Saturday, January 20, 2007

Timbangan dan Seorang Perempuan

Aku adalah sebuah timbangan

Diletakkan di sudut ruangan sebuah tempat kebugaran


Akhir-akhir ini aku sedang tak enak badan

Jarumku selalu menunjuk angka dua kilo lebih ringan dari semestinya


Hari ini perempuan itu datang lagi

Sama seperti hari-hari biasanya


Ia rajin sekali berolahraga di tempat ini

Lebih dari yang lain


Menurutku ia manis sekali dan tampak sehat

Hanya… ia selalu tampak khawatir dan hampir tak pernah tersenyum


Aku tahu dia membenci keberadaanku

Tapi dia selalu kembali untuk melihat berapa berat badannya


Itu dia datang. Duh ! Ia pasti akan menggerutu lagi

Itu yang selalu dilakukannya setelah melihat angka yang kutunjuk


Tapi hari ini keajaiban terjadi. Untuk pertama kalinya kulihat dia tersenyum!

Tentu saja ! Karena berat badannya “kurang” dari biasanya


Jarum penunjukku sedang tidak akurat

Aku merasa telah membohonginya!


Dia melangkah pergi sambil bernyanyi-nyanyi

Seakan-akan telah mencapai sesuatu yang didambakannya


Seandainya bisa, aku ingin memanggilnya

Dan mengatakan berapa berat badannya sesungguhnya


Tapi…

Biarlah ! Aku suka melihatnya gembira, meskipun karena aku sedang sakit

Kali ini aku menerima keberadaanku yang hanya bisa diam


Lagipula menurutku…

Ia hanya perlu lebih banyak tersenyum

dan berhenti mengkhawatirkan banyak hal


DIGNITY

Apakah handphone Anda masih monophonic, tanpa infrared, radio, apalagi bluetooth, kamera dan layarnya tak berwarna ?

Jangan khawatir!

Harga diri Anda tidak tergantung pada hal semacam itu ;)

To Papua with Love

Bagi orang Papua, Indonesianisasi mungkin lebih mengkhawatirkan daripada Amerikanisasi.

(Sebuah kalimat dalam buku kuliah Cultural Studies-ku, Chris Barker, SAGE Publication)


“Anda berasal dari mana?” tanya si bapak dosen pada salah satu teman saya yang berkulit hitam dan berambut keriting. “Saya lahir di Jakarta,Pak. Ibu saya yang dari Kupang.” “Oh, saya kira dari Papua,” komentar bapak dosen disambut tawa (hampir) seluruh kelas, termasuk saya. Tetapi teman di sebelah saya diam saja.

Sambil menyalin catatan, ia bertanya sesuatu yang membuat saya berpikir lama, " Ada apa dengan orang Papua? Kenapa sih semua orang ketawa kalo denger kata Papua? Lo pasti juga gak mau kan kalo dikira dari Papua?” Saya diam saja. Melihat saya diam tak bisa menanggapi, dia bicara sendiri. Panjang lebar…yang intinya : “Mereka juga orang Indonesia. Nggak lebih rendah dari kita kan? Kita nertawain mereka seakan-akan jadi orang Papua itu naas dan bodoh banget, nggak ngerti apa-apa.”

Saya memang tidak tahu banyak tentang Papua, tapi setidaknya dengan pengetahuan terbatas ini, saya ingin berpendapat tentang mereka. Sudah sejak lama pemerintah Indonesia menetapkan standar tunggal ”kesejahteraan” atas berbagai propinsi yang pasti punya karakteristik berbeda, seperti Papua . Dengan standar ini pastinya orang-orang Papua ini berada jauh di bawah garis kemiskinan. Padahal sejak zaman dulu memang begitulah cara mereka hidup.

Akhirnya mereka dipaksa berlomba-lomba supaya bisa sejajar dengan Jawa. Dipaksa mengikuti lompatan budaya yang tak selalu membuahkan kebijaksanaan, dan cenderung hanya bersifat inferior,meniru. Saya pernah membaca tentang orang Papua yang bangga punya telepon genggam, padahal tak ada listrik di rumahnya; sehingga ia harus pergi ke kota untuk mengisi baterainya. Tak jelas apakah ia benar-benar membutuhkan alat komunikasi itu. Tak kalah “hebat” orang-orang dengan mobil mewah datang dan pergi ke dan dari lokasi Freeport , menjadikan orang Papua seakan jadi orang asing yang sekedar menumpang di tanah kelahiran mereka sendiri. Yang lebih menyedihkan lagi mereka harus mencuri untuk sekedar dapat makanan.

Kemarin, setelah menonton Film Denias, saya jadi semakin ingin pergi ke Papua. Mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi suatu saat nanti saya pasti ke sana. Bukan sok pahlawan, tapi setidaknya orang-orang Papua ini harus tahu bahwa mereka punya hak untuk hidup sejahtera, sama dengan orang lain. Sejahtera dengan cara mereka sendiri, bukan dengan cara meniru orang Jawa atau siapapun yang datang ke tanah mereka dan mengambil seluruh isi perut bumi Papua tapi membiarkan mereka tetap berada jauh di belakang.

Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya*

Saya selalu mengalami dilema saat berpapasan dengan pengemis. Kadang saya merasa bersalah jika tidak merogoh dompet untuk memberi sekedarnya pada tangan-tangan yang ditengadahkan pada saya. Saya tahu bahwa para pengemis ini kadang juga menggunakan berbagai trik untuk mendatangkan rasa iba demi mengeruk isi kantong kita. Bawa anak orang, bikin replika luka berdarah darah dan bernanah, bergaya lumpuh, pasang tampang nggak makan berhari-hari, sampai sindikat yang mempekerjakan anak-anak. Semua cara asal bisa dapat "seiklhlasnya."

