Thursday, November 25, 2010

I Love CRIME !

Dulu saya sempat pingin masuk jurusan Kriminologi. Gara-gara kecanduan nonton film-film serial di Fox Crime (&Fox Channel), saya jadi berangan-angan ingin jadi investigator/ detektif / ahli forensik/ apapun yang berhubungan sama pemecahan kasus kejahatan. Saya sampai hapal tuh jalan cerita beberapa episode  The Practice, Dexter, Burn Notice,NCIS, CSI, dan sekarang Bones, Warehouse 13, Psych, dan kawan-kawannya. 

Ibu saya saja yang awalnya mengernyitkan dahi melihat saya nonton serial yang isinya mayat berdarah-darah, kadang jadi ikutan nonton. Bukan (cuma) karena TV di rumah saya monopoli hampir sepanjang hari (bukan sarjana Komunikasi teladan ya), tapi karena serial-serial ini memang menarik!  

Kenapa? Karena bikin otak mikir :-D (entah apakah ini membuktikan saya jarang pakai otak. Haha). Saya jadi tahu bahwa memecahkan kasus kejahatan itu harus pakai berbagai ilmu, mulai dari fisika, kimia, budaya, psikologi, sosiologi, sampai bahasa. Misalnya dari darah korban, menggenang atau berbentuk tetesan (tetesannya pipih atau bulat), bisa diketahui si korban ditusuk, dipukul, atau ditembak. Lalu dari sudut tembakan kita juga bisa tahu saat ditembak korban sedang dalam posisi duduk atau berdiri, juga bisa tahu perkiraan tinggi badan si pelaku. Beberapa kali ada kasus penundaan eksekusi hukuman mati karena ditemukan bukti baru (berkat ilmu yang berkembang) yang ternyata membuktikan si terdakwa nggak bersalah. Padahal kejadian kejahatannya sudah puluhan tahun lalu. Niat banget kan detektifnya. Saya jadi belajar betapa berharganya keadilan(di film itu).

Saya yakin di setiap episode penulis skenarionya tuh harus bikin riset mendalam dulu tentang banyak hal. Kasus-kasusnya  juga super rumit. Susah ditebak ending dan siapa pelakunya. 

Dari semua serial, saya paling suka sama…Dexter! Film-film lain dibuat dari sudut pandang tokoh-tokoh protagonis (polisi/ detektif yang sedang memburu pelaku kejahatan), sementara Dexter dibuat dari sudut pandang si penjahat. Si Dexter ini kerjanya ahli forensik tapi juga adalah seorang pembunuh berantai. Jadi dia nggak pernah tertangkap karena tahu persis cara kerja ahli forensik (dan cara mengacaukan bukti). Hebat nggak tuh ide ceritanya. Saya jadi mikir bahwa para penjahat itu sebenarnya orang-orang yang sangat cerdas. Dan itu kenapa jadi polisi harusnya jauh lebih cerdas. Hehe.

Balik lagi ke CSI dan semacamnya, lama-lama saya jadi memuja tokoh utama di film-film itu : Horatio, Jethro, dan kawan-kawannya. Berangan-angan seandainyaaa di dunia nyata para penegak hukumnya juga maha cerdas, bijak, dan berdedikasi kayak gitu.
Jadilah saya dulu pingin jadi pahlawan kayak mereka (dengan masuk Kriminologi). Sekarang sih enggak lagi. Cukup nonton aja. Apalagi setelah baca update status seorang teman saya yang lulusan Kriminologi : “Pingin rasanya gue bakar nih ijazah. Nggak ada satu pun lowongan sarjana Kriminologi!”
Hehe. Real life's not as you seen on TV :-D.

Insight : Jurusan Kriminologi di Indonesia cuma ada di UI

Thursday, November 18, 2010

Pertanyaan Wawancara Kerja : Berapa Jumlah Teman di Facebook?

