Tuesday, November 26, 2019

Cerita Kompetisi Spelling Bee (2) : Grand Final

Lanjutan dari blog sebelumnya :).


Tempo hari, (24/11) Bima berkesempatan ikut grand final spelling bee di Tennis Indoor Senayan. Dia satu dari 150 anak grup B (kelas 3&4) yang menjadi pemenang kompetisi regional dari berbagai kota di Indonesia.

Hari itu beberapa orang tua bahkan terlihat masih membawa koper, pertanda mereka baru tiba di Jakarta dini hari. Saya sendiri sempat ngobrol dengan orang-orang tua dari Solo, Semarang, dan Sidoarjo. Beberapa tidak menginap dan langsung kembali karena besoknya UAS.


Orang-orang ini tampak asing sekaligus terasa familiar. Apalagi anak-anaknya. Anak-anak ini mirip sekali dengan Bima yang suka bicara dalam Bahasa Inggris, suka main game (tentu saja mereka menanti sambil main hp), dan cenderung aktif.  



Begitu juga orang-orang tuanya. Saya bisa melihat diri saya sendiri dalam mereka. Begitu tiba, kami berjalan bersisian dengan seorang bapak dan anak lelaki. Si Bapak berbisik ke anaknya (tapi saya bisa dengar), "Remember your goal. To find new friends." Anak itu kemudian mengajak Bima berkenalan :)). 

Ada sekitar 700-an anak yang terbagi ke dalam 4 grup (grup A kelas 1-2, grup B kelas 3-4, grup C kelas 5-6, grup D kelas 7-8). Jadi masing-masing grup diikuti sekitar 150-an anak. Tujuh ratus anak dengan keluarga masing-masing (ada yang didampingi 1, tapi ada juga yang bersama 3 anggota keluarga), tentu membuat halaman Tennis Indoor penuh sesak.

Registrasi dibuka pk 06.00 tapi anak-anak baru diajak berbaris masuk pukul 08.30. Dan setelah menunggu pengkondisian dan sambutan-sambutan, lomba baru benar-benar dimulai pk. 09.30.






Saat masuk, anak tidak membawa apa-apa (selain air minum), kemudian duduk di kursi dengan alas tulis, alat tulis, dan kertas yang sudah disediakan. Sementara orang tua duduk di balkon, di sekeliling atas mereka. Saya sengaja duduk di lokasi di mana Bima bisa melihat saya. 



Berbeda dengan di tahapan di tingkat lokal, di tingkat nasional peserta menjalani babak penyisihan dan semifinal berturut-turut. Total nilai dari 2 babak ini kemudian yang digunakan untuk menentukan 10 finalis. Ada 30 kata dalam tiap babak di tiap grup, dibacakan terbuka secara bergantian oleh satu native speaker di atas panggung. Masing-masing kata diberi waktu 15 detik untuk ditulis. Kata - kalimat contoh - kata. Jadi jika grup A sedang menjalani tes, grup B-D harus menunggu dengan tenang di tempat masing-masing.




Setelah babak penyisihan tertulis, langsung dilanjutkan babak semifinal tertulis juga dengan proses sama. Hanya saja soal di babak semifinal berbentuk pilihan ganda dengan kata-kata yang lebih sulit. Anak-anak memilih kata apa yang terdengar. 


Setelah itu jeda istirahat sejam. Sebelumnya, orang tua mengantre menjemput anak masing-masing, satu persatu, dengan dipanggil namanya. Ini proses lumayan lama :)). Belum lagi pilihan makanan di area lomba yang terbatas hingga membuat antrian panjang, begitu juga kalau mau ke toilet. Saya mengajak Bima ke Indomaret Gelora Bung Karno, syukurlah ada nasi siap saji. 

Setelah istirahat, mereka masuk lagi untuk mendengar siapa 10 dari 150-an anak yang lolos menjadi finalis yang akan mengeja secara langsung di panggung. Nama Bima tidak disebut :)). Dalam perjalanan pulang dia kesal dan bilang tidak mau ikut spelling bee lagi. Hehe. Ini reaksi wajar karena beberapa anak lain ada juga yang menangis kencang dan marah-marah. Dan justru ini saat terbaik untuk mengajak anak belajar menerima kekalahan dan mengelola perasaannya. 


