Monday, November 4, 2019

Refleksi dari Kompetisi Spelling Be: Mengeja Diri Sendiri (1)

Sejak usia 7, anak saya menjelma menjadi jenis anak yang dulu tidak saya sukai :)). Anak aktif yang bicaranya campur-campur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, suka menggambar (bahkan di dalam kelas), gemar main game dan nonton YouTube. 

Setelah ia diikutkan sekolahnya dalam kompetisi Spelling Bee English First (EF) tempo hari, saya jadi semakin yakin, daripada terus mencoba "membetulkan"nya, mungkin kesukaan-kesukaannya ini justru bisa menjadi kekuatannya. 


Tidak Disengaja
Saya baru tahu kecerdasan Bima adalah di linguistik sejak liburan naik kelas 1 SD. Saat itu untuk pertama kalinya dia diizinkan menggunakan gawai (gadget). Sejak itu dia mulai main game (Minecraft dan Roblox) dan membuka YouTube, awalnya untuk tahu bagaimana cara memainkan game ini.

Hal yang kemudian saya sadari adalah ternyata kemampuan bahasa Inggrisnya berkembang seiring dibukanya akses ini (meski tentu saja tidak dipungkiri ada kata-kata negatif yang ikut terbawa dan perlu didiskusikan). Kebetulan karena bekerja di rumah, saya memang selalu ada di sekitarnya setiap kali dia menggunakan gawai, dan itu terbatas di akhir pekan.

Pamannya terkejut saat bicara dengannya lagi di bulan Desember. Katanya kemampuan bahasa Inggris Bima meningkat pesat sejak terakhir mereka  bertemu 6 bulan sebelumnya. Ia memuji saya karena mengira saya telah sukses mengajarinya. Padahal saya sama sekali tidak mengajari apapun.

Setelah saya perhatikan, Bima ternyata meniru pelafalan kata-kata bahasa Inggris dari Youtuber yang ia dengar, yang ternyata memang sangat jelas. Kemudian lama kelamaan tiap menonton Disney Channel, ia lebih memilih mendengarkan suara versi asli (bahasa Inggris). Kemudian dua tahun terakhir ia mulai mencari tahu pengetahuan umum di YouTube, kalau bisa dalam versi bahasa Inggrisnya. 

Yang jelas ia tidak kursus bahasa Inggris. Hanya renang dan menggambar. Pelajaran yang saya ulang di rumah pun hanya Matematika, yang sering lebih lambat ia pahami. 

Kosakata dan Spelling Bee
Setelah ia mengikuti lomba, saya baru tersadar bahwa akses internet benar-benar mengembangkan kosakatanya. Kemarin di final Spelling Bee, saya heran dia bisa mengeja kata-kata yang sepertinya tidak kami pelajari. Antara lain: sapphire, knuckle, dan sparrow. 

Setelah ngobrol, ternyata dia tahu kata “sapphire" (batu safir) dari game Minecraft, dan  kata “knuckle” dari meme game Sonic, Ugandan Knuckles. Iya, saya tidak sepenuhnya paham, tapi saya googling juga. Hehe. Selain itu kata lain yang bisa ia eja adalah sparrow yang ternyata ia tahu dari Pokemon. 

Intinya, dalam kompetisi spelling bee, kata-kata yang muncul bisa sangat acak. Kita bisa punya daftar panjang kosakata, tapi dalam lomba nanti bisa saja tidak akan muncul satupun kata dari daftar itu. Hehe. Sehingga cara terbaik mempersiapkan anak sebelum mengikuti kompetisi ini, idealnya tentu saja, adalah banyak membaca.

Namun dalam kasus anak saya, karena dia belum termotivasi membaca mandiri, kosakatanya baru ia dapat dari hal yang sering ia akses: game, YouTube, film. Soal membaca buku, dia hanya membaca buku yang topiknya ia suka, seperti antariksa, dinosaurus, sejarah. Selebihnya, ia lebih suka dibacakan. Maklum, anak auditori. Dulu saya sering membacakannya buku sebelum tidur. Sepertinya kegiatan ini perlu dimulai kembali.

Lebih Mengenal Diri
Di atas semuanya, saya baru menyadari bahwa kompetisi bisa membuat saya belajar banyak tentang anak saya dan diri saya sendiri. 