Sampai detik ini saya belum pernah memakai ijazah sarjana saya untuk melamar kerja ke manapun. Di bidang saya, tulis menulis, portofolio atau daftar publikasi hasil tulisan saya jelas lebih berguna daripada selembar kertas sakti itu.

Tapi baru-baru ini, saat mengirim lamaran sebagai penulis web content lepas, saya baru sadar bahwa  ternyata ada yang mengalahkan kesaktian portofolio. Saat mewawancarai saya via telepon, pertanyaan yang diajukan adalah : (jawaban yang dalam kurung pastinya cuma terlintas di otak)

“Sudah pernah nulis di mana aja?”
(Lha, kan udah tertulis lengkap di CV. Nggak dibaca to?)
“Punya blog?”
(Ini juga udah saya tulis alamat link-nya di CV x_x)
“Punya jaringan internet di rumah?”
(Syukurlah punya, di mana pun saya berada. Asal blackberry nggak ketinggalan aja).
“Apakah setiap hari mengakses internet?”
(Ya. Kecuali ada pemadaman listrik sehingga saya nggak bisa isi baterai laptop & blackberry).
 “Punya akun twitter?”
(Udah lama punya. Tapi baru tau cara pakainya tiga bulan belakangan ini).
“Punya akun facebook?”
(Pertanyaan retorik)
“Punya berapa teman di Facebook?”
(Mana saya ingat! Akhirnya saya jawab empat ratus)
“Dari 400 itu berapa persen yang benar-benar teman?”
(Nah lho! Berarti penting banget nih sampai ditanya detail. Saya jawab 80% lah).
 

Setelah wawancara kerja paling aneh itu, mereka tak pernah menghubungi saya lagi. Huhu.
Padahal saya mau banget  tuh freelance di tempat se”santai” itu.
Saya pikir-pikir, ini pasti karena jumlah teman saya di facebook yang menurut mereka terlalu sedikit (bisa dipahami sih, mungkin mereka ingin tulisan saya langsung di-link ke wall saya sehingga terbaca juga oleh ratusan “teman-teman” saya). Ternyata oh ternyataaaa, setelah saya cek, ternyata jumlah teman saya bukan cuma 400, tapi sembilan ratus orang (Ya ampuuun! Siapa aja tuh?).
Yahhh! Pingin teriak, "Telepon saya lagi dooong!"
Baru kali ini portofolio saya kalah oleh...tingkat kegaulan di facebook!

NB : Well, ini tidak mengubah niat saya untuk me-remove beberapa orang yang suka kirim postingan aneh dan menyeleksi permintaan pertemanan di Facebook

Thursday, November 4, 2010

Cuma Ada 2 Wilayah di Indonesia : Jawa dan Luar Jawa

Mungkin kata-kata jenakanya Pak Marzuki Alie tempo hari ada benarnya. Emang dasar nasib jadi orang yang tinggal di kepulauan, apalagi pulau pinggir seperti Mentawai. Sudah dari jaman Pak Harto sampai Pak Beye taraf hidup gitu-gitu aja, pas kena bencana mesti pasrah pula nunggu bantuan karena akses ke dan dari mana-mana susah. Saudara setanah air yang mau jadi relawan aja harus balik lagi karena nggak bisa mendarat di lokasi (tapi kok relawan dari luar negeri banyak yang sudah lama sampai ya?). Korban jiwa jauh lebih banyak di Mentawai, tapi malah Merapi yang diekspos sampai berepisode-episoden(regardless letusannya memang terjadi berhari-hari). 

Bukannya nggak bersimpati sama saudara-saudara yang di sekitar Merapi. Tapi sebenarnya nggak cuma pas bencana, saudara kita yang di “luar Jawa” itu dari lahir sepertinya ditakdirkan hidup lebih susah daripada yang kebetulan lahir di Jawa (kecuali Bali kali ye). Saat warga Jabodetabek ngomel karena kena pemadaman bergilir setengah hari(termasuk saya), teman-teman yang di Kalimantan, Sulawesi, apalagi Papua sudah biasa hidup tanpa listrik lebih dari 12 jam setiap harinya karena listriknya memang mati melulu.    


