Tuesday, December 11, 2018

Mulai dari Akhir


Beberapa waktu lalu seorang sahabat baik berpulang lebih dulu. Di hari-hari terakhir jelang kepergiannya, pembicaraan tentang karier, pencapaian, dan pendidikan sudah menjadi tidak relevan. Obrolan tentang politik jadi terdengar konyol. Hidup akhirnya mengerucut jadi tinggal hal terpenting: keluarga, serta pikiran dan hati yang tenang untuk kembali ke Pemilik Hidup.

Seperti saya, dia bukan orang religius. Tapi di antara batas sadar dan tidak, yang paling sering ia ucapkan adalah istighfar, mohon ampun.

Sampai sekarang, jika saya lupa atau meributkan hal yang sebenarnya tidak perlu, saya menengok lagi lini masanya dan mengingat hari-hari terakhir saat ia berjuang untuk sekedar hidup.

Unfriend di Tahun Politik
Empat tahun lalu seorang teman juga pergi di usia muda. Ia berpulang di tahun politik. Yang membuat saya terkejut setelah dia pergi adalah mendapati kami sudah tidak berteman di Facebook. Ia menghapus pertemanan/meng-unfriend saya. Anda bisa menyebut saya paranoid atau insecure, tapi terus terang saya jadi mencoba mengingat apakah saya pernah punya salah pada beliau. Jika iya, pastinya bukan kesalahan yang terjadi saat bertemu langsung karena kami sangat jarang bertemu.

Lalu saya ingat, beberapa waktu sebelum meninggal beliau pernah berkomentar di salah satu status saya tentang politik. Komentarnya kemudian dikomentari orang lain, teman saya juga. Beberapa kali berbalasan sengit. Itu ‘interaksi’ terakhir kami di dunia maya.

Meski itu dugaan, tapi fakta bahwa beliau meng-unfriend saya, dan sudah meninggal, membuat saya sedih selama berhari-hari. Apalagi karena postingan se”konyol” politik. Karena kalau memang benar, saya sudah tidak sempat minta maaf.

Sejak itu saya jauh lebih jarang mengunggah/update status. Saya masih belum bersih dari unggahan (yang mungkin) negatif (terutama di Twitter).  Tapi setidaknya ketika akan menekan tombol post saya mencoba untuk ingat: Apakah ini bermanfaat? Apakah ini perlu? Bagaimana cara menyampaikannya dengan lebih baik?

Siapa saja yang mungkin membaca? Di daftar pertemanan saya ada rekan kerja, mantan bos, saudara sepupu yang pernah membantu, teman yang pernah memberi tumpangan, dan yang paling banyak adalah orang-orang yang hanya mengenal saya lewat apa yang saya unggah di media sosial.

Meski tidak bermaksud, tapi kita tidak pernah benar-benar tahu apakah yang kita unggah akan menyinggung orang lain. Bahkan kata-kata di dunia maya mungkin lebih berbahaya karena kita bisa sampai hati mengetik kata-kata yang tidak berani kita ucapkan jika berhadapan langsung. Ditambah lagi, kecuali dihapus, kata-kata di sosmed akan abadi sepanjang masa, tidak seperti ucapan yang lebih mudah dilupakan.

Bukan berarti tidak perlu ada kritik atau menyampaikan pendapat. Tapi saya percaya, sesuatu yang (diyakini) baik harus bisa disampaikan dengan cara baik juga.

Di dunia yang serba cepat ini, sebagian (besar) orang yang kita jumpai bisa jadi sudah tidak akan kita jumpai lagi. Begitu juga sebagian besar orang yang menjadi “teman” di dunia maya. Tidak ada waktu minta maaf, atau bahkan sekedar menyadari bahwa yang kita ketik mungkin menyakiti.

Obituary Sendiri 
Saya ingat pernah ikut sebuah kegiatan orientasi saat tiap siswa baru diminta menulis obituary diri sendiri. Obituary adalah berita tentang kematian seseorang beserta catatan singkat perjalanan hidupnya.


Dengan menulis obituary, kita diminta untuk menulis rencana hidup kita dari akhir. Ingin menjadi orang seperti apa? Pekerjaan dan karya apa yang kita tinggalkan? Bagaimana orang akan mengingat kita? Dengan kata lain, cara sederhana untuk merancang hidup justru dimulai dari  (menyadari bahwa kita akan) mati. Di kehidupan yang serba tidak pasti ini, mengutip Mark Mason, mati adalah satu-satunya kepastian.

Dan di masa kini, setelah mati, lini masa kita barangkali adalah satu-satunya peninggalan  yang paling terlihat. Rekaman kata dan potret kita yang bisa diakses semua orang. Alangkah sia-sianya jika saat orang mengenang dengan menengok lini masa kita, ia hanya akan mendapati akun penuh sumpah serapah.

