Friday, January 27, 2012

Back to Backpack


Menurut saya, tidak ada jenis tas yang lebih rasional daripada tas ransel. Bentuknya yang relatif besar sangat memungkinkan memuat banyak benda. Posisinya yang bergantung di punggung membuat kedua tangan bisa bergerak bebas. Super praktis. 

gettyimages
Masalahnya, tas ransel itu elemen yang super salah jika ingin tampil lebih feminin. Sejak memasuki tahun kedua kuliah, seiring dengan bergantinya kaos-jins-sepatu converse dengan blus-rok-flat shoes, saya sudah menjaga jarak dengan ransel dan hanya menyapanya saat akan traveling (yang mana bisa dibilang sangat jarang). 

Bertahun-tahun setelah masa itu, tepatnya beberapa hari lalu, di hari ulangtahun, saya menghadiahkan tas ransel untuk diri sendiri. Entah kenapa rasanya senang sekali kembali mengenakannya, meski hanya dipakai untuk membawa sepatu dan baju olahraga ke kantor, maksimal 2 kali seminggu. Seperti sebuah tanda kembalinya jati diri dan masa muda yang tanpa beban. hehe.
Udah, cuma mau cerita itu :-D

Friday, January 13, 2012

Pelawak (Harus) Jenius

Sering ditertawakan, bukan karena bodoh. Justru sebaliknya.

fotografer : Wari Artiko
Kapan terakhir kali bicara di hadapan orang banyak?
How did it feel?
Bagaimana kalau tiba-tiba kita harus merancang sesuatu untuk membuat sekian banyak orang itu tertawa?
Pasti stress.
Apa yang akan dikatakan?
Bagaimana jika ternyata lawakannya tidak lucu?

Bayangkan seorang pelawak harus menjalani itu semua. Meski mereka punya bakat alami sekalipun untuk tampil di muka umum, perlu mental baja untuk tetap berusaha melucu jika tak ada seorang pun tertawa.



Saat mengunjungi rumah Melaney Ricardo, sang ayah menyambut kami dengan jabat tangan dan obrolan panjang.
“Melaney di rumah suka ngelucu juga nggak Pak?” saya bertanya.
Pak Ricardo : “Oh enggak! Dia orangnya sangat tegas dan serius.”

Dengan bangga, ia lalu bercerita tentang anak sulungnya itu yang lulus cum laude dari fakultas hukum. Seperti orangtua umumnya, awalnya sang ayah meminta Mel untuk jadi pengacara atau semacamnya.

Namun ternyata selama kuliah, Mel menekuni minatnya yang lain menjadi penyiar radio. Setelah terbukti sempat menjadi penyiar terbaik di HardRock, Ricardo membebaskan sang putri berkarier di bidang yang jauh dari disiplin kuliahnya.

“Jadi presenter itu IQnya harus tinggi. Harus banyak baca untuk dapat bahan siaran. Saat dalam perjalanan di mobil, Mel juga suka mendengarkan pidato tokoh-tokoh besar,” katanya. Saya mendengarkan sambil sesekali memandangi foto tiga bersaudara yang berjajar dengan toganya masing-masing.
And  I agree with him.

NB : Meski begitu, saya nggak bilang semua pelawak itu jenius ya :)

Share this blog