Wednesday, November 19, 2008

ISLAM, PANTA REI, dan AKAL

Tidak ada agama yang lebih rasional dan simplistis daripada Islam
(Soekarno dalam surat dari Endeh
kepada T.A. Hassan, guru “Persatuan Islam di Bandung, Juli 1935)


Saya pikir seumur hidupnya Soekarno hanya bicara tentang marxisme, komunisme, nasionalisme. Tapi ternyata dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, saya menemukan bahwa dia lebih religius dari yang saya tahu. Intelek yang religius. Perpaduan dua kata sifat ini pada seorang manusia, akan menghasilkan pemikiran-pemikiran cemerlang yang dengan mudah menjawab pertanyaan orang-orang seperti saya, yang sudah sejak lama memendam rasa ingin tahu pada Islam, tapi tak berani mendekat karena keberhasilan media dan segelintir orang menciptakan kesan kejam, kaku, kuno pada agama ini.

Panta Rei
Panta rei! - kata Heraclitus - segala hal mengalir, segala hal selalu berubah, segala hal mendapat perbaharuan. Dengan pernyataan inilah Soekarno mengawali pemaparannya tentang Islam (yang seharusnya) progresif.
Jika segala hal berubah, bagaimana dengan agama?
Dalam Pandji Islam, 1940, Soekarno menulis : pokok tidak berubah, agama tidak berubah, Islam sejati tidak berubah, firman Allah dan sunnah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal-hal inilah yang berubah. Pengoreksian pengertian selalu ada, dan mesti selalu ada. Pengoreksian itulah hakekatnya semua ijtihad, semua penyelidikan yang membawa kita ke lapang kemajuan. Kalau kita tidak mau berijtihad, maka kita sendirilah yang mencekek mati kecerdasan kita dengan cara lambat-lambat.
Kita sendirilah, kata penulis Essad Bey, ikut berdosa “Schlieszung des Bab el Itschtihad” – sehingga oleh karenanya datanglah keruntuhan segala kehidupan akal, segala kehidupan rohani, segala kebesaran dan kemegahan, segala keadaban dan peradaban. Penutupan pintu ijtihad membinasakan semua peradaban. Dan kita kini mau mengulangi dosa-dosa besar ini? Janganlah kita lekas marah kalau ada orang minta diperiksa kembali sesuatu hal dalam pengertian agama kita.
Sayid Amir Ali, penulis The Spirit of Islam, yang menjadi fundamental bagi kaum intelektual Eropa dan Asia yang mempelajari Islam, menulis : The elasticity of laws it their great test and this test is pre-eminently possessed by those of Islam. Their compatibility with progress shows their founder’s wisdom.
Islam bisa cocok untuk semua zaman, kata Amir, adalah karena sifat elastisitasnya. Islam tidak akan bisa bertahan hidup ribuan tahun jika hukum-hukumnya tidak demikian. Ini yang menjadi sebab kultur Islam selalu berubah corak.

Islam itu kemajuan!
Dengan jujur, Soekarno mengkoreksi perilaku bangsa sendiri : kita royal sekali dengan perkataan “kafir,” kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir.” Pengetahuan barat – kafir, radio, kedokteran, dasi dan topi, sendok garpu, tulisan latin – kafir. Bergaul dengan bangsa yang bukan Islam pun – kafir. Padahal yang mereka namakan Islam adalah dupa, korma, jubah, dan celak mata! Yang mukanya angker, yang tangannya bau kemenyan, yang matanya dicelak, jubahnya panjang, dan menggenggam tasbih yang selalu berputar – dialah yang dinamakan Islam. Astafirugllah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Cara kuno inilah yang menjadi sebab dunia Barat memandang Islam sebagai satu agama yang anti kemajuan dan sesat.
Adalah satu perjuangan yang paling berfaedah bagi umat Islam, yakni perjuangan menentang kekolotan. Perjuangan inilah yang dimaksud Kemal Ataturk tatkala ia berkata,”Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid, memutarkan tasbih, tetapi Islam ialah perjuangan. Islam is progress : Islam itu kemajuan!”

