Wednesday, September 21, 2016

Jangan Cari Uang(nya Saja)

Saya tidak mencuri dengar tapi tak sengaja mendengar. Seorang rekan kerja menyatakan akan pindah kantor demi gaji lebih tinggi. Atasan saya bertanya padanya, "Kamu cari apa dalam hidup? Saya lihat kamu senang dan berkembang kerja di sini. Jangan cari pendapatan lebih gede aja lho."

Sis, berat banget diajak mikir hidup nyari apa! Saat itu saya berpikir, "What? Lalu kita kerja buat apa kalau bukan untuk pendapatan lebih tinggi?" Apalagi di Jakarta, semua pekerja kantoran mesti akrobat dan latihan sabar di jalanan melebihi kesabaran seorang rahib di kuil, hanya untuk sekedar berangkat dan pulang kantor. Ngapain capek-capek kalau uangnya segitu-segitu aja?

Si teman tetap resign dan pindah ke tempat kerja dengan gaji dan -tentu saja- tuntutan lebih tinggi. Saya nggak pernah tanya sih apa dia lebih bahagia, lebih berkembang atau apa. Saya duga perasaannya kurang lebih sama seperti saya: kadang kami merindukan pekerjaan kami yang gembira tapi (atau meski?) dengan pendapatan ala kadarnya itu. Rindu sekedar nostalgila tapi tidak untuk kembali (ya macem inget mantan SMA lah :p).

Rumus untuk “Pemalas”
Sekarang, kurang lebih lima tahun setelah saya dengar kalimat "jangan cari uangnya aja"  itu, saya baru mulai paham maksud eks atasan saya. Saya juga berhenti kerja dari kantor yang-menyenangkan-meski-pendapatan-seadanya itu lebih karena ingin punya lebih banyak waktu untuk menulis fiksi. Oleh karenanya, dengan congkak saya menolak pekerjaan dengan gaji dan jabatan (dan tentu saja tanggung jawab) lebih tinggi di tempat lain. Barangkali alasannya karena pada dasarnya saya ini malas bekerja kantoran dan karenanya, nggak begitu perlu jenjang karier.

Sedikit pembenaran: kadang pemalas justru bisa mencapai sesuatu yang lebih karena dia akan berpikir cara terefektif dan efisien untuk mendapatkan hasil yang sama (kalau bisa lebih dari) dengan yang didapat orang lain (haha!). Intinya saya harus terus punya pendapatan, tapi masih memungkinkan saya leluasa melakukan hal-hal menyenangkan lain meski nggak menghasilkan uang.

Sebagai gantinya, saya memilih pekerjaan dengan jabatan non-manajerial (cerita selengkapnya di sini). Sampai sekarang saya masih bekerja di kantor yang sama, tapi karena pindah domisili, diizinkan bekerja dari mana saja. Di pagi hari, saya bisa (sok) olahraga dulu dan baru mulai buka laptop jam 10 pagi. Di hari lain, saya bisa jadi perlu lembur dari subuh hingga malam untuk mengerjakan semua artikel untuk sepekan, demi bisa mengerjakan fiksi (yang uangnya tak seberapa atau bahkan tak ada itu) atau bepergian lebih lama bersama anak di akhir pekan. Konsekuensinya, tentu saja jabatan saya nggak akan naik-naik dan pendapatan saya tidak sebesar teman-teman lain yang datang secara fisik ke kantor. But hey, it’s worth it. 

Orang lain mungkin juga pindah bekerja dengan gaji yang lebih rendah tapi lebih sesuai passionnya, atau bahkan berhenti bekerja untuk mengerjakan usaha yang sudah lama ingin dia kerjakan sendiri, meski mulai segalanya dari nol. Dan bisa jadi di sinilah kalimat usang "do what you love, and the money will come" (semoga) akan jadi nyata. 

Value!
Di titik ini, seketika jargon-jargon yang dulu belum atau hanya saya pahami samar-samar jadi makin terang. It’s so true that “your job is not your career,” mengulang kata career coach Rene Suhardono. Saya bisa resign dari manapun, tapi karier tetap melekat pada diri saya. Karier saya penulis, brand saya adalah nama saya sendiri, dan kantor saya di manapun.

