Friday, July 5, 2013

UTANG

Kemarin, tidak sampai setengah jam saya berkunjung ke Taman Baca Kampung Buku di Cibubur. Tapi Anda pasti setuju, ada momen-momen singkat - yang kita kira tak akan terhitung- dalam hidup yang bisa membuat kita berpikir banyak. Kunjungan kemarin salah satunya.

Punya taman baca adalah satu dari beberapa cita-cita saya yang sebenarnya tidak banyak. Dan punya taman baca, barangkali, adalah satu-satunya cita-cita yang (seharusnya) sangat realistis, terukur, dan jelas tujuannya. Tapi belum juga saya lakukan karena terlalu banyak alasan. Excuse. Dalih. 

Setiap kali bertemu dengan pendiri /pengelola taman baca - mereka tidak tahu -  bahwa saya selalu merasa kerdil. Menyadari bahwa mereka, dengan semua keterbatasan, sudah selangkah, bahkan seribu langkah di depan saya. 

Saya bilang ke seorang teman (yang sudah bersiap membuka taman baca di Sukabumi), bahwa saya merasa ijazah sarjana UI saya seketika serasa tidak berarti apa-apa begitu ketemu orang-orang yang sudah membuat perubahan untuk sekitarnya, salah satunya dengan mendirikan taman baca. Teman saya bilang, kampus kita tidak bertujuan mencetak agen perubahan. Bisa mapan dengan masuk ke perusahaan bergengsi saja sudah cukup. 

Tapi saya sih tetap bilang, sebelum bisa mewujudkan cita-cita saya yang satu ini, selamanya saya akan berutang. Pada orangtua saya yang sudah membiayai kuliah saya, pada negara, dan tentu saja pada diri saya sendiri.

Di Kampung Buku, kemarin, baru diresmikan bangunan bertingkat yang didirikan dengan bantuan Bank Mandiri. Foto TBA itu saat masih berupa saung dan tanah lapang sudah nyaris tak saya kenali. Apalagi TBA mereka saat sekitar tahun 2005 yang masih bernama TBA Kwartet. Bagus, tapi sudah tutup. Berpindah di atas tanah wakaf, jadi Kampung Buku. 

courtesy of www.kampungbuku.org

Entah bagaimana, pendirinya, Mas Edi @dimyaties menceritakan semua seakan-akan pekerjaannya itu (mengelola taman baca) adalah hal paling alami yang dapat ia lakukan. Tanpa ragu-ragu, tanpa kerumitan-kerumitan ala sarjana yang penuh kecermatan mengkalkulasi pendapatan (seperti saya).

Ibu beliau, yang aktif di sebuah pengajian, ikut membantu dengan mengajak teman-teman pengajiannya memberikan sembako hari raya untuk ibu-ibu di sekitar Kampung Buku. 

Saya berdecak kagum dan merekam semuanya dalam hati dan kepala (lalu ke blog ini).

Semoga saya bisa segera meluasi utang saya. 


Tuesday, April 30, 2013

CALL FOR VOLUNTEER!



OTBA 2008
Komunitas relawan 1001buku mengundang Anda ikut mewujudkan senyum di wajah anak-anak taman baca swadaya. 
 
Yuk jadi relawan sehari dalam Olimpiade Taman Bacaan Anak 2013 (OTBA) ! Sekitar 500 anak dari 50 taman baca se-Jabodetabek yang tergabung dalam jaringan 1001buku akan bermain dan berkompetisi bersama di ajang ini.

Siapa yang bisa bergabung menjadi relawan? Siapa pun yang bersedia dan peduli !

Jika Anda…

  • ·         Suka merencanakan acara (mulai dari pentas seni sampai arisan J ) , Anda bisa bergabung dengan tim Acara & Lomba.
  • ·         Senang berinteraksi bersama anak-anak, gabung deh sama tim LO untuk mendampingi anak-anak taman baca sepanjang hari.
  • ·         Punya jejaring luas? Yuk bantu di tim humas atau sponsor
  • ·         Cowok-cowok, seperti biasa, sangat diperlukan untuk menjadi tim logistik atau keamanan. 
  • ·         Lebih suka di belakang layar? Tim kesekretariatan atau registrasi butuh banyak anggota untuk mengurus kebutuhan ratusan anak
  • ·         Ga  begitu suka ngapa-ngapain tapi punya kendaraan & bersedia mengantar jemput bocah-bocah TBA ataupun keperluan OTBA, Anda bisa bergabung dengan tim transportasi.

