Wednesday, December 13, 2017

High Low Resolution (bukan foto)

Ada alasan kenapa orang tetap bikin resolusi meskipun sadar bahwa janji pada diri sendiri nyatanya adalah yang paling mudah diingkari.

Saya pribadi sejujurnya terakhir bikin resolusi detail seingat saya satu dekade lalu, saat ulang tahun saya, di tepi pantai Pelabuhan Ratu, berdua sama Tonggie Siregar, sahabat yang sekarang beda benua. Sejak itu tiap ulang tahun saya selalu punya ritual bepergian, begitu juga Tonggie. Tapi ritual bikin resolusinya sengaja dilewatkan karena boro-boro bikin resolusi, hidup udah berasa kayak air bah yang datang dan bawa pergi semua hal yang bahkan belum sempat benar-benar digenggam (lebay).

Jelang akhir tahun ini terpikir untuk bikin lagi karena diajakin Mbak Yhosie.
Sejujurnya tadinya males banget (peace Mbak!)
Tapi ternyata menulis ini cukup membantu meredakan kegundahan di akhir tahun ini.
I am currently in torn between who I am and who I want to be, where I want and where I have to be, what I want to do and what I must do.
But aren't we all?

Setidaknya membuat rencana bikin kita punya arah. One step at a time.
Eh sebenarnya saya enggak paham bedanya resolusi sama rencana.
Tapi buat saya lebih mudah untuk  membuat resolusi jadi lebih detail seakan-akan (dan memang) itu adalah perjanjian dengan diri sendiri yang benar-benar akan dikerjakan.

Dan meski janji pada diri sendiri adalah yang paling mudah diingkari, tapi setidaknya, kita  juga tidak ingin mengecewakan diri sendiri.


Kenapa ditulis tangan? Ya biar ga kebaca banget. hehe. 

Saturday, October 7, 2017

Salah Satu, Benar Sembilan


Sabtu pagi, saya mendapati diri berdiri tak sabar di depan kasir minimarket yang antriannya tersendat. Seorang pembeli yang sedang bertransaksi ternyata sedang berbincang ringan dengan penjaga kasir. Dari obrolannya saya tahu mereka tidak saling kenal.

"Anak saya juga minum ini. Bagus kok, Bu," kata Mbak Kasir sambil memasukkan sebotol multivitamin ke kantong. Kemudian Si Pembeli menimpali. Bolak  balik begitu beberapa lama. What the…

Sedetik saya berpikir untuk segera jadi tokoh antagonis dengan menyela obrolan mereka dan berkata bahwa Mbak Kasir tidak profesional, membiarkan pembeli lain menunggu untuk hal enggak penting. Tetapi saya lihat dua orang di antrian depan saya santai-santai saja. Malah sepertinya berniat ikut ngobrol.

Seketika saya sadar, oh ya, ini bukan di Jakarta yang berpacu (tidak) dalam melodi. Saya sedang di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Bahkan ekspedisi/kargo cuma punya jadwal seminggu sekali untuk mengantar barang kemari. 

Meski tentu jangan sampai semua petugas kasir dan pembeli ngobrol akrab seperti di kafe, after all mereka hanya sekedar manusia yang saling bicara. Hal yang seharusnya paling normal dan alami.


Saya enggak akan bilang hal klise seperti hidup di kota kecil/desa lebih bernilai ketimbang di kota besar. Enggak. Momen di atas cuma mengingatkan bahwa yang kita anggap paling salah bisa jadi benar atau punya sisi benar. Dua tahun terakhir saya makin sadar, semua hal di sekitar kita itu enggak harus terjadi seperti rancangan skenario atau nilai benar dan salah di kepala kita atau yang dibilang banyak orang. 


Sebaliknya, kalau ada teman yang tanya, “Kok betah sih di Jakarta?” Saya malah bingung mau jawab apa. Emang apa yang bikin enggak betah? Karena terbiasa (ataupun pasrah), lama-lama saya bisa-bisa saja  berkontemplasi saat berjejalan dalam commuter line, atau diam santai di tengah macet, meleburkan kerumitan isi kepala dengan semrawutnya tata kota. Toh semua teman baik dan kejutan yang bisa diterima dan ciptakan di kota itu (seperti juga di semua tempat) selalu membuat saya ingin kembali.

Di sisi lain, hidup di kota kecil juga tidak lantas membuat hidup yang kita jalani juga serba kecil. Masa dari lahir sampai mati tinggal di kota kecil yang sama? Sekolah, kuliah, kerja di tempat yang ga jauh dari rumah, terus nikah, tinggal di kota itu juga?

Kalau iya emang kenapa?

Orang bisa merantau, tapi enggak harus. Enggak perlu dibikin harus dan yang tidak melakukannya bukan berarti enggak bisa. Ada yang enggak mau. Ada yang setelah merantau tanpa ragu kembali ke kampung halaman atau bahkan menetap di tempat yang lebih terpencil padahal tahu persis secara finansial mereka lebih terjamin di kota besar/negara lain (yang ini bukan saya). Orang yang merantau pun pada satu titik akan tiba pada kenyataan bahwa orang tua mungkin membutuhkannya pulang di hari tua. 

