Tuesday, February 20, 2007

PRT-ku sayang…

Naomi Campbell dinyatakan bersalah dan harus melakukan kerja sosial selama beberapa waktu. Pembantu rumah tangganya menuntut Campbell dengan tuduhan penganiayaan yang dilakukan dengan melempar telepon secara sengaja pada si pembantu sehingga ia terluka.

Sebelum kasus ini Campbell yang memang dikenal temperamental telah melakukan kekerasan serupa pada 2 pembantu rumah tangganya yang terdahulu. (ini berita yang saya baca 16 Januari 2007 lalu)

Hmmm…saya jadi berangan-angan…kapan majikan-majikan sadis yang menganiaya pekerja rumah tangga Indonesia bisa mendapat hukuman setimpal?

Atau lebih tepatnya kapan para pekerja rumah tangga kita bisa sadar hak-haknya (selain kewajiban) dan punya keberanian untuk menuntut itu?

Di negeri ini, jangankan telepon, nyawa melayang pun hanya diterima dengan kata-kata “Yah…takdir,” oleh keluarga si pekerja.

GURU

Suatu hari saya berkenalan dengan beberapa teman dari sebuah perguruan tinggi yang khusus mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi guru.

Saya ingin tahu apa saja hal-hal yang diperlukan untuk menjadi profesi yang satu itu, karena jika diijinkan, suatu saat saya ingin jadi guru di sekolah alternatif.

Tapi komentar mereka membuat saya terdiam.
“Kita semua masuk situ karena kecelakaan kok. Karena ga lulus SPMB, jadi didaftarin di situ deh. 90% dari kita nggak ada yang bener2 mau jadi guru!”
Saya sedih. Karena menurut saya cara termudah dan terkecil yang bisa dilakukan seseorang untuk membuat perbedaan dalam diri anak-anak bangsa ini adalah dengan menjadi orang terdekat yang bisa mempengaruhi mereka. Dan cara termudah untuk itu adalah menjadi guru. Setidaknya 30 murid dalam satu tahun ajaran sudah menjadi prestasi besar.

Posisi guru membuat mata anak-anak tertuju pada Anda, mendengarkan Anda, melakukan apa yang Anda minta mereka kerjakan. Guru bukan orang sempurna, tapi

guru yang melakukan perannya dengan segenap hati sangat berpotensi mengubah hidup seorang anak ke arah yang lebih baik; karena segala sesuatu yang terjadi di masa kecil seseorang akan sangat mempengaruhi seluruh hidupnya.

Sebuah profesi yang sangat spesial!

Saat SD, saya ingat pesan guru saya untuk membuang sampah di tempatnya. Saya melakukannya, karena saat itu saya pikir semua perkataan guru seperti “mantra” yang harus saya lakukan.

Sekarang setelah saya dewasa dan mengerti kompleksitas masalah sampah dan bencana yang mungkin ditimbulkannya, saya jadi ngeri membayangkan jika ada banyak anak yang tak punya guru (karena orang tua juga banyak yang tak peduli masalah sampah) yang meminta mereka melakukan hal (yang tampaknya) sederhana itu.

Mungkin kadang mereka tak sadar bahwa pekerjaan sederhana yang mereka lakukan (biasanya dengan penghasilan yang terbatas pula) dapat berarti besar untuk saya, dan ratusan anak yang pernah mereka ajar. Apalagi mereka yang berada jauh di pelosok Indonesia.

Jika saya diminta untuk membuat daftar nama-nama orang yang paling berperan dalam hidup saya, sederetan nama-nama guru saya sejak SD hingga kuliah akan ada dalam daftar itu. And it’s true!

So, proud to be teachers !

I've Learned that...

Sometimes there're a slight different between being protected and being prisoned.

(by my self, Feb 06th, )

Ayo Buang Sampah, Tebang Pohon SEMBARANGAN!

Ini cuplikan berita yang saya dengar pagi ini (11 Febr.’07) :

Setelah banjir yang menewaskan lebih dari 80 orang, kerugian materi hingga milyaran rupiah, dan lumpuhnya kegiatan ibukota selama sepekan…akhirnya berbagai pihak sepakat untuk memperhatikan masalah lingkungan.

(Dalam hati gw : Woii…ke mana aja loe …?!!)

“Aqua gelas yang dingin, Bang!” Setelah tegukan terakhir, teman lama saya ini menjatuhkan gelas kosong itu ke trotoar sambil terus berjalan. Begitu saja, seakan-akan dia sudah melakukannya ribuan kali dalam hidupnya. Saya berhenti, memungut gelas itu dan memasukkannya ke dalam tas karena tak terlihat satupun tong sampah terdekat. Teman saya ini memandang saya lalu berkata, “Masih tetep aja.. Idealis.” Saya balik menatapnya. Marah. Tapi saya sedang malas berdebat di tengah panas dan ributnya Kuningan.

