Thursday, December 8, 2011

MOTHER MATTERS WAR

It’s a war. Perang opini antara ibu yang memilih bekerja kantoran dengan yang bekerja di rumah (yang  sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga dan atau sambil menghasilkan uang dari rumah) seakan tidak pernah selesai. Masing-masing merasa lebih baik.
Bagi saya, perang itu memang benar-benar terjadi. Tapi bukan antara para ibu. Melainkan di dalam diri sendiri. 

Jika kita sudah memilih berkarier sepenuhnya sebagai ibu rumah tangga, dan masih merasa “terganggu” dengan stempel miring orang lain tentang kita, mungkin memang kita sendiri yang belum mantap mengambil jalan ini. Sebaliknya, jika kita sudah memilih jalan pulang pergi kantor setiap hari, dan masih merasa “terintimidasi” melihat ibu-ibu yang bisa menunggui anaknya sekolah, mungkin kita juga masih setengah hati menjalani keputusan itu. 

Saya? Saya menerima dan memilih tetap merasa “terganggu.” Saat berdesakan dalam kereta menuju kantor, saya masih dan terus berpikir “Someday I have to end this.” Saat melihat ibu-ibu yang dengan setia mengantar jemput anak mereka sekolah, saya berangan-angan ada di posisi mereka. Saya juga iri saat melihat ibu-ibu yang ngobrol di sore hari sambil menyiram tanaman atau mengajak anak jalan-jalan. Jelas itu sebuah kemewahan.

Tapi saya juga bangga menjadi diri saya yang sekarang. Bagi saya, bekerja kantoran membuat saya merasa menjadi orang yang lebih baik.  Memiliki ruang selain ruang domestik membuat saya merasa bermanfaat bagi banyak orang selain orang-orang di rumah. Apalagi saya bekerja untuk majalah perempuan. Saya merasa bisa “bicara” pada ribuan perempuan lewat setiap tulisan saya. 

Meski begitu, saya mengakui, ini bukan 100% hidup yang saya impikan. Mimpi saya adalah bekerja sebagai penulis lepas dari rumah. Tapi kemudian terjun bebas menjadi pekerja kantoran setelah menyadari salah satu kenyataan bahwa penghasilan freelance saya tidak bisa dihitung sebagai pendapatan untuk join income kredit rumah. Dan saya (ternyata) agak kesulitan menulis dengan keberadaan seorang bayi di rumah. Sesederhana, tapi juga serumit itu. Sekonyol, tapi juga segamblang itu. 

Saat saya dan suami berjalan keliling kompleks sambil menggendong anak, para tetangga memanggil-manggil nama anak saya,“Bima!” Hampir pasti mereka tak tahu nama orangtuanya. Saat berkunjung ke rumah-rumah tetangga di hari Lebaran, orang-orang berkata, “Oo, ini to mamanya Bima. Sibuk ya? Nggak pernah kelihatan. Saya cuma tahu babysitternya.” Ini jelas bukan hal yang membanggakan. Bahkan, yah… menyedihkan. 

Sebelum menikah (dan punya anak), saya juga berikrar untuk tidak menggunakan jasa babysitter. Sampai saat ini, saya masih merasa “ini bukan saya yang sebenar-benarnya” saat orang bertanya “Anaknya sama siapa di rumah?” dan saya menjawab “Sama babysitter” sambil tersenyum manis. Biasanya saya menambahkan kalimat “Yah, tipikal ibu-ibu metropolitan lah.” Itu kalimat yang sengaja saya buat untuk menghentikan keluarnya komentar negatif, atau sebaliknya, mengukuhkan stereotip “ibu-ibu kejam yang hanya mementingkan karir di atas anak.” Saya tidak begitu ambil pusing.