Selamat jelang akhir tahun dan menyongsong 365 kesempatan baru :).
Selamat mencoba memulai dari akhir.

Bersama ini saya mohon maaf untuk unggahan yang kurang berkenan.
Menemukan ini saat scrolling Path almarhum sahabat 

Tuesday, August 7, 2018

People Our Age



If I could sum up how's life at 30's feels like, it would be: too old to make mistakes, too young to make things right.

30s and Being a Parent
Akhir pekan lalu beberapa sahabat merencanakan kamping bersama, bawa anak masing-masing. Ini kali kedua. Saya ikut aja. Khas acara ibu-ibu yang enggak mungkin sempurna, mendekati hari H, salah seorang berkata, "Kayaknya aku nggak jadi ikut. Bapak baru masuk rumah sakit. Aku mesti jaga. Apa aku pergi  semalam aja ya?”
Sahabat lain: “Jangan, kasihan bapakmu.

Tidak disangka sahabat saya ini menjawab lagi, "Ya kasihan aku juga, sudah 7 bulan di rumah aja." 😃 Duh, rasanya ingin tertawa sekaligus menangis di saat yang sama. Haha.

Sahabat saya ini ibu rumah tangga dengan 2 anak yang tinggal dengan orang tua. Tujuh bulan terakhir lebih sering di rumah, merawat bapaknya. Sudah lama ia berkeluh kesah ingin berpenghasilan dengan bekerja kantoran. Tapi bapaknya membutuhkannya.  

Situasi yang berseberangan, sudah tidak terhitung juga teman perantau yang ingin tinggal sekota untuk menjaga orang tua yang sudah tua/sakit, tapi sulit berpindah/meninggalkan pekerjaan mereka.

Itu baru salah satu dari banyak situasi yang sering dihadapi di usia 30-an. Yang tiba-tiba jadi tiang penopang saat diri mereka sendiri merasa masih butuh pegangan. Yang ingin lari kencang tapi malah harus jalan pelan-pelan asal selamat. Yang ingin mengerjakan semua dengan benar tapi malah banyak yang lepas dari genggaman. Dibilang sudah cukup dewasa, ternyata belum. Dibilang terlalu muda untuk membuat hal besar, enggak juga sih, sudah 30.

Single at 30s
Ada yang bilang bahwa setengah usia hidup manusia “dikuasai” oleh orang tuanya, dan setengah sisa usianya “dikuasai” anak. Mereka yang lajang sebenarnya punya jeda (atau seterusnya) yang longgar di antara kedua masa ini untuk jungkir balik berbuat apa saja.

Ini kenapa, maafkan, saya bingung tiap kali sahabat saya yang lain, lajang, yang sering bilang/tanya, “Lu kapan ke sini lagi?” “Lu mau ga ke Gili Trawangan?” “Gue hidup mau ngapain lagi ya,” “Gue ambil les karena saking ga taunya weekend mau ngapain.” 

Tanpa mengurangi rasa hormat pada para lajang dan kompleksitas hidup mereka, saya cuma bisa tertawa saking enggak tahu mau jawab apa. If I were her, saya mungkin akan ikut open trip tiap weekend tanpa rasa bersalah meninggalkan anak, lebih banyak donasi untuk bantu orang, ikut kursus hip hop yang biayanya semahal SPP anak, joinan buka usaha, nonton konser-konser itu, ikut lomba lari di tempat-tempat eksotis itu. Kalau ada uangnya. Ya yang jelas semua yang ingin tapi tidak saya kerjakan karena memprioritaskan kebutuhan, bukan keinginan.  

Life Begins at 40
Gara-gara frase di atas, usia 30-an seakan jadi masa untuk menyelesaikan target (kalau masih punya😆) sebelum 40. Belum punya rumah, sudah 10 tahun bilang mau resign dan mulai usaha tapi kok masih ngantor, saldo rekening selalu pas-pasan, investasi cuma emas enggak seberapa, mau rutin olahraga tapi kok kartu member gym enggak pernah dipakai, belum punya anak, belum punya pasangan. 

Ada apa sih dengan umur 40? Setelah sok mencoba mencari tahu, ternyata frase life begins at 40 punya makna yang lebih dalam dari sekedar “usia 40 ke atas tinggal menikmati hidup.”

Frase ini pertama kali populer setelah psikolog Amerika Walter Pitkin menulis bukunya yang terbit pada 1932. Life begins at forty. This is the revolutionary outcome of our New Era. Today it is half a truth. Tomorrow it will be an axiom.