Sebelum lomba dimulai, saya melihat peserta lain yang tekun belajar, membaca kembali daftar kosakata mereka, atau diberi tebakan oleh orang tua atau guru. Dulu saya adalah bagian dari anak-anak seperti ini, tapi dari sudut pandang kurang positif. Saya introver yang sebenarnya tidak pintar, cuma rajin dan insecure

Tetapi anak saya sama sekali tidak seperti saya, dan saya tidak bisa memperlakukannya seperti anak rajin. Saat peserta lain belajar, anak saya dan dua peserta lain berlarian, main bola, main game, makan snack. Saya resah karena khawatir ia tidak akan bisa fokus. Saya panggil bolak balik untuk belajar, tapi dia tetap berlarian ke sana kemari. Ya sudah, saya menyerah. Kalau saya marahi, dia bisa jadi kesal atau lebih parahnya, menangis. Saya pikir, yang terpenting adalah mood-nya tetap terjaga.

Saat naik panggung, punggung dan wajahnya memang penuh keringat, habis lari-lari. Tapi dia tampak tenang dan senang saja. Seperti biasa, ia sempat dancing-dancing kecil dan mengomentari ini itu meski sudah di atas panggung.

Babak final jauh berbeda dengan babak semifinal dan penyisihan. Jika dua babak sebelumnya dilakukan dengan tes tulis, di babak final, semua pengejaan harus diucapkan di atas panggung, dengan pengeras suara, di depan audiens. Di antaranya tentu saja ada guru dan orang tua yang berharap mereka tampil baik. Situasi yang sudah cukup menegangkan untuk anak. 




Rasanya jantung lepas ke udara setiap kali giliran Bima tiba mengeja. Beberapa kata yang seharusnya mudah, sempat ia lewatkan satu huruf. Tetapi kata-kata lain yang bahkan tidak dapat saya tangkap bisa ia eja dan tebak dengan baik. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika ia gugup.

Di sisi lain, saya melihat teman-temannya yang lain, yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri lebih baik, tampak gugup, sehingga mungkin lupa. Saya yakin mereka sebenarnya bisa. Tapi kita tahu, gugup bisa membuat gagap.

Bima dan temannya, yang sebelumnya juga lari-lari bersamanya itu, alhamdulillah juara 3 dan 2, berkesempatan ikut kompetisi nasional, 24 November 2019 nanti.

Saya belajar bahwa setelah persiapan panjang dan mempelajari banyak kosakata, pada akhirnya, sepintar apapun anak, tersisa satu hal penting yang jadi benteng mereka dalam setiap kompetisi (dan hidup): mental.

Mental terbentuk antara lain dari konsep diri. Bagaimana ia memandang dirinya di antara peserta lain? Juga resilience; bagaimana ia bisa cepat bangkit setelah sempat salah.

Selain itu memotivasi anak-anak generasi Alpha (lahir 2010 ke bawah) memang gampang-gampang susah. Beberapa hari sebelum lomba Bima sendiri yang bilang, “Winning is not important, Bun." Saya jadi  bingung bagaimana akan menyemangatinya. Akhirnya di hari H saya cuma bilang, “Ok, just go there and we’ll have pizza after that.” Dan anehnya dia justru jadi bersemangat, “Ok, Bun, I’ll win it!”

Namun di atas semuanya, ada kebahagiaan yang lebih berharga dari persaingan: melihat anak-anak itu saling tos menyemangati dan menghibur setiap kali benar/salah menjawab :)).  


- bersambung


Soal teknis penyelenggaraan dan hal detail lain (seperti daftar kosakata) nanti insyaAllah akan saya unggah setelah selesai kompetisi nasional 24 November. Terima kasih sudah membaca dan semoga ada manfaatnya. Hehe.

NB: Di bawah ini saya sertakan beberapa link yang mungkin dapat berguna untuk mempersiapkan anak untuk kompetisi spelling bee.


Seputar Spelling



Wednesday, September 11, 2019

Hal-hal yang Terbawa (dan Terbawah) dari Sekolah


“Bunda, Anne Frank itu kayak aku! Sering dimarahin karena suka ngobrol di kelas.
Terus dia juga nggak suka matematika!”
Bima (8), dengan gembira

Pembagian anak-anak ke dalam kelas-kelas yang ditata berdasarkan kemampuan akademisnya masih menjadi misteri bagi saya. Dari kajian-kajian yang saya baca, pembagian ini kebanyakan berfokus pada manfaat yang bisa didapat anak yang lebih pintar. Katanya sih anak di kelas unggulan akan menjadi lebih terpacu mencapai kemampuan maksimal mereka. Tapi bagaimana rasanya menjadi anak di kelas yang dianggap paling tidak pintar? Berharap saja mereka bisa survive dengan menyandang label itu seumur hidup.