Meski masih merasakan “perang” dalam diri, saya cukup senang. Dengan semua cibiran, iri, prasangka, kagum. Dengan perasaan bersalah pada anak yang silih berganti dengan rasa lega karena bisa berkontribusi terhadap kebutuhan materi keluarga. Memang begini adanya. Kadang saya merasa tak harus memenangkan perang apapun. 
Life is a personal journey rather than a race

Wednesday, November 23, 2011

Someone Else's Father

Dalam perjalanan menuju stasiun, pengemudi ojek itu mengangkat telepon genggamnya yang berdering.
“Halo? Iya, Nak. Bapak masih nganter penumpang nih.”
Jeda. Saya memandangi tato di tangannya.
“Iya, sebentar lagi bapak pulang. Adik mau dibawakan apa?”
Saya tertegun. 


Sering saya memandang tukang ojek (atau sebagian besar orang) sebagai sosok yang menawarkan jasa mengantar orang ke sebuah tempat. That’s it.
Kadang mereka menyebut nominal tak masuk akal sebagai tarif yang dikenakan.
Foto : http://antossip.files.wordpress.com/
Tugas saya, pengguna jasa, adalah mengembalikan mereka ke bumi dengan menawar harga serendah mungkin.
Kadang saya yang menyerah, kali lain mereka yang pasrah. 

Saya sering lupa bahwa seorang pengemudi ojek (atau orang berprofesi apapun) bisa jadi adalah ayah dari seorang anak yang sedang sakit, suami dari seorang istri yang mungkin besok akan melahirkan, atau anak dari seorang bapak yang di-PHK. Kadang tidak begitu perlu menawar harga tarif membabi buta.
Toh kita tak pernah minta kembalian pada pengemis jadi-jadian…yang tidak mencoba menawarkan jasa.

Sunday, October 23, 2011

Merentang Wayang

Beberapa dalang dan perupa wayang menaikkan alisnya saat satu persatu anggota komunitas cosplay naik ke panggung. Ceritanya, di acara bertema wayang ini, anak-anak yang biasa mengenakan kostum superhero ala Jepang ini akan membawakan kostum wayang. Namun, dengan warna kostum biru, putih, merah, dan gerak langkah diiringi musik rock, kesan “pandawa lima” yang ingin mereka tampilkan agak tidak tampak. 



“Ini apa sih?” tanya Mas Jaya, seorang kenalan dalang yang datang dari Solo untuk membawakan wayang kampung. “Kok ora cocok blas,” katanya, menggelengkan kepala. Persis seperti saat ayah saya mengomentari usaha saya berbahasa Jawa halus. Sebaliknya, beberapa anak kecil yang duduk lesehan di depan saya menampakkan raut wajah antusias.

Seorang perupa wayang purwa langsung mengambil kesempatan saat pembawa acara mempersilakan penonton berkomentar. Dengan lantang tapi tetap santun, ia “mengoreksi” bagaimana seharusnya pandawa lima diinterpretasikan. Saya, yang merasa segenerasi dengan peserta cosplay, merasa pasrah. Setiap dijajarkan, saya tidak pernah tahu yang mana Bima, Nakula, Sadewa.

Maka, bagi saya, acara seperti ini serupa penelusuran DNA. Pengumpulan serpihan dan tapak-tapak para pencipta peradaban. Sebuah usaha menggabungkan detail yang membuat saya merasa layak disebut sebagai orang Jawa. Dan saya yakin saya tidak sendiri.

Namun, sayangnya, acara ini tidak terkoordinasi dengan baik. Agenda acara seputar dunia pewayangan yang diadakan selama tiga hari (Kamis – Sabtu) ini (seharusnya) padat, seperti lomba dalang remaja, lomba cosplay, pertunjukan aneka wayang : wayang kulit, wayang orang, wayang suket, dsb. Bersamaan dengan itu, digelar kongres Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Melihat situs internet, susunan acara, dan publikasinya, saya kira ini akan jadi acara besar.

Tapi kenyataannya…sepi. Yang datang hanya berjalan-jalan berkeliling sebentar, lalu pulang. (Well, kalau saya datang bukan untuk liputan mungkin saya akan berbuat sama). 