Kata Henry David Thoreau, live the life you've imagined. As you simplify your life, the laws of the universe will be simpler. Impian akan hidup ideal saya masih sama: punya usaha yang lebih bikin gembira ketimbang stres (utopis! :D),  mengetik seperlunya, lebih banyak waktu di dapur, perpustakaan, dan rerumputan. Belum kesampaian. Tapi setidaknya menguasai waktu sendiri berarti selangkah menuju ke sana. 

Dulu saya dengan sombongnya nggak paham bagaimana orang bisa living a “small” life. Tidak sebelum saya tahu bahwa  tiap orang punya value dengan skala prioritas yang berbeda-beda. Ada orang yang menomorsatukan karier di atas keluarga, dan bagi saya itu bukan sesuatu yang salah. Ada yang value-nya sesederhana (atau serumit?) mengerjakan hal sesuai passion, atau bisa mengantar jemput anak sekolah.

Sederhananya, seperti yang dibilang penulis Hunter S. Thompson. Beware of looking for goals: look for a way of life. The goal isn't the money. Decide how you want to live and then see what you can do to make a living within that way of life. 

Thursday, February 18, 2016

Tentang Kota dan Diri yang Berubah

Setelah satu dekade tidak tinggal di Malang, saya mencoba mencari-cari penyebab mengapa kini saya sulit – dengan segala hormat - menyebut kota ini sebagai rumah.

Saya kerap sok merasa bisa mengamini sabda Heraclitus: panta rei. Tidak ada yang tetap selain perubahan.  Tetapi sejujurnya, seperti sebagian manusia lain, saya begitu lambat menerima kenyataan bahwa beberapa hal yang sentimental juga tidak bisa tetap tinggal di tempatnya.

Pohon-pohon rindang yang menaungi saat saya terkantuk-kantuk berada di atas becak yang bergerak perlahan, kini meranggas atau sudah tak ada. Hotel-hotel tinggi menggantikan toko dan bedak lama, yang pedagangnya bahkan saya kenal wajahnya. Kafe-kafe bertingkat penuh anak muda berfoto dengan tongkat, dan rumah-rumah makan yang mengokupasi rumah-rumah lama peninggalan Belanda. Warung kopi dan warung tegal di sekitar kampus tergusur apartemen (apart-men!). Sejak kapan sih mahasiswa yang biasa makan lesehan di kota ini merasa perlu tinggal di apartemen?

Saya bahkan sudah tidak lagi pulang ke rumah di mana saya pertama kali belajar merangkak, serta jalanan perumahan di mana saya pertama kali bisa menaiki sepeda roda dua. Rumah dinas ibu saya itu kini  sudah rata dengan tanah. Sebentar lagi di atas tanah di tengah kota itu akan berdiri bangunan perluasan kampus. Memang lebih banyak mahasiswa atau sekedar lebih banyak dana yang masuk? Tidak jauh dari sana, ada mall yang dulu setengah mati ditolak berdiri oleh para mahasiswa karena berdekatan dengan kampus dan makam pahlawan. Toh kini mahasiswa yang sama – yang sudah jadi bapak dan ibu – gemar mengajak keluarga mereka ke sana.

Kota, kata Karen Armstrong, adalah tempat tinggal para aristokrat-aristokrat kecil. Dan para aristokrat ini entah bagaimana menjadi berperilaku serupa, baik manusia maupun kotanya. Kini, bagi saya, kota yang pernah dingin dan pernah kecil ini menjadi sama saja seperti kota besar lain di Indonesia: penuh pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong dengan harga makanan berkepala tiga, macet, panas, penuh perumahan baru - dengan harga yang kadang tidak masuk akal - hingga jauh ke pinggir kota.

Dan karenanya jika rumah masih berupa sebuah tempat, maka saya tidak merasa sedang pulang. Hanya sekedar seperti berada di kota lain, meski sesekali saya melintasi sekolah masa kecil dan jalan-jalan menuju rumah teman. Kota ini sesak dengan kendaraan bermotor roda empat dan dua, yang pemiliknya gemar makan di luar dan bertandang ke pusat perbelanjaan.

Kota dan Filosofi Makan di Luar
Cara makan adalah salah satu kegiatan penanda utama perubahan gaya hidup masyarakat sebuah kota. Rumah-rumah makan dan kafe yang penuh sesak, terutama di sore hari dan di akhir pekan itu membuat saya bertanya-tanya: ke mana ya dulu saya, teman-teman, dan keluarga saya menghabiskan waktu? Yang pasti tidak di kafe atau rumah makan, karena tempat-tempat ini dulu tidak semasif kini. Jawabannya di rumah, atau di rumah teman atau kerabat. Tetapi tentu saja kini sebagian kecil kerabat dan sebagian besar teman sudah tidak lagi tinggal di kota ini.