Saya ajak Bima makan di Burger King FX Sudirman. Ternyata di sana ada teman peserta lain dari Solo yang sempat berinteraksi dengannya. Mereka main dan nonton YouTube bersama, kemudian lupa kesedihan hari ini :)). Saya juga jadi ngobrol dengan ayahnya yang ternyata seorang visual facilitator. Mereka pulang ke Solo malam itu juga, setelah saling follow akun Instagram. 


After all, it’s a great experience. Saya berkata pada Bima, kalau mau ia bisa ikut lagi tahun depan. Saya bilang ia punya kelebihan karena sudah punya pengalaman . Semoga ia tidak kapok mencoba lagi :)). 


Beberapa catatan:

  1. Mekanisme dan lokasi Spelling Bee di tiap tahun berbeda. Tahun lalu acara diadakan di SMESCO. Sehingga pengalaman di tiap tahun tentu berbeda. 
  2. Untuk peserta dari luar kota, EF tidak memberikan dana akomodasi. Pemenang di tingkat regional mendapat hadiah uang. Bima juara 3 dapat 500 ribu, jadi asumsi saya juara 2 dapat sejuta, juara 1 dapat 1,5 juta. Nominal ini mungkin berbeda di tiap regional. Uang ini yang kemudian menurut saya dianggap sebagai bekal untuk ke Jakarta. 
  3. Ini beberapa kata yang sempat saya tangkap di babak tertulis. Maaf cuma sedikit. Grup D tidak saya tulis karena susah. Hehe. 
Grup A: excellent, yummy, bowl, chance, serious, silence, siblings, rubbish, telephone, small, crocodile, library, illustration, courage, twist, whisk, ruler, assessment, cemetery, millennium.  
Grup B: delight, condition, suitcase, humid, practical, nightmare, medicine, business, automatic, exercise, graduate, location, discovery, neglect, neutron, checker, exhibition, receive, eight, luxurious, committee, extinguish, auditory, node, tarantula, nutritionist, insecticide, exaggerate. 
Grup C: eruption, exist, occasion, responsible, waste, disturbance, anniversary, simplicity, facility, fabulous, maturity, memorandum, accomplishment, correspondence, charismatic, assassination, knowledgeable, daffodil, questionnaire, tractors. 


Beberapa link untuk belajar spelling sudah saya bagikan di blog sebelumnya


Sampai jumpa tahun depan :))



Monday, November 4, 2019

Refleksi dari Kompetisi Spelling Be: Mengeja Diri Sendiri (1)

Sejak usia 7, anak saya menjelma menjadi jenis anak yang dulu tidak saya sukai :)). Anak aktif yang bicaranya campur-campur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, suka menggambar (bahkan di dalam kelas), gemar main game dan nonton YouTube. 

Setelah ia diikutkan sekolahnya dalam kompetisi Spelling Bee English First (EF) tempo hari, saya jadi semakin yakin, daripada terus mencoba "membetulkan"nya, mungkin kesukaan-kesukaannya ini justru bisa menjadi kekuatannya. 


Tidak Disengaja
Saya baru tahu kecerdasan Bima adalah di linguistik sejak liburan naik kelas 1 SD. Saat itu untuk pertama kalinya dia diizinkan menggunakan gawai (gadget). Sejak itu dia mulai main game (Minecraft dan Roblox) dan membuka YouTube, awalnya untuk tahu bagaimana cara memainkan game ini.

Hal yang kemudian saya sadari adalah ternyata kemampuan bahasa Inggrisnya berkembang seiring dibukanya akses ini (meski tentu saja tidak dipungkiri ada kata-kata negatif yang ikut terbawa dan perlu didiskusikan). Kebetulan karena bekerja di rumah, saya memang selalu ada di sekitarnya setiap kali dia menggunakan gawai, dan itu terbatas di akhir pekan.