Saya pernah jadi anak kelas unggulan, tapi juga pernah  jadi warga kelas yang distigmakan paling bodoh. Mungkin sistem ini bermanfaat untuk sebagian anak. Tapi buat saya, berada di kelas unggulan justru menghabisi sisi menyenangkan dari proses belajar dan menyisakan bagian tidak menyenangkan yang menjadi beban harian: kompetisi (pubertas saja sudah cukup merepotkan, ya Tuhan).

Saya  ingat saya justru memandang iri pada anak-anak di kelas yang paling tidak diunggulkan yang sungguh hore itu. Sebagian dari mereka adalah anak-anak bintang lapangan. Pebasket andalan dan seniman. Mereka cool dengan cara yang tidak dapat saya tiru saat itu.

Akhirnya di kelas 2 (sekarang kelas 8) saya dikeluarkan dari kelas unggulan. Tidak memenuhi standar di pelajaran Matematika dan IPA (karena standarnya ya memang cuma itu). Saat itu saya sedang mulai senang menulis tapi seakan diyakinkan bahwa itu bukanlah sebuah kecerdasan. If you’re not good at math, then you’re not good in  life.

Itu waktu SMP.  Di SMA, sama saja. Di SMA saya dulu ada 7 kelas IPA dan hanya 1 kelas IPS. Yang masuk ke 3 IPS (sekarang kelas 12) dipersepsikan sebagai anak-anak sisa yang tidak bisa masuk 3 IPA. Bahkan anak yang ingin masuk IPS disarankan untuk masuk IPA saja jika ia memang pintar matematika dan sains. “Kalau anak IPA kan bisa ke mana saja setelah lulus. Tidak seperti anak IPS.” Begitu mantranya. Padahal “bisa ke mana saja” adalah kata lain dari ketidaktahuan cita-cita dan tujuan (kan).

Menjadi “yang tersisa” itu menyebalkan, tapi kemudian membebaskan. Saya jadi tidak punya pilihan selain kembali ke akar dan kekuatan terbaik yang saya punya. Dan itu jelas bukan di ilmu pasti.

Anak Saya, Cetak Biru Saya
Ini dekade dan era lain. Sekolah anak saya tidak menerapkan sistem ranking dan tidak menerapkan tes masuk. Sebuah kemajuan yang tentu punya konsekuensi sendiri. Dalam proses belajar mereka perlu membagi anak-anak sekelas menjadi 2 kelas kecil: kelas anak yang  lebih cepat dan kelas anak yang lebih lambat belajar.

Yang menarik, semua anak yang biasa mewakili sekolahnya untuk lomba bahasa Inggris (termasuk anak saya) masuk ke kelas ini. Anak yang secara alami berbakat di bahasa ternyata rata-rata kurang tangkas dalam hitung menghitung.

Begitu juga di klub renangnya. Saya (dan dia, dan pasti juga pelatihnya) tahu ia tidak punya kecerdasan kinestetik. Ia tidak bisa seserius itu di kolam. Renang dan olahraga lain sekedar ia anggap sebagai kesenangan, atau gangguan jika ia tidak suka. Haha. Dan saya suka fakta bahwa ia, di usia 8, sudah mengenal apa yang ia sukai dan tidak sukai. Setidaknya untuk saat ini.

After all, saya tidak menyalahkan sistem pendidikan. Ya memang susah bikin satu sistem  yang bisa berlaku untuk semua anak. Tapi saya menerima dan meresponsnya dengan cara saya sendiri. Di rumah, saya cuma mengajak anak saya lebih sering mengerjakan soal Matematika. Setidaknya agar dia bisa memahami logika berhitung dan mencapai standar minimal yang diperlukan. Sekedar tahu dan bisa, tidak perlu pintar.

Tetapi fokus saya adalah mendukung dia mengerahkan energi di bidang yang ia kuat dan sukai (dia suka menggambar). Tidak perlu mengalahkan siapa-siapa (dulu). Hanya menguasai hal terutama yang ia sukai, dengan kecepatannya sendiri. Sambil berharap kekuatannya itu bisa membuatnya bermanfaat dan hidup dengan gembira. Bagi saya pendidikan itu ya sesederhana itu.


Sunday, August 18, 2019

Playing Seriously, Seriously Playing


Kadang berandai-andai, bagaimana jika saya lebih awal mengenali diri dan meyakini apa yang ingin saya lakukan sebagai kesenangan dan profesi. Jalannya tentu tidak akan lebih mudah, tapi setidaknya mungkin tidak perlu menghabiskan bertahun-tahun kebosanan dan kebingungan.