Sebaliknya, ada juga sahabat yang ingin terus tinggal di luar negeri, enggak balik-balik ke Indonesia. Alasannya sesederhana karena jengah ditanya kapan nikah dan merasa tanah orang itu lebih terasa “rumah” daripada tanah kelahirannya. Kalau diceritakan ke orang lain, mungkin dia bakal kena pidato soal nasionalisme dan sejenisnya. Ya kalau saya sih…

Semakin berumur, tanpa sadar doa dan impian kita (setidaknya saya) semakin sederhana. Karena yang paling sederhana sekalipun kadang sudah terlalu rumit dicapai. Seperti bisa jemput anak sekolah atau nyiram kembang di halaman jam 4 sore itu bisa jadi cuma impian buat pekerja kantoran yang tiap hari baru bisa menggapai gagang pintu rumah jam 9 malam.

Tempo hari seorang teman baik dengan santai bilang, "Aku belum kebayang tuh beli rumah." Usianya kepala tiga seperti saya, belum nikah. Tapi 8 tahun terakhir dia mengerjakan hal yang selalu ingin saya kerjakan tapi belum berani: punya usaha yang dia sukai yang bisa menghidupi banyak orang.   

Dan seketika saya merasa (semakin) iri sama dia yang enggak terganggu ujaran motivator dan para pakar finansial. Tidak terusik pada ide bahwa hidup itu baru akan terasa lengkap setelah nikah, punya rumah, atau baru aman setelah punya simpanan dengan nominal sekian di bank.

Lebih senang lagi saat tahu tiap anggota keluarga si Teman ini punya usaha/brand sendiri yang dikerjakan di tempat yang sama, enggak jauh dari rumah. Dan mereka tinggal di rumah yang bahkan juga digunakan mendatangkan uang, sekaligus teman baru. They’re stick together in happiness and storm, dengan yang ada, enggak sibuk cari atau pergi ke mana-mana.

That's exactly how I'm going to teach my son. Penting untuk mengajar diri bertahan di tanah orang, tapi juga penting untuk survive di mana kita berada. 

Pada akhirnya enggak ada satu rumus yang harus ditempuh untuk jadi “sukses.” Orang tidak harus ngantor, tidak harus S2 di luar negeri, enggak harus nikah sebelum 35 (dan bahkan enggak harus nikah). Enggak harus tinggal di rumah sendiri setelah nikah. Pun juga enggak harus terus tinggal sama-sama kalau sendiri bisa jadi lebih baik.

Kadang untuk sekedar menerima dan bahagia di tengah semua keharusan ataupun ketidakharusan saja sudah cukup pelik. 


Kalau hidup itu ibarat tes tulis di atas kertas, buat saya tiap orang tuh dapat daftar pertanyaan beda-beda. Soalnya enggak diacak, tapi sudah dipilihkan khusus buat masing-masing. Percuma nyontek kanan kiri ikut jawaban orang. Yang ada malah kita akan nulis jawaban yang salah untuk pertanyaan yang bahkan enggak kita baca.

Dan kalau pun jawaban kita salah meski sudah mikir dan merencanakan mati-matian, masih ada soal lain, ada remidial, ada tes lain. Lagipula, katanya kan kalau di sekolah kita belajar dulu baru ujian. Tapi dalam hidup,  ujian (salah) dulu, baru belajar. 






Wednesday, September 21, 2016

Jangan Cari Uang(nya Saja)

Saya tidak mencuri dengar tapi tak sengaja mendengar. Seorang rekan kerja menyatakan akan pindah kantor demi gaji lebih tinggi. Atasan saya bertanya padanya, "Kamu cari apa dalam hidup? Saya lihat kamu senang dan berkembang kerja di sini. Jangan cari pendapatan lebih gede aja lho."

Sis, berat banget diajak mikir hidup nyari apa! Saat itu saya berpikir, "What? Lalu kita kerja buat apa kalau bukan untuk pendapatan lebih tinggi?" Apalagi di Jakarta, semua pekerja kantoran mesti akrobat dan latihan sabar di jalanan melebihi kesabaran seorang rahib di kuil, hanya untuk sekedar berangkat dan pulang kantor. Ngapain capek-capek kalau uangnya segitu-segitu aja?

Si teman tetap resign dan pindah ke tempat kerja dengan gaji dan -tentu saja- tuntutan lebih tinggi. Saya nggak pernah tanya sih apa dia lebih bahagia, lebih berkembang atau apa. Saya duga perasaannya kurang lebih sama seperti saya: kadang kami merindukan pekerjaan kami yang gembira tapi (atau meski?) dengan pendapatan ala kadarnya itu. Rindu sekedar nostalgila tapi tidak untuk kembali (ya macem inget mantan SMA lah :p).

Rumus untuk “Pemalas”
Sekarang, kurang lebih lima tahun setelah saya dengar kalimat "jangan cari uangnya aja"  itu, saya baru mulai paham maksud eks atasan saya. Saya juga berhenti kerja dari kantor yang-menyenangkan-meski-pendapatan-seadanya itu lebih karena ingin punya lebih banyak waktu untuk menulis fiksi. Oleh karenanya, dengan congkak saya menolak pekerjaan dengan gaji dan jabatan (dan tentu saja tanggung jawab) lebih tinggi di tempat lain. Barangkali alasannya karena pada dasarnya saya ini malas bekerja kantoran dan karenanya, nggak begitu perlu jenjang karier.