Taraf hidup relatif lebih rendah daripada di Jawa, tapi untuk beli ini itu mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak daripada penduduk Jawa. Lihat aja iklan produk mulai snack sampai majalah yang biasanya menerapkan 2 harga : harga untuk di Jawa & Bali, dan harga untuk di luar dua pulau itu.
Untuk produk baru, kadang juga ada tulisan : Untuk sementara hanya tersedia di Jawa & Bali. Bisa dipahami sih. Produsen nggak mau (atau males) keluar ongkos banyak untuk pengiriman ke luar Jawa, padahal daya beli di sana juga relatif lebih rendah dibanding penduduk Jawa.


Saya sendiri kalau kirim barang ke luar Jawa juga selalu was-was. Kasihan sama orang yang beli barang (dan menanggung ongkos kirimnya). Pernah saya kirim barang ke sebuah kabupaten di Kalimantan yang ongkos kirimnya 2kali lipat dari harga barangnya sendiri! Mahal pula’. Saya sampai bolak balik tanya apa dia yakin mau beli. Apaaa namanya kalau bukan nasib jadi penduduk negara kepulauan.



Nah, kalau pulau Jawa sendiri ternyata juga cuma punya 2 wilayah : Jakarta dan daerah. Kalau yang ini saya rasakan sendiri saat pertama kali masuk UI. Di hampir setiap kelas baru sering ditanya, “Siapa yang dari daerah?”
Paling kesal sih pas ada seorang teman baru yang begitu saya bilang kota asal saya langsung tanya : “Eh, Malang itu udah ada kendaraan sama mall ya? Kirain cuma ada gunung-gunung aja.”
Saya : melongo. Wondering how did he get through SPMB & dapet kursi di salah satu jurusan ilmu pengetahuan sosial di UI.

Friday, September 3, 2010

My Pregnancy Journal (The Truth Part) : Something was Wrong

A Confession before The Baby’s Coming Out

Sepertinya ada yang salah (setidaknya menurut saya). Orang menghabiskan waktu berbulan-bulan dan uang puluhan, bahkan ratusan juta rupiah untuk menyelenggarakan sebuah acara bernama pesta pernikahan – yang umumnya hanya berlangsung satu – dua hari.

Tapi berapa lama dan berapa besar dana (juga mental dan pengetahuan) yang dipersiapkan untuk menyambut kelahiran seorang bayi yang akan menjadi tanggung jawab seumur hidup? Seadanya. Sekedarnya. Semampunya. Nanti-nanti saja, nunggu Tuhan yang ngasih. Masih banyak waktu.

Well-prepared

Saya adalah orang yang akan dengan tulus mengucapkan selamat pada teman-teman yang sudah menikah beberapa lama tapi belum punya anak. Entah karena menunda atau menunggu. I’d say, “Hey, good for you! Kalian masih punya waktu untuk mempersiapkan semuanya!” (meski biasanya akan dibalas dengan tatapan “ah, orang ini hanya mencoba menghibur” atau “kamu kan sudah akan punya bayi. tak mungkin mengerti perasaan kami”).

Tapi sungguh, saya sangat mendukung pasangan yang memutuskan menunda kehamilan karena berbagai alasan (yang positif). Menurut saya itu sama sekali bukan berarti menolak pemberian Tuhan (berupa anak). Justru karena menganggap bahwa ini adalah peristiwa mahapenting, jadi kedatangan seorang manusia – titipan Allah –seharusnya memang  dipersiapkan dengan matang (well, tapi dengan bodohnya kami tidak ber-KB sejak awal karena mengira si bayi masih lama datang).

That’s why, our “we’re gonna have a baby" moment was so unlike what you usually saw in common dramas. Tidak ada teriakan gembira, air mata bahagia, sujud syukur, atau juga lompatan sorak sorai. Yang ada adalah wajah pucat saya dan tatapan kosong suami memandangi testpack yang menunjukkan dua garis merah.