 
OTBA 2011
Kapan acaranya?
23 Juni 2013 pk. 08.00 – 17.00 di Lapangan Ragunan, Jkt Selatan.
Daftar ke :
Tata 087880345715/
Akbar 085781135891 (untuk tim transportasi, logistik, keamanan)
Rini 081311158136 (humas & media relations)
Follow @1001buku, FB (group) OTBA2013 , www.1001buku.or.id

Lebih jelas, yuk bergabung dalam WORKSHOP RELAWAN
Minggu, 26 Mei 2013, Pk. 13. 00 – selesai
Universitas Paramadina,  Jl. Gatot Subroto Kav. 97. Mampang, Jakarta Selatan
CP : Rini 081311158136

Sekilas tentang 1001buku :
1001 Buku adalah jaringan relawan dan pengelola taman baca anak (TBA) yang menolak percaya pada statistik yang menyatakan bahwa minat baca anak Indonesia rendah. Menurut kami, yang terbatas bukan minat baca, melainkan akses sebagian  besar anak terhadap bahan-bahan bacaan berkualitas.
Berangkat dari keprihatinan tersebut,  sejak 2002, 1001 buku mengumpulkan bahan bacaan anak dari masyarakat, untuk didistribusikan ke taman-taman bacaan anak (TBA) independen non-profit yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
Tak hanya itu, 1001 buku membangun jejaring antar-TBA dengan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan rangkaian Olimpiade Taman Bacaan Anak (OTBA) yang tahun ini telah memasuki kali kelima.


Volunteers are not paid -- not because they are worthless,
but because they are priceless (Unknown)




Saturday, March 23, 2013

(Tak) Bolehlah Naik dengan Percuma


Orang yang naik kendaraan umum, baik karena pilihan maupun karena tidak ada pilihan, adalah orang-orang yang berkorban. Tepatnya mengorbankan kenyamanan pribadi dengan antrian dan berdesakan.  
Stasiun Tanah Abang, transit ke Sudirman

Dalam sebuah angkutan umum atau bus yang penuh sesak, orang-orang dari berbagai latar belakang ekonomi ini berkumpul. Penumpang yang tinggal di  sebuah townhouse, berbagi tempat duduk / berdiri bersama penghuni rumah petak.  Mereka membayar ongkos dengan jumlah yang sama, merasakan kepenatan yang sama, dan terjebak kemacetan yang sama.


DUA KELAS


Tidak seperti kendaraan umum lokal pada umumnya, yang tidak menerapkan armada berbeda berdasarkan sistem kelas dalam pelayanannya, sarana transportasi massal bernama kereta rel listrik (KRL) memilah penumpang menjadi kelas atas dan bawah. KRL ekonomi dan Commuter line AC. 

Commuter line, gerbong khusus wanita
Di satu sisi, sistem ini menguntungkan, karena orang bisa memilih kereta dengan tujuan sama sesuai kemampuan kantong, dengan konsekuensinya masing-masing.  Rp 8000 - 9000 dengan semilir AC (yang meski tak jarang ala kadarnya) dan pintu yang tertutup aman, atau  Rp 1500 – 2000 untuk kereta tanpa AC yang penuh pedagang asongan, pengamen, hingga pengemis jadi-jadian. Beberapa bulan terakhir saya bergabung bersama riuhnya penumpang kereta ekonomi karena kebetulan sesuai dengan jam berangkat ke kantor (dan sesuai kantong yang menipis). 