Sedikit pembenaran: kadang pemalas justru bisa mencapai sesuatu yang lebih karena dia akan berpikir cara terefektif dan efisien untuk mendapatkan hasil yang sama (kalau bisa lebih dari) dengan yang didapat orang lain (haha!). Intinya saya harus terus punya pendapatan, tapi masih memungkinkan saya leluasa melakukan hal-hal menyenangkan lain meski nggak menghasilkan uang.

Sebagai gantinya, saya memilih pekerjaan dengan jabatan non-manajerial (cerita selengkapnya di sini). Sampai sekarang saya masih bekerja di kantor yang sama, tapi karena pindah domisili, diizinkan bekerja dari mana saja. Di pagi hari, saya bisa (sok) olahraga dulu dan baru mulai buka laptop jam 10 pagi. Di hari lain, saya bisa jadi perlu lembur dari subuh hingga malam untuk mengerjakan semua artikel untuk sepekan, demi bisa mengerjakan fiksi (yang uangnya tak seberapa atau bahkan tak ada itu) atau bepergian lebih lama bersama anak di akhir pekan. Konsekuensinya, tentu saja jabatan saya nggak akan naik-naik dan pendapatan saya tidak sebesar teman-teman lain yang datang secara fisik ke kantor. But hey, it’s worth it. 

Orang lain mungkin juga pindah bekerja dengan gaji yang lebih rendah tapi lebih sesuai passionnya, atau bahkan berhenti bekerja untuk mengerjakan usaha yang sudah lama ingin dia kerjakan sendiri, meski mulai segalanya dari nol. Dan bisa jadi di sinilah kalimat usang "do what you love, and the money will come" (semoga) akan jadi nyata. 

Value!
Di titik ini, seketika jargon-jargon yang dulu belum atau hanya saya pahami samar-samar jadi makin terang. It’s so true that “your job is not your career,” mengulang kata career coach Rene Suhardono. Saya bisa resign dari manapun, tapi karier tetap melekat pada diri saya. Karier saya penulis, brand saya adalah nama saya sendiri, dan kantor saya di manapun.

Kata Henry David Thoreau, live the life you've imagined. As you simplify your life, the laws of the universe will be simpler. Impian akan hidup ideal saya masih sama: punya usaha yang lebih bikin gembira ketimbang stres (utopis! :D),  mengetik seperlunya, lebih banyak waktu di dapur, perpustakaan, dan rerumputan. Belum kesampaian. Tapi setidaknya menguasai waktu sendiri berarti selangkah menuju ke sana. 

Dulu saya dengan sombongnya nggak paham bagaimana orang bisa living a “small” life. Tidak sebelum saya tahu bahwa  tiap orang punya value dengan skala prioritas yang berbeda-beda. Ada orang yang menomorsatukan karier di atas keluarga, dan bagi saya itu bukan sesuatu yang salah. Ada yang value-nya sesederhana (atau serumit?) mengerjakan hal sesuai passion, atau bisa mengantar jemput anak sekolah.

Sederhananya, seperti yang dibilang penulis Hunter S. Thompson. Beware of looking for goals: look for a way of life. The goal isn't the money. Decide how you want to live and then see what you can do to make a living within that way of life. 

Thursday, February 18, 2016

Tentang Kota dan Diri yang Berubah

Setelah satu dekade tidak tinggal di Malang, saya mencoba mencari-cari penyebab mengapa kini saya sulit – dengan segala hormat - menyebut kota ini sebagai rumah.

Saya kerap sok merasa bisa mengamini sabda Heraclitus: panta rei. Tidak ada yang tetap selain perubahan.  Tetapi sejujurnya, seperti sebagian manusia lain, saya begitu lambat menerima kenyataan bahwa beberapa hal yang sentimental juga tidak bisa tetap tinggal di tempatnya.

Pohon-pohon rindang yang menaungi saat saya terkantuk-kantuk berada di atas becak yang bergerak perlahan, kini meranggas atau sudah tak ada. Hotel-hotel tinggi menggantikan toko dan bedak lama, yang pedagangnya bahkan saya kenal wajahnya. Kafe-kafe bertingkat penuh anak muda berfoto dengan tongkat, dan rumah-rumah makan yang mengokupasi rumah-rumah lama peninggalan Belanda. Warung kopi dan warung tegal di sekitar kampus tergusur apartemen (apart-men!). Sejak kapan sih mahasiswa yang biasa makan lesehan di kota ini merasa perlu tinggal di apartemen?

Saya bahkan sudah tidak lagi pulang ke rumah di mana saya pertama kali belajar merangkak, serta jalanan perumahan di mana saya pertama kali bisa menaiki sepeda roda dua. Rumah dinas ibu saya itu kini  sudah rata dengan tanah. Sebentar lagi di atas tanah di tengah kota itu akan berdiri bangunan perluasan kampus. Memang lebih banyak mahasiswa atau sekedar lebih banyak dana yang masuk? Tidak jauh dari sana, ada mall yang dulu setengah mati ditolak berdiri oleh para mahasiswa karena berdekatan dengan kampus dan makam pahlawan. Toh kini mahasiswa yang sama – yang sudah jadi bapak dan ibu – gemar mengajak keluarga mereka ke sana.