What You Really Really Want?
Sesederhana itu sih harapan saya pada pendidikan anak saya: agar ia tahu apa yang benar-benar ia sukai dan ingin ia lakukan. Lalu bisa membangun diri dan berkontribusi untuk sekitar dengan bahagia. Plus bisa menengok hidup orang lain tanpa harus merasa lebih rendah atau lebih tinggi. Buat saya, sukses itu ya sesederhana itu.


Di usianya yang baru 8, selain main gawai di akhir pekan, hal yang ia lakukan dengan senang hati adalah menggambar. Ia bisa menggambar kapan dan di mana saja. Di kereta, di ruang tunggu dokter, di mobil, di kelas – bahkan saat ujian sekalipun. Melihatnya menggambar sambil bersenandung membuat saya berpikir mungkin aktivitas itu bisa menjadi jangkar sekaligus kompasnya. Sarang yang tenang untuk kembali. Tiap orang perlu punya ‘tempat’ ia bisa melarikan sekaligus menemukan dirinya lagi.

Namun karena sekolah/pendidikan formal belum memberi ruang untuk kecerdasan semacam ini berkembang, maka kami perlu mencari jalan di luar. Dan sebulan terakhir ia ikut sekolah digital art. Tidak pernah sekali pun malas masuk. Kalau melewatkan jadwal sehari saja dia sudah resah. Apa begini seharusnya sekolah itu? 😼

Didikan Masa Lalu
Dulu sih di SMP saya pernah kena razia dan dimarahi karena membawa barang yang dianggap tidak berhubungan dengan pelajaran sekolah: beberapa komik Doraemon dan sebuah buku cerita yang saya lupa judulnya. Duh kalau anak-anak diperlakukan begitu bisa-bisa nggak ada lagi yang membaca buku (komik juga) sebagai sebuah kesenangan.

Lalu jika membaca saja masih dipandang harus menjadi bagian kewajiban yang berhubungan dengan sekolah, apalagi menulis. Mimpi menjadi penulis bahkan tidak pernah saya sebut sebagai cita-cita karena terdengar terlalu “mimpi.” Terlalu bersenang-senang. Seperti bukan pekerjaan yang sebenarnya. Jadi saya menyimpannya sendiri.

Tetapi akibatnya, saya sempat dua tahun salah jurusan kuliah sampai stres sebelum masuk ke Komunikasi UI. Kemudian bertahun-tahun (berharap) puas menjadi reporter dan content writer. Dan tetap saja merasa ada yang kurang.

Saya ingat ada atasan saya di media yang dengan cepat meragukan saya begitu saya keluar dari kantor dengan alasan ingin menulis fiksi. Jadi begitulah tiap kali kita ingin mengerjakan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Harus melepaskan diri dulu dari suara-suara orang lain yang sudah terlanjur menjerat dan menjerit dalam kepala.

Mengikuti Generasi Z dan Alfa
Bicara soal mengabaikan kata orang, saya selalu belajar dari adik-adik generasi Z (lahir 1998-2010). Betapa pun generasi saya, milenial/gen Y (lahir 1977-1997), sering menyebut generasi Z ini sebagai anak-anak yang tidak konsisten dan tidak tahu sopan santun, saya tetap mengagumi sisi-sisi mereka yang gesit, efisien, efektif.  

Mereka memang seringkali tak bisa basa-basi tapi tahu yang mereka mau. Iya, tidak semua. Tapi setidaknya generasi Z yang saya kenal, para pegiat literasi, adalah yang begitu. Rasanya seperti melihat diri sendiri dalam versi yang lebih berani dan tanpa beban didikan masa lalu.

Nah, generasi anak saya, gen Alfa (lahir mulai 2010), belum terdefinisikan dengan jelas.  Mungkin akan disegani sekaligus dibenci juga oleh kakak-kakaknya, gen Z. Mungkin mereka akan jadi lebih tangkas, lebih thoughtful, lebih tidak bisa basa-basi.

Satu hal yang pasti, tidak seperti saya yang dulu diragukan, saya akan membiarkan dia bermain dengan serius, dan serius bermain. Main game boleh, di waktu tertentu, tapi bagaimana jika sekalian belajar membuat game? (rencananya bulan depan ia akan mulai belajar koding) Menggambar boleh. Bagaimana jika sekalian serius menggambar?



