Monday, May 18, 2009

Kenapa Shalat?

Akhir-akhir ini saya sering tidak khusyuk beribadah.
Lupa sudah rakaat berapa. Yang saya pikirkan hanya “habis ini makan apa ya,”atau”wah,tadi lupa cari data X.”
Saya kehilangan ketakjuban yang saya rasakan saat melakukan sujud untuk pertama kali.

Dalam Lentera Al-Quran, Quraish Shihab mengidentifikasi 3 tipe motivasi orang beribadah.
Tipe pertama : seseorang beribadah dan ber”sengsara”di dunia karena berharap untuk kemudian ditukar dengan kebahagiaan di akhirat.
Filsuf Ibnu Sina mengistilahkan tipe ini sebagai sikap “pedagang.”
Tipe kedua : sikap “budak” atau “buruh.”
Orang beribadah semata-mata karena dorongan takut siksa neraka.
Tipe ketiga adalah seorang “arif,” yaitu yang menyadari betapa besar anugerah Tuhan untuknya. Kesadaran ini mendorongnya untuk beribadah bukan sebagai”balas jasa,”
bukan karena mengharap imbalan surgawi, juga bukan karena takut neraka.
Dari kesadaran akan kebijaksanaan Tuhan, ia yakin di mana pun ia ditempatkan nanti, penempatan itu pasti yang terbaik.
Apalagi si arif tahu bahwa bukan Sang Maha Kaya yang membutuhkan, tapi dia sendiri yang akan memperoleh manfaat ibadah yang dilakukannya.

Jika tidak tergolong ke tipe manapun, maka kata Pak Quraish, mungkin perlu ditambahkan tipe keempat.
Bukan si arif yang ikhlas, bukan pedagang yang berharap, juga bukan budak yang takut, tapi bagaikan ROBOT yang tidak mengerti esensi dan tujuan ibadah yang dilakukannya.
Ia bekerja sesuai dengan apa yang diprogramkan.
Tidak heran jika melakukan shalat, maka yang ia ingat adalah
bisnis, kebutuhan, dan kesenangan dunia.

Hmmpf…pukulan telak.

Friday, May 8, 2009

AMNESIA ANGKA

“Ke mana Rin?”
“Ke bank…ngurus ATM,” jawab saya tak bersemangat.
“Ngapain?”
“Ke-blokir… Lupa PIN…” kata saya lirih. Berharap tak didengar.
“Hah?! Lagi? Hahahahaha…” Si penanya menertawakan saya sampai puas.
Saya cemberut.
Dalam setahun sudah 4 kali saya mengalami hal yang sama :
lupa nomor PIN.
Sungguh bodoh tak terperi.

Tampak agak keren memang diwakili dengan sederetan angka sehingga punya akses ini itu dan teridentifikasi sebagai manusia urban. Tapi bagi orang pelupa kronis seperti saya, ini sungguh merupakan tantangan berat.
Semakin hari semakin banyak saja kode dan nomor yang harus dimiliki dan (kadang harus) dihapal. Bermula dari nomor KTP di usia 17, lalu nomor HP, NPM, No.SIM, kemudian nomor rekening, dilanjutkan User ID, nomor PIN, nomor password, nomor polis asuransi. Belum lagi punya orang serumah : nomor speedy, no pelanggan tv kabel, dan tentu saja nomor rekening listrik, air, telepon.

“Silakan Mbak, pilih nomor PIN 6 digit. Jangan tanggal lahir. Kalau bisa dibedakan dari PIN ATM,” kata si mbak costumer service saat saya apply SMS banking. Saya mengangguk-angguk sambil berpikir keras kombinasi angka apa (lagi) yang akan saya gunakan.
“Lalu semua PIN jangan disimpan di HP atau di dompet,” katanya lagi.
Anjuran terakhir ini memang sangat baik,
but not good enough untuk orang seperti saya.

Akan ada saat saya ke ATM hanya berbekal dompet dan HP.
Lalu entah kenapa saya tiba-tiba bisa betul-betul lupa berapa kombinasi
angka PIN saya.
Tak rela perjalanan ke ATM sia-sia, dengan kreatif (atau bodoh?) saya
mencoba memasukkan beberapa angka.
Setelah kali ketiga saya baru sadar saya telah memasukkan angka PIN
fasilitas lain.

Alhasil… terblokir.

Seorang manager on duty yang ternyata memperhatikan saya dari jarak 1,5 meter di belakang, menghampiri dan memandang saya dengan tatapan kasihan, lalu berkata, “Silakan ke costumer service, Mbak…”

Share this blog