Ternyata ini karena 40 adalah usia rata-rata harapan hidup manusia di sekitar masa Perang Dunia saat itu. Hanya sebagian kecil yang bertahan hidup lebih dari usia ini, sehingga bisa disebut bahwa death begin at 40. Barangkali ini juga alasan mengapa orang zaman dulu sudah mendapat tanggung jawab besar di usia muda. Pemimpin sebuah batalion mungkin adalah seorang anak muda berusia 20-an, seperti Soedirman yang memimpin PETA di usia 28, dan meninggal di usia 34. Di masa kini, sesuai prediksi Pitkin, seiring perbaikan kualitas hidup, 40 justru adalah awal, bukan akhir usia harapan hidup.

Tetapi Pitkin bukan orang pertama yang menyebut keistimewaan usia 40. Sebelum Pitkin, seorang filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer menulis: 
"The first forty years of life give us the text: the next thirty supply the commentary."
Maksudnya, kalau diterjemahkan bebas, sampai usia 30-an orang bisa membangun hidup sesuai kata orang tentang bagaimana-seharusnya-hidup-itu. Bekerja, berkeluarga, punya rumah, punya investasi, traveling-karena-bumi-itu-luas (tapi-kamu-belum-tentu-punya-uang).

Tapi di usia 40-an, orang (sebaiknya) mulai merefleksi apa arti semua yang dia kerjakan dalam hidup. Ini usia orang mulai memberi catatan-catatan dan menarik nilai dari hidup yang sudah ia bangun. Dan hidup atau “teks” itu tidak akan bisa dipahami dan fully owned tanpa catatan dan perenungan ini. Seperti kata Socrates, hidup yang tidak direnungkan adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani.

Attempt on Making Sense
Makin bertambah usia, mungkin orang sering enggak mengerti sama diri sendiri. Hal yang dulu menyenangkan jadi biasa saja, dan yang dulu membosankan malah jadi menenangkan. Definisi kebahagiaan dan prioritas berubah (dan memang harus berubah). Di rumah nonton Iflix sendiri lebih membahagiakan daripada nongkrong di kafe sama sekelompok orang yang sebenarnya tidak begitu dikenal dekat.

Di sisi lain, meski jadi semakin kenal, menerima, dan mencintai diri sendiri, tantangan menjadi 30-an adalah menetapkan posisi di antara orang-orang yang disayangi. We can always choose, but we can not choose the consequences that happen to people we love. Inilah saat kita baru benar-benar kenalan sama yang namanya responsibility.

Yang jelas, kalau di abad 19 Schopenhauer bilang umur 40 orang baru berpikir akan hidupnya, barangkali kini di usia 30 orang sudah mulai merefleksi. Memindai ulang daftar mimpi atau target dan menyesuaikan diri. Menyadari bahwa sebagian rencana sebaiknya dieliminasi dan diganti rencana baru. Menemukan dan membuat titik keseimbangan baru. Membongkar dan kembali menciptakan jati diri yang rasanya lebih sesuai (iya, jati diri itu tidak dicari, tapi dibentuk. Katanya).  Bisa jadi termasuk juga mengeliminasi orang yang “layak” ada dalam inner circle dan hidup kita dan yang tidak. 

Please, do so.

Berkeluarga ataupun lajang, buat saya 30s and after is a period to be too old for unnecessary things, and too young to give up on a vibrant life.


Monday, July 30, 2018

If I Were Not A Mother, Who Am I?


Seorang kenalan pernah berkata, setelah menikah, wanita tidak lagi dikenal sebagai dirinya yang utuh dan mandiri. Ia hanya bagian dari orang lain. Bu Joko, yang adalah istrinya Pak Joko. Mama Beni, yang adalah ibunya Beni. Ibu sendiri siapa?

Ibu-ibu di Sikka, Maumere

Di sekolah, jarang ibu walimurid yang tahu nama masing-masing kecuali yang memang kenal dekat. Di daftar arisan, di daftar kontak WhatsApp, di daftar hadir pertemuan sekolah, semua menulis nama anak (sementara sebagian besar bapak-bapak absen soal urusan anak dan sekolah). Tiba-tiba wanita menjadi anonim. Orang memanggil saya, “Mama Bima” (padahal anak saya manggil saya Bunda. Hehe). 

Tidak apa-apa sih. Buat saya itu sekedar kepraktisan saja. Sebuah keluarga dikenal pertama-tama dari nama bapak/anak dan bisa diidentifikasi dengan cepat dari satu nama.
Yang membuat saya kadang resah adalah jika peran sebagai ibu justru dianggap si wanita itu sendiri sebagai dinding, bukan pintu. Sebagai keterbatasan, bukan kekuatan.  

Tidak Berhenti Menjadi Ibu
Setelah anak tunggal mantan atasan saya berpulang, eks teman kerja saya berkata, “Sekarang setelah anaknya nggak ada, Mbak X bisa mengejar mimpinya sendiri.” Tetapi mantan atasan saya yang lain menggeleng, “Buat seorang ibu, mimpi mereka ya sejalan sama anak.”