Kota, kata Karen Armstrong, adalah tempat tinggal para aristokrat-aristokrat kecil. Dan para aristokrat ini entah bagaimana menjadi berperilaku serupa, baik manusia maupun kotanya. Kini, bagi saya, kota yang pernah dingin dan pernah kecil ini menjadi sama saja seperti kota besar lain di Indonesia: penuh pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong dengan harga makanan berkepala tiga, macet, panas, penuh perumahan baru - dengan harga yang kadang tidak masuk akal - hingga jauh ke pinggir kota.

Dan karenanya jika rumah masih berupa sebuah tempat, maka saya tidak merasa sedang pulang. Hanya sekedar seperti berada di kota lain, meski sesekali saya melintasi sekolah masa kecil dan jalan-jalan menuju rumah teman. Kota ini sesak dengan kendaraan bermotor roda empat dan dua, yang pemiliknya gemar makan di luar dan bertandang ke pusat perbelanjaan.

Kota dan Filosofi Makan di Luar
Cara makan adalah salah satu kegiatan penanda utama perubahan gaya hidup masyarakat sebuah kota. Rumah-rumah makan dan kafe yang penuh sesak, terutama di sore hari dan di akhir pekan itu membuat saya bertanya-tanya: ke mana ya dulu saya, teman-teman, dan keluarga saya menghabiskan waktu? Yang pasti tidak di kafe atau rumah makan, karena tempat-tempat ini dulu tidak semasif kini. Jawabannya di rumah, atau di rumah teman atau kerabat. Tetapi tentu saja kini sebagian kecil kerabat dan sebagian besar teman sudah tidak lagi tinggal di kota ini.

Saat kecil hingga remaja, frase “makan di luar” adalah sesuatu yang besar sekaligus asing bagi keluarga saya. Ini adalah kegiatan langka yang hanya dilakukan saat merayakan sebuah peristiwa besar seperti komuni pertama saya (sebuah perayaan dalam gereja Katolik). Ibu saya lebih suka repot memasak dan mengundang orang untuk datang ke rumah ketimbang tinggal duduk dan memilih menu di rumah makan atas nama kepraktisan (atau apapun).

Perayaan-perayaan ulang tahun saya saat kecil semua diadakan di rumah, dengan kue ulangtahun berupa cake biasa tanpa hiasan dan makan malam sekedar bihun dan kerupuk. Tapi saat-saat itu selalu riuh dengan tetangga dan kerabat yang datang. Kali lain, hanya sekali, ulang tahun saya diadakan di sekolah taman kanak-kanak. Masih dengan kue-kue buatan ibu saya sendiri. Begitu saja saya sudah merasa seperti orang kaya.

Teman-teman sekolah saya yang lebih berada juga merayakan ulang tahun di sekolah atau rumah. Bahkan ketika rumah mereka adalah sepetak lantai tidak luas di bagian atas sebuah toko. Saya selalu senang bisa berkunjung ke rumah teman karena selain bisa tahu di tempat seperti apa teman saya ini tumbuh, saya juga bisa kenal dengan seluruh anggota keluarganya, termasuk asisten rumah tangga dan barangkali anjingnya.

Begitu juga dengan acara kelas seperti buka puasa. Saya masih ingat senangnya berbuka bersama (meski saat itu tentu saya belum ikut puasa) di rumah teman, duduk lesehan tanpa buru-buru. Kini, di mana lagi orang kota berbuka puasa jika bukan di mall atau rumah makan. Tempat yang menyisakan kekhawatiran dan kerepotan yang sebenarnya sungguh tak perlu: antrian panjang di depan kasir untuk membayar makanan, dan yang lebih sedih, antri untuk sekedar beribadah (kadang ujungnya jadi mendahulukan makan dengan mengabaikan ibadah).

Bagi orang-orang seperti ibu saya, makan di luar itu bahkan bukan pilihan. Saat keluar rumah sekalipun, ia akan menunggu pulang ke rumah untuk makan, meski itu berarti beliau makan siang pukul 14 atau 15. Saya sendiri bahkan baru tahu bagaimana rasanya ayam KFC  itu di kelas tiga SD. Itupun karena diajak oleh seorang sepupu yang sudah kuliah. Bukan oleh orangtua.


Meja makan di rumah orang tua saat Natal
Di rumah kami, dapur dan ruang makan adalah jantung, di mana ibu saya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menyiapkan makanan. Dan barangkali hal terbesar dari rasa “pulang” adalah tinggal bertemu dan makan masakan ibu saya (yang selalu saya tiru saat kami jauh).

Pada akhirnya, kota ini meletupkan rasa yang berbeda dari 10 tahun lalu, sekaligus rasa yang sama seperti tempat-tempat penuh roda empat lain. Ataukah kota ini sebenarnya masih sama, tetapi saya yang sudah berubah? Atau saya yang masih mencoba menjadi atau mengharap yang sama, tetapi kota ini sudah berlari ke arah yang tidak saya duga? Mungkin lebih tepatnya saya dan kota ini sama-sama berubah dan tidak lagi dapat bergenggaman tangan meski bukan berarti merenggang. Barangkali hanya sekedar dapat berdiri bersisian.

Dan pada akhirnya, saya harus berdamai menerima kenyataan bahwa rumah itu - kata salah satu penulis favorit saya, Cecelia Ahern, ternyata bukan (sekedar) tempat -  tapi perasaan. Home is not a place. It’s a feeling. Tidak ada satupun tempat di dunia ini yang tinggal tetap dan selalu lengkap. Rumah saya adalah...di manapun, bersama keluarga saya. 

