Wednesday, September 30, 2009

I Really Got a Cash-Back from My Insurance ^^



Ini bukan iklan. Dan saya juga bukan agen asuransi, cuma nasabah. Tapi karena saya baru saja benar-benar merasakan manfaat punya asuransi, jadi saya ingin berbagi.

Banyak orang enggan berasuransi karena berbagai alasan : malas keluar uang per bulan untuk premi, takut tertipu karena agen melarikan uang, khawatir dana tidak cair, klaim yang lambat diproses, atau juga karena hanya kurang informasi.
Padahal justru peran utama sebuah asuransi (yang baik) adalah : proteksi.

Sebulan lalu saya dirawat & dioperasi di rumah sakit (please allow me not to mention the sickness). Yang membuat stress adalah jumlah biayanya yang lebih besar dari biaya operasi caesar. Hehe.
Setelah keluar dari RS, saya minta bantuan agen saya untuk mengklaim biaya tersebut ke asuransi yang saya ikuti. Nggak berharap banyak sih. Karena yang saya dengar proses klaim seperti ini lama & berbelit. Kalaupun dananya nggak cair, saya sudah merelakan.

Kurang dari sebulan, saya diberitahu bahwa klaim saya diterima :-). Dua-tiga hari kemudian (yaitu kemarin) saya cek saldo rekening saya dan ternyata dana sudah masuk ^^. Biaya pengobatan saya dicover penuh, persis sejumlah yang tertera di kuitansi RS : biaya operasi, rawat inap, obat-obat, bahkan biaya periksa ke dokter. Bukan 50%, atau hanya bagian tertentu.
Alhamdulillah ^^

Saya tidak mengatakan bahwa setiap orang yang dirawat di RS, punya asuransi & mengajukan klaim pasti akan dapat hasil yang sama. Tergantung banyak hal : jenis penyakit, kelengkapan dokumen, jenis asuransi yang dipilih, lama menjadi nasabah, dan entah apa lagi.

Saya sendiri baru setahun lebih sedikit menjadi nasabah, dan memilih menyetor premi bulanan yang nominalnya paling minim.hehe. Dan karena saya tidak bekerja kantoran (jadi tidak ada yang mengcover biaya pengobatan jika saya sakit), saya memilih asuransi jenis full proteksi yang mengcover seluruh biaya di atas.
Kalaupun tidak pernah dirawat inap, 10-15 tahun yang akan datang, saya tetap akan mendapatkan kembali dana yang sudah saya setor (+hasil investasinya, meski mungkin tidak begitu besar).

Jadi…teman-teman, cari informasi & jangan ragu berasuransi ^^

NB : Saya menggunakan asuransi Prudential. Postingan ini saya buat karena saya tahu bahwa reputasi & pemenuhan janji (terutama berhubungan dengan uang) adalah sesuatu yang kadang tidak mudah ditepati/dijaga. So it’s my testimonial & gratitude to the insurance, the staff & of course my agent. Thankyou ^^

Sunday, August 30, 2009

THANX TO D'MASIV ! I BELIEVE THAT IT'S NOT A SILLY MARKET


Saya tidak percaya dan tidak akan pernah percaya jika ada musisi & produser yang mensponsori dan hanya mau memproduksi lagu-lagu cinta-selingkuh-dan-patah-hati-mendayu-dayu&membuat-putus-asa karena dan hanya atas nama pasar (juga pada produser, sutradara, pemain, penulis skrip, dan semua kru sinetron & film layar lebar yang isinya hanya mistis, seks & kekerasan).
Kebohongan besar jika mereka bilang, "Gimana lagi...pasar maunya lagu/film kayak gitu..."
Lagu "Jangan Menyerah" menduduki peringkat pertama perolehan RBT di salah satu provider selama beberapa pekan (pola ini juga terjadi pada film-film seperti "Laskar Pelangi").
Lagu dan film-film semacam ini tidak akan didengar dan ditonton tanpa dimaknai.

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Back to: Reff 1

Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Bridge:
Jangan menyerah (6x)

Back to: Reff 1 & Reff 2

Coda:
Dan tak kenal putus asa (2x)



Notes : lagu ini diakui tercipta hanya tiga menit, setelah Rian pulang dari menghibur anak-anak penderita kanker dalam acara amal bersama Yayasan Dharmais.

Monday, May 18, 2009

Kenapa Shalat?

Akhir-akhir ini saya sering tidak khusyuk beribadah.
Lupa sudah rakaat berapa. Yang saya pikirkan hanya “habis ini makan apa ya,”atau”wah,tadi lupa cari data X.”
Saya kehilangan ketakjuban yang saya rasakan saat melakukan sujud untuk pertama kali.

