, ada kalanya peduli lingkungan juga memerlukan tersedianya sesuatu yang lain : uang lebih.

Ramah Lingkungan vs Ramah Kantong
Pilih mana, celana jins dengan harga terjangkau tapi berpotensi merusak lingkungan, atau yang 100% terbuat dari serat organik dan aman lingkungan tapi harganya tiga kali lebih mahal? Mengkonsumsi sayuran yang kemungkinan besar tumbuh dengan pestisida tapi harganya murah, atau sayuran organik yang bebas pestisida tapi harganya jauh lebih mahal? Bagi konsumen dengan uang pas-pasan, ini bukan pertanyaan sulit. Tentu saja pilih yang murah.

Untuk hal yang menyangkut materi seperti di atas saya lebih mudah memaklumi. Kadang saya juga dihadapkan pada pilihan yang sama dan memilih yang murah. Mau bagaimana lagi? Saya yakin jika terjangkau kantong, orang yang benar-benar peduli dan mampu akan memilih produk yang lebih mahal tapi ramah lingkungan. Di lain pihak, kadang saya berprasangka buruk bahwa gerakan penyelamatan lingkungan ada kalanya hanya menjadi tren yang dimanfaatkan beberapa korporasi untuk melipatgandakan margin.Semoga hanya prasangka saya.

As Long as Not in My Backyard

Betapa pun sulitnya, tindakan-tindakan kecil untuk bumi yang lebih baik harus tetap dilakukan. Agar lebih berhasil, menurut saya, ada baiknya kampanye “selamatkan lingkungan”  diganti menjadi “selamatkan diri Anda sendiri.” Kata-kata “selamatkan lingkungan” terkesan hanya urusan orang-orang tertentu, atau hanya berlaku di saat-saat tertentu seperti Hari Bumi. Selama tidak di halaman rumah sendiri, sebagian orang tak akan peduli apakah ia atau orang lain membuang sampah di selokan, di tengah jalan, atau di halaman rumah tetangga. Selama hidup kita sendiri baik-baik saja, nanti-nanti saja lah memikirkan lingkungan.

Adalah tugas kita yang mengerti untuk melakukan tindakan nyata. Hey! Ini memang tidak mudah. Tapi bisa dilakukan, mulai dari diri sendiri. Karena di atas semua usaha untuk menyediakan tenaga, waktu, ketekunan, dan uang, menyelamatkan lingkungan memerlukan kesediaan untuk…melawan diri sendiri.




Tuesday, January 11, 2011

Thanx to Twitter & Facebook. Things become So Easy...or Not?

Thanx to the social media. Sekarang sangat mudah mendapat dan memberitakan sesuatu dari dan ke seluruh dunia. Kabar penting, cerita bahagia, kisah galau, dan juga…umpatan. Sangat mudah berbicara dengan siapapun dari kasta manapun yang dulu cuma bisa dilihat di infotainmen atau di istana negara. Tinggal mention, kirim pesan pribadi, atau nulis pesan di wall (tentu saja dengan harapan orang yang kita tuju tak mensetting akun mereka dalam status protected/locked). And…surprise! Kadang beberapa dari orang-orang terkenal itu benar-benar membaca dan membalas mention/ pesan kita.

It’s easy.
Too easy.

But there’re always two sides of a coin. Kadang saya berpikir bahwa sebenarnya sungguh tidak mudah hidup di zaman serba mudah ini. Tidak hanya mudah menjangkau orang yang kita idolakan (terlepas dari apakah mereka merespon balik), tapi juga sangat mudah menjangkau orang yang tindakannya tidak kita sukai. Atau setidaknya, membicarakan tindakan mereka yang menurut kita salah.

Sebut saja orang-orang/lembaga yang sering jadi trending di twitterland, seperti Bpk. Nurdin Halid (tumben saya panggil bapak :-D), Tifatul Sembiring, Gayus, “TV merah,” PSSI, Bakrie, SBY. Tindakan / ucapan / pola pikir orang-orang ini (yang mungkin juga cuma salah kita mengerti) memang bikin kita geleng-geleng kepala dan mikir “Is he mad?!” atau “Nyesel dulu ngedukung dia!” atau “Bego banget sih!” Saking frustasinya, mau ngadu ke mana lagi selain mengetik sumpah serapah ke twitter.

Khusus Bpk Tifatul Sembiring yang kebetulan punya akun Twitter, sejujurnya saya ngeri juga baca komentar orang-orang yang langsung tertuju ke akun twitternya. Entah terbaca atau tidak, tapi kalau saya ada di posisi beliau, mungkin rasanya mengenaskan juga ya. Salut untuk kesabaran beliau untuk tidak merespon semua twit umpatan itu.

Berkaitan dengan umpat mengumpat ini, baru tadi pagi saya mikir…niat saya apa ya ikut-ikutan menyatakan ketidaksetujuan saya sama tindakan si X, pakai kata-kata mutiara pula’ (s*rap, bo*oh, dll). Ini yang saya bilang nggak mudah hidup di zaman mudah.  Saking gampangnya cuap-cuap, maka menahan diri untuk hanya berkomentar yang isinya bermanfaat itu (ternyata) jadi mahasusah.
Angkat bicara tentang current issue apapun itu boleh banget, harus malah. Tapi ada perbedaan super tipis antara menyatakan pendapat dengan mengumpat. Antara konsistensi dengan selalu merasa benar sendiri. Antara memberikan solusi dengan menutup kemungkinan ada kebenaran dalam pendapat orang yang sudah kita cap bersalah.
Bagaimanapun kita gemes sama tindakan orang lain, selalu ada yang bisa kita teladani dari mereka (misalnya, segemes apapun saya sama alm. Soeharto, saya memuja propaganda beliau yang sukses membius generasi 5 dasawarsa. Hehe).

Saya sih (sedang berusaha) tetap percaya tujuan yang baik mestinya bisa dicapai dengan cara yang baik. Kritik yang tujuannya membuat jadi baik mestinya juga bisa disampaikan dengan cara yang baik.
And yes, it is so not easy.

PS : specially written for my dearest friend as well as best rival, Lya. Sungguh menyesal sudah lalai mengecek niat sebelum berkomentar.

Stories inside my head

Share this blog