Pun jika ia berhenti di tengah jalan, tidak apa-apa. Ini adalah bagian dari perjalanannya mengumpulkan kepingan-kepingan diri dan jalannya sendiri nanti. Untuk sekarang, kita coba dulu belajar soal ketekunan sambil bersenang-senang


Tuesday, December 11, 2018

Mulai dari Akhir


Beberapa waktu lalu seorang sahabat baik berpulang lebih dulu. Di hari-hari terakhir jelang kepergiannya, pembicaraan tentang karier, pencapaian, dan pendidikan sudah menjadi tidak relevan. Obrolan tentang politik jadi terdengar konyol. Hidup akhirnya mengerucut jadi tinggal hal terpenting: keluarga, serta pikiran dan hati yang tenang untuk kembali ke Pemilik Hidup.

Seperti saya, dia bukan orang religius. Tapi di antara batas sadar dan tidak, yang paling sering ia ucapkan adalah istighfar, mohon ampun.

Sampai sekarang, jika saya lupa atau meributkan hal yang sebenarnya tidak perlu, saya menengok lagi lini masanya dan mengingat hari-hari terakhir saat ia berjuang untuk sekedar hidup.

Unfriend di Tahun Politik
Empat tahun lalu seorang teman juga pergi di usia muda. Ia berpulang di tahun politik. Yang membuat saya terkejut setelah dia pergi adalah mendapati kami sudah tidak berteman di Facebook. Ia menghapus pertemanan/meng-unfriend saya. Anda bisa menyebut saya paranoid atau insecure, tapi terus terang saya jadi mencoba mengingat apakah saya pernah punya salah pada beliau. Jika iya, pastinya bukan kesalahan yang terjadi saat bertemu langsung karena kami sangat jarang bertemu.

Lalu saya ingat, beberapa waktu sebelum meninggal beliau pernah berkomentar di salah satu status saya tentang politik. Komentarnya kemudian dikomentari orang lain, teman saya juga. Beberapa kali berbalasan sengit. Itu ‘interaksi’ terakhir kami di dunia maya.

Meski itu dugaan, tapi fakta bahwa beliau meng-unfriend saya, dan sudah meninggal, membuat saya sedih selama berhari-hari. Apalagi karena postingan se”konyol” politik. Karena kalau memang benar, saya sudah tidak sempat minta maaf.

Sejak itu saya jauh lebih jarang mengunggah/update status. Saya masih belum bersih dari unggahan (yang mungkin) negatif (terutama di Twitter).  Tapi setidaknya ketika akan menekan tombol post saya mencoba untuk ingat: Apakah ini bermanfaat? Apakah ini perlu? Bagaimana cara menyampaikannya dengan lebih baik?

Siapa saja yang mungkin membaca? Di daftar pertemanan saya ada rekan kerja, mantan bos, saudara sepupu yang pernah membantu, teman yang pernah memberi tumpangan, dan yang paling banyak adalah orang-orang yang hanya mengenal saya lewat apa yang saya unggah di media sosial.

Meski tidak bermaksud, tapi kita tidak pernah benar-benar tahu apakah yang kita unggah akan menyinggung orang lain. Bahkan kata-kata di dunia maya mungkin lebih berbahaya karena kita bisa sampai hati mengetik kata-kata yang tidak berani kita ucapkan jika berhadapan langsung. Ditambah lagi, kecuali dihapus, kata-kata di sosmed akan abadi sepanjang masa, tidak seperti ucapan yang lebih mudah dilupakan.

Bukan berarti tidak perlu ada kritik atau menyampaikan pendapat. Tapi saya percaya, sesuatu yang (diyakini) baik harus bisa disampaikan dengan cara baik juga.

Di dunia yang serba cepat ini, sebagian (besar) orang yang kita jumpai bisa jadi sudah tidak akan kita jumpai lagi. Begitu juga sebagian besar orang yang menjadi “teman” di dunia maya. Tidak ada waktu minta maaf, atau bahkan sekedar menyadari bahwa yang kita ketik mungkin menyakiti.

Obituary Sendiri 
Saya ingat pernah ikut sebuah kegiatan orientasi saat tiap siswa baru diminta menulis obituary diri sendiri. Obituary adalah berita tentang kematian seseorang beserta catatan singkat perjalanan hidupnya.


Dengan menulis obituary, kita diminta untuk menulis rencana hidup kita dari akhir. Ingin menjadi orang seperti apa? Pekerjaan dan karya apa yang kita tinggalkan? Bagaimana orang akan mengingat kita? Dengan kata lain, cara sederhana untuk merancang hidup justru dimulai dari  (menyadari bahwa kita akan) mati. Di kehidupan yang serba tidak pasti ini, mengutip Mark Mason, mati adalah satu-satunya kepastian.

Dan di masa kini, setelah mati, lini masa kita barangkali adalah satu-satunya peninggalan  yang paling terlihat. Rekaman kata dan potret kita yang bisa diakses semua orang. Alangkah sia-sianya jika saat orang mengenang dengan menengok lini masa kita, ia hanya akan mendapati akun penuh sumpah serapah.