Saya mengangguk-angguk  setuju. Meskipun dulu sempat kebingungan kembali menemukan jati diri setelah punya anak, sekarang saya justru tidak bisa membayangkan bagaimana hidup saya tanpa anak. Setelah sekian lama hidup berpusat pada anak, kepergian anak, buat saya, akan membuat saya perlu mendefinisikan ulang siapa diri saya, apa tujuan hidup saya, dan juga bagaimana saya melihat dunia.

Pembicaraan tentang peran ibu ini selalu membuat saya ingat pada sebuah wawancara kerja. Saat itu seorang pewawancara meringis ketika mendengar anak saya baru berusia 5 bulan. Dengan cepat ia berkata, “Anakmu lebih membutuhkanmu daripada perusahaan ini.”
Wuz! Seperti ada peluru menggesek dada. Saya ingat menahan air mata sampai keluar ruangan. Ini pernyataan yang tidak akan diucapkan andai saya seorang bapak. Pria tidak pernah diminta memilih atau menyeimbangkan karier dan atau keluarga. 

Esoknya kantor itu memanggil lagi untuk wawancara lanjutan tapi saya tidak datang. Meskipun ternyata itu bukan pernyataan penolakan, tapi saya tidak bisa membayangkan bekerja dengan atasan yang membuat saya tiap hari merasa bersalah berangkat bekerja, padahal saya bekerja karena keluarga.

Memilih dan Dipilih Karena…
Kadang wanita diabaikan karena ia adalah seorang ibu. Atau sebaliknya, ia memilih mengundurkan diri dari hidup dan mimpinya karena menjadi ibu. Soal memilih, tidak ada yang salah dengan menjadi ibu rumah tangga. 

Hanya saja banyak ibu yang tidak percaya diri pada pilihannya. Ciri-cirinya antara lain adalah komplain tidak bisa mewujudkan mimpinya (saya sempat begini), tidak bisa mengerjakan ini itu, atau tidak pergi ke sana kemari karena menjadi full-time mother. Istilah ini saja sebenarnya sudah salah. Semua ibu adalah full-time mother. Saat bekerja di luar rumah, seseorang tidak berhenti menjadi ibu kan?

If you choose, just be confident about your decision.
A woman can have it all, just not all at once.

Nah, soal dipilih, ini yang pelik karena di luar kendali. Kerja Ibu A bagus, tapi/meskipun single parent. Ibu B pekerja keras, tapi/meskipun anaknya tiga. Seakan jadi ibu adalah kekurangan/beban.   

If I were not a mother, who am I?
Semua ibu yang cukup bangga akan semua perannya pasti punya banyak jawaban: seorang akuntan, guru, tukang masak, PNS, karyawan swasta, pemilik usaha, ketua PKK, seorang anak, adik, tetangga. 

After all, pertama-tama saya ingin dilihat dan dipilih karena saya bisa dan mau. Kedua, saya ingin dilihat bukan karena meskipun, tapi karena saya seorang ibu.

Karena saya seorang ibu, saya tahu persis bagaimana menyelesaikan pekerjaan di waktu singkat. Karena saya seorang ibu, saya punya banyak ide untuk ditulis. Karena saya seorang ibu, saya tahu persis apa yang diinginkan konsumen pemegang keputusan membeli. Karena saya seorang ibu, saya melihat banyak hal dari (minimal) dua sudut pandang dan mata berbeda. 

And if I were not a mother, I am still perfect.
But since I am a mother, I am (also) perfect. 

Tuesday, June 12, 2018

Panduan Pencegahan Pelecehan Seksual di Tempat dan Kendaraan Umum

Booklet ini dibuat teman kuliah saya, Rika Rosvianti , pendiri @_perempuan_ & Astrid Malahayati Fatma, pendongeng :). 

Silakan diunduh dan disebarluaskan. It might save a life.
Klik tulisan di bawah ini ya.

Panduan Pencegahan Pelecehan Seksual di Tempat&Kendaraan Umum

Saturday, October 7, 2017

Salah Satu, Benar Sembilan


Sabtu pagi, saya mendapati diri berdiri tak sabar di depan kasir minimarket yang antriannya tersendat. Seorang pembeli yang sedang bertransaksi ternyata sedang berbincang ringan dengan penjaga kasir. Dari obrolannya saya tahu mereka tidak saling kenal.