Tapi tetap saja saya bingung membedakan, mana yang asli harus ditolong, mana yang tidak. Yang ada di pikiran saya adalah "Apa benar dia nggak mampu?" atau "Ah, badan masih kuat begitu. Kenapa gak kerja sih?" atau "Duh, kasihan. Dia dah makan belum ya?" atau yang paling sering, "Mau ngasih tapi ragu-ragu nih. Biar yang laen aja deh yang ngasih."


Sore itu saya sedang menunggu kereta ke Juanda. Ternyata di sebelah saya duduk seorang pengemis yang sering saya llihat "beroperasi" di jalan menuju kampus saya. Ia melihat saya membawa tas besar, kemudian bertanya.

Si bapak : "Neng, mau pergi jauh ya?"

Saya : "Iya Pak."

Si bapak : "Ke mana Neng?"

Saya : "Ke Malang Pak."

Si Bapak : "Pemalang? Wah jauh bener!"

Saya : "MALANG, Pak."

Si Bapak : "Wah, lebih jauh lagi."

Saya : "Bapak rumahnya di mana?"

Si Bapak : "Di Kramat jati... (menurut pendengaran saya)

Cari duit sekarang susah Neng. Kebutuhan juga makin

tinggi..."

Saya : "Emang Bapak tinggal sama siapa Pak?" (saya ingin tau

jumlah orang yang bergantung hidup padanya)

Si Bapak : " Ya ini berdua... (sambil menunjuk seorang perempuan yang

berusia jauh lebih muda darinya. Si perempuan berdiri di

sebelah si Bapak, sedang menengadahkan tangan ke

orang2 yang baru membeli karcis di peron)

Saya : "Oh..." (saya kurang tertarik untuk mengetahui, apakah

perempuan itu anaknya atau istrinya, atau siapa)

Si Bapak : (tanpa saya tanya, si Bapak menceritakan sesuatu yang ingin

saya ketahui sekian lama)

"Setiap hari kita dapat 50 ribu, Neng. Dibagi berdua. Saya

25, dia 25."

Saya : (Otak saya mengkalkulasi jumlah itu jika ditotal dalam

sebulan)

"Wah, banyak dong Pak!" (SATU SETENGAH JUTA hanya

dengan meMINTA-minta!)

Si Bapak : "Iya...tapi kebutuhan saya juga banyak Neng!"

Saya : "Oo...buat bayar sekolah anak? Atau apa Pak?"

Si Bapak : "Ya enggak... Saya berangkat kerja (ini sebutan untuk

kegiatan menengadahkan tangannya tiap hari) jam 7,

pulang jam 5 sore. Nah kan lama tuh. Nggak di satu tempat

doang. Cepet laper & haus. Jadinya sering jajan."

Saya : (saya mengerutkan kening) "Lha...kenapa nggak bawa

makan minum dari rumah Pak? Kan biar hemat."

(tadinya saya semangat ingin bercerita bahwa saya sendiri

selalu membawa minum dari kos untuk seharian di kampus.

Dan kadang saya juga beli & bawa makan dari warteg, biar

nggak jajan di kantin kampus yang aduhai mahalnya untuk

keuangan saya. Dengan cara ini saya bisa menghemat

biaya makan sehari jadi hanya 10ribu).

Si Bapak : (jawabannya setelah ini membuat saya urung bercerita dan

langsung malas melanjutkan percakapan)

" Ya kan laen Neng. Orang kan banyak maunya. Kadang

saya pinginnya yang dingin. Kayak Aqua gitu kan enak.

Kadang pingin yang manis, ya beli teh botol. Kalau bawa

dari rumah kan nggak dingin lagi. Jadi 25 ribu itu abis

untuk jajan sehari.”

Saya : (menghela napas panjang) "Ohh....

Ya sudah....saya naik dulu ya Pak!"

Aduuhhh...ternyata si Bapak bukan miskin materi (1,5 juta perbulan tanpa skill ! Bayangkan !), tapi miskin MENTAL !

Untung kereta yang saya tunggu sudah datang. Jadi saya tidak harus berlama-lama lagi bergondok ria!

Saya tak bisa men-generalisasi bahwa cerita nyata ini adalah juga cerita semua pengemis.

Tapi kalau cerita si Bapak di atas adalah juga cerita sebagian besar pengemis...maka alangkah bodohnya jika saya terus mendanai jajan mereka tiap hari untuk Aqua, teh botol, dan berbagai makanan yang bahkan tidak setiap hari bisa disantap oleh orang-orang yang memilih berHEMAT dan bekerja keras, daripada menghabiskan uang untuk hal-hal yang bisa dikendalikan.

Hemat dan kerja keras, merupakan dua kata yang mungkin tak pernah dikenal atau terlalu MALAS untuk dikerjakan oleh si pengemis.

*(judul bukunya Aa’ Gym)

Laporan Pandangan Hati dari Natal di YPAC

Kita sama-sama cacat. Bedanya adalah ketidaksempurnaan fisik mereka bisa dilihat semua orang. Tapi cacat kita tidak kasat mata." (somewhere in a book I read)

Banyak perkara yang tak dapat kumengerti. Mengapakah harus terjadi, di dalam kehidupan ini. Satu perkara yang kusimpan dalam hati, tiada satu pun 'kan terjadi tanpa Allah Peduli.