Saat kecil hingga remaja, frase “makan di luar” adalah sesuatu yang besar sekaligus asing bagi keluarga saya. Ini adalah kegiatan langka yang hanya dilakukan saat merayakan sebuah peristiwa besar seperti komuni pertama saya (sebuah perayaan dalam gereja Katolik). Ibu saya lebih suka repot memasak dan mengundang orang untuk datang ke rumah ketimbang tinggal duduk dan memilih menu di rumah makan atas nama kepraktisan (atau apapun).

Perayaan-perayaan ulang tahun saya saat kecil semua diadakan di rumah, dengan kue ulangtahun berupa cake biasa tanpa hiasan dan makan malam sekedar bihun dan kerupuk. Tapi saat-saat itu selalu riuh dengan tetangga dan kerabat yang datang. Kali lain, hanya sekali, ulang tahun saya diadakan di sekolah taman kanak-kanak. Masih dengan kue-kue buatan ibu saya sendiri. Begitu saja saya sudah merasa seperti orang kaya.

Teman-teman sekolah saya yang lebih berada juga merayakan ulang tahun di sekolah atau rumah. Bahkan ketika rumah mereka adalah sepetak lantai tidak luas di bagian atas sebuah toko. Saya selalu senang bisa berkunjung ke rumah teman karena selain bisa tahu di tempat seperti apa teman saya ini tumbuh, saya juga bisa kenal dengan seluruh anggota keluarganya, termasuk asisten rumah tangga dan barangkali anjingnya.

Begitu juga dengan acara kelas seperti buka puasa. Saya masih ingat senangnya berbuka bersama (meski saat itu tentu saya belum ikut puasa) di rumah teman, duduk lesehan tanpa buru-buru. Kini, di mana lagi orang kota berbuka puasa jika bukan di mall atau rumah makan. Tempat yang menyisakan kekhawatiran dan kerepotan yang sebenarnya sungguh tak perlu: antrian panjang di depan kasir untuk membayar makanan, dan yang lebih sedih, antri untuk sekedar beribadah (kadang ujungnya jadi mendahulukan makan dengan mengabaikan ibadah).

Bagi orang-orang seperti ibu saya, makan di luar itu bahkan bukan pilihan. Saat keluar rumah sekalipun, ia akan menunggu pulang ke rumah untuk makan, meski itu berarti beliau makan siang pukul 14 atau 15. Saya sendiri bahkan baru tahu bagaimana rasanya ayam KFC  itu di kelas tiga SD. Itupun karena diajak oleh seorang sepupu yang sudah kuliah. Bukan oleh orangtua.


Meja makan di rumah orang tua saat Natal
Di rumah kami, dapur dan ruang makan adalah jantung, di mana ibu saya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menyiapkan makanan. Dan barangkali hal terbesar dari rasa “pulang” adalah tinggal bertemu dan makan masakan ibu saya (yang selalu saya tiru saat kami jauh).

Pada akhirnya, kota ini meletupkan rasa yang berbeda dari 10 tahun lalu, sekaligus rasa yang sama seperti tempat-tempat penuh roda empat lain. Ataukah kota ini sebenarnya masih sama, tetapi saya yang sudah berubah? Atau saya yang masih mencoba menjadi atau mengharap yang sama, tetapi kota ini sudah berlari ke arah yang tidak saya duga? Mungkin lebih tepatnya saya dan kota ini sama-sama berubah dan tidak lagi dapat bergenggaman tangan meski bukan berarti merenggang. Barangkali hanya sekedar dapat berdiri bersisian.

Dan pada akhirnya, saya harus berdamai menerima kenyataan bahwa rumah itu - kata salah satu penulis favorit saya, Cecelia Ahern, ternyata bukan (sekedar) tempat -  tapi perasaan. Home is not a place. It’s a feeling. Tidak ada satupun tempat di dunia ini yang tinggal tetap dan selalu lengkap. Rumah saya adalah...di manapun, bersama keluarga saya. 

Stories inside my head

Share this blog