Wednesday, December 24, 2008

Natal yang Banal


Perayaan Natal, seperti juga Lebaran, adalah sebuah paradoks. Keduanya adalah perayaan yang rentan kehilangan makna jika orang tidak berhenti sejenak dari semua kesibukan menyambut hari raya itu dan berpikir : untuk apa saya melakukan ini?

Esensi puasa, yang antara lain adalah menang melawan hawa nafsu, ternyata tidak berlaku di mall, tempat orang berburu memborong berbagai barang. Seakan lebaran tak pernah ada tanpa semua benda itu. Sedangkan perayaan Natal yang mewah seakan menjadi penegasan bahwa manusia telah gagal meneladani kesederhanaan Yesus, yang dikisahkan lahir di kandang domba, jauh dari kemegahan.

Keberadaaan pohon natal, sinterklas, gemerlap lampu, hadiah, makanan menjadi benda yang mutlak ada dalam sebuah event bernama “natal.” Tak peduli masih adakah “tempat” untuk bayi Yesus; tertimbun berbagai benda, mitos, tradisi, yang sebenarnya nyaris tak ada hubungannya dengan kedatangan Yesus sendiri.

Gereja perdana tak pernah merayakan hari kelahiran Yesus (yang memang tak pernah diketahui kapan tepatnya). Natal baru dirayakan pada abad ke-4 saat Romawi, yang masih kental dengan tradisi pagan, menjadikan 25 Desember (menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara) sebagai perayaan hari kelahiran Yesus.

Setelah lebih dari dua ribu natal berlalu, momen ini harus punya makna baru, jika tak ingin jadi tradisi usang yang hampa atau sekedar ikut-ikutan. Makna yang bisa jadi sangat personal bagi masing-masing orang ; atau setidaknya memeriksa…di mana Yesus di tengah semua keriuhan ini?

Wednesday, November 19, 2008

ISLAM, PANTA REI, dan AKAL

Tidak ada agama yang lebih rasional dan simplistis daripada Islam
(Soekarno dalam surat dari Endeh
kepada T.A. Hassan, guru “Persatuan Islam di Bandung, Juli 1935)


Saya pikir seumur hidupnya Soekarno hanya bicara tentang marxisme, komunisme, nasionalisme. Tapi ternyata dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, saya menemukan bahwa dia lebih religius dari yang saya tahu. Intelek yang religius. Perpaduan dua kata sifat ini pada seorang manusia, akan menghasilkan pemikiran-pemikiran cemerlang yang dengan mudah menjawab pertanyaan orang-orang seperti saya, yang sudah sejak lama memendam rasa ingin tahu pada Islam, tapi tak berani mendekat karena keberhasilan media dan segelintir orang menciptakan kesan kejam, kaku, kuno pada agama ini.

Panta Rei
Panta rei! - kata Heraclitus - segala hal mengalir, segala hal selalu berubah, segala hal mendapat perbaharuan. Dengan pernyataan inilah Soekarno mengawali pemaparannya tentang Islam (yang seharusnya) progresif.
Jika segala hal berubah, bagaimana dengan agama?
Dalam Pandji Islam, 1940, Soekarno menulis : pokok tidak berubah, agama tidak berubah, Islam sejati tidak berubah, firman Allah dan sunnah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal-hal inilah yang berubah. Pengoreksian pengertian selalu ada, dan mesti selalu ada. Pengoreksian itulah hakekatnya semua ijtihad, semua penyelidikan yang membawa kita ke lapang kemajuan. Kalau kita tidak mau berijtihad, maka kita sendirilah yang mencekek mati kecerdasan kita dengan cara lambat-lambat.
Kita sendirilah, kata penulis Essad Bey, ikut berdosa “Schlieszung des Bab el Itschtihad” – sehingga oleh karenanya datanglah keruntuhan segala kehidupan akal, segala kehidupan rohani, segala kebesaran dan kemegahan, segala keadaban dan peradaban. Penutupan pintu ijtihad membinasakan semua peradaban. Dan kita kini mau mengulangi dosa-dosa besar ini? Janganlah kita lekas marah kalau ada orang minta diperiksa kembali sesuatu hal dalam pengertian agama kita.
Sayid Amir Ali, penulis The Spirit of Islam, yang menjadi fundamental bagi kaum intelektual Eropa dan Asia yang mempelajari Islam, menulis : The elasticity of laws it their great test and this test is pre-eminently possessed by those of Islam. Their compatibility with progress shows their founder’s wisdom.
Islam bisa cocok untuk semua zaman, kata Amir, adalah karena sifat elastisitasnya. Islam tidak akan bisa bertahan hidup ribuan tahun jika hukum-hukumnya tidak demikian. Ini yang menjadi sebab kultur Islam selalu berubah corak.

Islam itu kemajuan!
Dengan jujur, Soekarno mengkoreksi perilaku bangsa sendiri : kita royal sekali dengan perkataan “kafir,” kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir.” Pengetahuan barat – kafir, radio, kedokteran, dasi dan topi, sendok garpu, tulisan latin – kafir. Bergaul dengan bangsa yang bukan Islam pun – kafir. Padahal yang mereka namakan Islam adalah dupa, korma, jubah, dan celak mata! Yang mukanya angker, yang tangannya bau kemenyan, yang matanya dicelak, jubahnya panjang, dan menggenggam tasbih yang selalu berputar – dialah yang dinamakan Islam. Astafirugllah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Cara kuno inilah yang menjadi sebab dunia Barat memandang Islam sebagai satu agama yang anti kemajuan dan sesat.
Adalah satu perjuangan yang paling berfaedah bagi umat Islam, yakni perjuangan menentang kekolotan. Perjuangan inilah yang dimaksud Kemal Ataturk tatkala ia berkata,”Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid, memutarkan tasbih, tetapi Islam ialah perjuangan. Islam is progress : Islam itu kemajuan!”