Friday, July 3, 2015

The Job That I'm (Not) Proud Of

If your job is not your career (said career coach Rene Suhardono), then what kind of job that will support your career? And what career do you choose? Do you proud of it?

Sejak awal saya tahu cita-cita saya bukan jadi pekerja kantoran. It’s just not the life that I’ve been imagined. Buat saya, hal paling berharga yang dimiliki tiap manusia adalah waktu. Dan meski bekerja adalah untuk mencari penghidupan, tapi menyerahkan waktu 8 jam (minimal) tiap hari, plus 2x2 jam perjalanan (kalau kerja di Jakarta) untuk pekerjaan adalah hal yang berlebihan. TAPI…apa boleh buat, kondisi keuangan freelancer yang serupa sinyal HP di pedalaman membuat saya mesti ikut berdesakan juga di kereta dan jalanan tiap hari demi ngantor.  

Kantor demi Kantor
Kantor pertama saya adalah majalah gaya hidup untuk wanita. Aktivitas menulis dan mewawancara orang, di manapun, selalu menyenangkan dan menjadikan kaya. Tapi terlepas dari usia si majalah yang sudah 42, kesenangan menulis tetap akan terkalahkan dengan manajemen dan sistem kerja (dan atasan!) yang buruk. Ada perbedaan besar antara media sebagai lembaga independen dan media sebagai korporasi (sama seperti perbedaan antara informasi dengan pengetahuan). Kantor tanpa visi, passion, apalagi idealisme (meski masih ada ratusan ribu pelanggan yang setia membacanya), membuat saya berhenti dengan mudah.

Kantor kedua…masih di majalah wanita lain (katanya pekerjaan tetap pertamamu akan menentukan perjalanan kariermu selanjutnya). Saya bisa bilang majalah yang juga sudah berusia 40-an ini adalah sekolah menulis dan mungkin juga sekolah hidup terbaik. Idealisme dan gaya tulisan dianggap penting. Dengan manajemen dan suasana kerja yang menyenangkan (meski banyak event), saya bisa bertahan lebih lama. Tapi…persoalan bekerja di semua media tetap sama: waktu. Saya harus menjual hampir seluruh waktu saya, nyaris tanpa sisa. Tidak ada waktu untuk mengejarkan mimpi dan rencana-rencana kecil (tapi sebenarnya besar).

What Do You Really Really Want?
Butuh bertahun-tahun hingga saya tiba pada titik kesadaran saat saya menanyakan pertanyaan yang membunyikan gong besar di kepala: What you really really want in life? Impian saya tentang hidup sebenarnya terdiri dari rangkaian kegiatan sederhana sehari-hari: menyiapkan bekal sekolah anak, mengetik dari sisi jendela rumah, menjalankan usaha yang tidak harus besar- tapi punya dampak signifikan, merapikan buku di rak dan alas tempat anak-anak taman baca duduk membaca, dan yang pasti berkata ya saat ibu saya minta diantar ke pasar. Oh, plus sesekali jalan-jalan untuk volunteer dan mengumpulkan bahan tulisan. Sesederhana, tapi juga serumit itu.

Rumit karena untuk menjalani hidup “mewah” seperti itu, saya juga harus punya uang sendiri untuk hidup dan menghidupi keluarga. Maka, kejujuran dan keberanian untuk bermimpi besar pastilah harus diiringi kejujuran pada kemampuan dan kebutuhan sendiri.

Oleh karenanya, saya mau sebuah pekerjaan dengan jam kerja tetap dan pasti: delapan jam sehari (dan itu bukan di media). Datang jam 8, pulang jam 17. Sabtu Minggu, ngga kerja. Saya bisa memastikan untuk berkata ya pada acara keluarga ataupun kegiatan volunteer. Tidak perlu pekerjaan level manajerial (meski gajinya lebih tinggi). Penulis saja, asal saya punya waktu dan masih ada tenaga serta ruang pikir sebagai bahan bakar mimpi saya sendiri. Anehnya, semua kebutuhan itu terpenuhi di tempat kerja terakhir saya. Saya bahkan bisa menentukan waktu sendiri. Mau pulang jam 4? Datanglah jam 7 pagi. Mau izin untuk mengantar anak yang sakit ke dokter? Bisa datang siang atau tukar hari kerja.

Pekerjaan yang ini jauh dari hingar bingar sorotan kamera khas media, tidak ada undangan pertunjukan seni, liputan jalan-jalan ke luar kota/negeri, tidak ada kesempatan bertemu tokoh. Sayang? Mungkin iya. Tapi toh semua hal itu – di era ini – bisa dilakukan oleh siapapun. Tidak mudah, tapi bisa. Dan saya ngga begitu peduli sih. Membeli kembali waktu untuk bersama keluarga dan menjalankan mimpi-mimpi pribadi bagi saya jauh lebih penting daripada mengikuti arus cepat tapi mungkin tak berarah. Direction is more important than speed. Many are going nowhere fast.

Pada akhirnya, pekerjaan paling sempurna barangkali adalah pekerjaan yang dapat kita desain sendiri, apalagi kalau periuk nasi kita sudah tidak tergantung pada atasan – tapi milik sendiri. Tapi jika masa itu belum dapat diraih, setidaknya pilih pekerjaan yang sesuai kebutuhan. Sesuai kebutuhan. Sesuai kebutuhan, dan keinginan.