Allah mengerti, Allah peduli

Segala persoalan yang kita hadapi.

Tak akan pernah dibiarkannya kubergumul sendiri s'bab Allah peduli


Dua teman baru kami menyanyikan lagu di atas. Salah satu dari mereka duduk di atas kursi roda. Mereka tak dapat melihat kami. Tapi senyum mereka mengembang ketika mendengar kami ikut menyanyikan lagu di atas. Baru setengah lagu dinyanyikan, tapi air mata sudah membanjiri wajah kami yang mengunjungi mereka. Bagi saya, ini air mata haru dan kasihan. BUKAN kasihan pada MEREKA. Tapi kasihan pada DIRI saya sendiri.

Dengan segala keterbatasan fisik itu, mereka menyanyikan lagu itu dengan penuh keyakinan, bahwa Allah MEMANG mengerti keadaan mereka. Saya juga sering menyanyikan lagu itu. Bedanya, saat ada masalah, saya merasa seakan-akan saya adalah orang paling malang sedunia. Semakin malang lagi karena meskipun saya bernyanyi, "Allah mengerti, Allah peduli..." tapi dalam hati, saya masih sering khawatir akan banyak hal. Kekhawatiran yang hanya membuktikan bahwa saya tak sungguh-sungguh percaya bahwa Dia benar-benar mengerti dan menjaga saya.

"Hai kak...Kenalan dong!" Sebuah tangan kecil meraba pundak saya. Menyadarkan saya dari lamunan. “Aku Viska...kakak siapa?" Gadis kecil itu tersenyum lebar, tapi wajahnya tidak terarah pada saya. Tahu lah saya, dia juga tidak bisa melihat. Tapi keceriaannya mengalahkan ekspresi gembira orang yang mempunyai penglihatan baik. "Aku Rini..."

"Kakak suka nyanyi nggak? Aku suka..." Lalu dia bercerita tentang kecintaannya pada Ungu, Peterpan, dan Agnes Monica. Aku senang ngobrol dengannya.

Sementara itu di sisi kanan saya, ada seorang anak yang tak bisa mendengar dan bicara, hanya bisa melihat. Sedetik saya membayangkan betapa sepi dunia di matanya.

Si bocah tak bosan-bosan menarik tangan saya dan menunjuk- nunjuk pohon natal di atas panggung. Melihat saya bingung, ia mengambil kertas, lalu menggerakkan jarinya membentuk garis-garis tertentu. Rupanya begitu caranya berkomunikasi dengan orang. Saya merasa sangat sedih tak bisa memahami bahasanya.

Di perjalanan pulang, saya sadar bahwa sebenarnya BUKAN kami yang mengunjungi dan menghibur mereka. Tapi sebenarnya Ia yang lewat mereka telah menegur dan mengetuk hati kami. Mengingatkan kami untuk lebih bersyukur atas setiap hal besar dan kecil, baik dan buruk yang boleh terjadi dalam hidup kami. Dan menyadari bahwa...ketidakmampuan kami untuk bersyukur dalam keadaan sesempurna ini, tak ada bedanya (atau bahkan lebih buruk) dengan ketidakmampuan mereka untuk berjalan / mendengar / melihat / berbicara, tapi selalu mampu bersukacita.

KIsah Si Pohon Perkasa

Jika di negara-negara lain dongeng hanya dipercaya oleh anak-anak, di Indonesia justru orang-orang dewasa lah yang menanti penuh harap perwujudan tokoh-tokoh dalam dongeng (saya baca kalimat ini di Kompas, tapi lupa tanggalnya). Mungkin itu sebabnya Jepang dengan mudah menjarah bangsa ini dengan menamakan dirinya sebagai “saudara tua,” “pelindung Asia” pada awal kedatangannya. Dan juga betapa orang sangat mengelu-elukan kedatangan Ratu Adil, Satria Piningit yang akan menyelamatkan bangsa ini (menurutku setiap orang bisa menyelamatkan tanah air ini bersama-sama). Tapi kali ini dongeng yang dipercaya orang dewasa ini ternyata membuahkan kebaikan.


( Tulisan di bawah ini berdasarkan liputan Trans TV, Reportase, 28 Agustus ‘06)

Sebuah pohon besar tetap kokoh berdiri di tengah rancangan lintasan busway di bilangan Harmoni, Jakarta. Tak ada yang berani menebangnya. Bahkan pihak kontraktor busway sempat mengadakan sayembara dan menjanjikan hadiah besar bagi siapapun yang berhasil menebang pohon ini. Konon kabarnya, ada satu orang yang pernah mencoba menebang pohon ini. Tapi kemudian si penebang menjadi lumpuh, kemudian meninggal dunia. Beberapa orang malahan sering mengadakan ritual khusus untuk memuja pohon raksasa ini.

Dinas Pertamanan Jakarta menolak menyatakan pohon itu sebagai pohon keramat. Namun mereka berkata bahwa pohon itu memang tak akan ditebang untuk menjaga keberadaan jalur hijau di daerah itu. Lintasan busway akan dilebarkan di kanan dan kiri pohon perkasa tersebut, sehingga dapat dilalui busway.

Satu pohon untuk menjaga keseimbangan ekosistem…hmm…agak aneh kedengarannya. Karena jauh sebelum peristiwa ini, sudah ada 1300 pohon di jalur hijau Jakarta yang ditebang untuk pembangunan monorel Pulogadung – Kalideres yang sekarang tak jelas kelanjutannya.