Rasio dan Akal
Agama adalah bagi orang yang berakal, demikian Nabi bersabda. Kenapa sesuatu hal harus digaib-gaibkan kalau akal sedia menerangkannya? Kata-kata Soekarno ini menguatkan argumen bahwa motor hakiki dari semua “rethinking of Islam” adalah kembalinya penghargaan kepada akal. Allah sendiri dalam Quran berulang-ulang memerintahkan kita berbuat demikian, “Apa sebab kamu tidak berpikir,” “Apa sebab kamu tidak menimbang,” “Apa sebab tidak kamu renungkan.”
Jangan akal, pikiran, reason, rasionalisme dienyahkan dari dunia keagamaan, diganti dengan “percaya saja,” “terima saja,” begitu katanya. Akal diganti dengan otoritas, aktivitas rohani diganti dengan penerimaan rohani. Akal kadang tak mau menerima Quran atau Hadits shahih, bukan karena Quran dan Nabi salah, tapi oleh karena cara kita mengartikannya adalah salah. Rasionalismelah yang dapat mengakurkan pengertian fiqh dengan peredaran zaman.
Tanyalah kepada ribuan orang Eropa yang masuk Islam di dalam abad 20 ini, dengan cara apa dan dari siapa mereka mendapat pengetahuan baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab : bukan dari guru-guru yang hanya menyuruh muridnya “beriman” dan “percaya saja.” Bukan dari mubaligh-mubaligh yang tarik muka angker dan hanya tahu putar tasbih saja, tapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal – karena berpengetahuan umum, mubaligh modern & scientific, bukan mubaligh yang “à la Hadramaut” atau “à la Kjai bersorban.”
Percayalah bahwa jika Islam dipropagandakan dengan cara yang masuk akal dan up to date, seluruh dunia akan sadar kebenaran Islam. Saya sendiri sebagai seorang tepelajar baru mendapat lebih banyak penghargaan kepada Islam sesudah membaca buku-buku Islam yang modern & scientific.

Preach Islam !
Kepada T.A. Hassan, Soekarno juga menyerukan pentingnya dakwah, penyebaran Islam, tanpa memandang negatif penyebaran agama yang dilakukan umat agama lain :
Saya sendiri banyak bertukar pikiran dengan kaum pastor di Endeh. Tuan tahu, bahwa pulau Flores itu adalah “pulau misi” yang mereka sangat banggakan. Dan memang pantas mereka banggakan pekerjaan mereka di sana. Saya sendiri melihat mereka bekerja mati-matian untuk mengembangkan agama mereka di Flores. Saya respect dengan pekerjaan mereka.
Kita banyak mencela misi, tapi apakah yang kita kerjakan bagi menyebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Misi mengembangkan Katolik Roma itu hak mereka, yang tak boleh kita cela dan kita gerutui. Tapi kita, kenapa kita malas, kenapa kita teledor, kenapa kita tak mau kerja, kenapa kita tak mau giat? Kenapa misalnya di Flores tiada seorangpun mubaligh Islam dari suatu perhimpunan Islam yang ternama buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir? Misi dalam beberapa tahun saja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores, tapi berapa orang kafir yang bisa dihela oleh Islam di Flores itu? kalau dipikirkan memang itu semua salah kita sendiri, bukan salah orang lain!

Puluhan Tahun Setelah Soekarno

Tahun 2001 dan 2002, tujuhpuluh tahun setelah tulisan Soekarno di atas, apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi : terorisme. Meski demikian, memang terorisme dan fundamentalisme tak semata-mata berasal dari kurangnya ijtihad dan peran akal dalam masyarakat Islam. Fundamentalisme juga adalah anak modernisme, kata Karen Armstrong. Sementara aktivis gerakan sosial dan feminis Asia, Kamla Bhasin, menyatakan bahwa fundamentalisme dan konservatisme agama tumbuh karena ketidakamanan ekonomi dan kultural. Terorisme global dan berbagai bentuk fundamentalisme tak bisa dipisahkan dari globalisasi ekonomi.
Above all, karena hidup di zona aman (tanpa perang, relatif lebih sedikit diskriminasi dan intimidasi, dan bahkan menjadi warga mayoritas), saya pikir sudah menjadi PR besar bagi muslim Indonesia untuk menginspirasi, jihad akal seperti Soekarno, untuk membuat kemajuan bagi kesejahteraan umat Islam sendiri, dan bagi dunia.

Sunday, November 2, 2008

THANX FOR THE JEW!


“Yahudi telah dan selalu akan menjadi orang pilihan!”
(kata-kata Peter van Daan dalam percakapannya dengan Anne Frank)

Bagi saya, di muka bumi ini tidak ada bangsa yang lebih misterius daripada Yahudi.
Membaca tentang mereka, ternyata mengundang berbagai rasa di saat yang berbeda.
Membaca tentang kaum ini dalam Holy Qur’an dan Holy Bible akan mendatangkan rasa kesal. Tapi siapapun akan sedih dan iba saat mengetahui bagaimana Nazi membantai jutaan dari mereka, (sekaligus juga membuat saya marah dan berteriak dalam hati,”Hell for Hitler!”)

Namun Yahudi juga mendatangkan decak kagum, karena membaca sejarah Ras Semit ini berarti juga membaca kisah kecerdasan manusia.
Einstein dan Anne Frank baru dua dari ribuan bukti keberadaan otak-otak jenius ini.
Membaca The Diary of Anne Frank membuat saya mengerti bagaimana mereka bisa sebrilian itu. Lebih jauh, diary ini membuat saya terkagum-kagum akan keberanian dan kekuatan manusia menghadapi penderitaan.
Semua orang Yahudi di seluruh daratan Eropa, terutama di Jerman dan Belanda saat itu tahu bahwa hanya tinggal menunggu waktu saja masing-masing dari mereka akan mati disiksa. Cepat atau lambat.

Selama dua tahun, dibantu dua warga Belanda, Miep Gies dan Elisabeth Voskuijl, Keluarga Yahudi Frank dan van Daan, bersembunyi di sebuah tempat yang dinamakan Anne : The Secret Annex.
Namun kehidupan mereka dalam persembunyian itu sama sekali tidak menampakkan tanda seakan-akan mereka sedang bersiap-siap menghadapi kematian. Setiap hari mereka berbicara tentang apa saja yang akan mereka lakukan setelah perang berakhir. Dan karena optimisme itu mereka semua menghabiskan waktu dalam Secret Annex dengan...belajar!