Dalam Lentera Al-Quran, Quraish Shihab mengidentifikasi 3 tipe motivasi orang beribadah.
Tipe pertama : seseorang beribadah dan ber”sengsara”di dunia karena berharap untuk kemudian ditukar dengan kebahagiaan di akhirat.
Filsuf Ibnu Sina mengistilahkan tipe ini sebagai sikap “pedagang.”
Tipe kedua : sikap “budak” atau “buruh.”
Orang beribadah semata-mata karena dorongan takut siksa neraka.
Tipe ketiga adalah seorang “arif,” yaitu yang menyadari betapa besar anugerah Tuhan untuknya. Kesadaran ini mendorongnya untuk beribadah bukan sebagai”balas jasa,”
bukan karena mengharap imbalan surgawi, juga bukan karena takut neraka.
Dari kesadaran akan kebijaksanaan Tuhan, ia yakin di mana pun ia ditempatkan nanti, penempatan itu pasti yang terbaik.
Apalagi si arif tahu bahwa bukan Sang Maha Kaya yang membutuhkan, tapi dia sendiri yang akan memperoleh manfaat ibadah yang dilakukannya.

Jika tidak tergolong ke tipe manapun, maka kata Pak Quraish, mungkin perlu ditambahkan tipe keempat.
Bukan si arif yang ikhlas, bukan pedagang yang berharap, juga bukan budak yang takut, tapi bagaikan ROBOT yang tidak mengerti esensi dan tujuan ibadah yang dilakukannya.
Ia bekerja sesuai dengan apa yang diprogramkan.
Tidak heran jika melakukan shalat, maka yang ia ingat adalah
bisnis, kebutuhan, dan kesenangan dunia.

Hmmpf…pukulan telak.

Friday, May 8, 2009

AMNESIA ANGKA

“Ke mana Rin?”
“Ke bank…ngurus ATM,” jawab saya tak bersemangat.
“Ngapain?”
“Ke-blokir… Lupa PIN…” kata saya lirih. Berharap tak didengar.
“Hah?! Lagi? Hahahahaha…” Si penanya menertawakan saya sampai puas.
Saya cemberut.
Dalam setahun sudah 4 kali saya mengalami hal yang sama :
lupa nomor PIN.
Sungguh bodoh tak terperi.

Tampak agak keren memang diwakili dengan sederetan angka sehingga punya akses ini itu dan teridentifikasi sebagai manusia urban. Tapi bagi orang pelupa kronis seperti saya, ini sungguh merupakan tantangan berat.
Semakin hari semakin banyak saja kode dan nomor yang harus dimiliki dan (kadang harus) dihapal. Bermula dari nomor KTP di usia 17, lalu nomor HP, NPM, No.SIM, kemudian nomor rekening, dilanjutkan User ID, nomor PIN, nomor password, nomor polis asuransi. Belum lagi punya orang serumah : nomor speedy, no pelanggan tv kabel, dan tentu saja nomor rekening listrik, air, telepon.

“Silakan Mbak, pilih nomor PIN 6 digit. Jangan tanggal lahir. Kalau bisa dibedakan dari PIN ATM,” kata si mbak costumer service saat saya apply SMS banking. Saya mengangguk-angguk sambil berpikir keras kombinasi angka apa (lagi) yang akan saya gunakan.
“Lalu semua PIN jangan disimpan di HP atau di dompet,” katanya lagi.
Anjuran terakhir ini memang sangat baik,
but not good enough untuk orang seperti saya.

Akan ada saat saya ke ATM hanya berbekal dompet dan HP.
Lalu entah kenapa saya tiba-tiba bisa betul-betul lupa berapa kombinasi
angka PIN saya.
Tak rela perjalanan ke ATM sia-sia, dengan kreatif (atau bodoh?) saya
mencoba memasukkan beberapa angka.
Setelah kali ketiga saya baru sadar saya telah memasukkan angka PIN
fasilitas lain.

Alhasil… terblokir.

Seorang manager on duty yang ternyata memperhatikan saya dari jarak 1,5 meter di belakang, menghampiri dan memandang saya dengan tatapan kasihan, lalu berkata, “Silakan ke costumer service, Mbak…”

