Wednesday, September 11, 2019

Hal-hal yang Terbawa (dan Terbawah) dari Sekolah


“Bunda, Anne Frank itu kayak aku! Sering dimarahin karena suka ngobrol di kelas.
Terus dia juga nggak suka matematika!”
Bima (8), dengan gembira

Pembagian anak-anak ke dalam kelas-kelas yang ditata berdasarkan kemampuan akademisnya masih menjadi misteri bagi saya. Dari kajian-kajian yang saya baca, pembagian ini kebanyakan berfokus pada manfaat yang bisa didapat anak yang lebih pintar. Katanya sih anak di kelas unggulan akan menjadi lebih terpacu mencapai kemampuan maksimal mereka. Tapi bagaimana rasanya menjadi anak di kelas yang dianggap paling tidak pintar? Berharap saja mereka bisa survive dengan menyandang label itu seumur hidup.

Saya pernah jadi anak kelas unggulan, tapi juga pernah  jadi warga kelas yang distigmakan paling bodoh. Mungkin sistem ini bermanfaat untuk sebagian anak. Tapi buat saya, berada di kelas unggulan justru menghabisi sisi menyenangkan dari proses belajar dan menyisakan bagian tidak menyenangkan yang menjadi beban harian: kompetisi (pubertas saja sudah cukup merepotkan, ya Tuhan).

Saya  ingat saya justru memandang iri pada anak-anak di kelas yang paling tidak diunggulkan yang sungguh hore itu. Sebagian dari mereka adalah anak-anak bintang lapangan. Pebasket andalan dan seniman. Mereka cool dengan cara yang tidak dapat saya tiru saat itu.

Akhirnya di kelas 2 (sekarang kelas 8) saya dikeluarkan dari kelas unggulan. Tidak memenuhi standar di pelajaran Matematika dan IPA (karena standarnya ya memang cuma itu). Saat itu saya sedang mulai senang menulis tapi seakan diyakinkan bahwa itu bukanlah sebuah kecerdasan. If you’re not good at math, then you’re not good in  life.

Itu waktu SMP.  Di SMA, sama saja. Di SMA saya dulu ada 7 kelas IPA dan hanya 1 kelas IPS. Yang masuk ke 3 IPS (sekarang kelas 12) dipersepsikan sebagai anak-anak sisa yang tidak bisa masuk 3 IPA. Bahkan anak yang ingin masuk IPS disarankan untuk masuk IPA saja jika ia memang pintar matematika dan sains. “Kalau anak IPA kan bisa ke mana saja setelah lulus. Tidak seperti anak IPS.” Begitu mantranya. Padahal “bisa ke mana saja” adalah kata lain dari ketidaktahuan cita-cita dan tujuan (kan).

Menjadi “yang tersisa” itu menyebalkan, tapi kemudian membebaskan. Saya jadi tidak punya pilihan selain kembali ke akar dan kekuatan terbaik yang saya punya. Dan itu jelas bukan di ilmu pasti.

Anak Saya, Cetak Biru Saya
Ini dekade dan era lain. Sekolah anak saya tidak menerapkan sistem ranking dan tidak menerapkan tes masuk. Sebuah kemajuan yang tentu punya konsekuensi sendiri. Dalam proses belajar mereka perlu membagi anak-anak sekelas menjadi 2 kelas kecil: kelas anak yang  lebih cepat dan kelas anak yang lebih lambat belajar.

Yang menarik, semua anak yang biasa mewakili sekolahnya untuk lomba bahasa Inggris (termasuk anak saya) masuk ke kelas ini. Anak yang secara alami berbakat di bahasa ternyata rata-rata kurang tangkas dalam hitung menghitung.

Begitu juga di klub renangnya. Saya (dan dia, dan pasti juga pelatihnya) tahu ia tidak punya kecerdasan kinestetik. Ia tidak bisa seserius itu di kolam. Renang dan olahraga lain sekedar ia anggap sebagai kesenangan, atau gangguan jika ia tidak suka. Haha. Dan saya suka fakta bahwa ia, di usia 8, sudah mengenal apa yang ia sukai dan tidak sukai. Setidaknya untuk saat ini.

After all, saya tidak menyalahkan sistem pendidikan. Ya memang susah bikin satu sistem  yang bisa berlaku untuk semua anak. Tapi saya menerima dan meresponsnya dengan cara saya sendiri. Di rumah, saya cuma mengajak anak saya lebih sering mengerjakan soal Matematika. Setidaknya agar dia bisa memahami logika berhitung dan mencapai standar minimal yang diperlukan. Sekedar tahu dan bisa, tidak perlu pintar.

Tetapi fokus saya adalah mendukung dia mengerahkan energi di bidang yang ia kuat dan sukai (dia suka menggambar). Tidak perlu mengalahkan siapa-siapa (dulu). Hanya menguasai hal terutama yang ia sukai, dengan kecepatannya sendiri. Sambil berharap kekuatannya itu bisa membuatnya bermanfaat dan hidup dengan gembira. Bagi saya pendidikan itu ya sesederhana itu.


No comments:

Stories inside my head

Share this blog