Dalam diary-nya, Anne menceritakan apa saja yang ia pelajari dalam sehari :
Menerjemahkan bagian satu bagian peperangan terakhir Nelson dari bahasa Belanda ke Inggris. Membaca lagi Perang di Utara yang melibatkan Peter Agung, Charles XII, Stainslaus Leczinsky,... Lalu berpindah ke Brazil, aku akan membaca tembakau Bahia, kopi yang melimpah, 1,5 juta penduduk Rio de Janeiro, dan terakhir Sungai Amazon. Selanjutnya tentang suku Negro, Mulatto, tingkat buta huruf tinggi, dan malaria. Karena masih memiliki waktu, aku mengamati diagram silsilah : John the Old, Henry Casimir I, William Louis...
Jam 12 : merangkum hasil belajarku, membaca mengenai para tetua, pendeta, menteri, dan wow...ternyata sudah jam satu. Berikutnya tentang Bible, kapal Nabi Nuh, Shem, Ham, dan Japheth. Berpindah lagi ke buku tes kemampuan bahasa Perancis, lalu berpindah lagi ke tema perbandingan antara Mississippi dan Missouri.
Malamnya membaca biografi Galileo Galilei, buku itu sudah harus dikembalikan ke perpustakaan. Lalu Palestine at the Crossroad.

Dan ini adalah hal-hal yang ia catat sebagai minatnya :
Stenografi Perancis, Inggris, Jerman, dan Belanda, sejarah, geografi, sejarah seni, sejarah Injil, sastra Belanda, mitologi Yunani dan Romawi, buku-buku sejarah, biografi, juga novel dan bacaan ringan.

Semua itu ia pelajari saat ia berusia 13 – 15 tahun!
Ah! Membuat saya malu karena sudah setua ini tapi saya hanya tahu sedikit-sedikit, belajar sedikit, dan akhirnya mengerti sedikit.
4 Agustus 1944 kedelapan penghuni Secret Annex ditangkap dan dipisahkan satu sama lain.
Ada yang meninggal di kamar gas, sementara yang lain meninggal karena kelaparan dan kelelahan di kamp konsentrasi.
Anne Frank meninggal karena epidemi tifus di kamp Bergen-Belsen, Hannover pada Februari 1945, pada usia 15 tahun.
Saya bertanya-tanya apakah pada akhirnya semua yang dipelajari dan ditulisnya berakhir sia-sia.
Tidak!
Gadis Yahudi 15 tahun itu telah ikut mengubah dunia. Ia adalah satu dari 100 Tokoh Abad Ini versi Majalah Times.
Catatan harian Anne Frank telah terjual lebih dari 30 juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 60 bahasa.
Menjadikannya buku nonfiksi yang paling banyak dibaca di dunia setelah Injil.
Tulisannya adalah salah satu rekaman paling jujur tentang sisi-sisi gelap kemanusiaan yang tak pernah bisa dicari landasannya kecuali napsu untuk berkuasa.

Wednesday, October 15, 2008

AKU BUKAN CINA !


“Waktu itu saya ikut pasukan berani mati. Bukan karena alasan ini itu. Semata-mata karena saya ingin negara Indonesia ini tetap ada!” kata Wang Zhongming.

Klenteng Eng An Kiong sudah berdiri sejak 1825, jauh sebelum gereja dan masjid pertama didirikan di Malang. Tapi baru beberapa hari lalu saya menjejakkan kaki di sana, mengikuti Om Eka dan Melanie Budianta, teman ayah yang akan mewawancarai beberapa warga keturunan Tionghoa di sana. Tak menyangka bahwa perjalanan iseng itu menjadi sebuah pengalaman yang memperkaya jiwa. Sebuah dunia lain yang bercerita bahwa harusnya tak ada lagi sebutan “pribumi” dan “keturunan.”

Wang Zhongming adalah seorang kakek keturunan Tionghoa kelahiran 1924 yang masih gagah berjalan dan lantang berbicara. Selain sang kakek, dalam ruangan ada juga beberapa bapak lain yang lebih muda, tapi yang jelas lebih sepuh dari ayah saya. Para pengikut Buddha ini bercerita tentang masa lalu. Tentang berhentinya kegiatan perkumpulan kesenian Ang Hien Hoo, tempat mereka bernanung, karena dituduh sebagai antek PKI.

Tahun 1965 memang masih dan akan selalu menjadi masa kelam dalam sejarah Indonesia. Berbicara tentang tahun itu ternyata memunculkan kemarahan, terlebih dari pelaku sejarah yang hidupnya saat itu benar-benar terancam. “Kamu orang sekarang, jangan pernah menebak apa yang terjadi saat itu!” hardik Wang Zhongming pada Pak Waluyo, yang mencoba menjelaskan tentang apa yang terjadi di 1965. Pak Waluyo lebih muda 20 tahun dari kakek Wang.

Seorang bapak lain yang jauh lebih muda bercerita tentang sejarah etnisnya di tanah Jawa. “Nenek moyang saya datang ke kepulauan ini tahun 1600. Memang saat itu sebagai orang asing. Tapi sebenarnya siapa sih yang bisa dibilang asli? Almarhum ayah saya semangat sekali mengajak orang-orang ikut main wayang orang dan liong. Dia juga mendalami kebatinan Jawa.” Matanya yang sipit mengerjap. Di akhir pertemuan, saya baru tahu ternyata namanya Pak Ragil (bahasa Jawa untuk bungsu).

Saat diajak berkeliling klenteng, saya takzim melihat betapa tempat itu lebih dari sekedar tempat ibadah. Ada balai pengobatan, pelayanan untuk lansia, pendidikan bahasa Mandarin, dan balai kesenian. Bahkan liong & say serta karawitan punya divisi sendiri dalam kepengurusan. Tempat pertemuannya begitu besar. Di situ untuk pertama kalinya saya melihat seperangkat gamelan paling megah dan paling lengkap yang pernah saya lihat! Semua itu dalam sebuah area klenteng.