Rasio dan Akal
Agama adalah bagi orang yang berakal, demikian Nabi bersabda. Kenapa sesuatu hal harus digaib-gaibkan kalau akal sedia menerangkannya? Kata-kata Soekarno ini menguatkan argumen bahwa motor hakiki dari semua “rethinking of Islam” adalah kembalinya penghargaan kepada akal. Allah sendiri dalam Quran berulang-ulang memerintahkan kita berbuat demikian, “Apa sebab kamu tidak berpikir,” “Apa sebab kamu tidak menimbang,” “Apa sebab tidak kamu renungkan.”
Jangan akal, pikiran, reason, rasionalisme dienyahkan dari dunia keagamaan, diganti dengan “percaya saja,” “terima saja,” begitu katanya. Akal diganti dengan otoritas, aktivitas rohani diganti dengan penerimaan rohani. Akal kadang tak mau menerima Quran atau Hadits shahih, bukan karena Quran dan Nabi salah, tapi oleh karena cara kita mengartikannya adalah salah. Rasionalismelah yang dapat mengakurkan pengertian fiqh dengan peredaran zaman.
Tanyalah kepada ribuan orang Eropa yang masuk Islam di dalam abad 20 ini, dengan cara apa dan dari siapa mereka mendapat pengetahuan baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab : bukan dari guru-guru yang hanya menyuruh muridnya “beriman” dan “percaya saja.” Bukan dari mubaligh-mubaligh yang tarik muka angker dan hanya tahu putar tasbih saja, tapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal – karena berpengetahuan umum, mubaligh modern & scientific, bukan mubaligh yang “à la Hadramaut” atau “à la Kjai bersorban.”
Percayalah bahwa jika Islam dipropagandakan dengan cara yang masuk akal dan up to date, seluruh dunia akan sadar kebenaran Islam. Saya sendiri sebagai seorang tepelajar baru mendapat lebih banyak penghargaan kepada Islam sesudah membaca buku-buku Islam yang modern & scientific.

Preach Islam !
Kepada T.A. Hassan, Soekarno juga menyerukan pentingnya dakwah, penyebaran Islam, tanpa memandang negatif penyebaran agama yang dilakukan umat agama lain :
Saya sendiri banyak bertukar pikiran dengan kaum pastor di Endeh. Tuan tahu, bahwa pulau Flores itu adalah “pulau misi” yang mereka sangat banggakan. Dan memang pantas mereka banggakan pekerjaan mereka di sana. Saya sendiri melihat mereka bekerja mati-matian untuk mengembangkan agama mereka di Flores. Saya respect dengan pekerjaan mereka.
Kita banyak mencela misi, tapi apakah yang kita kerjakan bagi menyebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Misi mengembangkan Katolik Roma itu hak mereka, yang tak boleh kita cela dan kita gerutui. Tapi kita, kenapa kita malas, kenapa kita teledor, kenapa kita tak mau kerja, kenapa kita tak mau giat? Kenapa misalnya di Flores tiada seorangpun mubaligh Islam dari suatu perhimpunan Islam yang ternama buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir? Misi dalam beberapa tahun saja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores, tapi berapa orang kafir yang bisa dihela oleh Islam di Flores itu? kalau dipikirkan memang itu semua salah kita sendiri, bukan salah orang lain!

Puluhan Tahun Setelah Soekarno

Tahun 2001 dan 2002, tujuhpuluh tahun setelah tulisan Soekarno di atas, apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi : terorisme. Meski demikian, memang terorisme dan fundamentalisme tak semata-mata berasal dari kurangnya ijtihad dan peran akal dalam masyarakat Islam. Fundamentalisme juga adalah anak modernisme, kata Karen Armstrong. Sementara aktivis gerakan sosial dan feminis Asia, Kamla Bhasin, menyatakan bahwa fundamentalisme dan konservatisme agama tumbuh karena ketidakamanan ekonomi dan kultural. Terorisme global dan berbagai bentuk fundamentalisme tak bisa dipisahkan dari globalisasi ekonomi.
Above all, karena hidup di zona aman (tanpa perang, relatif lebih sedikit diskriminasi dan intimidasi, dan bahkan menjadi warga mayoritas), saya pikir sudah menjadi PR besar bagi muslim Indonesia untuk menginspirasi, jihad akal seperti Soekarno, untuk membuat kemajuan bagi kesejahteraan umat Islam sendiri, dan bagi dunia.

Sunday, November 2, 2008

THANX FOR THE JEW!


“Yahudi telah dan selalu akan menjadi orang pilihan!”
(kata-kata Peter van Daan dalam percakapannya dengan Anne Frank)

Bagi saya, di muka bumi ini tidak ada bangsa yang lebih misterius daripada Yahudi.
Membaca tentang mereka, ternyata mengundang berbagai rasa di saat yang berbeda.
Membaca tentang kaum ini dalam Holy Qur’an dan Holy Bible akan mendatangkan rasa kesal. Tapi siapapun akan sedih dan iba saat mengetahui bagaimana Nazi membantai jutaan dari mereka, (sekaligus juga membuat saya marah dan berteriak dalam hati,”Hell for Hitler!”)