Bulan lalu, seorang teman saya bilang, “Ini saatnya kamu ‘lebaran.’ Idealisme bertemu  terpenuhinya kebutuhan finansial.” Benar juga. Bulan ini saya akan pindah ke Malang. Alasan utama adalah untuk bersama orangtua saya yang kini berusia 72. Selain itu, semua mimpi besar kecil saya bisa dicapai dari mana pun. Sesederhana itu. Sesederhana waktu yang tidak bisa kita beli. Pekerjaan saya? Syukurlah bos saya yang sedikit gila (baca: sangat pintar), mengizinkan saya untuk bekerja dari Malang (atau tempat manapun). Titik ini, sesederhana, tapi juga serumit itu untuk dicapai.


What you really want in life? To be happy! :)



Tuesday, March 24, 2015

Ini Tanah Airmu, Di Sini Kita Bukan Turis!

Aline, seorang teman make-up artist, sering tidak mengerti pembicaraan para perias yang bicara dalam bahasa Jawa atau Sunda. Di Path, ia menulis "Susah-susah belajar bahasa Inggris, eh sekarang pingin deh belajar Bahasa Jawa sama Sunda!" Tentu saja kedua bahasa itu saat ini lebih berguna dan dibutuhkan Aline, mengingat profesi yang membuatnya sering merias pengantin dengan adat tradisional. Persis begitu yang saya rasakan sekarang.



Saya teringat kalimat Wiji Thukul pada gambar di atas (sengaja dipilih yang ada mobilnya melintas) ketika menyadari ini. Setelah berencana akan  kembali ke Malang sesudah lebih dari 10 tahun di Jakarta, saya benar-benar merasa seperti TURIS di tanah kelahiran saya sendiri saat terakhir pulang. 

Saya berencana pulang dan membangun mimpi sederhana yang ternyata membutuhkan jalan yang tidak sederhana untuk diwujudkan: membuat taman baca. Tadinya saya rencana memulainya dengan menggelar rak berisi buku sekedarnya saja di garasi rumah orangtua saya di Malang.

Namun ayah saya, yang lebih gila buku ketimbang saya, ternyata sudah punya ajuan rencana yang lebih besar. "Kita bikin saja di Pagelaran, Malang Selatan. Di desa itu belum pernah ada perpustakaan," katanya yakin sambil memperlihatkan gambar rumah joglo. Katanya nanti kalau sudah besar, bangunan perpustakaannya akan dibuat seperti itu.

Saya bergidik, antara gentar dan gembira. Lebih dominan ketakutan sih sebenarnya. Tahu apa saya tentang desa, penduduk, dan persoalannya? Bahkan hal paling sederhana yang saya sadari adalah: apakah saya bisa berkomunikasi dengan penduduk sekitar? Sebagian dari mereka tidak bisa berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Indonesia, terutama sesepuhnya. Dan (saya merasa) alangkah tidak sopannya saya, anak (sok) muda ini bicara dalam bahasa Indonesia di saat anak para sesepuh itu sendiri bicara dalam bahasa Jawa halus kepada orangtua mereka masing-masing.

Ayah saya sempat beberapa tahun tinggal di desa itu di masa kecilnya. Sedangkan saya hanya sesekali pergi ke sana. Dua sampai tiga tahun sekali. Bahkan nyaris tak pernah lagi setelah saya tinggal ke Jakarta. Saya hanya paham apa yang mereka katakana, tapi gagap merespon ketika ditanya. Seperti orang amnesia yang sibuk mengaduk-aduk isi otak, mencari padanan kata yang tepat untuk kata demi kata bahasa Indonesia. Terjemahannya barangkali bisa tiga tingkat. Bahasa Indonesia ke bahasa Jawa ngoko (tingkat terendah), kemudian ke bahasa  Jawa halus.

Akan jadi apa saya di masa awal? Ya turis!  Turis yang sok ingin membuka akses baca. Tak apa lah. Tapi tentu saja saya harus lebih dulu memahami apa yang mereka butuhkan dan tidak butuhkan. Bukan tiba-tiba datang sebagai sarjana sok pintar yang seakan tahu bagaimana orang lain yang tinggal di sebuah tempat ribuan kilo dari tempatnya tinggal seharusnya hidup.

Tentang Mengajar, Memberi, dan Siapa yang Lebih Modern

Ngomong-ngomong soal turis yang datang dan ingin “mengajar,” jadi teringat pada beberapa poster yang disebar oleh sebuah komunitas untuk mengkampanyekan kegiatan mereka. Sebagian besar bagus dan menguggah semangat. Mengajak orang untuk tidak sekedar datang ke pelosok, foto-foto, lalu selesai, tanpa bersentuhan langsung dengan warga setempat. Padahal perjalanan yang barangkali sudah menghabiskan tabungan berbulan-bulan akan lebih baik jika mendatangkan manfaat baik juga untuk penduduk sekitar tempat wisata (bukan cuma sekedar membeli dagangan mereka, misalnya).