Tapi bagaimanapun karena dongeng ini menyelamatkan hidup satu pohon dan sedikit oksigen bagi orang-orang yang melintas di sekitarnya, kali ini saya mendukung dongeng tentang Si Pohon Perkasa.

Tapi alangkah membanggakan jika setiap orang di negara ini benar-benar percaya bahwa setiap pohon memang punya “kuasa” dengan alasan yang tepat dan rasional. Bahwa si pohon bisa melindungi kita dari panas matahari, polusi, kekurangan udara sehat, sampai banjir dan tanah longsor. Maka Si Pohon Perkasa, dan teman-temannya memang harus diselamatkan!

October 5, 2006

Pelanggaran Berjamaah

Jika orang lain yang melakukannya, kita menyebutnya sebagai pelanggaran.

Tapi jika kita sendiri pelakunya, kita menganggapnya sebagai...eksperimen kecil.


Selama ini kita pasti setuju bahwa setiap pelanggar hukum itu harus ditindak. Tapi jika sanksi atas pelanggaran terhadap pasal 18 UU No.13/1992 benar-benar diterapkan, mungkin Anda tidak akan setuju. Termasuk saya. Kenapa?

Karena setiap hari, ratusan orang, yang hampir semuanya adalah mahasiswa UI, melanggar pasal ini.

Siapa pun yang pernah masuk ke Universitas Indonesia dengan berjalan kaki dari jalan raya Margonda pasti tahu bahwa satu-satunya jalan tercepat untuk sampai ke kampus ini adalah dengan melintasi jalur rel kereta api.

Jadilah papan bertuliskan “Dilarang Memasuki Jalur Kereta Api” itu hanya sbeuah pajangan. Orang-orang tetap saja lalu lalang menyeberangi rel. Saya sendiri baru kemarin benar-benar meyadari keberadaan papan itu setelah melewatinya 10 kali dalam seminggu selama satu setengah tahun.

Berjalan kaki melintasi rel kereta api adalah hal yang dilarang keras untuk dilakukan di negara-negara maju, karena tentu saja sangat berbahaya. Entah sudah berapa orang meninggal tertabrak kereta api di lintasan yang setiap hari saya lalui itu.

Untung ada announcer di stasiun UI yang selalu mengingatkan pejalan kaki jika ada kereta yang akan melintas. Sehingga pejalan kaki yang tidak menerobos lintasan kereta beberapa saat sebelum kereta lewat hanyalah mereka yang memang nekad bunuh diri atau yang sedang tidak konsentrasi berjalan. Wah, seharusnya para announcer ini mendapat tanda jasa bintang seratus. Lengah sedikit dalam bekerja, nyawa manusia taruhannya.

Tapi alangkah lebih baik lagi jika saya dan ratusan orang lain tidak harus bertaruh nyawa setiap hari demi cepat-cepat mencapai kampus. Dengan kata lain saya berharap adanya jalan pintas lain yang aman dan nyaman bagi para pejalan kaki, bukan melulu memperluas lagi tempat parkir (yang telah menggusur puluhan pohon di UI) untuk mobil-mobil.

Listrik Nuklir Ga Perlu Khawatir ?

Setiap manusia di berbagai belahan dunia menyadari bahwa kebohongan yang diulang seribu kali pada akhirnya dapat menjadi kebenaran…

(Andre Vltchek – Sekapur Sirih dalam wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer)


Judul di atas merupakan tagline iklan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Ada yang sudah pernah lihat? Biasanya paling sering ditayangkan pagi hari di TVRI atau SCTV, di sela-sela Liputan 6 pagi (bahkan iklan ini sedang ditayangkan tepat saat saya mengetik tulisan ini!!). Tak jelas siapa yang membuat iklan tersebut, karena tak ada logo apapun di akhir iklan.

Dalam iklan ini dihadirkan Dewi Yull yang di akhir iklan berkata “Benar! Mari kita gunakan nuklir sebagai pembangkit listrik!” Ada pelawak Gogon yang memerankan warga yang tadinya demonstrasi menentang pembangunan PLTN, akhirnya berubah jadi demo mendukung PLTN. Ada juga yang berperan sebagai Pak Lurah yang datang bersama orang dari PLTN. Mereka tak henti-hentinya berkata “PLTN ini sangat aman! Radiasi bisa dibilang tidak ada. Bangunannya tahan gempa dan sudah melalui persetujuan Badan Nuklir Dunia!” (kira-kira demikian bunyinya)

Akhir-akhir ini saya mengamati perbincangan di berbagai mailing list dan chat room mengenai iklan nuklir dan ide tenaga nuklir itu sendiri. Ada yang setuju, ada yang tidak. Mereka yang setuju menyatakan bahwa PLTN memang merupakan salah satu solusi masa depan untuk mengatasi krisis listrik di tanah air ini. Lagipula (katanya) limbah nuklir lebih ramah lingkungan. Ada juga yang menyatakan bahwa kecilnya daya yang digunakan PLTN di Indonesia (30MW), tak akan berakibat fatal jika meledak seperti bencana Chernobyl.

Sementara itu pihak yang kontra bertahan pada _tereotype “nuklir=bahaya.” Mereka kembali mengingatkan (mungkin ada yang sudah hilang ingatan) akan kecelakaan nuklir Chernobyl 20 tahun lalu itu yang membawa dampak serius terhadap para penduduk Ukraina, Belarusia dan Rusia? Hasil studi terbaru Greenpeace memperkirakan bahwa ada lebih dari 250.000 kasus kanker diakibatkan oleh kecelakaan ini. Saat itu 300.000 orang direlokasi paksa.