 “Lomba desain kostum wayangnya kami batalkan, Mbak! Nggak ada peserta,” kata panitia berkemeja batik itu. “Hah?!” cuma potongan kata itu yang menjadi respon terbaik saya. Tapi pikiran saya riuh oleh suara-suara. Setelah menghakimi pilihan si mas panitia yang mengenakan batik palsu (sebutan saya untuk batik bukan tulis dan cap), saya mencari-cari kemungkinan kesalahan lain. Memangnya brosur acara ini tidak ditempel di sekolah mode macam Esmod atau ke SMK-SMK yang punya jurusan tata busana? Rancang busana kostum wayang itu kegiatan super langka. Seandainya saya calon desainer, kemungkinan besar saya tidak akan melewatkannya. 

Saya (seperti biasa tidak ahli menahan lidah) : “Format publikasi sebagus ini, media partner sebanyak ini, sponsor-sponsor sebesar ini…?” Saya memelototi flyer yang baru saja diberikan.
Si Mas : “Ya media parternya aja yang banyak…”
Saya : (Tidak memahami kalimat di atas) Media yang sudah meliput mana saja?
Si Mbak (panitia lain yang sepertinya in-charge media relation) : MetroTV, Bisnis Indonesia,…
Saya : … (mungkin mereka juga pulang dengan bertanya-tanya seperti saya ya)

Sebagai gantinya, mas panitia menyarankan saya meliput lomba dalang remaja. Menarik sih. Tapi kan saya menulis untuk majalah perempuan 25 tahunan. Jadi saya hanya nonton dan berkeliling sebentar, lalu memutuskan pulang, dengan pikiran yang masih riuh (dan hati yang agak kesal).

Tidak ada rilis (Yes! Mereka tidak membuat pernyataan media!), dan tidak ada dokumentasi foto yang boleh diminta.  Praktis keesokan harinya saya harus kembali lagi. Dan meski agak haram bagi saya untuk bekerja di hari Sabtu, keesokan harinya saya datang kembali.

Pukul 11.00. Berdasarkan jadwal, harusnya saya sudah melewatkan satu jam acara. Ternyata…gedung wayang masih sepi. Satu rekan media yang wajahnya familiar sedang berjalan keluar. Perasaan nggak enak.
Rilis tetap belum ada. Acara belum dimulai. Tapi setidaknya ada yang sedang bersiap-siap. Wayang wong dengan lakon Ciptaning. Saya tidak ingat kapan terakhir nonton wayang orang (atau apakah saya pernah menontonnya). Kesan saya begitu menonton : jika orang menganggap JLo atau Agnes Monica itu hebat karena bisa menyanyi sambil jejingkrakan, menurut saya pemain wayang orang lebih hebat lagi. 


Hanya Semar tokoh yang bisa saya identifikasi. Selain karena fisiknya mirip papa saya (maaf ya Pa), dulu saya sempat berada dalam masa saat Aneka Ria Jenaka menjadi idola di Minggu siang. Di tengah pertunjukan, tiba-tiba Semar berseloroh, “Yo ngene iki, lek wayang wong mesti sing nonton gak akeh.” (yah beginilah, kalau wayang orang, penontonnya selalu tidak banyak).
Tokoh Begawan Ciptaning tersenyum.
Penonton yang jumlahnya tidak sampai 40 orang itu tertawa.
Saya menggigit bibir, agak frustasi. Kenapa sih Si Semar harus memperjelas kemalangan situasi ini. :(

Setelah wayang wong, pertunjukan berlanjut dengan wayang suketnya Ki Slamet Gundono.
“Saya tertarik datang dari Solo karena mendengar bahwa acara ini ditujukan untuk remaja,” katanya sebelum memulai pertunjukan.
Sejenak saya menoleh kanan kiri. Yang banyak adalah orang-orangtua. Beberapa membawa anaknya serta. Semoga si dalang tidak kecewa.