Di hari yang sama kami beruntung boleh bertemu dengan saksi sejarah yang lain. Seorang nenek. Saya lupa namanya, tapi ingat betul tahun kelahirannya : 1913. Jadi usianya 95 tahun! Orang tertua yang pernah saya temui seumur hidup saya! Bagaimana rasanya hidup selama itu? Yang menakjubkan, ingatannya masih begitu kuat, berbicara dengan cukup lancar dan mendengar dengan baik. Sang nenek dulunya adalah pemain wayang orang. Saya sempat melihat foto salah satu pertunjukannya yang begitu sesak dipenuhi pengunjung. Beliau pasti sangat terkenal saat itu. Uniknya ketika ditanya berapa honor yang ia peroleh sekali pentas, sang nenek menjawab, “Ndak dibayar kok!” Bagaimana mungkin ia melakukan peran sesulit itu, dari kota ke kota, tanpa bayaran?
Pada bagian belakang foto tertulis tahun pertunjukan : 1962. Saat itu tak satu pun orang dalam foto itu yang tahu bahwa 3 tahun kemudian kesenian itu akan dilarang.

Ada juga sosok lain, Dani, yang adalah keturunan Tionghoa, “wakil” dari generasi muda. Dia baru menyelesaikan studi S2-nya di China, dikirim oleh pihak yayasan Eng An Kiong supaya kemudian ia bisa mengajar bahasa Mandarin. Disertasinya adalah tentang persepsi kaum muda Indonesia (keturunan Tionghoa) di China tentang keberadaan mereka dan rasa kebangsaan terhadap Indonesia. Dani bercerita bahwa bagaimanapun kaum muda keturunan menganggap tak ada lagi yang mereka sebut sebagai “tanah air” selain Indonesia. Jika seandainya ada perang antara Indonesia dengan China, mereka pasti akan memilih membela Indonesia. No doubt.

Saya jadi ingat atlet-atlet bulutangkis Indonesia yang kebanyakan juga merupakan warga keturunan Tionghoa.
Betapa berdosanya masih menyebut mereka sebagai warga “keturunan,” dan kamilah “yang asli.” Hanya karena budaya dan ciri-ciri fisik mereka berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan. Perkara sepak terjang di dunia bisnis, apa pula masalahnya jika kita mau belajar dari mereka?

Nama jawa, karawitan, wayang orang, pasukan berani mati, bulutangkis... lama kelamaan saya bertanya-tanya...sebenarnya siapa yang lebih Indonesia di antara kami?

Friday, October 10, 2008

Bila Aku Mati...

Di desa, di kota, di seluruh belahan dunia, manusia berlomba-lomba memiliki tanah.
Seluas-luasnya. Sebanyak mungkin. Di mana pun. Terutama di tempat strategis.
Untuk warisan, untuk membangun rumah, untuk dijual lagi, untuk dihadiahkan.
Tak tahu sampai sebanyak apa sehingga bisa dikatakan “cukup.”
Hingga Leo Tolstoy pernah bertanya:
Berapa sebenarnya luas tanah yang diperlukan seorang manusia?
Jawabannya, cukup untuk membangun satu rumah saja : Rumah masa depan. Letaknya jauh dari strategis. Kalau bisa sejauh mungkin dari pusat kota (kecuali kau seorang yang menurut dunia cukup hebat untuk dikategorikan sebagai “pahlawan.”)
Bukan rumah bagi jiwa atau roh, tapi hanya bagi tubuh manusia yang akan segera kembali menjadi debu.
Saat itulah pertanyaan di atas terjawab :
Ternyata pada akhirnya seorang manusia hanya memerlukan tanah sepanjang ukuran badannya.
Hanya seluas itu.

(PS : Tubuh manusia bahkan masih berebut tempat setelah mati. Terakhir datang ke rumah masa depan, saya mendapati kavlingnya sudah semakin terbatas, bersesakan. Nisan saling bertabrakan. Kuburan bertumpuk di atas kuburan lain. Membujur, melintang.
Melihat pemandangan itu, Budhe saya yang seorang Hindu berkata sambil tersenyum, “Nanti aku nggak akan menuh-menuhin tempat ini kok!” Saya ikut tersenyum sambil mengingat upacara kremasi Pakdhe yang telah lebih dulu kembali ke Sang Pemilik Hidup. Debu kembali menjadi debu)

Friday, September 26, 2008

SIMBOL dan TAWA


Saya kristen. Tapi hampir tak pernah memakai aksesoris apapun berbentuk salib atau bergambar sosok tertentu. Semata-mata karena tidak ingin mengecilkan arti seorang kristen. Toh sebuah simbol yang bertujuan menyampaikan pesan tertentu akan segera kehilangan makna ketika si penyampai pesan berperilaku berlawanan dengan isi pesan. Mafia dan pemadat juga memakai kalung salib. Mungkin agar terlihat keren. Mungkin juga memang di KTP mereka tertulis kristen atau katolik. Terserah mereka lah.
Selain itu, tidak seperti orang suku lain yang dengan mudah bisa diidentifikasi dari nama marga atau ciri-ciri fisiknya, orang sering salah menebak saya dari suku apa. Biasanya yang paling sering disebut adalah Indonesia timur. Tak apa juga kan kalau mereka berpikir begitu.

Orang tak pernah benar-benar tahu siapa saya sebelum mereka bertanya sendiri.
(maka orang tak pernah berhak menghakimi siapapun sebelum benar-benar mendekat dan berdialog).

Agustus lalu saya mengikuti sebuah kegiatan anak muda di Jawa Tengah. Setelah saling mengenal, dengan segera saya akrab dengan seorang pria yang ternyata mahasiswa jurusan Tafsir Quran. Saya katakan “ternyata” karena ia sama sekali tidak menampakkan atribut-atribut tertentu seperti layaknya orang yang fokus mempelajari ajaran agama. Awalnya saya ketakutan ketika dia bertanya, “Mbak nasrani ya?” Tetapi ternyata kekhawatiran saya sama sekali tidak beralasan.
Pembicaraan-pembicaraan panjang terjadi. Tentang apapun. Keyakinan, keluarga, Tuhan, tradisi, negara. Saling memperkaya, dan tanpa tendensi. Sesekali saya ikut mendengarkan lantunan ayat Qur’an dari MP3-nya, meski tak mengerti artinya. Dengarkan saja kata dia.