Selamat jelang akhir tahun dan menyongsong 365 kesempatan baru :).
Selamat mencoba memulai dari akhir.

Bersama ini saya mohon maaf untuk unggahan yang kurang berkenan.
Menemukan ini saat scrolling Path almarhum sahabat 

Tuesday, August 7, 2018

People Our Age



If I could sum up how's life at 30's feels like, it would be: too old to make mistakes, too young to make things right.

30s and Being a Parent
Akhir pekan lalu beberapa sahabat merencanakan kamping bersama, bawa anak masing-masing. Ini kali kedua. Saya ikut aja. Khas acara ibu-ibu yang enggak mungkin sempurna, mendekati hari H, salah seorang berkata, "Kayaknya aku nggak jadi ikut. Bapak baru masuk rumah sakit. Aku mesti jaga. Apa aku pergi  semalam aja ya?”
Sahabat lain: “Jangan, kasihan bapakmu.

Tidak disangka sahabat saya ini menjawab lagi, "Ya kasihan aku juga, sudah 7 bulan di rumah aja." 😃 Duh, rasanya ingin tertawa sekaligus menangis di saat yang sama. Haha.

Sahabat saya ini ibu rumah tangga dengan 2 anak yang tinggal dengan orang tua. Tujuh bulan terakhir lebih sering di rumah, merawat bapaknya. Sudah lama ia berkeluh kesah ingin berpenghasilan dengan bekerja kantoran. Tapi bapaknya membutuhkannya.  

Situasi yang berseberangan, sudah tidak terhitung juga teman perantau yang ingin tinggal sekota untuk menjaga orang tua yang sudah tua/sakit, tapi sulit berpindah/meninggalkan pekerjaan mereka.

Itu baru salah satu dari banyak situasi yang sering dihadapi di usia 30-an. Yang tiba-tiba jadi tiang penopang saat diri mereka sendiri merasa masih butuh pegangan. Yang ingin lari kencang tapi malah harus jalan pelan-pelan asal selamat. Yang ingin mengerjakan semua dengan benar tapi malah banyak yang lepas dari genggaman. Dibilang sudah cukup dewasa, ternyata belum. Dibilang terlalu muda untuk membuat hal besar, enggak juga sih, sudah 30.

Single at 30s
Ada yang bilang bahwa setengah usia hidup manusia “dikuasai” oleh orang tuanya, dan setengah sisa usianya “dikuasai” anak. Mereka yang lajang sebenarnya punya jeda (atau seterusnya) yang longgar di antara kedua masa ini untuk jungkir balik berbuat apa saja.

Ini kenapa, maafkan, saya bingung tiap kali sahabat saya yang lain, lajang, yang sering bilang/tanya, “Lu kapan ke sini lagi?” “Lu mau ga ke Gili Trawangan?” “Gue hidup mau ngapain lagi ya,” “Gue ambil les karena saking ga taunya weekend mau ngapain.” 

Tanpa mengurangi rasa hormat pada para lajang dan kompleksitas hidup mereka, saya cuma bisa tertawa saking enggak tahu mau jawab apa. If I were her, saya mungkin akan ikut open trip tiap weekend tanpa rasa bersalah meninggalkan anak, lebih banyak donasi untuk bantu orang, ikut kursus hip hop yang biayanya semahal SPP anak, joinan buka usaha, nonton konser-konser itu, ikut lomba lari di tempat-tempat eksotis itu. Kalau ada uangnya. Ya yang jelas semua yang ingin tapi tidak saya kerjakan karena memprioritaskan kebutuhan, bukan keinginan.  

Life Begins at 40
Gara-gara frase di atas, usia 30-an seakan jadi masa untuk menyelesaikan target (kalau masih punya😆) sebelum 40. Belum punya rumah, sudah 10 tahun bilang mau resign dan mulai usaha tapi kok masih ngantor, saldo rekening selalu pas-pasan, investasi cuma emas enggak seberapa, mau rutin olahraga tapi kok kartu member gym enggak pernah dipakai, belum punya anak, belum punya pasangan. 

Ada apa sih dengan umur 40? Setelah sok mencoba mencari tahu, ternyata frase life begins at 40 punya makna yang lebih dalam dari sekedar “usia 40 ke atas tinggal menikmati hidup.”

Frase ini pertama kali populer setelah psikolog Amerika Walter Pitkin menulis bukunya yang terbit pada 1932. Life begins at forty. This is the revolutionary outcome of our New Era. Today it is half a truth. Tomorrow it will be an axiom.