Mas Jaya, dalang wayang kampung tadi, berkata bahwa semua pengisi acara, termasuk wayang orang, datang dari Solo khusus untuk acara ini. “Menginap di mana Mas?” tanya saya. “Oh, enggak. Setelah ini langsung pulang,” katanya.

Terngiang kembali kalimat Semar yang berseloroh tentang sepinya penonton. Membayangkan berapa lama waktu yang diperlukan duapuluh seniman wayang orang itu berdandan sejak pagi.
Terbayang riuhnya umbul-umbul di luar gedung, serta logo-logo sponsor dan media partner yang berjejalan di selebaran. Teringat lomba-lomba yang dibatalkan, dan acara yang molor hingga lebih dari sejam. Memandangi lagi segelintir penonton yang semakin sore semakin sedikit.

Ini menyedihkan.

Tuesday, August 9, 2011

Quit

We don’t  see things as they are, we see things as we are.

Kadang kita melakukan hal yang membuat orang lain iri, padahal kita sendiri sama sekali tidak bangga mengerjakan hal tersebut (dan sebaliknya, melakukan hal yang membuat orang lain bergidik, sementara kita luar biasa bahagia menjalani hal itu). Berhenti bekerja pada sebuah media yang memungkinkan saya merangkai cerita-cerita seperti yang terpampang di blog ini adalah contoh cerita versi pertama di atas.

Enam bulan adalah sebuah waktu yang cukup untuk menemukan sebuah keluarga baru,sementara sayangnya di saat yang sama juga membuat saya sekali lagi sadar bahwa saya harus menemukan tempat yang lain untuk bekerja. Semua karena kesadaran-kesadaran kecil yang akhirnya membuat gambaran besar.

Tapi...teman-teman saya di tempat kerja lama ini adalah bagian terbaik!

Saya baru sadar bahwa sebuah tulisan pendek dengan topik yang tidak menarik (bagi saya) itu  luar biasa susah (yang artinya : membosankan) untuk dibuat dibanding sebuah artikel panjang informatif yang butuh banyak catatan kaki di sana sini. Saya mau dan senang nongkrong di perpustakaan, ngobrol dengan narasumber, demi sebuah (dan setiap) artikel. Tapi saya malas menulis seadanya, mengunyah data  yang itu-itu saja dari saduran, apalagi hanya menulis sesuai pesan sponsor. Ditambah lagi beban pencitraan dan kebutuhan untuk membuat sensasi.

Serahkan saja lah pada mereka yang mau.

And here I am. Kembali terbata saat menjawab pertanyaan, “Kerja di mana?” Saya belum benar-benar tahu akan pergi ke mana setelah ini. Yang jelas saya tahu apa yang tidak saya inginkan. Saya hanya ingin ambil bagian dalam sesuatu yang benar-benar membangun. Dan untuk sekarang itu sudah cukup.

Friday, July 15, 2011

Saudara Sebatang Rokok

Jika komedian Victor Borge mendefinisikan tawa sebagai jarak terpendek di antara dua orang, maka saya memilih rokok sebagai gantinya.


Jutaan obrolan panjang setiap hari bermula dari rokok dan korek api yang berpindah tangan. Di antara sesama pengunjung warung kopi atau sebuah bar, antara seorang sopir dan penumpang kendaraan umum, hingga antarsesama anak sekolah di pinggir jalan.



Seorang wartawan tiba-tiba bisa menjadi seorang teman bagi narasumbernya, entah dia adalah tukang parkir atau seorang pejabat teras. Data demi data mengalir seiring kepulan asap yang keluar dari mulut masing-masing.


Seorang pendatang baru yang juga adalah perokok hampir pasti bisa lebih cepat beradaptasi di kantor yang penuh perokok. Dengan rajin ia akan menghadiri acara merokok bersama di halaman belakang; ikut ambil bagian dalam obrolan yang terlalu liar diungkap di meja kerja.


Dan tentu saja, percakapan setarikan rokok berpeluang menjadi hubungan percintaan. Bisa jadi seumur hidup. Bersama-sama menghabiskan ratusan batang rokok lain. Lalu bersama-sama (berusaha) berhenti di usia senja.