Pamannya terkejut saat bicara dengannya lagi di bulan Desember. Katanya kemampuan bahasa Inggris Bima meningkat pesat sejak terakhir mereka  bertemu 6 bulan sebelumnya. Ia memuji saya karena mengira saya telah sukses mengajarinya. Padahal saya sama sekali tidak mengajari apapun.

Setelah saya perhatikan, Bima ternyata meniru pelafalan kata-kata bahasa Inggris dari Youtuber yang ia dengar, yang ternyata memang sangat jelas. Kemudian lama kelamaan tiap menonton Disney Channel, ia lebih memilih mendengarkan suara versi asli (bahasa Inggris). Kemudian dua tahun terakhir ia mulai mencari tahu pengetahuan umum di YouTube, kalau bisa dalam versi bahasa Inggrisnya. 

Yang jelas ia tidak kursus bahasa Inggris. Hanya renang dan menggambar. Pelajaran yang saya ulang di rumah pun hanya Matematika, yang sering lebih lambat ia pahami. 

Kosakata dan Spelling Bee
Setelah ia mengikuti lomba, saya baru tersadar bahwa akses internet benar-benar mengembangkan kosakatanya. Kemarin di final Spelling Bee, saya heran dia bisa mengeja kata-kata yang sepertinya tidak kami pelajari. Antara lain: sapphire, knuckle, dan sparrow. 

Setelah ngobrol, ternyata dia tahu kata “sapphire" (batu safir) dari game Minecraft, dan  kata “knuckle” dari meme game Sonic, Ugandan Knuckles. Iya, saya tidak sepenuhnya paham, tapi saya googling juga. Hehe. Selain itu kata lain yang bisa ia eja adalah sparrow yang ternyata ia tahu dari Pokemon. 

Intinya, dalam kompetisi spelling bee, kata-kata yang muncul bisa sangat acak. Kita bisa punya daftar panjang kosakata, tapi dalam lomba nanti bisa saja tidak akan muncul satupun kata dari daftar itu. Hehe. Sehingga cara terbaik mempersiapkan anak sebelum mengikuti kompetisi ini, idealnya tentu saja, adalah banyak membaca.

Namun dalam kasus anak saya, karena dia belum termotivasi membaca mandiri, kosakatanya baru ia dapat dari hal yang sering ia akses: game, YouTube, film. Soal membaca buku, dia hanya membaca buku yang topiknya ia suka, seperti antariksa, dinosaurus, sejarah. Selebihnya, ia lebih suka dibacakan. Maklum, anak auditori. Dulu saya sering membacakannya buku sebelum tidur. Sepertinya kegiatan ini perlu dimulai kembali.

Lebih Mengenal Diri
Di atas semuanya, saya baru menyadari bahwa kompetisi bisa membuat saya belajar banyak tentang anak saya dan diri saya sendiri. 

Sebelum lomba dimulai, saya melihat peserta lain yang tekun belajar, membaca kembali daftar kosakata mereka, atau diberi tebakan oleh orang tua atau guru. Dulu saya adalah bagian dari anak-anak seperti ini, tapi dari sudut pandang kurang positif. Saya introver yang sebenarnya tidak pintar, cuma rajin dan insecure

Tetapi anak saya sama sekali tidak seperti saya, dan saya tidak bisa memperlakukannya seperti anak rajin. Saat peserta lain belajar, anak saya dan dua peserta lain berlarian, main bola, main game, makan snack. Saya resah karena khawatir ia tidak akan bisa fokus. Saya panggil bolak balik untuk belajar, tapi dia tetap berlarian ke sana kemari. Ya sudah, saya menyerah. Kalau saya marahi, dia bisa jadi kesal atau lebih parahnya, menangis. Saya pikir, yang terpenting adalah mood-nya tetap terjaga.

Saat naik panggung, punggung dan wajahnya memang penuh keringat, habis lari-lari. Tapi dia tampak tenang dan senang saja. Seperti biasa, ia sempat dancing-dancing kecil dan mengomentari ini itu meski sudah di atas panggung.

Babak final jauh berbeda dengan babak semifinal dan penyisihan. Jika dua babak sebelumnya dilakukan dengan tes tulis, di babak final, semua pengejaan harus diucapkan di atas panggung, dengan pengeras suara, di depan audiens. Di antaranya tentu saja ada guru dan orang tua yang berharap mereka tampil baik. Situasi yang sudah cukup menegangkan untuk anak. 