Sampailah rangkaian kegiatan pada hari Jumat. Hari pendek. Hari ibadah.
Yang muslim sholat Jumat, dan yang kristen persekutuan doa bersama.
Saat berkumpul, seorang teman kristen yang tak menduga keyakinan saya sama dengannya, kaget melihat saya ikut bergabung. “Oh, Mbak Kristen?” katanya.
Saya hanya tersenyum.

Menjelang selesai acara, ahli tafsir yang kemudian menjadi sahabat baru saya itu bercerita :
“Tadi ada teman yang nyangka aku bukan muslim lho! Karena kita sering keliatan ngobrol bareng, dia pikir aku juga kristen.”
“Oya?!” kata saya. Lucu juga. Teman lain juga berpikir demikian tentang saya.

Dan kami tertawa.

Laughter ... the shortest distance between two people.

Ketika orang-orang yang sebenarnya sangat jauh berbeda latar belakang bisa berbagi dan tertawa bersama... saya pikir berita-berita di televisi tak akan riuh dengan pertengkaran antarkelompok manusia.

Saturday, August 16, 2008

FILOSOFI MUSIK BAMBU

Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Dan di Karangpandan, Jawa Tengah, saya baru saja belajar dari seperangkat alat musik bambu.
Sebenarnya saya sama sekali bukan pemain musik. Dalam setiap kelompok atau kursus musik, saya selalu menjadi salah satu anak yang paling lambat memahami arahan yang diberikan. Maka biasanya saya memilih berhenti saja karena biaya untuk mengikuti kursus musik tidaklah murah. Tetapi ternyata memainkan alat musik bambu sama sekali tidak butuh banyak waktu, apalagi banyak biaya, seperti belajar gitar klasik, biola, piano, atau sejenisnya. Dan uniknya, tidak seperti alat musik lain yang dengan mudah bisa dimainkan seorang diri (solo), alat musik bambu selalu dimainkan bersama-sama. Tidak bisa tidak.
Saya tinggal bergabung bersama pemain musik bambu lain. Masing-masing memegang jenis alat musik berbeda-beda dengan variasi pukulan berbeda pula. Namun akhirnya irama berbeda-beda itu membentuk sebuah kesatuan musik yang harmoni. Yang terpenting adalah : mainkan si bambu dengan cara berbeda dengan orang lain. Isi jeda. Temukan irama sendiri.
Sambil bermain, saya berpikir bahwa hidup itu seperti menjadi pemain musik bambu. Setiap orang punya peran masing-masing. Berbeda, tapi tidak bisa berjalan sendiri. Semua berperan mewujudkan tujuan Sang Pencipta mengkreasi bumi.
Yang penting : lakukan peran masing-masing, dan jangan pernah ikut-ikutan. Meski sering kita berpikir peran kita remeh dan sepertinya ingin meniru hidup orang lain saja yang tampak lebih ringan. Tetapi percayalah, bahwa bagaimanapun setiap orang berperan penting.

Jadilah beda. Dan temukan iramamu sendiri.

Thursday, August 14, 2008

Kapan Terakhir Kali Melihat Bintang?

Pertanyaan macam apa itu? Penting ya lihat bintang atau enggak? Itu yang terlintas di pikiran saya begitu pertanyaan di atas terlontar. Pak Lawu, seorang pembicara dalam sebuah sarasehan acara youth confrence di Gemawang, Karangpandan (sekitar satu jam dari Solo), mengajak kami berdialog dengan dan tentang alam. Tapi ketika saya benar-benar akan menjawab pertanyaan itu, ternyata saya kesulitan menentukan jawabannya.

Kapan terakhir kali melihat bintang?
Beberapa bulan lalu? Atau bahkan setahun lalu? Itu pun bukan di bawah langit Jakarta. Pasti saat saya pulang ke Malang dan kebetulan keluar rumah saat malam.
Kata Pak Lawu, melihat bintang = merenung. Jadi...apakah ketika saya tidak melihat bintang, berarti saya tidak pernah merenung? Tidak juga. Hanya saja...saya merenung dalam bus yang terjebak kemacetan, dalam kamar saat malam ketika saya sudah sangat mengantuk, atau dalam kelas ketika kuliah sedang tidak menarik. Dan biasanya “renungan” saya berakhir dengan...tidur.

Ah ya...ini dapat diartikan saya tidak pernah benar-benar ingin merenung (di luar saat ibadah). Bisa dibilang saya terputus dengan langit, sebagai salah satu elemen besar alam. Di Jakarta, sejauh mata memandang, yang tampak adalah tembok dan atap. Sebelum membuat tulisan ini saya bahkan mencoba keberuntungan, kalau-kalau malam ini saya bisa melihat bintang di langit Jakarta. Tapi ternyata saya tidak beruntung.

Dan saya tahu, bahwa ada yang salah di sekitar saya ketika saya tak dapat melihat bintang, saat seharusnya kita dapat melihatnya. Langit di sini bahkan tidak berwarna hitam. Kelabu tepatnya. Bias dengan warna asap yang keluar dari ribuan knalpot. Si asap membumbung ke atas dan menutupi si bintang.

Sedih... Entah kapan lagi saya bisa memandangi bintang, apalagi belasan bintang jatuh, seperti saat kami duduk menonton pertunjukan wayang (yang tak sempat kami selesaikan) di Gemawang.

Tapi kemudian, seorang sahabat mengingatkan : “Anugerah Tuhan tidak hanya lewat bintang. Dia akan tetap menyapamu bahkan di kota seribu menara...kalau kamu cukup peka mendengar.”