Merokok kadang juga menjadi penanda (praduga) akan sifat lain. Persahabatan dengan kafein, kadang juga bir dan alkohol. Kadang, meski tentu saja bukan penunjuk yang valid, juga tanda sifat orang yang menghindari ritual agama. Sebaliknya, tidak merokok juga menjadi penanda invalid orang yang minor, kurang berani, mungkin juga terbelakang.

Dalam semua hal di atas, saya menyayangkan bahwa saya bukan perokok.

Tuesday, February 22, 2011

Lebih Sombong dari Artis

Saya sering terkagum-kagum pada orang-orang terkenal yang bisa tetap tenang, semangat, dan dengan senang hati ngobrol dengan siapapun yang menyapa mereka. Bahkan yang ga mereka kenal dan kemungkinan besar ngga akan ketemu sama mereka lagi, dan bahkan jelas-jelas tidak mendatangkan keuntungan buat mereka.

Padahal kan waktu mereka tidak bisa dibilang melimpah. Banyak acara yang mesti didatangi, banyak hal yang harus dikerjakan. Tapi mereka tulus memberikan waktu untuk siapapun.

Dimulai dari beberapa dosen saya di UI yang bisa-bisanya menyapa mahasiswanya duluan, dan berhenti untuk ngobrol ini itu di tengah jalan, bahkan betah cuap-cuap lama-lama di kantin atau sebuah pojok di kampus setelah kelas usai. Menurut saya sih itu “kelas” kami yang sesungguhnya.

Baru-baru ini, setelah kerja kantoran, saya sempat kesal karena disuruh kontak beberapa artis untuk wawancara (pastinya bukan tentang kehidupan pribadi mereka yaaa). Otak negatif saya langsung komentar “Mereka kan A.R.T.I.S.  Sibuk. Mana mau repot-repot meladeni kita?” Maksud saya, meskipun saya adalah orang media, tapi saya yakin orang-orang seperti Sheila Majid dan Ramli (yang sempat saya wawancara minggu lalu) ngga akan kekurangan publikasi jika seorang saya tidak meliput mereka. 


Ternyata, mereka sangaaaattt baik. Saya bahkan bisa ngobrol santai seperti teman. Bahkan Ramli menelepon saya balik cuma untuk memastikan kapan beliau bisa dihubungi. Dan ngga ada satu pun gesture atau pun nada bicara mereka yang menunjukkan kalau mereka terganggu oleh kehadiran saya.

Saya langsung merefleksi diri saya sendiri. Saya nih, bukan siapa-siapa, yang kerjaannya nggak seberapa dibanding mereka tapi suka sok sibuk, seriiiing sekali tidak tulus kalau diajak ngobrol orang. Ndengerin & menjawab sih iya. Tapi tidak tulus. Pikiran ada di tempat lain dan mikir-mikir “Habis ini saya mesti melakukan A, B, C, D…” Tidak memberikan diri seperti orang-orang terkenal itu meladeni pertanyaan saya.

Oh, ternyata saya lebih sombong dari artis!

Monday, January 17, 2011

"Eco-Friendly" atau "Self-Friendly?"

Seorang kenalan berkebangsaan Jerman mengaku datang ke Indonesia dengan menempuh jalur darat dan laut. Menurutnya bepergian lewat jalur darat dan laut dengan kendaraan massal lebih ramah lingkungan dibanding jalur udara. Alasannya, nitrogen yang dihasilkan dari hasil buangan mesin pesawat mengakibatkan kerusakan lapisan ozon lebih parah daripada  yang diakibatkan CFC (Cloro Fluoro Carbon)

Ia memilih susah payah menghabiskan waktu berhari-hari mencapai Indonesia dibanding beberapa belas jam di pesawat, hanya karena tak ingin ikut ambil bagian dalam perjalanan yang disebutnya merusak lapisan ozon. Mendengar itu, untuk beberapa detik saya bingung harus kagum atau melontarkan pertanyaan “Ha? Segitunya ya?”

