Sunday, August 18, 2019

Playing Seriously, Seriously Playing


Kadang berandai-andai, bagaimana jika saya lebih awal mengenali diri dan meyakini apa yang ingin saya lakukan sebagai kesenangan dan profesi. Jalannya tentu tidak akan lebih mudah, tapi setidaknya mungkin tidak perlu menghabiskan bertahun-tahun kebosanan dan kebingungan.


What You Really Really Want?
Sesederhana itu sih harapan saya pada pendidikan anak saya: agar ia tahu apa yang benar-benar ia sukai dan ingin ia lakukan. Lalu bisa membangun diri dan berkontribusi untuk sekitar dengan bahagia. Plus bisa menengok hidup orang lain tanpa harus merasa lebih rendah atau lebih tinggi. Buat saya, sukses itu ya sesederhana itu.


Di usianya yang baru 8, selain main gawai di akhir pekan, hal yang ia lakukan dengan senang hati adalah menggambar. Ia bisa menggambar kapan dan di mana saja. Di kereta, di ruang tunggu dokter, di mobil, di kelas – bahkan saat ujian sekalipun. Melihatnya menggambar sambil bersenandung membuat saya berpikir mungkin aktivitas itu bisa menjadi jangkar sekaligus kompasnya. Sarang yang tenang untuk kembali. Tiap orang perlu punya ‘tempat’ ia bisa melarikan sekaligus menemukan dirinya lagi.

Namun karena sekolah/pendidikan formal belum memberi ruang untuk kecerdasan semacam ini berkembang, maka kami perlu mencari jalan di luar. Dan sebulan terakhir ia ikut sekolah digital art. Tidak pernah sekali pun malas masuk. Kalau melewatkan jadwal sehari saja dia sudah resah. Apa begini seharusnya sekolah itu? 😼

Didikan Masa Lalu
Dulu sih di SMP saya pernah kena razia dan dimarahi karena membawa barang yang dianggap tidak berhubungan dengan pelajaran sekolah: beberapa komik Doraemon dan sebuah buku cerita yang saya lupa judulnya. Duh kalau anak-anak diperlakukan begitu bisa-bisa nggak ada lagi yang membaca buku (komik juga) sebagai sebuah kesenangan.

Lalu jika membaca saja masih dipandang harus menjadi bagian kewajiban yang berhubungan dengan sekolah, apalagi menulis. Mimpi menjadi penulis bahkan tidak pernah saya sebut sebagai cita-cita karena terdengar terlalu “mimpi.” Terlalu bersenang-senang. Seperti bukan pekerjaan yang sebenarnya. Jadi saya menyimpannya sendiri.

Tetapi akibatnya, saya sempat dua tahun salah jurusan kuliah sampai stres sebelum masuk ke Komunikasi UI. Kemudian bertahun-tahun (berharap) puas menjadi reporter dan content writer. Dan tetap saja merasa ada yang kurang.

Saya ingat ada atasan saya di media yang dengan cepat meragukan saya begitu saya keluar dari kantor dengan alasan ingin menulis fiksi. Jadi begitulah tiap kali kita ingin mengerjakan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Harus melepaskan diri dulu dari suara-suara orang lain yang sudah terlanjur menjerat dan menjerit dalam kepala.

Mengikuti Generasi Z dan Alfa
Bicara soal mengabaikan kata orang, saya selalu belajar dari adik-adik generasi Z (lahir 1998-2010). Betapa pun generasi saya, milenial/gen Y (lahir 1977-1997), sering menyebut generasi Z ini sebagai anak-anak yang tidak konsisten dan tidak tahu sopan santun, saya tetap mengagumi sisi-sisi mereka yang gesit, efisien, efektif.  

Mereka memang seringkali tak bisa basa-basi tapi tahu yang mereka mau. Iya, tidak semua. Tapi setidaknya generasi Z yang saya kenal, para pegiat literasi, adalah yang begitu. Rasanya seperti melihat diri sendiri dalam versi yang lebih berani dan tanpa beban didikan masa lalu.

Nah, generasi anak saya, gen Alfa (lahir mulai 2010), belum terdefinisikan dengan jelas.  Mungkin akan disegani sekaligus dibenci juga oleh kakak-kakaknya, gen Z. Mungkin mereka akan jadi lebih tangkas, lebih thoughtful, lebih tidak bisa basa-basi.

Satu hal yang pasti, tidak seperti saya yang dulu diragukan, saya akan membiarkan dia bermain dengan serius, dan serius bermain. Main game boleh, di waktu tertentu, tapi bagaimana jika sekalian belajar membuat game? (rencananya bulan depan ia akan mulai belajar koding) Menggambar boleh. Bagaimana jika sekalian serius menggambar?



Pun jika ia berhenti di tengah jalan, tidak apa-apa. Ini adalah bagian dari perjalanannya mengumpulkan kepingan-kepingan diri dan jalannya sendiri nanti. Untuk sekarang, kita coba dulu belajar soal ketekunan sambil bersenang-senang


No comments:

Stories inside my head

Share this blog