Monday, July 30, 2018

If I Were Not A Mother, Who Am I?


Seorang kenalan pernah berkata, setelah menikah, wanita tidak lagi dikenal sebagai dirinya yang utuh dan mandiri. Ia hanya bagian dari orang lain. Bu Joko, yang adalah istrinya Pak Joko. Mama Beni, yang adalah ibunya Beni. Ibu sendiri siapa?

Ibu-ibu di Sikka, Maumere

Di sekolah, jarang ibu walimurid yang tahu nama masing-masing kecuali yang memang kenal dekat. Di daftar arisan, di daftar kontak WhatsApp, di daftar hadir pertemuan sekolah, semua menulis nama anak (sementara sebagian besar bapak-bapak absen soal urusan anak dan sekolah). Tiba-tiba wanita menjadi anonim. Orang memanggil saya, “Mama Bima” (padahal anak saya manggil saya Bunda. Hehe). 

Tidak apa-apa sih. Buat saya itu sekedar kepraktisan saja. Sebuah keluarga dikenal pertama-tama dari nama bapak/anak dan bisa diidentifikasi dengan cepat dari satu nama.
Yang membuat saya kadang resah adalah jika peran sebagai ibu justru dianggap si wanita itu sendiri sebagai dinding, bukan pintu. Sebagai keterbatasan, bukan kekuatan.  

Tidak Berhenti Menjadi Ibu
Setelah anak tunggal mantan atasan saya berpulang, eks teman kerja saya berkata, “Sekarang setelah anaknya nggak ada, Mbak X bisa mengejar mimpinya sendiri.” Tetapi mantan atasan saya yang lain menggeleng, “Buat seorang ibu, mimpi mereka ya sejalan sama anak.”

Saya mengangguk-angguk  setuju. Meskipun dulu sempat kebingungan kembali menemukan jati diri setelah punya anak, sekarang saya justru tidak bisa membayangkan bagaimana hidup saya tanpa anak. Setelah sekian lama hidup berpusat pada anak, kepergian anak, buat saya, akan membuat saya perlu mendefinisikan ulang siapa diri saya, apa tujuan hidup saya, dan juga bagaimana saya melihat dunia.

Pembicaraan tentang peran ibu ini selalu membuat saya ingat pada sebuah wawancara kerja. Saat itu seorang pewawancara meringis ketika mendengar anak saya baru berusia 5 bulan. Dengan cepat ia berkata, “Anakmu lebih membutuhkanmu daripada perusahaan ini.”
Wuz! Seperti ada peluru menggesek dada. Saya ingat menahan air mata sampai keluar ruangan. Ini pernyataan yang tidak akan diucapkan andai saya seorang bapak. Pria tidak pernah diminta memilih atau menyeimbangkan karier dan atau keluarga. 

Esoknya kantor itu memanggil lagi untuk wawancara lanjutan tapi saya tidak datang. Meskipun ternyata itu bukan pernyataan penolakan, tapi saya tidak bisa membayangkan bekerja dengan atasan yang membuat saya tiap hari merasa bersalah berangkat bekerja, padahal saya bekerja karena keluarga.

Memilih dan Dipilih Karena…
Kadang wanita diabaikan karena ia adalah seorang ibu. Atau sebaliknya, ia memilih mengundurkan diri dari hidup dan mimpinya karena menjadi ibu. Soal memilih, tidak ada yang salah dengan menjadi ibu rumah tangga. 

Hanya saja banyak ibu yang tidak percaya diri pada pilihannya. Ciri-cirinya antara lain adalah komplain tidak bisa mewujudkan mimpinya (saya sempat begini), tidak bisa mengerjakan ini itu, atau tidak pergi ke sana kemari karena menjadi full-time mother. Istilah ini saja sebenarnya sudah salah. Semua ibu adalah full-time mother. Saat bekerja di luar rumah, seseorang tidak berhenti menjadi ibu kan?

If you choose, just be confident about your decision.
A woman can have it all, just not all at once.

Nah, soal dipilih, ini yang pelik karena di luar kendali. Kerja Ibu A bagus, tapi/meskipun single parent. Ibu B pekerja keras, tapi/meskipun anaknya tiga. Seakan jadi ibu adalah kekurangan/beban.   

If I were not a mother, who am I?
Semua ibu yang cukup bangga akan semua perannya pasti punya banyak jawaban: seorang akuntan, guru, tukang masak, PNS, karyawan swasta, pemilik usaha, ketua PKK, seorang anak, adik, tetangga. 

After all, pertama-tama saya ingin dilihat dan dipilih karena saya bisa dan mau. Kedua, saya ingin dilihat bukan karena meskipun, tapi karena saya seorang ibu.

Karena saya seorang ibu, saya tahu persis bagaimana menyelesaikan pekerjaan di waktu singkat. Karena saya seorang ibu, saya punya banyak ide untuk ditulis. Karena saya seorang ibu, saya tahu persis apa yang diinginkan konsumen pemegang keputusan membeli. Karena saya seorang ibu, saya melihat banyak hal dari (minimal) dua sudut pandang dan mata berbeda. 

And if I were not a mother, I am still perfect.
But since I am a mother, I am (also) perfect. 

Share this blog