Kami baru menikah beberapa minggu, dan kebetulan adalah tipe orang yang merencanakan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Sejujurnya, kata “bayi” sama sekali belum tertulis dalam rencana jangka pendek kami. Momen testpack  itu datang saat kami sedang gencar-gencarnya ke sana kemari mensurvey harga rumah dan menghitung berapa penghasilan ideal yang harus kami capai agar semua kebutuhan dasar bisa terpenuhi dengan baik. Dalam otak kami, urutannya adalah : 1. Rumah - 2. Mobil (karena tak ingin membawa bayi kami di atas roda dua - di bawah terik matahari Jakarta, atau berjejalan dalam kendaraan umum)  - 3. Anak. Kami hanya ingin si bayi datang ketika semua yang ia butuhkan sudah siap.

Ternyata bayi kami mau ada di urutan pertama.

Dan dimulailah masa-masa penuh emosi negatif,  yang secara tidak adil selalu saya tumpahkan pada suami saya. Apalagi beberapa bulan kemudian pernikahan kami masih akan dirayakan lagi di kota asal suami dengan jumlah undangan, dan tentunya budget yang konon tiga kali lebih besar daripada saat pernikahan kami di Malang. Oh pleeaasseee… itu jumlah dana yang sama dengan yang dibutuhkan untuk pendidikan anak kami minimal dalam dua-tiga tahun pertama. Kami tidak menyalahkan budaya ataupun orangtua di Sumatra yang memilih menyelenggarakan acara itu. Hanya saja jika anak kami menikah nanti, kami pasti akan mengambil jalan yang berbeda dari mereka.

Grew-up

But everything happened for a reason. Ternyata dalam rentang waktu sembilan bulan ini, bukan cuma bayi kami yang tumbuh dan membuat perut saya semakin besar. Kami juga bertumbuh. Sepanjang hidup saya, ini adalah masa saat saya dipaksa belajar banyak hal yang tak mungkin bisa dipelajari dalam keadaan senang dan tenang, tapi harus dalam situasi (yang tampaknya) buruk dan tidak menyenangkan. Ada saat-saat saya dan suami saya berpelukan dan menangis. Saling minta maaf telah melontarkan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan. Di saat lain kami menangis karena baru menyadari bahwa kami terlalu banyak mengeluh padahal tak terhitung hal yang harus disyukuri.

My eyes were burst into tears saat dokter pertama kali memperdengarkan musik paling indah yang pernah ada : suara detak jantung bayi kami. Ada dua jantung berdetak dalam tubuh saya. Ada sebuah kehidupan yang tak mungkin salah tempat. Bagaimanapun, kehidupan kecil itu tidak bersalah karena didatangkan lebih awal dari perencanaan egois kami.  Tuhan memilih kami dan memilih sekarang untuk membawa ciptaan-Nya yang satu itu ke dunia. That’s the very first  moment I embrace the child in our life.

These last weeks, setiap hari kami bertanya pada si bayi dalam perut : “Kapan kamu keluar, Nak… Semua sudah siap…” Dan seperti biasa dia hanya menggerakkan kakinya ke kanan kiri, memaksa kami belajar lagi untuk sabar, dan menyadari bahwa ada waktu yang tepat untuk setiap peristiwa yang ada di luar kendali kami. Tidak selalu sesuai rencana kami, tapi selalu yang terbaik. 


Thursday, September 2, 2010

Terjebak! Di Kotak ber-AC

Coba tebak benda elektronik apa yang hampir selalu dimiliki setiap rumah di Jakarta, mulai dari rumah petak hingga apartemen mewah? Benda itu adalah pendingin hawa, baik yang berbentuk kipas angin, maupun yang lebih canggih : AC. Kamar kos kakak saya yang berukuran mini itu bahkan dilengkapi dua kipas angin (dan di saat tertentu tetap saja panas!)