Rasanya jantung lepas ke udara setiap kali giliran Bima tiba mengeja. Beberapa kata yang seharusnya mudah, sempat ia lewatkan satu huruf. Tetapi kata-kata lain yang bahkan tidak dapat saya tangkap bisa ia eja dan tebak dengan baik. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika ia gugup.

Di sisi lain, saya melihat teman-temannya yang lain, yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri lebih baik, tampak gugup, sehingga mungkin lupa. Saya yakin mereka sebenarnya bisa. Tapi kita tahu, gugup bisa membuat gagap.

Bima dan temannya, yang sebelumnya juga lari-lari bersamanya itu, alhamdulillah juara 3 dan 2, berkesempatan ikut kompetisi nasional, 24 November 2019 nanti.

Saya belajar bahwa setelah persiapan panjang dan mempelajari banyak kosakata, pada akhirnya, sepintar apapun anak, tersisa satu hal penting yang jadi benteng mereka dalam setiap kompetisi (dan hidup): mental.

Mental terbentuk antara lain dari konsep diri. Bagaimana ia memandang dirinya di antara peserta lain? Juga resilience; bagaimana ia bisa cepat bangkit setelah sempat salah.

Selain itu memotivasi anak-anak generasi Alpha (lahir 2010 ke bawah) memang gampang-gampang susah. Beberapa hari sebelum lomba Bima sendiri yang bilang, “Winning is not important, Bun." Saya jadi  bingung bagaimana akan menyemangatinya. Akhirnya di hari H saya cuma bilang, “Ok, just go there and we’ll have pizza after that.” Dan anehnya dia justru jadi bersemangat, “Ok, Bun, I’ll win it!”

Namun di atas semuanya, ada kebahagiaan yang lebih berharga dari persaingan: melihat anak-anak itu saling tos menyemangati dan menghibur setiap kali benar/salah menjawab :)).  

UPDATE: cerita grand final bisa di baca di sini ya :)).



NB: Di bawah ini saya sertakan beberapa link yang mungkin dapat berguna untuk mempersiapkan anak untuk kompetisi spelling bee.


Seputar Spelling



Wednesday, September 11, 2019

Hal-hal yang Terbawa (dan Terbawah) dari Sekolah


“Bunda, Anne Frank itu kayak aku! Sering dimarahin karena suka ngobrol di kelas.
Terus dia juga nggak suka matematika!”
Bima (8), dengan gembira

Pembagian anak-anak ke dalam kelas-kelas yang ditata berdasarkan kemampuan akademisnya masih menjadi misteri bagi saya. Dari kajian-kajian yang saya baca, pembagian ini kebanyakan berfokus pada manfaat yang bisa didapat anak yang lebih pintar. Katanya sih anak di kelas unggulan akan menjadi lebih terpacu mencapai kemampuan maksimal mereka. Tapi bagaimana rasanya menjadi anak di kelas yang dianggap paling tidak pintar? Berharap saja mereka bisa survive dengan menyandang label itu seumur hidup.

Saya pernah jadi anak kelas unggulan, tapi juga pernah  jadi warga kelas yang distigmakan paling bodoh. Mungkin sistem ini bermanfaat untuk sebagian anak. Tapi buat saya, berada di kelas unggulan justru menghabisi sisi menyenangkan dari proses belajar dan menyisakan bagian tidak menyenangkan yang menjadi beban harian: kompetisi (pubertas saja sudah cukup merepotkan, ya Tuhan).

Saya  ingat saya justru memandang iri pada anak-anak di kelas yang paling tidak diunggulkan yang sungguh hore itu. Sebagian dari mereka adalah anak-anak bintang lapangan. Pebasket andalan dan seniman. Mereka cool dengan cara yang tidak dapat saya tiru saat itu.

Akhirnya di kelas 2 (sekarang kelas 8) saya dikeluarkan dari kelas unggulan. Tidak memenuhi standar di pelajaran Matematika dan IPA (karena standarnya ya memang cuma itu). Saat itu saya sedang mulai senang menulis tapi seakan diyakinkan bahwa itu bukanlah sebuah kecerdasan. If you’re not good at math, then you’re not good in  life.