Saya sendiri beranggapan bahwa yang perlu dikhawatirkan adalah masalah pengelolaan. Anak kecil pun tahu, sebagus apapun sebuah ide, jika diimplementasikan di Indonesia, patut diragukan hasilnya akibat amburadulnya manajemen (karena rendahnya tanggung jawab manusia sebagai si pengelola). Tak ada yang bisa menjamin bahwa setelah pembakaran hutan dan lumpur Lapindo, Indonesia tak akan menyumbangkan satu lagi bencana besar kreasi bodoh manusia bagi dunia lewat pembangunan PLTN ini.

October 23, 2006


Mengubah Si Kanibal


(cerita ini disampaikan salah seorang pendeta di GPIB dalam sebuah kebaktian Minggu. Reminds me of the power of God’s words)

Beberapa turis datang ke daerah pedalaman, tempat tinggal sekelompok suku asli. Si kepala suku terlihat sedang membaca sebuah buku saat turis-turis itu datang ke kediamannya. Buku itu adalah Alkitab. Ini buku yang juga pernah dibaca para turis itu saat masih kanak-kanak, tapi sekarang tidak lagi. “Itu hanya dongeng,” salah satu turis berkata, disambut tawa turis yang lain.

Si kepala suku yang ternyata cukup berpendidikan dan mengerti bahasa si turis, menjawab, “Anda boleh berkata ini cuma dongeng. Tapi jika kami tidak pernah tahu, membaca, mengerti dan melakukan apa yang ada dalam buku ini…

Anda sudah ada dalam perut kami sekarang.”

2006.08.09



JIKA

Jika keberhasilan hanya membuat

Mata jadi buta, telinga jadi tuli

Dan hati jadi beku

Jika ia

Hanya membuat keberadaan

Jadi keangkuhan

Dan kesederhanaan jadi kesengsaraan

Maka

Lebih baik memilih kegagalan

Sebagai teman

Yang menawarkan lebih banyak wejangan

Forbidden Country

Lelaki berambut pirang keriting itu menjelaskan berbagai tahapan pembuatan sepeda motor tenaga mataharinya kepada kami. Ia ilmuwan Jerman yang mendapat sponsor dari sebuah universitas di Malaysia untuk membuat inovasi ini.

Any question so far?” tanyanya, mengakhiri presentasinya.

Seorang pria dari antara kami mengangkat tangan,

Jorge, why didn’t you make your project in Indonesia? You know Jakarta is one of the most poluted city in the world. We need it. This technology could be sold in a high price here.”

Jorge menjawab, “I might also get research fund from Indonesia’s government. But due to the high rate of corruption in your country, even if I get that fund, I’ll only get 40% or less from it.. So I prefer Malaysia.

Next question?”

Nadanya datar, jujur, tanpa maksud menuduh atau menjatuhkan.

Jorge benar.

Aku hanya menunduk. Malu.

The Bookshelf

Di antara semua penghuni kos, saya adalah orang yang paling sering menerima paket atau surat dari rumah. Kali ini ayah saya mengirim...RAK buku! Yup! Instead of giving me some money so I could buy it in Jakarta, he send the bookshelf to me!
Sebuah rak tiga tingkat. Bau vernisnya masih tercium...membuat pening. Tanpa merk...
Karena ayah saya membuat rak itu dengan tangannnya sendiri, di sela-sela persiapan ujian S3-nya.
Saya memandangi benda itu lama-lama. Seakan-akan saya bisa melihat ayah saya memoles bilah demi bilah kayunya.
And suddenly I miss him....a lot.

Tentang Khawatir

Aku ....

Sering mengkhawatirkan hal-hal

Yang tak akan terjadi

Tapi

Lebih sering lagi menjadikan

Sesuatu yang kukhawatirkan

(21 April 2002)

I've learned that...


Saat di mana lo benar2 kenal siapa diri lo adalah bukan saat lo lagi ketawa2, atau pas lagi ga ada masalah...

Tapi di saat lo sedih, sakit hati, kecewa, putus asa, dan ga tau mesti ngapain...

Menurut gw yang paling penting adalah bukan masalah apa yang lo hadapi, tapi sikap apa yang lo pilih terhadap semua perasaan itu.

In the end, lo akan tau... apakah hati lo terlalu sempit untuk menerima maaf orang lain? Apakah lo cuma pengecut yang malu jujur dan minta maaf? Apakah hidup lo terlalu sepi sehingga mesti nyimpan dendam? Apa lo masih punya iman?

Mnurut gw kebahagiaan itu ngga harus dicari ke mana-mana, bukan tergantung siapa2 selain Dia. Kebahagiaan itu...pilihan. It’s already in your heart.


What's NOT Cool in School

Suatu hari saya melihat pengumuman pemenang karya tulis ilmiah di kampus. Salah satu judulnya adalah “Tinjauan Kritis terhadap penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMU.” Saya jadi ingat…bahwa beberapa tahun lalu ada masa dalam hidup saya dan dalam hidup jutaan anak SMU lain di mana penjurusan menjadi momen hidup mati. Perebutan kepentingan antara keinginan orangtua, ikut trend, “pride,” masa depan, cita-cita, dan suara hati. Mana yang menang, mana yang kalah, mana yang mengalah atau dimenangkan. Tak jelas batasnya.

