Saturday, January 20, 2007

RELEVANSI

Sore hari, di sebuah tempat praktek dokter mata.

Seorang bapak berkumis yang bertugas mendata, meminta saya duduk. Sambil memegang bolpen dan selembar kartu, ia menanyai saya yang memang baru pertama kali datang ke situ.

Pak kumis : “Nama lengkap?”

Saya : “Lucia Priandarini”

Pak kumis : “Alamat?”

Saya : “Simpang Bogor 14”

Pak kumis : “Telepon?”

Saya : “552840”

Pak kumis : “Kapan terakhir kali periksa dokter?”

Saya : “2 tahun lalu.”

Pak kumis : “Ada masalah apa dengan matanya?”

Saya : (dalam hati : pertanyaan yang aneh. Kalau saya tahu

jawaban pertanyaan di atas, maka saya tak perlu susah-susah

datang ke dokter untuk mengetahui ada apa dengan mata saya)

“Nggak tahu. Mungkin minus-nya tambah…”

Pak kumis : “Kacamatanya dibawa?”

Saya : “Yak”

Pak kumis : “Mbak umur berapa?”

Saya : “22”

Pak kumis : “Agamanya apa?”

Saya : “Ha?” (terkejut, berpikir, menebak-nebak…untuk apa saya harus

memberitahu dia, apakah saya ke pura, masjid, gereja atau

bahkan jika saya tidak pergi ke tempat ibadah manapun?

Apa hubungannya dengan kunjungan saya ke dokter?)

Pak kumis : “ AGAMA, Mbak…!”

Saya : “K r i s t e n…” (….sambil masih berpikir…

Apakah agama saya menentukan pemeriksaan mata saya?

Apakah si dokter akan mengirimi saya parcel Natal?

Apakah si dokter atau pak kumis sedang mencari istri seiman?

Apakah si dokter akan memberikan perlakuan berbeda terhadap

orang beragam tertentu?

Apakah dia akan menolak memeriksa saya jika saya tidak

beragama?

Sial! Gara-gara pertanyaan itu saya jadi berpikir negatif! )

Pak kumis : “Ini kartunya. Mbak tunggu di sana ya!”

Saya benar-benar ingin bertanya apa relevansi agama dengan periksa ke dokter. Tapi tidak jadi karena takut terjadi amuk massa :p. Antrian di belakang saya sudah sangat panjang.

1 comment:

Ahmad Subhan said...

Dulu, kalo saya ditanya agamanya apa, sambil bercanda saya jawab, "Saya abangan." ^o^

Stories inside my head

Share this blog