Friday, July 25, 2008

I Love INDIA ARIE

"There's Hope"


[Verse 1:]

Back when I had a little

I thought that I needed a lot

A little was over rated,

but a lot was a little too complicated

You see-Zero didn't satisfy me

A million didn't make me happy

That's when I learned a lesson

That it's all about your perception

Hey-are you a pauper or a superstar

So you act, so you feel, so you are

It ain't about the size of your car

It's about the size of the faith in your heart


[Chorus:]

There's hope

It doesn't cost a thing to smile

You don't have to pay to laugh

You better thank God for that

[repeat]


There's hope


[Verse 2:]

Off in the back country of Brazil

A met a young brother that made me feel

That I could accomplish anything.

You see just like me he wanted to sing

He had no windows and no doors

He lived a simple life and was extremely poor

On top of all of that he had no eye sight,

but that didn't keep him from seein' the light

He said, what's it like in the USA,

and all I did was complain

He said-livin' here is paradise

He taught me paradise is in your mind

You know that


[Chorus]


[Bridge:]

Every time I turn on the T.V.

Somebody's acting crazy

If you let it, it will drive you crazy

but I'm takin' back my power today

Gas prices they just keep on rising

The government they keep on lying

but we gotta keep on surviving

Keep living our truth and do the best we can do


[Chorus]


Stand up for your rights

Keep shining your light

And show the world your smile ☺

Thursday, July 10, 2008

PUNK di MAMPANK

Saya selalu waswas setiap kali bus yang saya tumpangi memasuki Jalan Mampang. Pastinya karena jalan ini adalah rajanya macet (sebelum memasuki Kuningan yang maha macet juga). Akhir-akhir ini rasa waswas saya bertambah karena kehadiran gerombolan pengamen jadi-jadian yang dengan lincah berpindah dari bus ke bus.

Saya sebut pengamen jadi-jadian karena pengamen jenis ini akan membuat penumpang ketakutan saat mendengar mereka berteriak...eh...menyanyi. Apalagi jika ada penumpang yang tidak memasukkan uang ke dalam kantong yang mereka edarkan setelah mereka (merasa) menghibur orang yang (terpaksa) mendengarkan mereka bernyanyi.

Bagaimana tidak ketakutan. Jika biasanya pengamen hanya bernyanyi sendirian atau berdua, para pengamen jadi-jadian ini berjumlah tiga hingga empat orang. Bukan karena beragamnya alat musik yang mereka mainkan. Tak ada alat musik. Hanya tepukan tangan untuk memberi irama pada nyanyian.

Biasanya mereka akan memasuki bus dari dua pintu bus yang berbeda secara bersamaan. Dua orang dari pintu belakang, dan dua lagi dari pintu depan. Sehingga penumpang merasa seperti disandera!

Begitu mereka masuk, semua penumpang akan diliputi rasa mencekam (setidaknya saya). Para “pengamen” ini mengenakan kaos dan celana hitam dengan model skinny yang pas di badan. Dengan dandanan dan aksesoris yang tak pernah saya bayangkan bisa dikenakan. Anting di telinga, bibir, lidah, hidung. Rantai-rantai, ikat pinggang mencolok, rambut acak-acakan. Dan yang paling mengganggu (maaf)...bau tidak sedap yang menyengat.

Lalu mereka bernyanyi...sepertinya lagu yang sama karena saya mulai hapal liriknya. Lagu itu berisi kemarahan mereka pada pemerintah yang mereka nilai telah membuat rakyat sengsara. Reff-nya begini : “Salah siapa? Pemerintah! Yang rugi...rakyatnya!” (dinyanyikan dengan amarah membara dan suara yang sangat lantang saat mengucapkan kata “pemerintah”).

Kemudian tibalah saat paling mencekam. Pengedaran kantong dari depan ke belakang untuk diisi uang. Entah karena ketakutan atau apa, hampir semua memberi. Seorang penumpang yang enggan atau mungkin tak punya uang diam saja ketika disodori kantong. Si pengamen jadi-jadian yang bertugas menyodorkan kantong itu tiba-tiba kalap dan berteriak “Hargailah suara kami!!”

Saya yang berada di belakangnya tersentak. Menurunkan earphone yang sedang saya kenakan (khawatir dibilang tidak menghargai juga), dan merogoh saku mencari uang receh. Tadinya saya tidak mau memberi uang pada orang-orang yang membuat perjalanan saya semakin suram. Tapi saat itu saya membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi jika saya tidak memberikan uang.

Setelah keempat pengamen jadi-jadian itu turun dari bus, semua penumpang menarik napas lega. Seorang anak SMP yang duduk di sebelah saya berkata pada temannya,”Gila. Serem abis! Ngapain sih mereka maksa gitu?”

Saya juga mempertanyakan hal yang sama sambil memandang para “pengamen” itu menaiki bus lain.

Wednesday, July 2, 2008

(Bukan) DILARANG BERIBADAH

Berdialoglah Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah…

“Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau biarkan dirimu melarat, sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri.(yeah right!) Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Kau kira Aku suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahKu saja. Tidak…”

Semua jadi pucat pasi tidak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia.

(AA. Navis, Robohnya Surau Kami)

Monday, May 19, 2008

Ticketing Thomas&Uber Cup Mengecewakan !

Lowongan kerja
Dicari : Calo Tiket Thomas dan Uber Cup
Hubungi segera PB PBSI

Sebuah kertas A4 berisikan tulisan di atas ditempel di sebuah batang pohon di antara antrian panjang orang-orang yang sedang mengantri tiket Thomas dan Uber Cup di Istora Senayan. Meski tujuannya menyindir atau bergurau, tapi tulisan di atas jelas dibuat dengan niat dan rencana karena di-print. Bukan tulisan tangan.

Kertas “lowongan” itu menjadi sedikit hiburan / bahan tertawaan bagi ratusan calon penonton yang sudah berjam-jam terpanggang sinar matahari mengantri tiket tribun untuk mendukung Tim Thomas dan Uber Indonesia.

Saya sendiri tidak menuduh calo sebagai satu faktor utama penyebab sulitnya mendapat tiket. Saya lihat para calo yang bahkan sudah mengantri sejak pukul 5 pagi ini juga belum tentu mendapat tiket. Toh jika punya uang lebih, saya juga lebih memilih membeli tiket pada calo daripada membuang waktu dan tenaga mengantri hampir seharian.