Entah apa yang membuat ada 7 kelas IPA, hanya 1 kelas IPS dan tak ada kelas bahasa di SMU saya. Saya masih ingat ada yang berusaha setengah mati keluar dari kelas IPS untuk masuk IPA. Seakan-akan masuk IPS adalah vonis mati. (Toh setelah lulus orang-orang itu ada yang kembali juga ke jurusan IPS).

Bicara tentang vonis mati, disadari atau tidak, sekolah sering melembagakan sebuah jenis intelegensia tunggal yang menyingkirkan jenis kepandaian lain menjadi label nomor kedua, ketiga, dan seterusnya. Vonis mati bagi yang tak memenuhi st├índar nilai akademis untuk kemudian diberi cap “bodoh” yang dikonstruksi masyarakat. Padahal seharusnya para akademisi juga tahu bahwa manusia mempunyai kepintarannya masing-masing. Emosional, spiritual, dan sebagainya. Pintar berhitung hanya salah satunya.

Vonis mati yang lain diperuntukkan bagi anak-anak yang tak betah duduk diam di kelas dan sering bolos, untuk kemudian dicap “nakal.” Seingat saya, cap-cap itulah yang disandang sebagian besar teman-teman saya, terutama yang pria di kelas IPS. “Aku kan sampah masyarakat,” kata salah satu temanku waktu itu sambil tertawa. Dia bercerita bahwa salah seorang guru kami menyebutnya begitu setelah mendapati dia terlambat masuk kelas untuk kesekian kalinya. Fakta yang tidak diketahui guru saya, teman saya yang disebutnya sampah masyarakat ini telah memiliki penghasilan sendiri di atas sejuta. Sesuatu yang langka untuk anak SMU. Bahkan teman saya yang juara kelas pun tak punya otak bisnis sehebat si “sampah masyarakat.”

Masa-masa di SMP juga tak kalah buruknya. Pembagian kelas ditentukan oleh tinggi rendahnya nilai ujian di SD. Ada 4 kelas di SMP saya dulu. 1A sampai 1D. Kelas kami, 1D, adalah kelas dengan murid-murid yang kata guru-guru disebut anak pintar-pintar. Kemudian 3 kelas lain bisa diranking menjadi kurang pintar, biasa saja, atau…tidak pintar. Guru-guru memborbardir kami, kelas 1D dengan kata-kata fantastik,”Kalian adalah motor semua kelas 1. Kalian harus lebih berprestasi,” dan sebagainya. Entah apa dampak kata-kata ini terhadap kami. Apakah kami semakin terpacu berprestasi, merasa dikejar-kejar kompetisi, atau malah sombong.

Tapi yang sering saya pikirkan sampai sekarang adalah… bagaimana dengan kelas yang dianggap ada pada ranking paling akhir? Apa yang diakatakan guru-guru pada mereka? Apa yang mereka rasakan berada di kelas yang diberi label “terakhir”? Apa dampaknya bagi mereka di masa yang akan datang (baca: sekarang)? Apakah selamanya mereka akan berpikir bahwa mereka “bodoh” atau tidak berhak menjadi yang terbaik karena begitulah dulu mereka diperlakukan? Parameter siapa yang dipakai?

Saya sendiri tak akan pernah lupa bahwa perjalanan saya ke universitas ini diawali dengan masuk ke SMU dengan danun di urutan ke 200-an dari total 250 calon siswa. IQ saya waktu itu hanya 108. Angka paling rendah di kelas. Thnx God, Tuhan tak membiarkan saya percaya bahwa kemampuan saya hanya bisa diterjemahkan dengan angka.

Penjurusan IPA, IPS, Bahasa juga tak seharusnya menjadi ukuran seseorang pintar atau tidak. Saya setuju usaha pemerintah mengangkat pamor sekolah kejuruan (SMK), karena bangsa ini perlu lebih banyak orang yang setidaknya bisa mengerjakan satu bidang dengan keahlian tinggi, daripada cuma banyak bicara tapi tak siap kerja.

Dan teman-teman saya di SMU…masa-masa ini adalah saatnya kamu mulai…kamu ingin jadi apa 10 tahun lagi?




TENTANG KITA

Mungkin kita lupa , bahwa Eropa, Amerika, Jepang, menjadi seperti sekarang karena telah ratusan tahun menghisap negeri-negeri selatan. Menciptakan kemiskinan, memanjakan negara-negara lain dengan utang-utang haram, menciptakan konflik, mengkapling wilayah-wilayah negara selatan untuk dijadikan penyedia bahan mentah mereka.
KITA HARUS PUNYA MIMPI SENDIRI! Mimpi ideal yang lebih manusiawi, lebih lestari dan menciptakan ruang hidup yang sehat, setara dan memungkinkan setiap orang selamat lahir dan batin dan terjamin hak-hak dasarnya. Mimpi ini harus berlandaskan pada kekuatan sendiri, yang jauh dari penindasan dan penghisapan, jauh dari perusakan infrastruktur penunjang kehidupan.

--once upon a time in WALHI's page--

GREEN CAMPUS ?

WORKSHOP dan PENCANANGAN “KAMPUS BERWAWASAN LINGKUNGAN”

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) mengadakan acara Workshop dan Pencanangan Green Campus, Kamis, 14 September 2006 di Plaza FISIP UI. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Research Days FISIP UI, 12-15 September 2006.