Ternyata ini karena 40 adalah usia rata-rata harapan hidup manusia di sekitar masa Perang Dunia saat itu. Hanya sebagian kecil yang bertahan hidup lebih dari usia ini, sehingga bisa disebut bahwa death begin at 40. Barangkali ini juga alasan mengapa orang zaman dulu sudah mendapat tanggung jawab besar di usia muda. Pemimpin sebuah batalion mungkin adalah seorang anak muda berusia 20-an, seperti Soedirman yang memimpin PETA di usia 28, dan meninggal di usia 34. Di masa kini, sesuai prediksi Pitkin, seiring perbaikan kualitas hidup, 40 justru adalah awal, bukan akhir usia harapan hidup.

Tetapi Pitkin bukan orang pertama yang menyebut keistimewaan usia 40. Sebelum Pitkin, seorang filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer menulis: 
"The first forty years of life give us the text: the next thirty supply the commentary."
Maksudnya, kalau diterjemahkan bebas, sampai usia 30-an orang bisa membangun hidup sesuai kata orang tentang bagaimana-seharusnya-hidup-itu. Bekerja, berkeluarga, punya rumah, punya investasi, traveling-karena-bumi-itu-luas (tapi-kamu-belum-tentu-punya-uang).

Tapi di usia 40-an, orang (sebaiknya) mulai merefleksi apa arti semua yang dia kerjakan dalam hidup. Ini usia orang mulai memberi catatan-catatan dan menarik nilai dari hidup yang sudah ia bangun. Dan hidup atau “teks” itu tidak akan bisa dipahami dan fully owned tanpa catatan dan perenungan ini. Seperti kata Socrates, hidup yang tidak direnungkan adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani.

Attempt on Making Sense
Makin bertambah usia, mungkin orang sering enggak mengerti sama diri sendiri. Hal yang dulu menyenangkan jadi biasa saja, dan yang dulu membosankan malah jadi menenangkan. Definisi kebahagiaan dan prioritas berubah (dan memang harus berubah). Di rumah nonton Iflix sendiri lebih membahagiakan daripada nongkrong di kafe sama sekelompok orang yang sebenarnya tidak begitu dikenal dekat.

Di sisi lain, meski jadi semakin kenal, menerima, dan mencintai diri sendiri, tantangan menjadi 30-an adalah menetapkan posisi di antara orang-orang yang disayangi. We can always choose, but we can not choose the consequences that happen to people we love. Inilah saat kita baru benar-benar kenalan sama yang namanya responsibility.

Yang jelas, kalau di abad 19 Schopenhauer bilang umur 40 orang baru berpikir akan hidupnya, barangkali kini di usia 30 orang sudah mulai merefleksi. Memindai ulang daftar mimpi atau target dan menyesuaikan diri. Menyadari bahwa sebagian rencana sebaiknya dieliminasi dan diganti rencana baru. Menemukan dan membuat titik keseimbangan baru. Membongkar dan kembali menciptakan jati diri yang rasanya lebih sesuai (iya, jati diri itu tidak dicari, tapi dibentuk. Katanya).  Bisa jadi termasuk juga mengeliminasi orang yang “layak” ada dalam inner circle dan hidup kita dan yang tidak. 

Please, do so.

Berkeluarga ataupun lajang, buat saya 30s and after is a period to be too old for unnecessary things, and too young to give up on a vibrant life.


Monday, July 30, 2018

If I Were Not A Mother, Who Am I?


Seorang kenalan pernah berkata, setelah menikah, wanita tidak lagi dikenal sebagai dirinya yang utuh dan mandiri. Ia hanya bagian dari orang lain. Bu Joko, yang adalah istrinya Pak Joko. Mama Beni, yang adalah ibunya Beni. Ibu sendiri siapa?

Ibu-ibu di Sikka, Maumere

Di sekolah, jarang ibu walimurid yang tahu nama masing-masing kecuali yang memang kenal dekat. Di daftar arisan, di daftar kontak WhatsApp, di daftar hadir pertemuan sekolah, semua menulis nama anak (sementara sebagian besar bapak-bapak absen soal urusan anak dan sekolah). Tiba-tiba wanita menjadi anonim. Orang memanggil saya, “Mama Bima” (padahal anak saya manggil saya Bunda. Hehe). 

Tidak apa-apa sih. Buat saya itu sekedar kepraktisan saja. Sebuah keluarga dikenal pertama-tama dari nama bapak/anak dan bisa diidentifikasi dengan cepat dari satu nama.
Yang membuat saya kadang resah adalah jika peran sebagai ibu justru dianggap si wanita itu sendiri sebagai dinding, bukan pintu. Sebagai keterbatasan, bukan kekuatan.  