Wednesday, April 22, 2009

Generasi SUPERmarket

Para pedagang pasar tradisional di kota kecil saya, Malang, tidak begitu khawatir saat sebuah hipermarket modern pertama berdiri. Orang-orang seperti ibu saya hingga sekarang tetap setia berbelanja di pasar tradisional. Padahal pasar tradisional terdekat berjarak satu kali naik angkutan umum, sedangkan hipermarket baru itu bahkan bisa dicapai dengan jalan kaki dari rumah saya.
Betapapun saya menyebut hipermarket sebagai one stop place untuk belanja hampir semua barang, ibu saya selalu mencibir setiap saya mengajak beliau ke sana. Ibu saya selalu menemukan alasan untuk tidak pergi ke sana, seperti : sayur dan buahnya penuh pestisida, bangunan mall-nya berdiri di atas lahan sengketa, takut naik escalator, sampai berita di televisi tentang hipermarket yang ceroboh menjual produk yang sudah kadaluarsa.
Well…meski bukan ketua asosiasi pedagang pasar seperti Prabowo, tentu saja saya juga tidak setuju jika perputaran uang dikuasai pemilik hipermarket-hipermarket saja dan meminggirkan pedagang tradisional (ngomong-ngomong keluarganya Prabowo belanja di pasar tradisional juga gak ya?).
Tapi sayangnya saya sendiri tak bisa memungkiri bahwa saya lebih memilih untuk berbelanja di supermarket dibanding di pasar tradisional. Bukan karena supermarket itu full AC, sedangkan pasar tidak. Bukan juga karena harga atau jaraknya yang dekat dari rumah. Tapi karena beberapa alasan konyol berikut :
- Saya tidak pintar berbahasa jawa selain ngoko (tingkat paling kasar). Karena itu pasar tradisional yang mengharuskan saya menawar harga dan berinteraksi dengan pedagang dalam bahasa sedikit lebih sopan, jelas membuat saya kikuk. Lagipula, saya tak tahu berapa harga yang “pantas” untuk setiap bahan makanan. Pun saya bukan tipe orang yang pandai menawar.
Jadi karena alasan di atas, saya memilih belanja “dalam diam” di super/hipermarket. Tinggal mengambil barang, melihat harga dan memilih mana yang murah, bayar ke kasir. Toh mbak-mbak pramuniaga cantik itu juga pasti akan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan costumernya.
- Selain itu, kadang saya bahkan tak tahu bentuk sebuah bahan makanan seperti sayur atau bumbu dapur tertentu (hahaha). Atau sebaliknya, saya tahu bentuknya, tapi tak tahu namanya. Saya pernah berbelanja di pasar tradisional seorang diri dengan hanya menunjuk bahan yang saya maksud. “Beli ini, beli itu” kata saya. Merasa konyol. Uh…saya tak mau mengulanginya lagi.
Maka belanja di hipermarket memungkinkan saya untuk mengambil apapun yang saya mau, sekaligus belajar mengenali nama-nama sayuran seperti “timun suri” atau “kecipir,” lewat tulisan yang tertera.

Dasar anak jaman sekarang…:-D

Saturday, January 10, 2009

A Blessing or A Superstition?

Sebuah pesan masuk ke telepon genggamku :
“Tuhan memberkati dan melindungi engkau. Tuhan menyinari engkau dengan sinar wajah-Nya, dan memberi engkau kasih karunia.Tuhan mengarahkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Sebarkan ke 16 orang lain. Jangan sampai terputus, maka berkat akan melimpahimu secara tiba-tiba. Jika tidak, maka siap-siap ditimpa kemalangan beruntun.
Pesan serupa sering masuk ke dalam inbox e-mail dan Friendster. Pesannya sih baik-baik saja. Tapi tuntutan untuk mengirimkannya pada 16 orang lain membuat keningku berkerut... Kok jadi seperti teror ya? Dari mana pula muncul angka 16?
Aku menunjukkan SMS itu ke seorang temanku yang kebetulan sedang duduk di sebelahku, “Biasanya SMS seperti ini kau apakan?”
“Aku kirim. Sesuai perintahnya,” jawabnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kenapa? Ya karena di situ ditulis begitu,” katanya.
“Maksudmu tertulis bahwa harus dikirim, supaya dapat berkat?” tanyaku lagi.
Ia mengangguk.
“Maksudmu kamu percaya jika aku tidak mengirimnya, aku akan celaka?”
Ia mengangguk lagi.
Aku menatapnya heran. Temanku ini tak menyadari kebingunganku.
Jika SMS ini diteruskan dengan semangat ingin membagi berkat, tentu akan kulakukan. Jika angka 16 dimaknai sebagai “sebanyak-banyaknya,” maka aku akan mengirimkannya ke setidaknya beberapa orang yang kukenal. Tidak 16, simply karena aku tak punya banyak pulsa.
Tapi kini aku tak yakin mengapa aku harus mengirimkannya. Yang pasti TIDAK untuk dapat berkat atau takut celaka.
“Jadi? Sudah kamu kirim SMSnya?” tanya temanku, lima menit kemudian.
“Enggak. Aku hapus,” ujarku.
Ganti dia yang menatapku keheranan. Seakan-akan ia khawatir kalau-kalau dalam beberapa detik lagi aku akan kena tulah akibat tak menuruti perintah dalam SMS tadi.
“Kenapa nggak disebarkan aja? Nggak ada ruginya kan? Kalau bener-bener celaka gimana? Kalau dapat berkat ya malah untung kan,” katanya.
Aku mengedikkan bahu. “Semua hal yang akan terjadi padaku, entah itu berkat atau musibah, sama sekali tidak bergantung pada sebuah SMS.”

***

Stories inside my head

Share this blog