Itu waktu SMP.  Di SMA, sama saja. Di SMA saya dulu ada 7 kelas IPA dan hanya 1 kelas IPS. Yang masuk ke 3 IPS (sekarang kelas 12) dipersepsikan sebagai anak-anak sisa yang tidak bisa masuk 3 IPA. Bahkan anak yang ingin masuk IPS disarankan untuk masuk IPA saja jika ia memang pintar matematika dan sains. “Kalau anak IPA kan bisa ke mana saja setelah lulus. Tidak seperti anak IPS.” Begitu mantranya. Padahal “bisa ke mana saja” adalah kata lain dari ketidaktahuan cita-cita dan tujuan (kan).

Menjadi “yang tersisa” itu menyebalkan, tapi kemudian membebaskan. Saya jadi tidak punya pilihan selain kembali ke akar dan kekuatan terbaik yang saya punya. Dan itu jelas bukan di ilmu pasti.

Anak Saya, Cetak Biru Saya
Ini dekade dan era lain. Sekolah anak saya tidak menerapkan sistem ranking dan tidak menerapkan tes masuk. Sebuah kemajuan yang tentu punya konsekuensi sendiri. Dalam proses belajar mereka perlu membagi anak-anak sekelas menjadi 2 kelas kecil: kelas anak yang  lebih cepat dan kelas anak yang lebih lambat belajar.

Yang menarik, semua anak yang biasa mewakili sekolahnya untuk lomba bahasa Inggris (termasuk anak saya) masuk ke kelas ini. Anak yang secara alami berbakat di bahasa ternyata rata-rata kurang tangkas dalam hitung menghitung.

Begitu juga di klub renangnya. Saya (dan dia, dan pasti juga pelatihnya) tahu ia tidak punya kecerdasan kinestetik. Ia tidak bisa seserius itu di kolam. Renang dan olahraga lain sekedar ia anggap sebagai kesenangan, atau gangguan jika ia tidak suka. Haha. Dan saya suka fakta bahwa ia, di usia 8, sudah mengenal apa yang ia sukai dan tidak sukai. Setidaknya untuk saat ini.

After all, saya tidak menyalahkan sistem pendidikan. Ya memang susah bikin satu sistem  yang bisa berlaku untuk semua anak. Tapi saya menerima dan meresponsnya dengan cara saya sendiri. Di rumah, saya cuma mengajak anak saya lebih sering mengerjakan soal Matematika. Setidaknya agar dia bisa memahami logika berhitung dan mencapai standar minimal yang diperlukan. Sekedar tahu dan bisa, tidak perlu pintar.

Tetapi fokus saya adalah mendukung dia mengerahkan energi di bidang yang ia kuat dan sukai (dia suka menggambar). Tidak perlu mengalahkan siapa-siapa (dulu). Hanya menguasai hal terutama yang ia sukai, dengan kecepatannya sendiri. Sambil berharap kekuatannya itu bisa membuatnya bermanfaat dan hidup dengan gembira. Bagi saya pendidikan itu ya sesederhana itu.


Sunday, August 18, 2019

Playing Seriously, Seriously Playing


Kadang berandai-andai, bagaimana jika saya lebih awal mengenali diri dan meyakini apa yang ingin saya lakukan sebagai kesenangan dan profesi. Jalannya tentu tidak akan lebih mudah, tapi setidaknya mungkin tidak perlu menghabiskan bertahun-tahun kebosanan dan kebingungan.


What You Really Really Want?
Sesederhana itu sih harapan saya pada pendidikan anak saya: agar ia tahu apa yang benar-benar ia sukai dan ingin ia lakukan. Lalu bisa membangun diri dan berkontribusi untuk sekitar dengan bahagia. Plus bisa menengok hidup orang lain tanpa harus merasa lebih rendah atau lebih tinggi. Buat saya, sukses itu ya sesederhana itu.