Begitu mahalnya harga untuk terbebas dari hawa panas sehingga biaya sebuah kamar kos, apartemen, atau perumahan akan langsung melejit jika dilengkapi dengan AC, kolam renang indoor, atau tunnel-tunnel indoor dari satu tempat ke tempat lain yang memungkinkan penghuni properti itu bisa ke sana kemari tanpa kena terik matahari (jadi ingat film Wall-E)

Saya sih sebenarnya tidak terlalu suka udara artifisial. Saat kuliah hanya ada satu kipas angin – yang jarang dinyalakan – di kamar kos saya di Depok. Bahkan seingat saya, saya tidur mengenakan selimut wool yang lumayan tebal. Apa mungkin hawa Depok memang lebih dingin dari Jakarta ya? Entah.

Tetapi sejak hamil saya jadi fans berat AC. Saya tidak bisa duduk diam lebih dari limabelas menit di ruangan tanpa AC. Apalagi tidur. Saat tidur di kamar ber-AC pun saya masih menempatkan handuk kecil di sebelah bantal kalau-kalau saya terbangun di tengah malam dan mendapati leher, kening, atau punggung berkeringat.

Namun karena satu-satunya ruangan ber-AC di rumah saya hanya di kamar tidur, jadi 90% waktu saya selama 24 jam sehari saya habiskan hanya di satu ruang ini saja. Saya memindahkan televisi dan meja kerja saya ke kamar. Bahkan makan, menyetrika, mengupas dan memotong sayur untuk dimasak juga saya lakukan di kamar! Menyedihkan.

Aktivitas yang paling enggak banget untuk dilakukan di kamar tidur tentu saja adalah makan dan mengolah makanan. Jadi ingat dapurnya Dinda Kanya Dewi yang full AC dan pakai kompor listrik biar tidak panas. Wah,impian saya banget tuh! Selama ini karena kepanasan, jadi kalau masak mau tak mau saya jadi buru-buru ingin cepat selesai. Soal rasa jadi urusan belakang.

Sungguh, saya merindukan suhu ruangan 24 derajat. Bukan 24 derajat pada remote AC, tapi pada termometer suhu seperti di rumah saya di Malang. Di sana saya bisa beraktivitas di ruang manapun di rumah – di ruangan lantai dua sekalipun - tanpa khawatir kegerahan.

Terjebak sepertinya adalah kata yang tepat menggambarkan situasi saya. Terjebak di kotak berudara artifisial yang tentu saja tidak sehat. Setiap hari harus ada waktu saat AC harus mati dan jendela ruangan harus dibuka agar terjadi pergantian udara. 

Semoga saja setelah melahirkan saya tak lagi cepat kegerahan dan bisa duduk tenang adem ayem di ruangan manapun di rumah (tapi sebaiknya sih kami segera pindah dari rumah kontrakan di Ciputat yang panas-pengap-rajamacet-jauhdarimanamana ini. Hehe).

Semoga!

Thursday, July 8, 2010

BALADA SEPOTONG KAOS



Sumpah, kecuali buku, saya ngga suka belanja barang-barang yang biasanya disukai perempuan. Orang-orang yang dekat sama saya pasti tahu kalau baju, tas, dan alas kaki saya itu-itu aja. Jarang gonta ganti. Nggak tahu kenapa.

Makanya akhir-akhir ini agak frustasi saat harus mengandangkan 90% isi lemari karena sudah tak muat di badan (hanya naik 15 kilo kok.hehe), dan membeli baju baru dalam jumlah banyak. Sigh.

Tapiiii…ternyata ada lho satu kaos bergambar Dalmatians yang masih setia bertengger di lemari karena ternyata masih muat dengan sukses. And you know what…saat membereskan foto-foto lama, saya baru sadar bahwa ada beberapa foto saat saya SMP dengan mengenakan kaos yang sama!


Wew! Ini berarti si kaos sudah menemani saya lebih dari SEPULUH tahun! Statusnya memang sudah berubah dari kaos untuk pergi jadi kaos rumahan. Tapi sampai sekarang, seperti tampak di foto, sablonannya masih bagus padahal merk-nya ngga jelas : B-One. Saya ingat dulu mama saya beli kaos ini dari pedagang keliling.

