Tuesday, January 15, 2008

HARI INI TIDAK ADA TEMPE

“Hari ini nggak jual tempe, Mbak!” kata pelayan warung makan dekat kos saya saat saya akan makan pagi di situ. “Hah?! Kok bisa?” Saya tak percaya. Tapi Nami, nama si pelayan, tidak menjawab pertanyaan saya dan langung sibuk melayani pembeli lain. Baru hari ini dalam sejarah hidup saya, saya tidak menemukan tempe di sebuah warung makan (kecuali di beberapa bagian lain di Indonesia yang memang jarang mengkonsumsi tempe). Emang tempe ada musimnya? Kalau hari ini tidak ada udang atau buah nangka, saya bisa memaklumi.

Tapi ini kan negara tempe! (dengan mental tempe juga. He2) Saya besar dengan tempe. Hampir setiap hari saya makan tempe, lauk yang menjadi solusi bagi ibu saya sebagai perempuan pekerja yang harus masak dengan cepat. Gimana hari ini bisa nggak ada tempe?! Masa’ iya Nami lupa beli. Gorengan tempe di warung itu kan selalu habis kurang dari sejam setelah digoreng. Huuu...akhirnya saya harus merelakan hari ini tanpa tempe.

Sore hari, saat menonton berita di TV, pertanyaan saya terjawab. “Ratusan pedagang tahu dan tempe berunjuk rasa karena kenaikan harga kedelai yang mencapai lebih dari dua kali lipat. Setengah dari para pedagang seJabodetabek itu gulung tikar karena tak mampu memproduksi tempe dan tahu lagi.” Karena demonstrasi itu, hari ini (14 Januari 2008) memang tidak ada tempe di Jabodetabek. Wah wah wah... Gawat bener. Kalau pemerintah tidak bisa menstabilkan harga tempe, bisa-bisa nggak akan ada tempe lagi.

Saya jadi ingat Haji Ikrom, pengusaha kripik tempe di Malang yang beberapa bulan lalu pernah saya wawancarai. Lewat pembicaraan itu saya baru tahu bahwa kripik tempe yang biasa saya makan itu dibuat dari kedelai impor dari Amerika dan Cina. Bukan karena gaya. Tapi karena berdasarkan pengalamannya, kripik tempe yang baik hanya bisa dihasilkan dari kedelai impor. Menurut Ikrom, tahun 1980 – 1990an kualitas kedelai lokal memang lebih bagus dari kedelai impor. Awalnya mereka juga menggunakan kedelai lokal. Tapi setelah 1990-an kedelai impor lah yang kualitasnya lebih baik (kenapa ya?). Kedelai lokal hanya baik untuk dijadikan tahu, tapi tidak dengan tempe. Kedelai impor yang dikirim ke Indonesia hanya untuk dikonsumsi, tetapi tidak bisa ditanam di Indonesia. Sedangkan harga keduanya relatif sama. (man!!)

Bukan hanya itu saja. Yang lebih mengganggu pikiran saya adalah sekarang saya sedang semangat-semangatnya belajar tentang investasi di komoditas (Tentu saja hanya sekedar ingin tahu. Saya belum punya uang puluhan juta untuk saya pertaruhkan). Saya kurang paham mekanismenya, tapi yang saya tahu harga kedelai ini memang mau tidak mau didasarkan pada harga di pasar bebas. Dan di saat harga kedelai naik, para traders yang berinvestasi di komoditi ini dan sedang memasang posisi jual pasti akan mendapat keuntungan berlipat ganda. Sementara... di saat yang sama para pengusaha tahu tempe menuju ke kebangkrutan. Hmm... =’(

Friday, January 11, 2008

LEBIH BAIK SEDIKIT TAPI CUKUP DARIPADA BANYAK TAPI KURANG

Saya mengangguk-angguk setuju saat membaca tulisan di atas pada kaos Joger yang dipakai seseorang di depan saya suatu hari ketika mengantri busway. Kalimat itu persis menggambarkan perasaan bersalah saya sekarang. Sudah lama saya merasa terlalu banyak barang dalam kamar saya. Idealnya ketika saya membawa satu barang baru ke dalam kamar, saya harus merelakan satu barang lain yang sejenis untuk dibuang.

Dulu saya adalah tipe orang yang memakai alas kaki, tas, hingga ikat rambut yang sama setiap hari, ke manapun, dalam acara apapun, dan saat memakai baju warna apapun. Dan saya baru akan berganti barang hanya jika barang yang lama sudah benar-benar rusak.

Tapi setelah lebih dari 3 tahun tinggal di Jakarta raya ini saya mulai ikut arus. Sekarang saya punya lebih dari 10 pasang sepatu & sandal, lebih dari 10 tas beraneka warna dan bentuk, sampai lebih dari 10 warna ikat rambut. Semuanya untuk dicocokkan dengan jenis kegiatan yang akan saya lakukan, warna baju yang akan saya pakai, sampai ke mood saya hari itu.

Dibandingkan dengan teman-teman kampus saya yang seakan-akan memakai baju baru setiap hari, saya memang masih jauuuuh tidak modis, jauuuuh tidak memperhatikan penampilan. Teman-teman dekat saya bahkan hapal isi lemari saya (karena setiap kali saya memakai baju yang benar-benar baru mereka langsung komentar,”Baru nih?”). Tapi...entahlah, tetap saja saya merasa bersalah. Karena semakin sering saya membeli lebih banyak barang, justru saya semakin merasa kekurangan. Ingin lagi dan lagi!

Dan saya mulai...stress! Saya percaya bahwa pada dasarnya segala sesuatu yang berlebihan itu cenderung negatif. Dan sekarang saya stress karena rasanya saya punya terlalu banyak barang! Saya terlalu sering membeli barang. Saya terlalu banyak menghabiskan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih berguna. (Well, satu-satunya jenis barang yang masih terampuni dari penuhnya kamar dan lemari saya mungkin hanyalah semakin banyaknya buku yang tak muat lagi di rak)
Saya semakin stress ketika bepergian dan melihat begitu banyak orang di Jakarta ini yang bahkan tak punya uang untuk makan (di saat yang sama saya akan pergi ke mall membeli tas/baju lagi). Jadi selain berpikir 2 kali setiap kali akan membeli barang (yang bukan makanan), saat ini saya sedang berpikir bagaimana caranya memindahkan isi lemari saya ke tangan-tangan yang benar-benar membutuhkan. Anyone could help? :)

Stories inside my head

Share this blog