Wednesday, October 31, 2012

Agama Setengah

Seorang teman Kristen yang bersekolah di Inggris pernah ditanya oleh teman sekelasnya yang atheis, “Mengapa kamu beragama?”
Ia menjawab, “Karena agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian.”
Si atheis : “Sebutkan negara di dunia ini yang menurutmu paling beragama, sekaligus paling membantu menciptakan perdamaian dunia.”
Teman saya terdiam. Ia tak yakin punya jawaban.

Meski saya tak suka ditanya “apa agamamu,” saya percaya pada Satu Kekuatan besar yang menciptakan kehidupan manusia, dan melakukan ritual agama yang saya maknai sendiri secara personal. Tapi…saya (berusaha untuk) tidak menyembah agama dan ritual-ritual di dalamnya.

Menurut saya, ritual itu tidak lepas dari konteks budaya dan sejarah. Meninjau ulang, apalagi merevisi simbol dan ritual dari sebuah agama, tentu akan mengubah otentitas agama itu sendiri. Tapi bagi saya, tinjauan ulang terus menerus itu harus dilakukan agar sebuah agama mencapai tujuan yang sesungguhnya. Bukan hanya sebagai status atau kebiasaan usang yang dibela mati-matian agar selalu tetap sama – tapi sesungguhnya mati.

--ditulis di Hari Raya Kurban, saat pengurus masjid berkata, “Pertambahan jumlah kambing dan sapi yang dikurbankan tahun ini menunjukkan pertambahan kadar keikhlasan dan keimanan umat.”


And I thought, how come?!


Dan di bawah ini adalah foto halaman masjid pasca ibadah hari raya. Manifestasi iman - yang katanya setengahnya adalah kebersihan - setelah mendengarkan kotbah tentang iman :).


Share this blog