Namun Yahudi juga mendatangkan decak kagum, karena membaca sejarah Ras Semit ini berarti juga membaca kisah kecerdasan manusia.
Einstein dan Anne Frank baru dua dari ribuan bukti keberadaan otak-otak jenius ini.
Membaca The Diary of Anne Frank membuat saya mengerti bagaimana mereka bisa sebrilian itu. Lebih jauh, diary ini membuat saya terkagum-kagum akan keberanian dan kekuatan manusia menghadapi penderitaan.
Semua orang Yahudi di seluruh daratan Eropa, terutama di Jerman dan Belanda saat itu tahu bahwa hanya tinggal menunggu waktu saja masing-masing dari mereka akan mati disiksa. Cepat atau lambat.

Selama dua tahun, dibantu dua warga Belanda, Miep Gies dan Elisabeth Voskuijl, Keluarga Yahudi Frank dan van Daan, bersembunyi di sebuah tempat yang dinamakan Anne : The Secret Annex.
Namun kehidupan mereka dalam persembunyian itu sama sekali tidak menampakkan tanda seakan-akan mereka sedang bersiap-siap menghadapi kematian. Setiap hari mereka berbicara tentang apa saja yang akan mereka lakukan setelah perang berakhir. Dan karena optimisme itu mereka semua menghabiskan waktu dalam Secret Annex dengan...belajar!

Dalam diary-nya, Anne menceritakan apa saja yang ia pelajari dalam sehari :
Menerjemahkan bagian satu bagian peperangan terakhir Nelson dari bahasa Belanda ke Inggris. Membaca lagi Perang di Utara yang melibatkan Peter Agung, Charles XII, Stainslaus Leczinsky,... Lalu berpindah ke Brazil, aku akan membaca tembakau Bahia, kopi yang melimpah, 1,5 juta penduduk Rio de Janeiro, dan terakhir Sungai Amazon. Selanjutnya tentang suku Negro, Mulatto, tingkat buta huruf tinggi, dan malaria. Karena masih memiliki waktu, aku mengamati diagram silsilah : John the Old, Henry Casimir I, William Louis...
Jam 12 : merangkum hasil belajarku, membaca mengenai para tetua, pendeta, menteri, dan wow...ternyata sudah jam satu. Berikutnya tentang Bible, kapal Nabi Nuh, Shem, Ham, dan Japheth. Berpindah lagi ke buku tes kemampuan bahasa Perancis, lalu berpindah lagi ke tema perbandingan antara Mississippi dan Missouri.
Malamnya membaca biografi Galileo Galilei, buku itu sudah harus dikembalikan ke perpustakaan. Lalu Palestine at the Crossroad.

Dan ini adalah hal-hal yang ia catat sebagai minatnya :
Stenografi Perancis, Inggris, Jerman, dan Belanda, sejarah, geografi, sejarah seni, sejarah Injil, sastra Belanda, mitologi Yunani dan Romawi, buku-buku sejarah, biografi, juga novel dan bacaan ringan.

Semua itu ia pelajari saat ia berusia 13 – 15 tahun!
Ah! Membuat saya malu karena sudah setua ini tapi saya hanya tahu sedikit-sedikit, belajar sedikit, dan akhirnya mengerti sedikit.
4 Agustus 1944 kedelapan penghuni Secret Annex ditangkap dan dipisahkan satu sama lain.
Ada yang meninggal di kamar gas, sementara yang lain meninggal karena kelaparan dan kelelahan di kamp konsentrasi.
Anne Frank meninggal karena epidemi tifus di kamp Bergen-Belsen, Hannover pada Februari 1945, pada usia 15 tahun.
Saya bertanya-tanya apakah pada akhirnya semua yang dipelajari dan ditulisnya berakhir sia-sia.
Tidak!
Gadis Yahudi 15 tahun itu telah ikut mengubah dunia. Ia adalah satu dari 100 Tokoh Abad Ini versi Majalah Times.
Catatan harian Anne Frank telah terjual lebih dari 30 juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 60 bahasa.
Menjadikannya buku nonfiksi yang paling banyak dibaca di dunia setelah Injil.
Tulisannya adalah salah satu rekaman paling jujur tentang sisi-sisi gelap kemanusiaan yang tak pernah bisa dicari landasannya kecuali napsu untuk berkuasa.

Stories inside my head

Share this blog