Ini berarti juga volume badan saya kemungkinan besar nggak berubah sejak SMP sampai sekarang. Haha! Bahkan hebatnya nih kaos masih tetap muat di usia kehamilan 7 bulan.
What a t-shirt!

Thursday, May 27, 2010

In Someone Else's Shoes

“Our God is Nammyohorengekyo, the law of cause and effect itself.”

That’s an answer given when I asked a good friend of mine a simple question : “Who is (your) God?”
He’s a Buddhist. Specifically an adherent of Niciren Syosyu, a branch of Mahayana denomination
(so not all Buddhist would come up with the same answer when we ask them the question above).
It’s a bit ashamed for me, since we’ve been friends for more than five years, but I know almost nothing about his belief.

It’s said that there’re three different ways to live side by side with others, especially with they who came from different religious view from us.
First : domination. Nothing better than my way of life / religious view, so everyone must live together in “peace” in my way.
Some people use it to justify their forcible annexation toward others.
Second : relativity. My religious view and yours are different. So we don’t need to discuss it. Just live t0gether as if we have the same perception about everything.
It’s the way common people live nowadays, causing apathy and severe distrust since they know almost nothing about what other people belief (or even their own belief). No wonder it’s not hard to find a person to commit bombing (in the name of whatever they call God).
Third : meeting point. Yes, we’re different. That’s why I need to know what you believe, your way of life, the way you see the world. So why don’t we talk ?

So…I talk.
To be honest, it’s not easy. There’s a little anxiety yet a ton of curiosity and excitement every time I voluntary read, find out, or hear about other’s belief / religious view. I couldn’t help myself from wondering, thinking, analyzing, and then of course comparing it towards my own.
For all my life I thought everyone will have the same perception when they think of the word : GOD.
In my point of view, God is always be The One, The Creator of the universe, of my life.
Well, it’s not always like that, indeed. Moreover, in some belief, this world was not created, and our life after death is not always a crossroad between the heaven and hell.
Isn’t that an awesome new perspective?

After all, my goal is not to judge or decide which one is true or false, the best or the most irrational one (who knows the right point of view anyway?)
I just learn to put myself to someone else’s shoes. To know the way they see God, the world, and this life. Even though surely there’s a bunch of things that are opposite to my own religious view (I can examine it anyway by my own heart, common sense, and science of course, just like Buddha said).



Anyway, to my dearest Buddhist friend(s) :
Happy Vesak 2554
Sabbe satta bhavantu sukhitatha
May All be Well and Happy... :-)

PS: please forgive my broken english :-p

Tuesday, March 9, 2010

Anomali The Naked Traveler


Dengan tidak mengurangi rasa kagum dan hormat saya pada yang bersangkutan ^^

Bagi saya, ada yang ironis dari Mbak Trinity, penulis Naked Traveler, salah satu buku favorit saya. Beliau sudah mengunjungi hampir semua provinsi di Indonesia dan 42 negara, juga kenal dengan banyak backpacker dari seluruh dunia.
Tapiii…di halaman 168 Naked Traveler 2, saat akan membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) beliau bercerita :
“Terus terang seumur hidup saya tidak pernah tahu siapa Ketua RT saya. Siapa tetangga saya saja, saya tidak tahu namanya karena kalau bertemu kami hanya melemparkan senyum. Besoknya saya minta diantar pembokat untuk berkenalan dengan para pejabat lingkungan tempat tinggal saya, secara pembokat saya itu anak gaul dan ngetop.”

Walah!Tau banyak tentang negara lain, tapi bahkan tetangga sebelah sendiri ngga kenal.