"Anak saya juga minum ini. Bagus kok, Bu," kata Mbak Kasir sambil memasukkan sebotol multivitamin ke kantong. Kemudian Si Pembeli menimpali. Bolak  balik begitu beberapa lama. What the…

Sedetik saya berpikir untuk segera jadi tokoh antagonis dengan menyela obrolan mereka dan berkata bahwa Mbak Kasir tidak profesional, membiarkan pembeli lain menunggu untuk hal enggak penting. Tetapi saya lihat dua orang di antrian depan saya santai-santai saja. Malah sepertinya berniat ikut ngobrol.

Seketika saya sadar, oh ya, ini bukan di Jakarta yang berpacu (tidak) dalam melodi. Saya sedang di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Bahkan ekspedisi/kargo cuma punya jadwal seminggu sekali untuk mengantar barang kemari. 

Meski tentu jangan sampai semua petugas kasir dan pembeli ngobrol akrab seperti di kafe, after all mereka hanya sekedar manusia yang saling bicara. Hal yang seharusnya paling normal dan alami.


Saya enggak akan bilang hal klise seperti hidup di kota kecil/desa lebih bernilai ketimbang di kota besar. Enggak. Momen di atas cuma mengingatkan bahwa yang kita anggap paling salah bisa jadi benar atau punya sisi benar. Dua tahun terakhir saya makin sadar, semua hal di sekitar kita itu enggak harus terjadi seperti rancangan skenario atau nilai benar dan salah di kepala kita atau yang dibilang banyak orang. 


Sebaliknya, kalau ada teman yang tanya, “Kok betah sih di Jakarta?” Saya malah bingung mau jawab apa. Emang apa yang bikin enggak betah? Karena terbiasa (ataupun pasrah), lama-lama saya bisa-bisa saja  berkontemplasi saat berjejalan dalam commuter line, atau diam santai di tengah macet, meleburkan kerumitan isi kepala dengan semrawutnya tata kota. Toh semua teman baik dan kejutan yang bisa diterima dan ciptakan di kota itu (seperti juga di semua tempat) selalu membuat saya ingin kembali.

Di sisi lain, hidup di kota kecil juga tidak lantas membuat hidup yang kita jalani juga serba kecil. Masa dari lahir sampai mati tinggal di kota kecil yang sama? Sekolah, kuliah, kerja di tempat yang ga jauh dari rumah, terus nikah, tinggal di kota itu juga?

Kalau iya emang kenapa?

Orang bisa merantau, tapi enggak harus. Enggak perlu dibikin harus dan yang tidak melakukannya bukan berarti enggak bisa. Ada yang enggak mau. Ada yang setelah merantau tanpa ragu kembali ke kampung halaman atau bahkan menetap di tempat yang lebih terpencil padahal tahu persis secara finansial mereka lebih terjamin di kota besar/negara lain (yang ini bukan saya). Orang yang merantau pun pada satu titik akan tiba pada kenyataan bahwa orang tua mungkin membutuhkannya pulang di hari tua. 

Sebaliknya, ada juga sahabat yang ingin terus tinggal di luar negeri, enggak balik-balik ke Indonesia. Alasannya sesederhana karena jengah ditanya kapan nikah dan merasa tanah orang itu lebih terasa “rumah” daripada tanah kelahirannya. Kalau diceritakan ke orang lain, mungkin dia bakal kena pidato soal nasionalisme dan sejenisnya. Ya kalau saya sih…

Semakin berumur, tanpa sadar doa dan impian kita (setidaknya saya) semakin sederhana. Karena yang paling sederhana sekalipun kadang sudah terlalu rumit dicapai. Seperti bisa jemput anak sekolah atau nyiram kembang di halaman jam 4 sore itu bisa jadi cuma impian buat pekerja kantoran yang tiap hari baru bisa menggapai gagang pintu rumah jam 9 malam.

Tempo hari seorang teman baik dengan santai bilang, "Aku belum kebayang tuh beli rumah." Usianya kepala tiga seperti saya, belum nikah. Tapi 8 tahun terakhir dia mengerjakan hal yang selalu ingin saya kerjakan tapi belum berani: punya usaha yang dia sukai yang bisa menghidupi banyak orang.   

Dan seketika saya merasa (semakin) iri sama dia yang enggak terganggu ujaran motivator dan para pakar finansial. Tidak terusik pada ide bahwa hidup itu baru akan terasa lengkap setelah nikah, punya rumah, atau baru aman setelah punya simpanan dengan nominal sekian di bank.

Lebih senang lagi saat tahu tiap anggota keluarga si Teman ini punya usaha/brand sendiri yang dikerjakan di tempat yang sama, enggak jauh dari rumah. Dan mereka tinggal di rumah yang bahkan juga digunakan mendatangkan uang, sekaligus teman baru. They’re stick together in happiness and storm, dengan yang ada, enggak sibuk cari atau pergi ke mana-mana.

That's exactly how I'm going to teach my son. Penting untuk mengajar diri bertahan di tanah orang, tapi juga penting untuk survive di mana kita berada. 