Yang saya pertanyakan adalah mekanisme penjualan tiket yang diberlakukan panitia. Awalnya saya berniat membeli tiket untuk final jauh-jauh hari. Setelah sampai di Senayan saya baru mengetahui dari penjaga loket bahwa tiket tribun hanya dijual saat hari H. Padahal yang saya tahu tiket VIP bisa dibeli jauh-jauh hari. Itu pun terbatas di beberapa kantor Bank BRI. Sepengetahuan saya, baru kali ini akses ke tiket VIP dikuasai sponsor (BRI) seperti ini. Pembeli tiket VIP, khususnya yang memiliki kartu kredit dan debit BRI bahkan bisa membeli dua tiket VIP dengan harga 1 tiket. Sementara tiket tribun hanya bisa dibeli di hari H dengan susah payah.

Bagaimana tidak susah payah. Prinsip “siapa cepat, dia dapat” sama sekali tidak berlaku di sini. Seperti yang saya alami. Hari Jumat, 17 Mei 2008, saya berangkat dari Depok ke Senayan pukul 7 pagi. Menurut informasi penjaga loket, dan dari internet, loket dibuka pukul 8 pagi. Saat sampai di Senayan pukul 9, antrian sudah sampai beberapa ratus meter, sementara loket ternyata belum dibuka.

Ikutlah saya ke dalam antrian. Antrian terus bertambah di belakang saya hingga ke ujung parkiran Senayan. Hampir setiap 15 menit sekali calon penonton yang ada di barisan depan meneriakkan kata “Buka, buka!” dengan emosi. Mereka (termasuk saya) juga tak henti-hentinya mengumpat panitia yang belum juga membuka loket. Tak jelas apa alasan panitia. Padahal tak ada bedanya apakah penonton masuk lebih awal atau belakangan. Toh penonton akan terus bertahan hingga tim Indonesia selesai bertanding.

Tidak ada yang tahu pasti kapan loket dibuka. Ada yang mengatakan pukul 11.00. Padahal jika saja loket dibuka tepat pukul 9, antrian panjang tak akan terjadi. Kalaupun tiket sudah habis dalam hitungan menit, itu pun sudah fair, karena yang mendapat tiket adalah mereka yang datang lebih dulu. Orang juga dapat segera mendapat kejelasan tanpa harus menunggu lama.

Karena hari itu hari Jumat, beberapa calon penonton pria memilih untuk meninggalkan antrian sebelum loket dibuka untuk menunaikan sholat Jumat. Tapi sebagian besar tetap berdiri di tempatnya karena tidak ingin penantiannya sia-sia.

Kami menunggu dalam kondisi yang sangat tidak nyaman. Berdiri di bawah teriknya panas matahari berjam-jam. Beberapa penonton juga mempertanyakan tidak ada satu pun panitia yang mengatur jalannya antrian. Bahkan panitia juga tidak terpikir untuk memberi nomor antri atau setidaknya menempatkan pembatas di kanan kiri antrian. Semakin ke depan semakin tidak jelas antrian terbagi menjadi berapa bagian. Tak jelas juga siapa yang sudah lama antri, dan siapa yang baru datang, sehingga banyak juga yang saling mengumpat satu sama lain.

Ternyata loket baru dibuka pukul 11.30. Alangkah kesalnya kami karena setelah menunggu berjam-jam ternyata loket hanya dibuka kira-kira 10 menit. Sehingga yang sempat dilayani hanya sekitar seperlima dari seluruh pengantri. Loket tutup lagi sehingga kami harus menuggu lagi tanpa kejelasan kapan loket akan dibuka kembali dan berapa jumlah tiket yang masih tersedia. Beberapa orang mengatakan pukul 13.00, setelah sholat Jumat. Jadi kami menunggu. Sementara antrian sudah semakin tidak beraturan. Calon penonton semakin sering berteriak mengumpat panitia atas ketidakjelasan ini.

Lewat pukul 14, ternyata loket belum juga dibuka. Ada yang mengatakan loket baru dibuka pukul 16. Itu berarti dua jam lagi kami harus menunggu tanpa kejelasan. Beberapa orang yang sudah menunggu sejak pukul 7 pagi tapi belum mendapat tiket akhirnya menyerah karena kelelahan.

Tak lama kemudian saya juga memutuskan untuk keluar dari antrian (atau lebih tepatnya kerumunan orang) setelah 5 jam sia-sia mengantri di bawah terik matahari. Bahkan ada juga penonton yang sudah mendapat tiket tapi tidak bisa masuk ke Senayan karena penuhnya penonton yang sudah di dalam. Tak jelas bagaimana hal ini bisa terjadi. Di Kompas diberitakan juga pegawai stasiun televisi yang mendapat hak siar (TRANS corp) bisa keluar masuk dengan mudah.

Banyak juga yang mempertanyakan apa fungsi polisi yang saat itu bertugas di Senayan. Padahal situasi akan sangat jauh berbeda jika mereka menertibkan barisan antrian, bukannya hanya duduk-duduk tak jauh dari lokasi loket.

Saya sangat menyayangkan panitia yang tidak mempersiapkan dengan baik sistem penjualan tiket ini. Hal yang seharusnya tidak terjadi dalam pertandingan sekelas Piala Uber dan Thomas Cup. Padahal di antara para pengantri pasti juga ada warga negara lain yang ingin menyaksikan tim dari negaranya bertanding. Sungguh mengecewakan !

Thursday, May 8, 2008

Bosan sekolah di gedung tinggi menjulang

Seonggok Jagung

Seonggok jagung di kamar tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku dan tidak terlatih dalam metode
Yang hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tetapi kurang latihan bebas berkarya

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan

Aku bertanya...
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan kehidupan
(WS. Rendra)

Tuesday, January 15, 2008

HARI INI TIDAK ADA TEMPE

“Hari ini nggak jual tempe, Mbak!” kata pelayan warung makan dekat kos saya saat saya akan makan pagi di situ. “Hah?! Kok bisa?” Saya tak percaya. Tapi Nami, nama si pelayan, tidak menjawab pertanyaan saya dan langung sibuk melayani pembeli lain. Baru hari ini dalam sejarah hidup saya, saya tidak menemukan tempe di sebuah warung makan (kecuali di beberapa bagian lain di Indonesia yang memang jarang mengkonsumsi tempe). Emang tempe ada musimnya? Kalau hari ini tidak ada udang atau buah nangka, saya bisa memaklumi.