Tidak Berhenti Menjadi Ibu
Setelah anak tunggal mantan atasan saya berpulang, eks teman kerja saya berkata, “Sekarang setelah anaknya nggak ada, Mbak X bisa mengejar mimpinya sendiri.” Tetapi mantan atasan saya yang lain menggeleng, “Buat seorang ibu, mimpi mereka ya sejalan sama anak.”

Saya mengangguk-angguk  setuju. Meskipun dulu sempat kebingungan kembali menemukan jati diri setelah punya anak, sekarang saya justru tidak bisa membayangkan bagaimana hidup saya tanpa anak. Setelah sekian lama hidup berpusat pada anak, kepergian anak, buat saya, akan membuat saya perlu mendefinisikan ulang siapa diri saya, apa tujuan hidup saya, dan juga bagaimana saya melihat dunia.

Pembicaraan tentang peran ibu ini selalu membuat saya ingat pada sebuah wawancara kerja. Saat itu seorang pewawancara meringis ketika mendengar anak saya baru berusia 5 bulan. Dengan cepat ia berkata, “Anakmu lebih membutuhkanmu daripada perusahaan ini.”
Wuz! Seperti ada peluru menggesek dada. Saya ingat menahan air mata sampai keluar ruangan. Ini pernyataan yang tidak akan diucapkan andai saya seorang bapak. Pria tidak pernah diminta memilih atau menyeimbangkan karier dan atau keluarga. 

Esoknya kantor itu memanggil lagi untuk wawancara lanjutan tapi saya tidak datang. Meskipun ternyata itu bukan pernyataan penolakan, tapi saya tidak bisa membayangkan bekerja dengan atasan yang membuat saya tiap hari merasa bersalah berangkat bekerja, padahal saya bekerja karena keluarga.

Memilih dan Dipilih Karena…
Kadang wanita diabaikan karena ia adalah seorang ibu. Atau sebaliknya, ia memilih mengundurkan diri dari hidup dan mimpinya karena menjadi ibu. Soal memilih, tidak ada yang salah dengan menjadi ibu rumah tangga. 

Hanya saja banyak ibu yang tidak percaya diri pada pilihannya. Ciri-cirinya antara lain adalah komplain tidak bisa mewujudkan mimpinya (saya sempat begini), tidak bisa mengerjakan ini itu, atau tidak pergi ke sana kemari karena menjadi full-time mother. Istilah ini saja sebenarnya sudah salah. Semua ibu adalah full-time mother. Saat bekerja di luar rumah, seseorang tidak berhenti menjadi ibu kan?

If you choose, just be confident about your decision.
A woman can have it all, just not all at once.

Nah, soal dipilih, ini yang pelik karena di luar kendali. Kerja Ibu A bagus, tapi/meskipun single parent. Ibu B pekerja keras, tapi/meskipun anaknya tiga. Seakan jadi ibu adalah kekurangan/beban.   

If I were not a mother, who am I?
Semua ibu yang cukup bangga akan semua perannya pasti punya banyak jawaban: seorang akuntan, guru, tukang masak, PNS, karyawan swasta, pemilik usaha, ketua PKK, seorang anak, adik, tetangga. 

After all, pertama-tama saya ingin dilihat dan dipilih karena saya bisa dan mau. Kedua, saya ingin dilihat bukan karena meskipun, tapi karena saya seorang ibu.

Karena saya seorang ibu, saya tahu persis bagaimana menyelesaikan pekerjaan di waktu singkat. Karena saya seorang ibu, saya punya banyak ide untuk ditulis. Karena saya seorang ibu, saya tahu persis apa yang diinginkan konsumen pemegang keputusan membeli. Karena saya seorang ibu, saya melihat banyak hal dari (minimal) dua sudut pandang dan mata berbeda. 

And if I were not a mother, I am still perfect.
But since I am a mother, I am (also) perfect. 

Tuesday, June 12, 2018

Panduan Pencegahan Pelecehan Seksual di Tempat dan Kendaraan Umum

Booklet ini dibuat teman kuliah saya, Rika Rosvianti , pendiri @_perempuan_ & Astrid Malahayati Fatma, pendongeng :). 

Silakan diunduh dan disebarluaskan. It might save a life.
Klik tulisan di bawah ini ya.

Panduan Pencegahan Pelecehan Seksual di Tempat&Kendaraan Umum

Stories inside my head

Share this blog