Dalam sambutannya, Dekan FISIP UI, Dr. Gumilar R. Soemantri menyatakan bahwa pencanangan FISIP UI sebagai Green Campus merupakan bagian dari corporate social responsibility dari FISIP UI. Walikota Depok, Dr. H. Nur Mahmudi Ismail, hadir memaparkan program Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu (SiPesat) yang sedang digalakkan di kota Depok. Setelah tahun lalu mendapat predikat sebagai kota terkotor di Indonesia, Nur Mahmudi mengajak warga Depok untuk bersama-sama mengolah sampah di tingkat lokal/ keluarga. “Selama ini orang berpikir bahwa pengelolaan sampah hanya bisa dilakukan di TPA. Padahal bisa dilakukan pengelolaan dari setiap keluarga produsen sampah itu sendiri,” katanya.

Sementara itu Sri Bebbasari dari Dana Mitra Lingkungan menyatakan pentingnya aspek hukum dalam pengelolaan sampah. Ia mencontohkan Jepang yang telah memiliki undang-undang sampah sejak 100 tahun yang lalu. Penyusunan undang-undang khusus tentang sampah dibahas oleh lebih dari 10 menteri negara. Hal ini membuktikan bahwa pada sampah melekat berbagai aspek budaya, sosial, teknologi dan hukum. “Indonesia itu seperti rumah dengan ruang tamu bintang lima, tapi tak punya WC yang memadai. Ini budaya kita, budaya pamer!” Sri Bebbasari menegaskan.

Dari kalangan akademisi, Dra.Shanty Novrianty, M.Si dari Departemen Sosiologi memaparkan tahapan-tahapan penyelesaian masalah sampah. Dimulai dengan melihat konstruksi sosial yang mendefinisikan rumusan masalah, kemudian dilakukan pemasaran sosial tentang masalah tersebut kepada masyarakat. Yang ketiga adalah contesting, berhubungan dengan agenda politik, memperjuangkan isu ini di tengah berbagai isu-isu lain.

Dari bidang media, Nia Soewardi dari JDFI, menyatakan bahwa orang tak akan mau melakukan suatu langkah nyata untuk pelestarian lingkungan jika tindakan itu tidak mendatangkan keuntungan untuknya sendiri. Karena itu Nia menekankan perlunya ada kompetisi yang memberikan insentif, seperti menggelar lomba Green & Clean yang penah diadakan JDFI.

Kepala Bappenas, Dr.Paskah Suzetta, MBA yang berhalangan hadir digantikan oleh Staf Ahli Bidang Teknologi dan Pembangunan Berkelanjutan. Dalam sambutan tertulisnya Paskah Suzetta menyatakan pentingnya penghematan energi dan minimalisir sampah mulai dari pihak industri sebagai produsen sampah pertama.

- Rini -

Klaim “FISIP UI Green Campus” di mata penulis

(it’s just an opinion, don’t take it for granted.he2)

Sebuah spanduk yang dipasang di dekat rektorat UI, bertuliskan : “Pemangkasan, Pemotongan dan Penebangan Pohon di Kampus merupakan Bagian dari Perawatan Pohon.”

Lalu saya berpikir, bagaimana bisa merawat jika pohonnya sudah ditebang? Karena kenyataannya dengan dalih keamanan, FISIP UI sendiri telah menebang puluhan pohon untuk kemudian lahannya dijadikan lapangan basket, gedung dosen, dan lapangan parkir.

Setelah terjadi pembunuhan dan pemerkosaan di UI beberapa waktu lalu, pohon-pohon di kampus ini memang telah dituduh menjadi “oknum” penyebab terjadinya kejahatan di kampus. Karena dianggap terlalu lebat, sebagian pohon ditebang. UI menempatkan sebuah pos keamanan di bekas tempat kejadian perkara. Tetapi hingga kini pos itu kosong, tanpa penjaga.

Dalam dua tahun terakhir ini FISIP UI sedang giat-giatnya membangun. Nyaris tak ada lahan kosong tersisa. Berjalan di lantai dasar gedung dosen serasa berada di sebuah selasar mall. Ada Restoran Korea, toko buku (yang harga bukunya selangit), toko IT, bahkan kabarnya akan ada tempat fitness Ade Rai (man!!). Sementara itu Research Days yang disponsori PT.Freeport Indonesia dan Bank Dunia ini sendiri diselenggarakan oleh dan di FISIP UI, tetapi sepertinya jauh dari jangkauan para mahasiswa. Stand buku-buku berjajar di lobi FISIP. Semua buku bagus. Tapi sebaiknya jangan banyak berharap karena akan segera kecewa melihat harga mimimal sebuah buku yang sama dengan uang kos sebulan.

Kapitalisasipendidikan,pendidikankapitalis…


RELEVANSI

Sore hari, di sebuah tempat praktek dokter mata.

Seorang bapak berkumis yang bertugas mendata, meminta saya duduk. Sambil memegang bolpen dan selembar kartu, ia menanyai saya yang memang baru pertama kali datang ke situ.

Pak kumis : “Nama lengkap?”

Saya : “Lucia Priandarini”

Pak kumis : “Alamat?”

Saya : “Simpang Bogor 14”

Pak kumis : “Telepon?”

Saya : “552840”

Pak kumis : “Kapan terakhir kali periksa dokter?”

Saya : “2 tahun lalu.”

Pak kumis : “Ada masalah apa dengan matanya?”

Saya : (dalam hati : pertanyaan yang aneh. Kalau saya tahu

jawaban pertanyaan di atas, maka saya tak perlu susah-susah

datang ke dokter untuk mengetahui ada apa dengan mata saya)

“Nggak tahu. Mungkin minus-nya tambah…”

Pak kumis : “Kacamatanya dibawa?”