Pada akhirnya enggak ada satu rumus yang harus ditempuh untuk jadi “sukses.” Orang tidak harus ngantor, tidak harus S2 di luar negeri, enggak harus nikah sebelum 35 (dan bahkan enggak harus nikah). Enggak harus tinggal di rumah sendiri setelah nikah. Pun juga enggak harus terus tinggal sama-sama kalau sendiri bisa jadi lebih baik.

Kadang untuk sekedar menerima dan bahagia di tengah semua keharusan ataupun ketidakharusan saja sudah cukup pelik. 


Kalau hidup itu ibarat tes tulis di atas kertas, buat saya tiap orang tuh dapat daftar pertanyaan beda-beda. Soalnya enggak diacak, tapi sudah dipilihkan khusus buat masing-masing. Percuma nyontek kanan kiri ikut jawaban orang. Yang ada malah kita akan nulis jawaban yang salah untuk pertanyaan yang bahkan enggak kita baca.

Dan kalau pun jawaban kita salah meski sudah mikir dan merencanakan mati-matian, masih ada soal lain, ada remidial, ada tes lain. Lagipula, katanya kan kalau di sekolah kita belajar dulu baru ujian. Tapi dalam hidup,  ujian (salah) dulu, baru belajar. 






Wednesday, September 21, 2016

Jangan Cari Uang(nya Saja)

Saya tidak mencuri dengar tapi tak sengaja mendengar. Seorang rekan kerja menyatakan akan pindah kantor demi gaji lebih tinggi. Atasan saya bertanya padanya, "Kamu cari apa dalam hidup? Saya lihat kamu senang dan berkembang kerja di sini. Jangan cari pendapatan lebih gede aja lho."

Sis, berat banget diajak mikir hidup nyari apa! Saat itu saya berpikir, "What? Lalu kita kerja buat apa kalau bukan untuk pendapatan lebih tinggi?" Apalagi di Jakarta, semua pekerja kantoran mesti akrobat dan latihan sabar di jalanan melebihi kesabaran seorang rahib di kuil, hanya untuk sekedar berangkat dan pulang kantor. Ngapain capek-capek kalau uangnya segitu-segitu aja?

Si teman tetap resign dan pindah ke tempat kerja dengan gaji dan -tentu saja- tuntutan lebih tinggi. Saya nggak pernah tanya sih apa dia lebih bahagia, lebih berkembang atau apa. Saya duga perasaannya kurang lebih sama seperti saya: kadang kami merindukan pekerjaan kami yang gembira tapi (atau meski?) dengan pendapatan ala kadarnya itu. Rindu sekedar nostalgila tapi tidak untuk kembali (ya macem inget mantan SMA lah :p).

Rumus untuk “Pemalas”
Sekarang, kurang lebih lima tahun setelah saya dengar kalimat "jangan cari uangnya aja"  itu, saya baru mulai paham maksud eks atasan saya. Saya juga berhenti kerja dari kantor yang-menyenangkan-meski-pendapatan-seadanya itu lebih karena ingin punya lebih banyak waktu untuk menulis fiksi. Oleh karenanya, dengan congkak saya menolak pekerjaan dengan gaji dan jabatan (dan tentu saja tanggung jawab) lebih tinggi di tempat lain. Barangkali alasannya karena pada dasarnya saya ini malas bekerja kantoran dan karenanya, nggak begitu perlu jenjang karier.

Sedikit pembenaran: kadang pemalas justru bisa mencapai sesuatu yang lebih karena dia akan berpikir cara terefektif dan efisien untuk mendapatkan hasil yang sama (kalau bisa lebih dari) dengan yang didapat orang lain (haha!). Intinya saya harus terus punya pendapatan, tapi masih memungkinkan saya leluasa melakukan hal-hal menyenangkan lain meski nggak menghasilkan uang.

Sebagai gantinya, saya memilih pekerjaan dengan jabatan non-manajerial (cerita selengkapnya di sini). Sampai sekarang saya masih bekerja di kantor yang sama, tapi karena pindah domisili, diizinkan bekerja dari mana saja. Di pagi hari, saya bisa (sok) olahraga dulu dan baru mulai buka laptop jam 10 pagi. Di hari lain, saya bisa jadi perlu lembur dari subuh hingga malam untuk mengerjakan semua artikel untuk sepekan, demi bisa mengerjakan fiksi (yang uangnya tak seberapa atau bahkan tak ada itu) atau bepergian lebih lama bersama anak di akhir pekan. Konsekuensinya, tentu saja jabatan saya nggak akan naik-naik dan pendapatan saya tidak sebesar teman-teman lain yang datang secara fisik ke kantor. But hey, it’s worth it. 