Jadi ingat saat suami saya pertama (dan terakhir) kali mengendarai sepeda lipatnya dari rumah ke kantor. Begitu sampai rumah dengan pakaian basah kuyup oleh keringat, ia mengeluh beberapa kali nyaris tertabrak kendaraan bermotor, mata jadi merah terkena debu meski sudah pakai kacamata, belum lagi panas matahari Jakarta yang dengan cepat membakar sumbu kesabaran. Alhasil, besoknya ia berhenti naik sepeda dan kembali mengendarai kendaraan bermotor. 

Melakukan perubahan gaya hidup atas nama cinta lingkungan memang tidak pernah mudah. Berganti naik kendaraan umum setelah bertahun-tahun nyaman berkendara sendiri ; menggunakan popok kain untuk bayi dan repot mencucinya setiap hari, sementara ada popok sekali pakai buang ; menyediakan waktu khusus untuk mendaur ulang sampah dapur jadi pupuk ; membawa sampah dalam tas saat belum menemukan tempat sampah ; membawa kotak makan sendiri untuk menghindari pemakaian stereofoam saat membeli makanan. Sebagian (besar) orang mungkin akan berkata : “Ah, yang benar saja!” Hidup harusnya jadi lebih mudah dari hari ke hari. Tapi semua hal di atas rasanya menjadikan hidup jadi lebih rumit.

Namun memang begitulah adanya.Sebuah tujuan besar seperti menyelamatkan lingkungan memang harus diawali kesediaan mengubah hal-hal kecil setiap hari. Selain kesediaan untuk menyediakan tenaga, waktu, dan ketekunan lebih, ada kalanya peduli lingkungan juga memerlukan tersedianya sesuatu yang lain : uang lebih.

Ramah Lingkungan vs Ramah Kantong
Pilih mana, celana jins dengan harga terjangkau tapi berpotensi merusak lingkungan, atau yang 100% terbuat dari serat organik dan aman lingkungan tapi harganya tiga kali lebih mahal? Mengkonsumsi sayuran yang kemungkinan besar tumbuh dengan pestisida tapi harganya murah, atau sayuran organik yang bebas pestisida tapi harganya jauh lebih mahal? Bagi konsumen dengan uang pas-pasan, ini bukan pertanyaan sulit. Tentu saja pilih yang murah.

Untuk hal yang menyangkut materi seperti di atas saya lebih mudah memaklumi. Kadang saya juga dihadapkan pada pilihan yang sama dan memilih yang murah. Mau bagaimana lagi? Saya yakin jika terjangkau kantong, orang yang benar-benar peduli dan mampu akan memilih produk yang lebih mahal tapi ramah lingkungan. Di lain pihak, kadang saya berprasangka buruk bahwa gerakan penyelamatan lingkungan ada kalanya hanya menjadi tren yang dimanfaatkan beberapa korporasi untuk melipatgandakan margin.Semoga hanya prasangka saya.

As Long as Not in My Backyard

Betapa pun sulitnya, tindakan-tindakan kecil untuk bumi yang lebih baik harus tetap dilakukan. Agar lebih berhasil, menurut saya, ada baiknya kampanye “selamatkan lingkungan”  diganti menjadi “selamatkan diri Anda sendiri.” Kata-kata “selamatkan lingkungan” terkesan hanya urusan orang-orang tertentu, atau hanya berlaku di saat-saat tertentu seperti Hari Bumi. Selama tidak di halaman rumah sendiri, sebagian orang tak akan peduli apakah ia atau orang lain membuang sampah di selokan, di tengah jalan, atau di halaman rumah tetangga. Selama hidup kita sendiri baik-baik saja, nanti-nanti saja lah memikirkan lingkungan.

Adalah tugas kita yang mengerti untuk melakukan tindakan nyata. Hey! Ini memang tidak mudah. Tapi bisa dilakukan, mulai dari diri sendiri. Karena di atas semua usaha untuk menyediakan tenaga, waktu, ketekunan, dan uang, menyelamatkan lingkungan memerlukan kesediaan untuk…melawan diri sendiri.