Di usianya yang baru 8, selain main gawai di akhir pekan, hal yang ia lakukan dengan senang hati adalah menggambar. Ia bisa menggambar kapan dan di mana saja. Di kereta, di ruang tunggu dokter, di mobil, di kelas – bahkan saat ujian sekalipun. Melihatnya menggambar sambil bersenandung membuat saya berpikir mungkin aktivitas itu bisa menjadi jangkar sekaligus kompasnya. Sarang yang tenang untuk kembali. Tiap orang perlu punya ‘tempat’ ia bisa melarikan sekaligus menemukan dirinya lagi.

Namun karena sekolah/pendidikan formal belum memberi ruang untuk kecerdasan semacam ini berkembang, maka kami perlu mencari jalan di luar. Dan sebulan terakhir ia ikut sekolah digital art. Tidak pernah sekali pun malas masuk. Kalau melewatkan jadwal sehari saja dia sudah resah. Apa begini seharusnya sekolah itu? 😼

Didikan Masa Lalu
Dulu sih di SMP saya pernah kena razia dan dimarahi karena membawa barang yang dianggap tidak berhubungan dengan pelajaran sekolah: beberapa komik Doraemon dan sebuah buku cerita yang saya lupa judulnya. Duh kalau anak-anak diperlakukan begitu bisa-bisa nggak ada lagi yang membaca buku (komik juga) sebagai sebuah kesenangan.

Lalu jika membaca saja masih dipandang harus menjadi bagian kewajiban yang berhubungan dengan sekolah, apalagi menulis. Mimpi menjadi penulis bahkan tidak pernah saya sebut sebagai cita-cita karena terdengar terlalu “mimpi.” Terlalu bersenang-senang. Seperti bukan pekerjaan yang sebenarnya. Jadi saya menyimpannya sendiri.

Tetapi akibatnya, saya sempat dua tahun salah jurusan kuliah sampai stres sebelum masuk ke Komunikasi UI. Kemudian bertahun-tahun (berharap) puas menjadi reporter dan content writer. Dan tetap saja merasa ada yang kurang.

Saya ingat ada atasan saya di media yang dengan cepat meragukan saya begitu saya keluar dari kantor dengan alasan ingin menulis fiksi. Jadi begitulah tiap kali kita ingin mengerjakan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Harus melepaskan diri dulu dari suara-suara orang lain yang sudah terlanjur menjerat dan menjerit dalam kepala.

Mengikuti Generasi Z dan Alfa
Bicara soal mengabaikan kata orang, saya selalu belajar dari adik-adik generasi Z (lahir 1998-2010). Betapa pun generasi saya, milenial/gen Y (lahir 1977-1997), sering menyebut generasi Z ini sebagai anak-anak yang tidak konsisten dan tidak tahu sopan santun, saya tetap mengagumi sisi-sisi mereka yang gesit, efisien, efektif.  

Mereka memang seringkali tak bisa basa-basi tapi tahu yang mereka mau. Iya, tidak semua. Tapi setidaknya generasi Z yang saya kenal, para pegiat literasi, adalah yang begitu. Rasanya seperti melihat diri sendiri dalam versi yang lebih berani dan tanpa beban didikan masa lalu.

Nah, generasi anak saya, gen Alfa (lahir mulai 2010), belum terdefinisikan dengan jelas.  Mungkin akan disegani sekaligus dibenci juga oleh kakak-kakaknya, gen Z. Mungkin mereka akan jadi lebih tangkas, lebih thoughtful, lebih tidak bisa basa-basi.

Satu hal yang pasti, tidak seperti saya yang dulu diragukan, saya akan membiarkan dia bermain dengan serius, dan serius bermain. Main game boleh, di waktu tertentu, tapi bagaimana jika sekalian belajar membuat game? (rencananya bulan depan ia akan mulai belajar koding) Menggambar boleh. Bagaimana jika sekalian serius menggambar?



Pun jika ia berhenti di tengah jalan, tidak apa-apa. Ini adalah bagian dari perjalanannya mengumpulkan kepingan-kepingan diri dan jalannya sendiri nanti. Untuk sekarang, kita coba dulu belajar soal ketekunan sambil bersenang-senang


Stories inside my head

Share this blog