Orang lain mungkin juga pindah bekerja dengan gaji yang lebih rendah tapi lebih sesuai passionnya, atau bahkan berhenti bekerja untuk mengerjakan usaha yang sudah lama ingin dia kerjakan sendiri, meski mulai segalanya dari nol. Dan bisa jadi di sinilah kalimat usang "do what you love, and the money will come" (semoga) akan jadi nyata. 

Value!
Di titik ini, seketika jargon-jargon yang dulu belum atau hanya saya pahami samar-samar jadi makin terang. It’s so true that “your job is not your career,” mengulang kata career coach Rene Suhardono. Saya bisa resign dari manapun, tapi karier tetap melekat pada diri saya. Karier saya penulis, brand saya adalah nama saya sendiri, dan kantor saya di manapun.

Kata Henry David Thoreau, live the life you've imagined. As you simplify your life, the laws of the universe will be simpler. Impian akan hidup ideal saya masih sama: punya usaha yang lebih bikin gembira ketimbang stres (utopis! :D),  mengetik seperlunya, lebih banyak waktu di dapur, perpustakaan, dan rerumputan. Belum kesampaian. Tapi setidaknya menguasai waktu sendiri berarti selangkah menuju ke sana. 

Dulu saya dengan sombongnya nggak paham bagaimana orang bisa living a “small” life. Tidak sebelum saya tahu bahwa  tiap orang punya value dengan skala prioritas yang berbeda-beda. Ada orang yang menomorsatukan karier di atas keluarga, dan bagi saya itu bukan sesuatu yang salah. Ada yang value-nya sesederhana (atau serumit?) mengerjakan hal sesuai passion, atau bisa mengantar jemput anak sekolah.

Sederhananya, seperti yang dibilang penulis Hunter S. Thompson. Beware of looking for goals: look for a way of life. The goal isn't the money. Decide how you want to live and then see what you can do to make a living within that way of life. 

Thursday, February 18, 2016

Tentang Kota dan Diri yang Berubah

Setelah satu dekade tidak tinggal di Malang, saya mencoba mencari-cari penyebab mengapa kini saya sulit – dengan segala hormat - menyebut kota ini sebagai rumah.

Saya kerap sok merasa bisa mengamini sabda Heraclitus: panta rei. Tidak ada yang tetap selain perubahan.  Tetapi sejujurnya, seperti sebagian manusia lain, saya begitu lambat menerima kenyataan bahwa beberapa hal yang sentimental juga tidak bisa tetap tinggal di tempatnya.

Pohon-pohon rindang yang menaungi saat saya terkantuk-kantuk berada di atas becak yang bergerak perlahan, kini meranggas atau sudah tak ada. Hotel-hotel tinggi menggantikan toko dan bedak lama, yang pedagangnya bahkan saya kenal wajahnya. Kafe-kafe bertingkat penuh anak muda berfoto dengan tongkat, dan rumah-rumah makan yang mengokupasi rumah-rumah lama peninggalan Belanda. Warung kopi dan warung tegal di sekitar kampus tergusur apartemen (apart-men!). Sejak kapan sih mahasiswa yang biasa makan lesehan di kota ini merasa perlu tinggal di apartemen?

Saya bahkan sudah tidak lagi pulang ke rumah di mana saya pertama kali belajar merangkak, serta jalanan perumahan di mana saya pertama kali bisa menaiki sepeda roda dua. Rumah dinas ibu saya itu kini  sudah rata dengan tanah. Sebentar lagi di atas tanah di tengah kota itu akan berdiri bangunan perluasan kampus. Memang lebih banyak mahasiswa atau sekedar lebih banyak dana yang masuk? Tidak jauh dari sana, ada mall yang dulu setengah mati ditolak berdiri oleh para mahasiswa karena berdekatan dengan kampus dan makam pahlawan. Toh kini mahasiswa yang sama – yang sudah jadi bapak dan ibu – gemar mengajak keluarga mereka ke sana.

Kota, kata Karen Armstrong, adalah tempat tinggal para aristokrat-aristokrat kecil. Dan para aristokrat ini entah bagaimana menjadi berperilaku serupa, baik manusia maupun kotanya. Kini, bagi saya, kota yang pernah dingin dan pernah kecil ini menjadi sama saja seperti kota besar lain di Indonesia: penuh pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong dengan harga makanan berkepala tiga, macet, panas, penuh perumahan baru - dengan harga yang kadang tidak masuk akal - hingga jauh ke pinggir kota.

Dan karenanya jika rumah masih berupa sebuah tempat, maka saya tidak merasa sedang pulang. Hanya sekedar seperti berada di kota lain, meski sesekali saya melintasi sekolah masa kecil dan jalan-jalan menuju rumah teman. Kota ini sesak dengan kendaraan bermotor roda empat dan dua, yang pemiliknya gemar makan di luar dan bertandang ke pusat perbelanjaan.