Saya : “Yak”

Pak kumis : “Mbak umur berapa?”

Saya : “22”

Pak kumis : “Agamanya apa?”

Saya : “Ha?” (terkejut, berpikir, menebak-nebak…untuk apa saya harus

memberitahu dia, apakah saya ke pura, masjid, gereja atau

bahkan jika saya tidak pergi ke tempat ibadah manapun?

Apa hubungannya dengan kunjungan saya ke dokter?)

Pak kumis : “ AGAMA, Mbak…!”

Saya : “K r i s t e n…” (….sambil masih berpikir…

Apakah agama saya menentukan pemeriksaan mata saya?

Apakah si dokter akan mengirimi saya parcel Natal?

Apakah si dokter atau pak kumis sedang mencari istri seiman?

Apakah si dokter akan memberikan perlakuan berbeda terhadap

orang beragam tertentu?

Apakah dia akan menolak memeriksa saya jika saya tidak

beragama?

Sial! Gara-gara pertanyaan itu saya jadi berpikir negatif! )

Pak kumis : “Ini kartunya. Mbak tunggu di sana ya!”

Saya benar-benar ingin bertanya apa relevansi agama dengan periksa ke dokter. Tapi tidak jadi karena takut terjadi amuk massa :p. Antrian di belakang saya sudah sangat panjang.

FAITH !


Gempa bumi, tanah longsor, tsunami, kecelakaan motor, lumpur panas, pesawat jatuh, kebakaran, kanker, lupus, leukemia…

Selama ini semua hal di atas terjadi pada orang-orang di sekitarku, tapi bukan aku.

Tapi semakin lama aku berpikir, apakah setiap orang harus mengalaminya, hanya menunggu giliran? Dan sekarang aku sedang ada di urutan akhir-akhir.

Apakah Tuhan sedang bermain dadu, dan hari ini akan muncul namaku?

Saat semuanya sedang baik, aku sering berpikir bagaimana jika tiba-tiba salah satu dari hal tak terduga itu datang dan meluluhlantakkan hidupku?

Sisi terburuk dari hal-hal buruk adalah…kita tak akan pernah tahu kapan mereka datang.

Aku paling takut terhadap hal-hal yang ada di luar kendaliku (well, sebenarnya tidak ada yang 100% dalam genggaman tanganku sendiri, selain punya Dia).


Itulah kenapa lo nggak akan pernah bisa ngukur iman dengan nilai pelajaran agama di raport.”

That’s whu u have faith in Him…”


Itu suara hatiku bercuap-cuap... mengomentari aku, si peng-khawatir kelas kakap ini.


So just like Marry said, “Be it unto me, according to Your words…”

Apa Kata Tuhan tentang Orang Gila?

Jika saya diajar untuk mengasihi semua orang tanpa terkecuali, berarti saya juga harus bisa berbagi kasih dengan mereka. Tapi bagaimana? Berada dalam jarak beberapa puluh meter saja dari mereka saya sudah ingin lari. Takut diikuti, dikejar, sampai dibunuh. Semua kemungkinan, yang paling konyol sekalipun, membayangi otak paranoid saya.

Sialnya (atau saya harus bersyukur?) ada orang gila yang sudah berminggu-minggu menetap beberapa ratus meter dari jendela kamar kos saya! Ia menganggap bangunan tua tak beratap di seberang kos saya sebagai rumahnya. Tolong! Saya bertetangga dengan perempuan gila!

Dari jendela kamar, saya bisa memperhatikan setiap gerak-geriknya. Tak banyak yang dilakukannya. Pada pukul 07.00 saya melihatnya tidur dengan posisi menyamping, 5 jam kemudian setelah saya pulang dari kampus, ia masih ada dalam posisi yang sama. Kira-kira ia tidur 16 jam sehari, lalu duduk diam dan tertawa-tawa kira-kira 4 jam sehari, sisanya berjalan-jalan ke sana-sini.

Tadinya saya berpikir, bagaimana ia bisa tetap hidup tanpa makan. Awalnya saya berniat membawakannya makanan (tentu saja dengan ditemani seorang teman yang pemberani untuk mendekatinya). Syukurlah, ternyata setiap hari Pak RT membawakan makanan untuknya. Jadi saya tak terlalu merasa berdosa karena membiarkan “tetangga” dekat saya mati kelaparan.

Saya jadi sering membayangkan bagaimana hidup jadi orang gila. Kalau saya sakit fisik atau cacat tubuh, tapi pikiran saya waras, saya masih bisa melakukan pekerjaan favorit saya, membaca, atau ngobrol dengan ibu saya. Tapi kalau yang sakit jiwa & pikiran saya? Saya bahkan tak tahu apakah mereka masih bisa berpikir. Karena itu saya benar-benar tak tahu bagaimana saya bisa menolong orang sakit jiwa.

Menurut Sigmund Freud, setiap orang punya unsur kegilaan dalam dirinya masing-masing. Mereka yang tak bisa mengalahkan kegilaannya sendiri itulah yang jadi seperti si perempuan tetangga saya itu. Wah, tentu saja dalam diri saya ada sisi negatif yang nyaris tak terkendali. Tiba-tiba saya merasa kesal karena tak pernah ada yang mengajari saya bagaimana cara menghadapi orang gila. Siapa tahu suatu saat saya harus berhadapan dengan orang gila terdekat yang lain, yaitu diri saya sendiri.





Stories inside my head

Share this blog