Thursday, November 25, 2010

I Love CRIME !

Dulu saya sempat pingin masuk jurusan Kriminologi. Gara-gara kecanduan nonton film-film serial di Fox Crime (&Fox Channel), saya jadi berangan-angan ingin jadi investigator/ detektif / ahli forensik/ apapun yang berhubungan sama pemecahan kasus kejahatan. Saya sampai hapal tuh jalan cerita beberapa episode  The Practice, Dexter, Burn Notice,NCIS, CSI, dan sekarang Bones, Warehouse 13, Psych, dan kawan-kawannya. 

Ibu saya saja yang awalnya mengernyitkan dahi melihat saya nonton serial yang isinya mayat berdarah-darah, kadang jadi ikutan nonton. Bukan (cuma) karena TV di rumah saya monopoli hampir sepanjang hari (bukan sarjana Komunikasi teladan ya), tapi karena serial-serial ini memang menarik!  

Kenapa? Karena bikin otak mikir :-D (entah apakah ini membuktikan saya jarang pakai otak. Haha). Saya jadi tahu bahwa memecahkan kasus kejahatan itu harus pakai berbagai ilmu, mulai dari fisika, kimia, budaya, psikologi, sosiologi, sampai bahasa. Misalnya dari darah korban, menggenang atau berbentuk tetesan (tetesannya pipih atau bulat), bisa diketahui si korban ditusuk, dipukul, atau ditembak. Lalu dari sudut tembakan kita juga bisa tahu saat ditembak korban sedang dalam posisi duduk atau berdiri, juga bisa tahu perkiraan tinggi badan si pelaku. Beberapa kali ada kasus penundaan eksekusi hukuman mati karena ditemukan bukti baru (berkat ilmu yang berkembang) yang ternyata membuktikan si terdakwa nggak bersalah. Padahal kejadian kejahatannya sudah puluhan tahun lalu. Niat banget kan detektifnya. Saya jadi belajar betapa berharganya keadilan(di film itu).

Saya yakin di setiap episode penulis skenarionya tuh harus bikin riset mendalam dulu tentang banyak hal. Kasus-kasusnya  juga super rumit. Susah ditebak ending dan siapa pelakunya. 

Dari semua serial, saya paling suka sama…Dexter! Film-film lain dibuat dari sudut pandang tokoh-tokoh protagonis (polisi/ detektif yang sedang memburu pelaku kejahatan), sementara Dexter dibuat dari sudut pandang si penjahat. Si Dexter ini kerjanya ahli forensik tapi juga adalah seorang pembunuh berantai. Jadi dia nggak pernah tertangkap karena tahu persis cara kerja ahli forensik (dan cara mengacaukan bukti). Hebat nggak tuh ide ceritanya. Saya jadi mikir bahwa para penjahat itu sebenarnya orang-orang yang sangat cerdas. Dan itu kenapa jadi polisi harusnya jauh lebih cerdas. Hehe.

Balik lagi ke CSI dan semacamnya, lama-lama saya jadi memuja tokoh utama di film-film itu : Horatio, Jethro, dan kawan-kawannya. Berangan-angan seandainyaaa di dunia nyata para penegak hukumnya juga maha cerdas, bijak, dan berdedikasi kayak gitu.
Jadilah saya dulu pingin jadi pahlawan kayak mereka (dengan masuk Kriminologi). Sekarang sih enggak lagi. Cukup nonton aja. Apalagi setelah baca update status seorang teman saya yang lulusan Kriminologi : “Pingin rasanya gue bakar nih ijazah. Nggak ada satu pun lowongan sarjana Kriminologi!”
Hehe. Real life's not as you seen on TV :-D.

Insight : Jurusan Kriminologi di Indonesia cuma ada di UI

Thursday, November 18, 2010

Pertanyaan Wawancara Kerja : Berapa Jumlah Teman di Facebook?

Sampai detik ini saya belum pernah memakai ijazah sarjana saya untuk melamar kerja ke manapun. Di bidang saya, tulis menulis, portofolio atau daftar publikasi hasil tulisan saya jelas lebih berguna daripada selembar kertas sakti itu.

Tapi baru-baru ini, saat mengirim lamaran sebagai penulis web content lepas, saya baru sadar bahwa  ternyata ada yang mengalahkan kesaktian portofolio. Saat mewawancarai saya via telepon, pertanyaan yang diajukan adalah : (jawaban yang dalam kurung pastinya cuma terlintas di otak)

“Sudah pernah nulis di mana aja?”
(Lha, kan udah tertulis lengkap di CV. Nggak dibaca to?)
“Punya blog?”
(Ini juga udah saya tulis alamat link-nya di CV x_x)
“Punya jaringan internet di rumah?”
(Syukurlah punya, di mana pun saya berada. Asal blackberry nggak ketinggalan aja).
“Apakah setiap hari mengakses internet?”
(Ya. Kecuali ada pemadaman listrik sehingga saya nggak bisa isi baterai laptop & blackberry).
 “Punya akun twitter?”
(Udah lama punya. Tapi baru tau cara pakainya tiga bulan belakangan ini).
“Punya akun facebook?”
(Pertanyaan retorik)
“Punya berapa teman di Facebook?”
(Mana saya ingat! Akhirnya saya jawab empat ratus)
“Dari 400 itu berapa persen yang benar-benar teman?”
(Nah lho! Berarti penting banget nih sampai ditanya detail. Saya jawab 80% lah).
 

