Saturday, January 10, 2009

A Blessing or A Superstition?

Sebuah pesan masuk ke telepon genggamku :
“Tuhan memberkati dan melindungi engkau. Tuhan menyinari engkau dengan sinar wajah-Nya, dan memberi engkau kasih karunia.Tuhan mengarahkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Sebarkan ke 16 orang lain. Jangan sampai terputus, maka berkat akan melimpahimu secara tiba-tiba. Jika tidak, maka siap-siap ditimpa kemalangan beruntun.
Pesan serupa sering masuk ke dalam inbox e-mail dan Friendster. Pesannya sih baik-baik saja. Tapi tuntutan untuk mengirimkannya pada 16 orang lain membuat keningku berkerut... Kok jadi seperti teror ya? Dari mana pula muncul angka 16?
Aku menunjukkan SMS itu ke seorang temanku yang kebetulan sedang duduk di sebelahku, “Biasanya SMS seperti ini kau apakan?”
“Aku kirim. Sesuai perintahnya,” jawabnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kenapa? Ya karena di situ ditulis begitu,” katanya.
“Maksudmu tertulis bahwa harus dikirim, supaya dapat berkat?” tanyaku lagi.
Ia mengangguk.
“Maksudmu kamu percaya jika aku tidak mengirimnya, aku akan celaka?”
Ia mengangguk lagi.
Aku menatapnya heran. Temanku ini tak menyadari kebingunganku.
Jika SMS ini diteruskan dengan semangat ingin membagi berkat, tentu akan kulakukan. Jika angka 16 dimaknai sebagai “sebanyak-banyaknya,” maka aku akan mengirimkannya ke setidaknya beberapa orang yang kukenal. Tidak 16, simply karena aku tak punya banyak pulsa.
Tapi kini aku tak yakin mengapa aku harus mengirimkannya. Yang pasti TIDAK untuk dapat berkat atau takut celaka.
“Jadi? Sudah kamu kirim SMSnya?” tanya temanku, lima menit kemudian.
“Enggak. Aku hapus,” ujarku.
Ganti dia yang menatapku keheranan. Seakan-akan ia khawatir kalau-kalau dalam beberapa detik lagi aku akan kena tulah akibat tak menuruti perintah dalam SMS tadi.
“Kenapa nggak disebarkan aja? Nggak ada ruginya kan? Kalau bener-bener celaka gimana? Kalau dapat berkat ya malah untung kan,” katanya.
Aku mengedikkan bahu. “Semua hal yang akan terjadi padaku, entah itu berkat atau musibah, sama sekali tidak bergantung pada sebuah SMS.”

***

2 comments:

Ahmad Subhan said...

Aku juga berapa kali dapat sms yg kayak gitu. Selalu bikin dilema sebentar. Biasanya, sms kayak gitu aku simpen aja, kpikiran juga pingin kukoleksi. Karena aku suka mengoleksi hal-hal yg unik, kayak pamplet2 surat berantai, selebaran demonstrasi, dll. Lumayan menghibur kalo dibaca-baca pas aku sedang bongkar2 koleksi-koleksi anehku..hehe

Tapi kalo sms, bisa bikin inbox penuh. Jadi suatu saat pasti kuhapus.

iwan firman widiyanto said...

Kalo aku yang dapat langsung tanpa pikir panjang di delete, s he...he...he...
Sori ya lum sempet jawab pertanyaan-pertanyaanmu.GBU

Share this blog