Namun, seperti dugaan, pelayanan untuk 2 kelas penumpang  yang dikelola di bawah satu persero yang sama, akhirnya akan saling sikut. Kelas ekonomi yang tidak mendatangkan keuntungan, bahkan justru dianggap membebani, cepat atau lambat, akan dilucuti.  Per 1 April 2013, KRL ekonomi relasi Tanah Abang-Serpong dan Bekasi-Jakarta Kota akan ditiadakan
. Sementara  relasi Jakarta Kota/Jatinegara-Bogor akan ditiadakan per Juli 2013. 

LEBIH MANUSIAWI

KRL Ekonomi tanpa AC, tapi bersih & cukup nyaman
Alasan agar lebih manusiawi digunakan sebagai latar belakang. KRL ekonomi dianggap tidak manusiawi dan sudah tidak layak jalan. Ironisnya, penumpang kelas ekonomi menginginkan kereta tanpa AC itu tetap ada, dengan alasan yang sama : kemanusiaan.
   
Dengan tiket pulang – pergi 2 x Rp 1500, ditambah lanjut bus atau angkutan umum, seorang penumpang KRL ekonomi menghabiskan ongkos minimal 140 ribu dari pendapatannya untuk transportasi selama 20 hari kerja. Jika mereka harus beralih ke Commuter Rp 8000, jumlah ini bisa jadi 3 kali lipat menjadi sekitar 400 ribu per-20 hari kerja. Bisa jadi jumlah itu adalah 1/3 pendapatan bagi sebagian penumpang.  

Perhitungan di atas tentu saja untuk penumpang yang tertib membeli karcis. Dalam hal ini, ketidakmanusiawian KRL ekonomi versi PT KAI mungkin bisa dibaca menjadi ketidaksanggupan petugasnya menertibkan penumpang kereta itu sendiri. Para penumpang tertib ini terselip di antara penumpang-penumpang lain yang mengaku tidak mampu beli tiket tapi sanggup beli rokok atau jajanan di atas kereta yang harganya lebih mahal.

Denda jika kedapatan tak ada tiket
PERPINDAHAN PENUMPANG

Jika peniadaan KRL ekonomi yang bisa mengangkut 12000 penumpang per hari ini sudah diberlakukan, kemungkinan ex-penumpangnya akan beralih ke 2 jenis KRL lain (jika tidak beralih memadati jalanan Jakarta). Di trayek Serpong – Tanah Abang, jalur yang saya tempuh tiap hari, sebagian akan beralih ke Commuter Line yang bertarif lebih mahal, sesuai harapan PT KAI. Penumpang di jalur ini, terutama yang berangkat dari Stasiun Rawa Buntu (BSD) & Pondok Ranji (Bintaro) memang ‘dituduh’ berkantong tebal. Meski tentu saja, tidak semua.

Sementara sebagian yang lain beralih ke kereta api lokal  trayek Pasarsenen/Jakartakota-Rangkasbitung, atau sering disebut langsam. Kereta ini, sepengetahuan saya, tidak/belum akan ditiadakan. Beberapa mengartikan langsam sebagai singkatan dari LANGsung SAMpai, sementara ada juga yang menyebut langsam sebagai kata dari bahasa Belanda (Langzaam) yang berarti pelan/lambat. Penumpang KRL ekonomi menyebut kereta ini sebagai odong-odong atau kereta kambing. 
Odong-odong

Saat menaiki kereta ini untuk pertama dan terakhir kalinya, saya ketakutan sampai berpegangan tangan dengan seorang teman yang juga sama-sama ketinggalan kereta sebelumnya. Berbeda dengan penumpang Commuter yang tiketnya diperiksa TIGA kali (sebelum masuk jalur kereta, di atas kereta, dan setelah turun dari kereta), dalam kereta langsam ini jarang terlihat petugas yang mengecek kepemilikan karcis penumpang yang memang terkadang berkelahi, bahkan berjudi dalam kereta itu. 

SATU TARIF


Jika petugas tidak bisa menertibkan penumpang secara fisik, mungkin uang bisa bertindak lebih garang. Tarif tunggal Rp 8000 yang akan diterapkan jelas menutup akses masyarakat dengan budget transportasi terbatas terhadap sarana angkutan massal ini.