Tapi ini kan negara tempe! (dengan mental tempe juga. He2) Saya besar dengan tempe. Hampir setiap hari saya makan tempe, lauk yang menjadi solusi bagi ibu saya sebagai perempuan pekerja yang harus masak dengan cepat. Gimana hari ini bisa nggak ada tempe?! Masa’ iya Nami lupa beli. Gorengan tempe di warung itu kan selalu habis kurang dari sejam setelah digoreng. Huuu...akhirnya saya harus merelakan hari ini tanpa tempe.

Sore hari, saat menonton berita di TV, pertanyaan saya terjawab. “Ratusan pedagang tahu dan tempe berunjuk rasa karena kenaikan harga kedelai yang mencapai lebih dari dua kali lipat. Setengah dari para pedagang seJabodetabek itu gulung tikar karena tak mampu memproduksi tempe dan tahu lagi.” Karena demonstrasi itu, hari ini (14 Januari 2008) memang tidak ada tempe di Jabodetabek. Wah wah wah... Gawat bener. Kalau pemerintah tidak bisa menstabilkan harga tempe, bisa-bisa nggak akan ada tempe lagi.

Saya jadi ingat Haji Ikrom, pengusaha kripik tempe di Malang yang beberapa bulan lalu pernah saya wawancarai. Lewat pembicaraan itu saya baru tahu bahwa kripik tempe yang biasa saya makan itu dibuat dari kedelai impor dari Amerika dan Cina. Bukan karena gaya. Tapi karena berdasarkan pengalamannya, kripik tempe yang baik hanya bisa dihasilkan dari kedelai impor. Menurut Ikrom, tahun 1980 – 1990an kualitas kedelai lokal memang lebih bagus dari kedelai impor. Awalnya mereka juga menggunakan kedelai lokal. Tapi setelah 1990-an kedelai impor lah yang kualitasnya lebih baik (kenapa ya?). Kedelai lokal hanya baik untuk dijadikan tahu, tapi tidak dengan tempe. Kedelai impor yang dikirim ke Indonesia hanya untuk dikonsumsi, tetapi tidak bisa ditanam di Indonesia. Sedangkan harga keduanya relatif sama. (man!!)

Bukan hanya itu saja. Yang lebih mengganggu pikiran saya adalah sekarang saya sedang semangat-semangatnya belajar tentang investasi di komoditas (Tentu saja hanya sekedar ingin tahu. Saya belum punya uang puluhan juta untuk saya pertaruhkan). Saya kurang paham mekanismenya, tapi yang saya tahu harga kedelai ini memang mau tidak mau didasarkan pada harga di pasar bebas. Dan di saat harga kedelai naik, para traders yang berinvestasi di komoditi ini dan sedang memasang posisi jual pasti akan mendapat keuntungan berlipat ganda. Sementara... di saat yang sama para pengusaha tahu tempe menuju ke kebangkrutan. Hmm... =’(

Friday, January 11, 2008

LEBIH BAIK SEDIKIT TAPI CUKUP DARIPADA BANYAK TAPI KURANG

Saya mengangguk-angguk setuju saat membaca tulisan di atas pada kaos Joger yang dipakai seseorang di depan saya suatu hari ketika mengantri busway. Kalimat itu persis menggambarkan perasaan bersalah saya sekarang. Sudah lama saya merasa terlalu banyak barang dalam kamar saya. Idealnya ketika saya membawa satu barang baru ke dalam kamar, saya harus merelakan satu barang lain yang sejenis untuk dibuang.

Dulu saya adalah tipe orang yang memakai alas kaki, tas, hingga ikat rambut yang sama setiap hari, ke manapun, dalam acara apapun, dan saat memakai baju warna apapun. Dan saya baru akan berganti barang hanya jika barang yang lama sudah benar-benar rusak.

Tapi setelah lebih dari 3 tahun tinggal di Jakarta raya ini saya mulai ikut arus. Sekarang saya punya lebih dari 10 pasang sepatu & sandal, lebih dari 10 tas beraneka warna dan bentuk, sampai lebih dari 10 warna ikat rambut. Semuanya untuk dicocokkan dengan jenis kegiatan yang akan saya lakukan, warna baju yang akan saya pakai, sampai ke mood saya hari itu.

Dibandingkan dengan teman-teman kampus saya yang seakan-akan memakai baju baru setiap hari, saya memang masih jauuuuh tidak modis, jauuuuh tidak memperhatikan penampilan. Teman-teman dekat saya bahkan hapal isi lemari saya (karena setiap kali saya memakai baju yang benar-benar baru mereka langsung komentar,”Baru nih?”). Tapi...entahlah, tetap saja saya merasa bersalah. Karena semakin sering saya membeli lebih banyak barang, justru saya semakin merasa kekurangan. Ingin lagi dan lagi!

Dan saya mulai...stress! Saya percaya bahwa pada dasarnya segala sesuatu yang berlebihan itu cenderung negatif. Dan sekarang saya stress karena rasanya saya punya terlalu banyak barang! Saya terlalu sering membeli barang. Saya terlalu banyak menghabiskan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih berguna. (Well, satu-satunya jenis barang yang masih terampuni dari penuhnya kamar dan lemari saya mungkin hanyalah semakin banyaknya buku yang tak muat lagi di rak)
Saya semakin stress ketika bepergian dan melihat begitu banyak orang di Jakarta ini yang bahkan tak punya uang untuk makan (di saat yang sama saya akan pergi ke mall membeli tas/baju lagi). Jadi selain berpikir 2 kali setiap kali akan membeli barang (yang bukan makanan), saat ini saya sedang berpikir bagaimana caranya memindahkan isi lemari saya ke tangan-tangan yang benar-benar membutuhkan. Anyone could help? :)

Stories inside my head

Share this blog