Bukan! Ini bukan masalah idealisme saya atau siapa pun. Tepatnya ini bukan (saja) masalah saya. Entah bagaimana membuat dia (yang bahkan telah lulus kuliah itu) mengerti hubungan antara tindakan (yang tampaknya remeh) seperti membuang sampah dengan sesuatu yang lebih besar dari sekedar idealisme.

Beberapa bulan kemudian (yaitu minggu ini), tempat tinggalnya di kawasan Rasuna Said tenggelam oleh banjir. Dengan mengumpat, ia bercerita bahwa jalanan di depan tempat kos-nya penuh sampah yang dibawa (atau yang jadi salah 1 penyebab?) banjir. Saya jadi ingat “perbuatannya” beberapa bulan lalu itu.

“Ya…itu kan sampah-sampah yang biasa lo buang sembarangan juga,” jawab saya datar. Ia diam untuk beberapa lama. Hhh…saya berharap semoga otak cum laude-nya itu sekarang bisa berpikir sebentar tentang hal ini.

Lahir dan besar di sebuah kota kecil di dataran tinggi, saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya kebanjiran. Bahkan saat Jakarta jadi lautan, saya tak ikut merasakannya karena tempat saya tinggal lebih tinggi dari kota itu.

Saat hujan nyaris tak berhenti selama berhari-hari, sebagian orang sibuk mengungsi, sementara yang lain sibuk mendistribusikan bantuan dari posko-posko banjir. Sementara entah kenapa selama beberapa hari pertama saya hanya…diam.

Saya hanya memperhatikan genangan air penuh sampah yang merendam kaki saya saat saya akhirnya harus pergi juga ke pusat kota. Saya memandang heran pada anak-anak yang tertawa-tawa terkena cipratan genangan air dari bus yang saya tumpangi. Saya melihat dengan sedih halte-halte busway yang berubah fungsi menjadi tempat pengungsian. Saya bingung menonton berita, melihat pemda Bogor dan Jakarta saling tuding menyalahkan dan melempar kesalahan.

Saya merasa terpojok, tak bisa menjawab, ketika guru dan teman kursus bahasa saya yang berkewarganegaraan asing bertanya pada saya, “Jika semua orang tahu bahwa akan ada banjir tiap tahun, dan setiap 5 tahun sekali akan banyak orang meninggal karenanya, mengapa pemerintahmu tak melakukan apa-apa untuk setidaknya membuat segalanya lebih baik?”

Dan akhirnya saya memandang dengan penuh kemarahan terhadap Gubernur Sutiyoso yang mengunjungi korban banjir. “Kebijakan” pembuatan busway dan monorel-nya telah sukses menghancurkan ribuan pohon yang tadinya berfungsi sebagai taman kota dan resapan air. Dan sekarang dengan senyum murahannya ia berkata ringan, “Penanganan bantuan untuk korban banjir ya sama lah seperti tahun-tahun lalu.” Atau seperti Aburizal Bakrie yang berkata bahwa media terlalu membesar-besarkan masalah banjir.

Tapi saya juga tak habis pikir dengan warga di sekitar sungai (dan di manapun) yang dengan sadar dan ikhlas masih saja membuang sampah di sungai…di sembarang tempat khususnya di seluruh pelosok Jakarta ini, bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun seperti teman saya.

Yang paling tidak bisa saya pahami adalah mereka yang dengan gelar dari universitas luar negerinya dengan bangga membangun puluhan rumah mewah, gedung-gedung bertingkat, tapi tidak disertai drainase dan cukup puas menggunakan tanaman plastik dengan alasan kepraktisan.

Since we’re living in a land of thousand disasters, ditambah dengan keahlian orang Indonesia membuat bencana hasil kreasi sendiri, BODOH BANGET kalau kita sampai sekarang masih tenang-tenang saja dan menganggap ini semata-mata urusan pemerintah atau siapapun selain diri sendiri.

KRL itu MAHAL lho!

Bagi saya, Jakarta tak hanya identik dengan mall-mall full AC dan gedung-gedung berisi orang-orang berpakaian elegan yang mondar-mandir sambil berbicara lewat handphone tipe terbaru-nya. Saya baru benar-benar mengenal Jakarta ketika saya ada di dalam…kereta ekonomi dalam kota.

Bagi Anda yang tidak tinggal di Jakarta, atau pernah berkunjung ke Jakarta tapi tak sempat naik kereta ekonomi, mungkin sulit untuk membayangkan situasi yang saya deskripsikan di bawah ini (seperti saya dulu). Tapi jika Anda datang (lagi) ke ibukota, cobalah naik alat transportasi yang satu ini saat akan berwisata ke Ragunan dan semacamnya.