Tapi…dahi saya berkerut ketika melihat satu dua poster lain yang mereka sebar. Salah satunya adalah satu poster bergambar anak Indonesia Timur yang nyaris tidak mengenakan pakaian (dalam artian atasan dan bawahan seperti orang kota), dengan caption  kurang lebih berbunyi “Saat kamu ingin baju baru, anak ini tidak punya baju untuk dikenakan…”

Saya tertegun. Bukannya orang sana memang tidak berpakaian seperti yang kita kenakan ya? Saya jadi ingat helikopter-helikopter yang melintas di atas tanah Papua, yang kemudian menurunkan kaos-kaos kuning partai tertentu yang jaya di masa orde baru. Klaimnya adalah membuat orang Papua lebih beradab.

Ishhh. Memajukan orang Papua tidak sesederhana memberikan dan membuat mereka mengenakan baju seperti yang kita kenakan, atau agar mereka melakukan dan memiliki apapun yang dimiliki orang Jawa. Justru bagi saya, penjajahan sesungguhnya adalah ketika kita memaksa mereka berlari-lari mengikuti Jawa, sementara di saat yang sama kita juga yang memaksa mereka tinggal jauh di belakang.

Barangkali, sekali lagi barangkali, kita perlu mendefinisikan ulang apa itu arti kata mengajar dan apa itu arti kata modern dan beradab. Okelah kita setiap hari berkutat dengan internet dan teknologi. Dengan ruang-ruang informasi tanpa sekat yang bahkan bisa membuat kita terhubung langsung dengan Bu Ani Yudhoyono lewat Instagram.

Namun bagi saya, pergi ke tempat jauh dan bertemu dengan orang-orang dengan pola pikir, bahasa, dan cara hidup yang jauh berbeda itu juga adalah cara kita belajar. Jadi…entahlah. Mungkin kata yang tepat selain mengajar adalah pertukaran pengetahuan dan makna.
Mengadopsi budaya dan pemikiran Barat dan bisa berbahasa Inggris tidak serta merta menjadikan kita lebih modern, beradab, lebih tahu. Sarjana sering berujar bahwa mereka akan pulang membangun desa, padahal jangan-jangan desa sudah lebih maju daripada mereka J.

Maju dalam artian…tidakkah kita ingin kembali mengayuh sepeda di jalanan demi udara yang lebih bersih? Tidakkah kita ingin menanam dan  mengolah sendiri semua makanan yang kita santap? Atas nama kesehatan, biaya, ketahanan pangan, atau apapun alasan besar kecil di baliknya? Bukannya sekedar duduk di resto, menanti sepiring seafood seharga 100ribu yang tidak kita tahu asal usul,  cara membuat, dan risikonya.

Siapa sebenarnya yang lebih modern di antara kita?

Meminjam kalimat pelukis Mochtar Apin, kita punya cara sendiri menjadi modern.

PS: I really need relearning Javanese! :p

Saturday, November 15, 2014

Dari Mata Orang Seberang

“Can I go with you?” tanya pria itu ringan, tapi penuh harap. Rambutnya yang pirang tersembunyi di balik topi hitamnya. Matanya biru. Ranselnya terlampau ramping untuk perjalanan seminggu yang ia katakan akan diselesaikannya sehari lagi.

Laki-laki yang menyebut Australia sebagai tempat tinggalnya itu berujar akan meninggalkan Jakarta menuju Medan pukul tujuh malam. Sementara menunggu waktu itu tiba, ia belum punya agenda ke mana pun. Matanya langsung berbinar saat saya menyebut “Museum Nasional” sebagai tempat tujuan saya siang itu.
“Sure,” jawab saya. Tidak yakin, tapi pasrah.
“Great!” ia tertawa senang seperti anak kecil, lalu kami berjalan bersama.

Seperti kebanyakan pria Barat, laki-laki bernama Steve itu memang sama sekali tidak membosankan dan cenderung blak-blakan. Usianya 50. Tapi saya sama sekali tidak merasa sedang ngobrol dengan seorang bapak.

Di Melbourne, kota asalnya, ia hidup sebagai produsen madu. Dengan menabung selama sebelas bulan, ia selalu berlibur setahun sekali ke beberapa negara, dengan Indonesia sebagai tempat transit.

“You know what, men fall in love three times a day,” laki-laki itu berujar tanpa bermaksud berkelakar. “Pardon? Oh, I see. I believe so,” saya merespon, membenahi keterkejutan menjadi tawa. Saya tidak terkejut pada fakta yang diucapkan Steve. Saya hanya terkejut karena laki-laki itu mengungkapkannya.

“When I thought that I fall in love with you, I saw the woman beside you and admire her beautiful hair,” ia mengoceh tanpa basa-basi. “But you know why I’m still single? It’s because I always want to be with a woman who don’t want to be with me. But in the other time, I met a woman who I don’t want to be with, but she wants to be with me. It’s tragic!” ia tertawa. Saya hanya tersenyum, bingung merespon apa.
           
Sampai di tujuan, Steve menunjukkan kekagumannya pada apapun yang dipajang di ruang pameran Museum Nasional. Ia membaca detail setiap data, dan memperhatikan setiap peraga dari dekat. “It’s amazing!” katanya setiap lima menit, lalu membidikkan kameranya ke segala arah.

Saya bersyukur semua keterangan yang diperlukan untuk menjelaskan setiap baju adat, kegiatan di masa lampau, senjata, hingga bentuk rumah adat dari seluruh propinsi sudah ada di setiap display dalam dua bahasa. Saya sendiri tak akan mampu menjelaskan semuanya dengan bahasa dan ingatan di kepala saya sendiri.