Dengan sistem ini, tidak ada yang diuntungkan kecuali PT KAI. Jauh dekat, meski hanya untuk pergi ke satu stasiun berbeda pun, semua wajib membayar Rp 8000. Jika ingin transit, misalnya dari Serpong ke Bogor, penumpang harus membeli 1 karcis lagi di Tanah Abang. 
Inilah yang membedakan, sekaligus lebih memberatkan penumpang kereta, dibanding dengan sistem ticketing TransJakarta yang tak perlu membayar lagi untuk transit. Rp 8000 juga dinilai (saya nilai) terlalu mahal. Harga tengah antara Rp 1500 dan Rp 8000, mungkin akan lebih rasional (mengingat pelayanan Commuter pun sebenarnya belum layak diakses dengan harga tersebut). 

Yang paling menyedihkan dari silang sengkarut kereta ini adalah perbenturan kelas menengah dengan kelas bawah. Di kolom komentar dalam berita tentang keributan Sudirman , opini seakan terbelah menjadi 2 : yang mau dan mampu membayar tiket, dengan yang tidak mampu atau mampu tapi enggan membayar sejumlah yang ditetapkan. Hingga muncul komentar-komentar seperti, “Bayar sembilan ribu saja masa nggak bisa?”  
Kejadian Sudirman

Selain tidak bisa bayar, para penumpang kelas ekonomi juga terancam tidak bisa bersuara, atau minimal, suaranya tak didengar. Di Stasiun Rawa Buntu, di bawah pengumuman yang menginformasikan bahwa stasiun tersebut hanya akan melayani penumpang Commuter per -1 April, terpampang kutipan UU tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat :
UU No. 9 Tahun 1998 Pasal 9 :
 (2) Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilaksanakan ditempat-tempat terbuka untuk umum, kecuali: di lingkungan istana kepresidenan, tempat ibadah,instalasi militer, rumah sakit, pelabuhan udara atau laut, stasiun kereta api,terminal 
Pasal 10
(1) Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 wajib diberitahukan secara tertulis kepada Polri.


TERBARU (30 Agustus 2014)

Hingga detik ini saya masih belum bisa obyektif menilai kinerja PTKAI.
Meski semua orang mengapresiasi transformasi besar-besaran yang digagas Dirut PTKAI, Ignasius Jonan, tapi saya yang merasakan berdesakan di kereta tiap hari akibat keterlambatan, kealpaan, dan kerusakan commuter, masih merasa sulit untuk memuji. 
Well, tapi setidaknya, saya berterima kasih karena beberapa hal berikut:

- Kereta kini bukan lagi layanan berkelas (ekonomi & AC). Semua orang mengendarai sarana yang sama dengan kisaran harga sama yang sangat terjangkau: Rp 2000 dan seterusnya, sesuai jauh dekat lokasi tujuan. 
Namun sayangnya, keterjangkauan ini membuat saya sekaligus jadi kesal setiap kali mendengar Bapak Jonan berkata, "Ibu dari Serpong ke Sudirman bayar berapa? 2500 kan? Selamat saja sudah untung." 
Logis. Tapi seharusnya jawabannya tidak demikian. 
Namun barangkali ya kondisi ini adalah landasan yang paling diperlukan saat ini untuk bergerak lebih baik. 

- Bangunan fisik beberapa stasiun yang makin baik. Meski saya masih menyayangkan penggusuran PKL yang berjualan di dalam dan sekitarnya, untuk kemudian posisinya digantikan Alfamart atau Seven Eleven. Beberapa barangkali merasa senang karena katanya stasiun tak lagi kumuh. Tapi saya tetap berharap para PKL mendapat tempat berjualan di sekitar area. 

- Setidaknya sekarang pembayaran dapat dilakukan dengan Kartu Commet. Lebih terorganisir dan hemat kertas. 

Yah, setidaknya saya cukup senang dengan beberapa pembaharuan di atas :). 



foto : Lucia Priandarini

Friday, February 8, 2013

Revolusi itu Menciptakan!