Kota dan Filosofi Makan di Luar
Cara makan adalah salah satu kegiatan penanda utama perubahan gaya hidup masyarakat sebuah kota. Rumah-rumah makan dan kafe yang penuh sesak, terutama di sore hari dan di akhir pekan itu membuat saya bertanya-tanya: ke mana ya dulu saya, teman-teman, dan keluarga saya menghabiskan waktu? Yang pasti tidak di kafe atau rumah makan, karena tempat-tempat ini dulu tidak semasif kini. Jawabannya di rumah, atau di rumah teman atau kerabat. Tetapi tentu saja kini sebagian kecil kerabat dan sebagian besar teman sudah tidak lagi tinggal di kota ini.

Saat kecil hingga remaja, frase “makan di luar” adalah sesuatu yang besar sekaligus asing bagi keluarga saya. Ini adalah kegiatan langka yang hanya dilakukan saat merayakan sebuah peristiwa besar seperti komuni pertama saya (sebuah perayaan dalam gereja Katolik). Ibu saya lebih suka repot memasak dan mengundang orang untuk datang ke rumah ketimbang tinggal duduk dan memilih menu di rumah makan atas nama kepraktisan (atau apapun).

Perayaan-perayaan ulang tahun saya saat kecil semua diadakan di rumah, dengan kue ulangtahun berupa cake biasa tanpa hiasan dan makan malam sekedar bihun dan kerupuk. Tapi saat-saat itu selalu riuh dengan tetangga dan kerabat yang datang. Kali lain, hanya sekali, ulang tahun saya diadakan di sekolah taman kanak-kanak. Masih dengan kue-kue buatan ibu saya sendiri. Begitu saja saya sudah merasa seperti orang kaya.

Teman-teman sekolah saya yang lebih berada juga merayakan ulang tahun di sekolah atau rumah. Bahkan ketika rumah mereka adalah sepetak lantai tidak luas di bagian atas sebuah toko. Saya selalu senang bisa berkunjung ke rumah teman karena selain bisa tahu di tempat seperti apa teman saya ini tumbuh, saya juga bisa kenal dengan seluruh anggota keluarganya, termasuk asisten rumah tangga dan barangkali anjingnya.

Begitu juga dengan acara kelas seperti buka puasa. Saya masih ingat senangnya berbuka bersama (meski saat itu tentu saya belum ikut puasa) di rumah teman, duduk lesehan tanpa buru-buru. Kini, di mana lagi orang kota berbuka puasa jika bukan di mall atau rumah makan. Tempat yang menyisakan kekhawatiran dan kerepotan yang sebenarnya sungguh tak perlu: antrian panjang di depan kasir untuk membayar makanan, dan yang lebih sedih, antri untuk sekedar beribadah (kadang ujungnya jadi mendahulukan makan dengan mengabaikan ibadah).

Bagi orang-orang seperti ibu saya, makan di luar itu bahkan bukan pilihan. Saat keluar rumah sekalipun, ia akan menunggu pulang ke rumah untuk makan, meski itu berarti beliau makan siang pukul 14 atau 15. Saya sendiri bahkan baru tahu bagaimana rasanya ayam KFC  itu di kelas tiga SD. Itupun karena diajak oleh seorang sepupu yang sudah kuliah. Bukan oleh orangtua.


Meja makan di rumah orang tua saat Natal
Di rumah kami, dapur dan ruang makan adalah jantung, di mana ibu saya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menyiapkan makanan. Dan barangkali hal terbesar dari rasa “pulang” adalah tinggal bertemu dan makan masakan ibu saya (yang selalu saya tiru saat kami jauh).

Pada akhirnya, kota ini meletupkan rasa yang berbeda dari 10 tahun lalu, sekaligus rasa yang sama seperti tempat-tempat penuh roda empat lain. Ataukah kota ini sebenarnya masih sama, tetapi saya yang sudah berubah? Atau saya yang masih mencoba menjadi atau mengharap yang sama, tetapi kota ini sudah berlari ke arah yang tidak saya duga? Mungkin lebih tepatnya saya dan kota ini sama-sama berubah dan tidak lagi dapat bergenggaman tangan meski bukan berarti merenggang. Barangkali hanya sekedar dapat berdiri bersisian.

Dan pada akhirnya, saya harus berdamai menerima kenyataan bahwa rumah itu - kata salah satu penulis favorit saya, Cecelia Ahern, ternyata bukan (sekedar) tempat -  tapi perasaan. Home is not a place. It’s a feeling. Tidak ada satupun tempat di dunia ini yang tinggal tetap dan selalu lengkap. Rumah saya adalah...di manapun, bersama keluarga saya. 

Share this blog