“Sit over here!” Steve memerintah. Laki-laki itu duduk di sebuah bangku kayu di tengah-tengah ruangan. Kami sedang berada dalam ruangan penuh jajaran kain tradisional. Sambil menarik napas, Steve berkata, “This is the way we feel them. See and absorb…” ia melebarkan tangannya, kemudian menarik napas. Diam-diam saya juga menghirup dan menghembuskan napas perlahan seperti yang dilakukan Steve sambil menatap kain-kain batik dan songket indah di sekeliling.

Damai.

Satu jam kemudian, kami berada di tempat lain, Galeri Nasional. Kebetulan, katanya, ia akan naik bus Damri ke bandara dari Stasiun Gambir, di seberang galeri. Ia bercerita tentang begitu banyak tempat di Indonesia yang hingga kini belum juga saya kunjungi dengan berbagai alasan. Dua di antara alasan-alasan itu adalah waktu dan uang.

Ia membuat saya lagi-lagi merasa seakan-akan ia yang adalah orang Indonesia, sedangkan saya hanya pendatang yang menumpang. “I know your country better than you,” kata-katanya makin memperlebar jurang.

Sejurus kemudian, tiba-tiba laki-laki itu menatap ke kejauhan, lalu terdiam sejenak, dan berujar, “It’s a beautiful country. But I’ve also seen so many heartbreaking moment…” Sebagai backpacker, Steve biasa berjalan kaki menyusuri jalan-jalan raya tak bertrotoar di Jakarta, melintas di sela-sela pengemis, naik Kopaja usang, juga ojek jika tak tahan tersandera macet. Setiap kali datang ke Jakarta, ia selalu bermalam di sebuah penginapan di Jalan Jaksa. “No luxury…” ia berujar berulang kali. Kamar sempit, tak ada AC, tanpa pemanas air. 

Beberapa detik kemudian, raut wajah Steve berubah serius. Seperti sebuah akuarium, ia begitu terbuka hingga setitik saja mendung di wajahnya dapat terlihat. Lalu perlahan laki-laki itu berkisah tentang pengalamannya tempo hari. Saat berjalan pulang dari sebuah kafe ke penginapannya, ia berpapasan dengan seorang wanita yang terlihat tengah memukuli seorang anak. Pukul satu dini hari.

Terkejut, Steve mencoba melerai. Tapi wanita itu tidak membiarkan Steve, tentu saja. Ia menarik tangan si bocah, lalu pergi membawanya. Steve menduga, wanita itulah yang sedang mabuk. Steve berteriak meminta siapapun yang melihat mereka saat itu untuk menghentikan si wanita. Tapi semua orang yang melintas benar-benar menyangka ia hanya seorang bule yang sedang mabuk.

Dengan frustasi, saat itu juga Steve pergi ke kantor polisi tak jauh dari Jalan Jaksa. Saya membayangkannya melapor pada polisi dengan cara berapi-api seperti yang sedang ia lakukan saat itu di hadapan saya. Polisi bilang, mereka menerima laporan Steve, dan akan menghubunginya kembali dalam waktu 1x24 jam. Tapi seperti dugaan saya, itu tidak terjadi.

Hampir dua kali 24 jam, tak ada kabar, ia kembali mendatangi kantor polisi. Polisi yang sedang piket adalah polisi yang berbeda dengan yang ia temui tempo hari. Keterbatasan bahasa membuat si polisi tak begitu mengerti apa yang dikatakan Steve. Steve pun tak paham apa yang coba dikatakan si polisi. Namun dari cara polisi itu bicara, Steve yakin, laporannya tidak ditindaklanjuti. 

Tak surut semangat, Steve bergegas menuju ke sebuah stasiun TV yang sudah ia lewati berulang kali dalam perjalanannya ke tempat lain di Jakarta. Tak jauh dari Jalan Jaksa. Ia mengulang cerita itu dengan detail dan semangat yang sama. Namun, ia kembali harus menelan kecewa. Bukan saja tak ditanggapi, ia ditertawakan. Raut wajah Steve yang detik itu masih terlihat kecewa membuat hati saya serasa ditusuki jarum runcing.

 “Your country has a very serious problem!” ia menggeleng keras, menutup ceritanya.
 “Despite the fact that we’re religious country...” saya merespon, mengangkat kedua telunjuk dan jari tengah, membuat tanda kutip pada kata religious.
“You got my point!” ia mengangguk kencang sambil mengetuk daun meja dengan keras.

Dalam hati saya berkata, Ah Steve. Terima kasih sudah berbuat sejauh itu. Tapi kadang satu-satunya hal yang kita terima setelah mengerahkan segenap diri untuk kebaikan hanyalah kekecewaan. Apalagi di negara ini .

Kemarin,  kami  baru saja bertemu lagi. Ia sedang membaca Plato saat saya datang di tempat bertemu. Lusa ia akan bepergian ke Dubai dan Maroko.

Ia bilang sangat membenci Tony Abbott. “But I like your new President!  And he likes my favorite music,” ujarnya antusias. 
Dalam perjalanan, sambil menatap jajaran mobil yang semakin padat karena pembangunan MRT di Sudirman, ia berkata lirih, “I really wish he could make  changes. Corruption, children's welfare, those forests, Sumatran tigers, and the sea, they can not wait any longer….”   

Share this blog