Hadiah ulang tahun sempurna untuk jiwa militan di sarang kosmopolitan seperti saya (ngaku2) : Sebuah agenda buatan tangan dari  +Tarlen Handayani  , dengan petikan pekikan Tan Malaka dari Aksi Masa 1926 : Revolusi itu Menciptakan! 



 Mengingatkan saya akan cita2 yang tertunda untuk bikin kaos edisi tokoh Indonesia. Dan juga pengirimnya, Mbak Tarlen, selalu jadi pengingat bagi saya bahwa tiap orang bisa berkarya secara mandiri. Tidak selalu perlu nama sebuah institusi besar (tempat kita bekerja) untuk jadi besar :). Dan ada hal2 'aneh' yang sah-sah saja - bahkan keren- dilakukan, seperti kursus bookbinding sampai ke Amerika. hehe. 

Mengharap restu semesta untuk kembali rutin mencipta :)

Tautan ke blog Tarlen : http://designbyvitarlenology.blogspot.com/

Guts!

Membesarkan anak adalah sebuah napak tilas dari perjalanan kita sendiri sebagai seorang manusia. Setiap momen baru yang ia jalani untuk pertama kali, membuat kita sendiri sejenak menoleh ke belakang, ke masa saat kita menapakinya juga untuk pertama kali. Saat ia mulai belajar berjalan, kita akan bertanya pada ibu kita, umur berapa kita dulu bisa jalan? Terjatuh kah? Atau jangan-jangan langsung lari?

Begitu juga sekarang. Saat tiba anak saya berpindah dari rumah berisi orang-orang yang hampir selalu memanjakannya, ke tempat lain, bersama teman-teman sebayanya : daycare. Di hari ketiga, sejak pagi ia sudah berkata, “Nggak mau sekolah! Sakit perut!” Persis seperti yang saya katakan 24 tahun lalu, saat mengambil ancang-ancang tak mau meninggalkan rumah dengan pengasuh yang selalu menuruti kata saya. 


Sambil menatap matanya, saya berkata bahwa ia sudah besar. Bahwa di sana banyak teman. Saya mendengar suara saya berkata padanya, “Bima harus berani.” Tapi sedetik kemudian sadar bahwa kata-kata itu lebih saya tujukan ke diri saya sendiri. Saya menantang diri saya untuk kembali menelusuri rasa bersalah karena tidak selalu ada bersama anak saya, sedih, takut, iba, marah karena situasi tidak sesempurna yang saya bayangkan. Saya serng melarikan diri dari semua perasaan itu. Terlebih, sebenarnya saya yang masih khawatir setelah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasa pengasuh dan asisten rumah tangga. It's just the 3 of us now.


Ia menangis saat saya melambaikan tangan padanya, seraya saya melangkahkan kaki berangkat bekerja. Dengan tangis kencang dan tatapan yang baru sekali itu saya lihat, dan selamanya tidak akan terlupakan, ia berteriak, “Bundaaa, ikut!” Pengajar di daycarenya disiplin, persis seperti guru TK yang saya benci dulu. Ia menahan saya saat berusaha mengejar ibu saya, persis seperti pengajar daycare menahan anak saya berlari untuk mengikuti saya. Sementara saya menahan diri untuk tidak berlari mengambil anak saya kembali. 


Untuk kesekian kalinya, sejak anak saya lahir, saya berbisik pada diri sendiri, Mom, now I know how you feel. 


Suami saya menyuruh saya untuk pergi tanpa sepengetahuan Bima. Agar ia tidak menangis. Sementara si guru mengingatkan kami untuk tidak pergi diam-diam. Dengan kata lain,  ia ingin bilang bahwa kami harus menghadapi momen ini. Kami harus berani melihatnya menangis. Kami harus berani melangkah pergi. 


Kadang, lebih dari si anak, orang tua juga butuh keberanian untuk membiarkan si anak tumbuh menjadi manusia, dan mengambil langkah pertama membuat jalannya sendiri.

PS : mungkin saya akan lebih ceroboh dari sekarang jika dulu tidak dididik super disiplin ala guru-guru sekolah swasta Katolik :).

Stories inside my head

Share this blog