Mungkin akan membuat Anda (jika ada yang ingin tinggal di Jakarta) berpikir dua kali untuk menetap di sini.

Bagi saya, kereta ekonomi adalah alat transportasi yang…

- MAHAL! Karena meskipun harga tiketnya hanya Rp 1500, diperlukan kejujuran untuk benar-benar membeli tiket tersebut daripada bilang “Abonemen!” ke pemeriksa karcis sehingga tak ada kewajiban bayar tiket, atau yang lebih parah bayar di tempat (masuk ke kantong si pemeriksa karcis) seperti yang biasa dilakukan orang-orang. Dan dengan harga itu, di jam-jam sibuk, kecil sekali kemungkinan untuk dapat tempat duduk. Sehingga yang perlu Anda lakukan adalah berusaha secepat mungkin mengalahkan penumpang-penumpang lain untuk naik ke dalam kereta dalam hitungan detik, dan berusaha sedikit egois untuk mendapatkan sedikit tempat untuk setidaknya menjejakkan kaki di suatu tempat dalam kereta.

- MAHAL yang kedua. Meskipun Anda ingin pergi ke (misal) Jakarta Pusat, kereta yang Anda naiki belum tentu mengantarkan Anda tepat ke tempat tujuan. Kadang Anda harus pasrah pindah ke kereta lain karena masinis kereta yang telah Anda tumpangi itu memutuskan berhenti di (biasanya) Stasiun Manggarai.

- MAHAL yang ketiga. Lagi-lagi meskipun harga karcisnya hanya Rp 1500, tapi Anda akan menghabiskan 10 kali lipat lebih mahal dari jumlah itu jika Anda memutuskan untuk berempati dan memberikan beberapa dari isi dompet Anda kepada setiap pengemis, pengamen jadi-jadian, dan “penodong.”

- MAHAL yang keempat, karena taruhannya nyawa. KA ekonomi telah menjadi TKP belasan atau bahkan puluhan nyawa melayang setiap tahunnya. Bisa karena tertabrak kereta, atau karena (dengan bodohnya) naik ke atap kereta, atau karena…pembunuhan dalam kereta.

- MAHAL yang kelima, karena 3 dari 10 teman saya yang sering bepergian dengan kereta mengaku pernah kecopetan. Jadi sebaiknya jangan bawa barang berharga, atau peganglah semua barang Anda erat-erat dalam kondisi waspada.

- Naik kereta ekonomi juga akan membuat Anda berpikir bahwa data pemerintah tentang angka kemiskinan yang menurun mungkin adalah sebuah kebohongan.

- Selain itu berada dalam kereta ekonomi membuat Anda percaya bahwa orang Indonesia (bahkan kaum urban Jakarta) memang lebih suka membaca “Lampu Merah,” “NonStop,” “Warta Kota” dan sejenisnya, koran-koran yang hanya berisi artikel tentang percabulan dan gosip daripada membaca berita yang memang patut menjadi perhatian.

- Dua dari beberapa kejadian terburuk dalam hidup saya alami di dalam kereta ekonomi. Saya pernah duduk di sebelah seorang eksibisionis. Membuat saya ketakutan setengah mati dan menyadari bahwa bantuan yang bisa saya berikan kepadanya hanya sebatas duduk diam dan berdoa. Karena jika saya mencoba berinteraksi dengannya, nyawa saya bisa menjadi taruhannya.

Satu kejadian terburuk lain adalah menyaksikan seorang perempuan menganiaya seorang anak kecil (entah anaknya, atau adiknya, atau anak “pinjaman”) karena si anak tak mendapat uang sepeserpun dari hasil mengemis.

Saya meraih pundak si anak yang memang sedang berada tak jauh dari tempat saya berdiri, berharap mungkin saya bisa melindunginya dari pukulan si perempuan dalam beberapa detik saja. Tapi akhirnya saya lepas juga pundaknya ketika si penganiaya menatap tajam mata saya seakan ingin berkata “bukan urusanmu!”

Saya menatap sekeliling saya, berharap ada orang yang lebih kompeten untuk setidaknya menghentikan tindakan si perempuan (ngomong2, orang Komnas Anak nggak pernah naik kereta ya? Sepertiga dari orang-orang yang “bekerja” di kereta kan di bawah umur). Tapi rupanya orang-orang Jakarta ini memang terlalu lelah untuk berempati (bisa dimaklumi, mengingat terlalu banyak hal menyedihkan di sekitar mereka. Sehingga cara termudah adalah diam). Hanya seorang bapak dan seorang ibu yang berkomentar melihat adegan kekerasan itu. “Kasar amat!” begitu kata mereka. Hanya itu.

Stories inside my head

Share this blog