Tuesday, January 11, 2011

Thanx to Twitter & Facebook. Things become So Easy...or Not?

Thanx to the social media. Sekarang sangat mudah mendapat dan memberitakan sesuatu dari dan ke seluruh dunia. Kabar penting, cerita bahagia, kisah galau, dan juga…umpatan. Sangat mudah berbicara dengan siapapun dari kasta manapun yang dulu cuma bisa dilihat di infotainmen atau di istana negara. Tinggal mention, kirim pesan pribadi, atau nulis pesan di wall (tentu saja dengan harapan orang yang kita tuju tak mensetting akun mereka dalam status protected/locked). And…surprise! Kadang beberapa dari orang-orang terkenal itu benar-benar membaca dan membalas mention/ pesan kita.

It’s easy.
Too easy.

But there’re always two sides of a coin. Kadang saya berpikir bahwa sebenarnya sungguh tidak mudah hidup di zaman serba mudah ini. Tidak hanya mudah menjangkau orang yang kita idolakan (terlepas dari apakah mereka merespon balik), tapi juga sangat mudah menjangkau orang yang tindakannya tidak kita sukai. Atau setidaknya, membicarakan tindakan mereka yang menurut kita salah.

Sebut saja orang-orang/lembaga yang sering jadi trending di twitterland, seperti Bpk. Nurdin Halid (tumben saya panggil bapak :-D), Tifatul Sembiring, Gayus, “TV merah,” PSSI, Bakrie, SBY. Tindakan / ucapan / pola pikir orang-orang ini (yang mungkin juga cuma salah kita mengerti) memang bikin kita geleng-geleng kepala dan mikir “Is he mad?!” atau “Nyesel dulu ngedukung dia!” atau “Bego banget sih!” Saking frustasinya, mau ngadu ke mana lagi selain mengetik sumpah serapah ke twitter.

Khusus Bpk Tifatul Sembiring yang kebetulan punya akun Twitter, sejujurnya saya ngeri juga baca komentar orang-orang yang langsung tertuju ke akun twitternya. Entah terbaca atau tidak, tapi kalau saya ada di posisi beliau, mungkin rasanya mengenaskan juga ya. Salut untuk kesabaran beliau untuk tidak merespon semua twit umpatan itu.

Berkaitan dengan umpat mengumpat ini, baru tadi pagi saya mikir…niat saya apa ya ikut-ikutan menyatakan ketidaksetujuan saya sama tindakan si X, pakai kata-kata mutiara pula’ (s*rap, bo*oh, dll). Ini yang saya bilang nggak mudah hidup di zaman mudah.  Saking gampangnya cuap-cuap, maka menahan diri untuk hanya berkomentar yang isinya bermanfaat itu (ternyata) jadi mahasusah.
Angkat bicara tentang current issue apapun itu boleh banget, harus malah. Tapi ada perbedaan super tipis antara menyatakan pendapat dengan mengumpat. Antara konsistensi dengan selalu merasa benar sendiri. Antara memberikan solusi dengan menutup kemungkinan ada kebenaran dalam pendapat orang yang sudah kita cap bersalah.
Bagaimanapun kita gemes sama tindakan orang lain, selalu ada yang bisa kita teladani dari mereka (misalnya, segemes apapun saya sama alm. Soeharto, saya memuja propaganda beliau yang sukses membius generasi 5 dasawarsa. Hehe).

Saya sih (sedang berusaha) tetap percaya tujuan yang baik mestinya bisa dicapai dengan cara yang baik. Kritik yang tujuannya membuat jadi baik mestinya juga bisa disampaikan dengan cara yang baik.
And yes, it is so not easy.

PS : specially written for my dearest friend as well as best rival, Lya. Sungguh menyesal sudah lalai mengecek niat sebelum berkomentar.

Stories inside my head

Share this blog