Friday, February 8, 2013

Guts!

Membesarkan anak adalah sebuah napak tilas dari perjalanan kita sendiri sebagai seorang manusia. Setiap momen baru yang ia jalani untuk pertama kali, membuat kita sendiri sejenak menoleh ke belakang, ke masa saat kita menapakinya juga untuk pertama kali. Saat ia mulai belajar berjalan, kita akan bertanya pada ibu kita, umur berapa kita dulu bisa jalan? Terjatuh kah? Atau jangan-jangan langsung lari?

Begitu juga sekarang. Saat tiba anak saya berpindah dari rumah berisi orang-orang yang hampir selalu memanjakannya, ke tempat lain, bersama teman-teman sebayanya : daycare. Di hari ketiga, sejak pagi ia sudah berkata, “Nggak mau sekolah! Sakit perut!” Persis seperti yang saya katakan 24 tahun lalu, saat mengambil ancang-ancang tak mau meninggalkan rumah dengan pengasuh yang selalu menuruti kata saya. 


Sambil menatap matanya, saya berkata bahwa ia sudah besar. Bahwa di sana banyak teman. Saya mendengar suara saya berkata padanya, “Bima harus berani.” Tapi sedetik kemudian sadar bahwa kata-kata itu lebih saya tujukan ke diri saya sendiri. Saya menantang diri saya untuk kembali menelusuri rasa bersalah karena tidak selalu ada bersama anak saya, sedih, takut, iba, marah karena situasi tidak sesempurna yang saya bayangkan. Saya serng melarikan diri dari semua perasaan itu. Terlebih, sebenarnya saya yang masih khawatir setelah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasa pengasuh dan asisten rumah tangga. It's just the 3 of us now.


Ia menangis saat saya melambaikan tangan padanya, seraya saya melangkahkan kaki berangkat bekerja. Dengan tangis kencang dan tatapan yang baru sekali itu saya lihat, dan selamanya tidak akan terlupakan, ia berteriak, “Bundaaa, ikut!” Pengajar di daycarenya disiplin, persis seperti guru TK yang saya benci dulu. Ia menahan saya saat berusaha mengejar ibu saya, persis seperti pengajar daycare menahan anak saya berlari untuk mengikuti saya. Sementara saya menahan diri untuk tidak berlari mengambil anak saya kembali. 


Untuk kesekian kalinya, sejak anak saya lahir, saya berbisik pada diri sendiri, Mom, now I know how you feel. 


Suami saya menyuruh saya untuk pergi tanpa sepengetahuan Bima. Agar ia tidak menangis. Sementara si guru mengingatkan kami untuk tidak pergi diam-diam. Dengan kata lain,  ia ingin bilang bahwa kami harus menghadapi momen ini. Kami harus berani melihatnya menangis. Kami harus berani melangkah pergi. 


Kadang, lebih dari si anak, orang tua juga butuh keberanian untuk membiarkan si anak tumbuh menjadi manusia, dan mengambil langkah pertama membuat jalannya sendiri.

PS : mungkin saya akan lebih ceroboh dari sekarang jika dulu tidak dididik super disiplin ala guru-guru sekolah swasta Katolik :).

3 comments:

Yustine Pramudhito said...

hidup sekolah katolik! hehe..
tulisanmu yang ini, berbeda sekali :)

Desi Puspitasari said...

benar. aku dulu TK dan SD di sekolah swasta Katolik. saat sudah besar, hasil didikan super disiplinnya berasa sekali manfaatnya. hore!

Budiono Tri said...

Rumah kotor karena mainan berantakan ibu bapak ngomel.. saya mengerti sekarang bagaimana perasaan ortu dulu. Hehehe

Share this blog