Tuesday, February 2, 2010

Through Good and Bad Times (don't change the "a" in "bad" into "e")

Momen yang paling saya sukai dari setiap episode Nanny 911 adalah saat suami-istri yang tadinya frustasi, mulai bisa kerjasama lagi ngurus rumah & anak (terlepas dari kenyataan sesungguhnya di luar kamera). Just the two of them (with the nanny’s help), rebuild the family, tanpa bantuan pembantu rumah tangga (saya lebih suka menyebutnya “pramuwisma”) – yang karena mahal memang jarang dimiliki keluarga-keluarga di Amrik.

Kemarin seorang teman suami saya mengeluhkan pramuwismanya yang pulang kampung tak kembali lagi. Di saat yang sama istrinya sedang hamil 7 bulan, ditambah anak pertamanya sedang demam. “Sunnah nih, meringankan pekerjaan istri dengan mencarikan pembantu,” katanya. I was starring at him and thought : Helloo! Sementara nunggu pembantu baru, why don’t YOU yourself help your own wife? (Btw bisa laris juga nih agen penyalur pramuwisma kalau iklannya ditambah pakai propaganda sunnah).

Lalu si teman ini bercerita tentang pilihannya untuk menyerahkan proses kelahiran anaknya nanti pada seorang bidan. “Enaknya bidan ini nanti akan tetap ngurus bayi kita di rumah, beberapa hari setelah lahiran. Jadi kan kita ngga repot,” katanya.
“Oh, jadi dia bisa ngajarin kita ngurusin bayi juga ya?” tanya suami saya polos.
“Ngajarin istri lah. Emang kamu mau mandiin bayi?” jawabnya. Kalimat terakhir benar-benar mengejutkan saya.
Spontan saya berseru (sayangnya hanya dalam hati) WHY NOT?! It’s your own child!
Sebelum suami saya sempat merespon, dia menyambung curhatannya, “Aku aja nyuci gelas selalu pecah. Jadi ngga pernah nyuci lagi,” katanya dengan B.A.N.G.G.A.
(jadi inget iklan Sunlight terbaru yang ada suami nyuci piring dulu sebelum main bola).
Fiuhh…semoga bidannya kayak Ms. Nanny yang akan memaksa si suami untuk benar-benar jadi partner untuk istrinya.
(Thanx God he’s someone else’s husband).



Gambar diembat dari sini (nice blog! written by a lunatic wife, like me)

Friday, January 29, 2010

The Practice dan Antasari

Mungkin saya terlalu sering nonton The Practice, sehingga MALU nonton sidang Antasari. The Practice adalah film serial yang dulu sempat ditayangkan sebuah stasiun televisi kabel, Fox Crime. Setiap episode menceritakan kisah sekumpulan pengacara yang membela klien mereka masing-masing dalam satu atau dua kasus hukum.


Meski cuma film, yang mengagumkan bagi saya adalah argumen-argumen yang mereka ungkapkan di persidangan untuk membela klien mereka hampir selalu nyaris tak terbantahkan. Tak terbantahkan karena alur berpikirnya jelas, ada data (yang pastinya sudah mereka persiapkan detail), dan pastinya ada saksi yang kompeten. Tapi ini bukan berarti hakim selalu membebaskan klien mereka. Kadang jaksa penuntut yang menang, karena sang jaksa juga cerdas mengemukakan fakta dan si tersangka memang benar bersalah.

Semua menyampaikan argumen logis, teratur, runut (sering tanpa teks karena mereka tahu betul yang ingin mereka sampaikan). Hal yang sama sekali tidak ada dalam persidangan Antasari (atau mungkin juga dalam ruang sidang manapun di Indonesia ini).


Detail isi dakwaan Cirrus Sinaga merupakan skenario terburuk yang pernah saya dengar. Penulis scriptnya pasti tak akan mendapat dukungan produser manapun jka berniat membawa kisah ini ke layar lebar.

Saya jadi beranda-andai, apa ya yang akan dikatakan hakim di The Practice saat mendengar tuntutan hukuman mati jaksa terhadap Antasari? They probably would say, “Come on, get real!”

Stories inside my head

Share this blog