Setelah wawancara kerja paling aneh itu, mereka tak pernah menghubungi saya lagi. Huhu.
Padahal saya mau banget  tuh freelance di tempat se”santai” itu.
Saya pikir-pikir, ini pasti karena jumlah teman saya di facebook yang menurut mereka terlalu sedikit (bisa dipahami sih, mungkin mereka ingin tulisan saya langsung di-link ke wall saya sehingga terbaca juga oleh ratusan “teman-teman” saya). Ternyata oh ternyataaaa, setelah saya cek, ternyata jumlah teman saya bukan cuma 400, tapi sembilan ratus orang (Ya ampuuun! Siapa aja tuh?).
Yahhh! Pingin teriak, "Telepon saya lagi dooong!"
Baru kali ini portofolio saya kalah oleh...tingkat kegaulan di facebook!

NB : Well, ini tidak mengubah niat saya untuk me-remove beberapa orang yang suka kirim postingan aneh dan menyeleksi permintaan pertemanan di Facebook

Thursday, November 4, 2010

Cuma Ada 2 Wilayah di Indonesia : Jawa dan Luar Jawa

Mungkin kata-kata jenakanya Pak Marzuki Alie tempo hari ada benarnya. Emang dasar nasib jadi orang yang tinggal di kepulauan, apalagi pulau pinggir seperti Mentawai. Sudah dari jaman Pak Harto sampai Pak Beye taraf hidup gitu-gitu aja, pas kena bencana mesti pasrah pula nunggu bantuan karena akses ke dan dari mana-mana susah. Saudara setanah air yang mau jadi relawan aja harus balik lagi karena nggak bisa mendarat di lokasi (tapi kok relawan dari luar negeri banyak yang sudah lama sampai ya?). Korban jiwa jauh lebih banyak di Mentawai, tapi malah Merapi yang diekspos sampai berepisode-episoden(regardless letusannya memang terjadi berhari-hari). 

Bukannya nggak bersimpati sama saudara-saudara yang di sekitar Merapi. Tapi sebenarnya nggak cuma pas bencana, saudara kita yang di “luar Jawa” itu dari lahir sepertinya ditakdirkan hidup lebih susah daripada yang kebetulan lahir di Jawa (kecuali Bali kali ye). Saat warga Jabodetabek ngomel karena kena pemadaman bergilir setengah hari(termasuk saya), teman-teman yang di Kalimantan, Sulawesi, apalagi Papua sudah biasa hidup tanpa listrik lebih dari 12 jam setiap harinya karena listriknya memang mati melulu.    


Taraf hidup relatif lebih rendah daripada di Jawa, tapi untuk beli ini itu mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak daripada penduduk Jawa. Lihat aja iklan produk mulai snack sampai majalah yang biasanya menerapkan 2 harga : harga untuk di Jawa & Bali, dan harga untuk di luar dua pulau itu.
Untuk produk baru, kadang juga ada tulisan : Untuk sementara hanya tersedia di Jawa & Bali. Bisa dipahami sih. Produsen nggak mau (atau males) keluar ongkos banyak untuk pengiriman ke luar Jawa, padahal daya beli di sana juga relatif lebih rendah dibanding penduduk Jawa.


Saya sendiri kalau kirim barang ke luar Jawa juga selalu was-was. Kasihan sama orang yang beli barang (dan menanggung ongkos kirimnya). Pernah saya kirim barang ke sebuah kabupaten di Kalimantan yang ongkos kirimnya 2kali lipat dari harga barangnya sendiri! Mahal pula’. Saya sampai bolak balik tanya apa dia yakin mau beli. Apaaa namanya kalau bukan nasib jadi penduduk negara kepulauan.



Nah, kalau pulau Jawa sendiri ternyata juga cuma punya 2 wilayah : Jakarta dan daerah. Kalau yang ini saya rasakan sendiri saat pertama kali masuk UI. Di hampir setiap kelas baru sering ditanya, “Siapa yang dari daerah?”
Paling kesal sih pas ada seorang teman baru yang begitu saya bilang kota asal saya langsung tanya : “Eh, Malang itu udah ada kendaraan sama mall ya? Kirain cuma ada gunung-gunung aja.”
Saya : melongo. Wondering how did he get through SPMB & dapet kursi di salah satu jurusan ilmu pengetahuan sosial di UI.

Stories inside my head

Share this blog