Saturday, January 20, 2007

Listrik Nuklir Ga Perlu Khawatir ?

Setiap manusia di berbagai belahan dunia menyadari bahwa kebohongan yang diulang seribu kali pada akhirnya dapat menjadi kebenaran…

(Andre Vltchek – Sekapur Sirih dalam wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer)


Judul di atas merupakan tagline iklan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Ada yang sudah pernah lihat? Biasanya paling sering ditayangkan pagi hari di TVRI atau SCTV, di sela-sela Liputan 6 pagi (bahkan iklan ini sedang ditayangkan tepat saat saya mengetik tulisan ini!!). Tak jelas siapa yang membuat iklan tersebut, karena tak ada logo apapun di akhir iklan.

Dalam iklan ini dihadirkan Dewi Yull yang di akhir iklan berkata “Benar! Mari kita gunakan nuklir sebagai pembangkit listrik!” Ada pelawak Gogon yang memerankan warga yang tadinya demonstrasi menentang pembangunan PLTN, akhirnya berubah jadi demo mendukung PLTN. Ada juga yang berperan sebagai Pak Lurah yang datang bersama orang dari PLTN. Mereka tak henti-hentinya berkata “PLTN ini sangat aman! Radiasi bisa dibilang tidak ada. Bangunannya tahan gempa dan sudah melalui persetujuan Badan Nuklir Dunia!” (kira-kira demikian bunyinya)

Akhir-akhir ini saya mengamati perbincangan di berbagai mailing list dan chat room mengenai iklan nuklir dan ide tenaga nuklir itu sendiri. Ada yang setuju, ada yang tidak. Mereka yang setuju menyatakan bahwa PLTN memang merupakan salah satu solusi masa depan untuk mengatasi krisis listrik di tanah air ini. Lagipula (katanya) limbah nuklir lebih ramah lingkungan. Ada juga yang menyatakan bahwa kecilnya daya yang digunakan PLTN di Indonesia (30MW), tak akan berakibat fatal jika meledak seperti bencana Chernobyl.

Sementara itu pihak yang kontra bertahan pada _tereotype “nuklir=bahaya.” Mereka kembali mengingatkan (mungkin ada yang sudah hilang ingatan) akan kecelakaan nuklir Chernobyl 20 tahun lalu itu yang membawa dampak serius terhadap para penduduk Ukraina, Belarusia dan Rusia? Hasil studi terbaru Greenpeace memperkirakan bahwa ada lebih dari 250.000 kasus kanker diakibatkan oleh kecelakaan ini. Saat itu 300.000 orang direlokasi paksa.

Saya sendiri beranggapan bahwa yang perlu dikhawatirkan adalah masalah pengelolaan. Anak kecil pun tahu, sebagus apapun sebuah ide, jika diimplementasikan di Indonesia, patut diragukan hasilnya akibat amburadulnya manajemen (karena rendahnya tanggung jawab manusia sebagai si pengelola). Tak ada yang bisa menjamin bahwa setelah pembakaran hutan dan lumpur Lapindo, Indonesia tak akan menyumbangkan satu lagi bencana besar kreasi bodoh manusia bagi dunia lewat pembangunan PLTN ini.

October 23, 2006


1 comment:

Ahmad Subhan said...

Jadi ingat opininya Romo Magniz Suseno. Beliau menulis seperti ini:

"Kenyataan di Indonesia adalah sebagai berikut: Sebagaimana dapat terlihat dalam segala macam bidang, masyarakat Indonesia, termasuk para elite, secara kolektif –tentu ada individu-individu yang merupakan kekecualian– belum mempunyai disiplin, tanggung jawab teknis, ketelitian, komitmen pada mutu, ketaatan mutlak pada peraturan teknis, ketepatan waktu yang seperlunya tepat pada detiknya dan tanpa kecuali sekalipun, serta lain sifat/kemampuan zaman teknologis yang diandaikan untuk menjalankan sebuah sistem teknis yang amat kompleks dan berisiko tinggi."

Itu aku ambil dari buku
"MELAWAN IBLIS MEPHISTOPHELES.
Bunga Rampai Tinjauan Kritis Anti-PLTN-Fissi"

Stories inside my head

Share this blog