Saturday, August 16, 2008

FILOSOFI MUSIK BAMBU

Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Dan di Karangpandan, Jawa Tengah, saya baru saja belajar dari seperangkat alat musik bambu.
Sebenarnya saya sama sekali bukan pemain musik. Dalam setiap kelompok atau kursus musik, saya selalu menjadi salah satu anak yang paling lambat memahami arahan yang diberikan. Maka biasanya saya memilih berhenti saja karena biaya untuk mengikuti kursus musik tidaklah murah. Tetapi ternyata memainkan alat musik bambu sama sekali tidak butuh banyak waktu, apalagi banyak biaya, seperti belajar gitar klasik, biola, piano, atau sejenisnya. Dan uniknya, tidak seperti alat musik lain yang dengan mudah bisa dimainkan seorang diri (solo), alat musik bambu selalu dimainkan bersama-sama. Tidak bisa tidak.
Saya tinggal bergabung bersama pemain musik bambu lain. Masing-masing memegang jenis alat musik berbeda-beda dengan variasi pukulan berbeda pula. Namun akhirnya irama berbeda-beda itu membentuk sebuah kesatuan musik yang harmoni. Yang terpenting adalah : mainkan si bambu dengan cara berbeda dengan orang lain. Isi jeda. Temukan irama sendiri.
Sambil bermain, saya berpikir bahwa hidup itu seperti menjadi pemain musik bambu. Setiap orang punya peran masing-masing. Berbeda, tapi tidak bisa berjalan sendiri. Semua berperan mewujudkan tujuan Sang Pencipta mengkreasi bumi.
Yang penting : lakukan peran masing-masing, dan jangan pernah ikut-ikutan. Meski sering kita berpikir peran kita remeh dan sepertinya ingin meniru hidup orang lain saja yang tampak lebih ringan. Tetapi percayalah, bahwa bagaimanapun setiap orang berperan penting.

Jadilah beda. Dan temukan iramamu sendiri.

Thursday, August 14, 2008

Kapan Terakhir Kali Melihat Bintang?

Pertanyaan macam apa itu? Penting ya lihat bintang atau enggak? Itu yang terlintas di pikiran saya begitu pertanyaan di atas terlontar. Pak Lawu, seorang pembicara dalam sebuah sarasehan acara youth confrence di Gemawang, Karangpandan (sekitar satu jam dari Solo), mengajak kami berdialog dengan dan tentang alam. Tapi ketika saya benar-benar akan menjawab pertanyaan itu, ternyata saya kesulitan menentukan jawabannya.

Kapan terakhir kali melihat bintang?
Beberapa bulan lalu? Atau bahkan setahun lalu? Itu pun bukan di bawah langit Jakarta. Pasti saat saya pulang ke Malang dan kebetulan keluar rumah saat malam.
Kata Pak Lawu, melihat bintang = merenung. Jadi...apakah ketika saya tidak melihat bintang, berarti saya tidak pernah merenung? Tidak juga. Hanya saja...saya merenung dalam bus yang terjebak kemacetan, dalam kamar saat malam ketika saya sudah sangat mengantuk, atau dalam kelas ketika kuliah sedang tidak menarik. Dan biasanya “renungan” saya berakhir dengan...tidur.

Ah ya...ini dapat diartikan saya tidak pernah benar-benar ingin merenung (di luar saat ibadah). Bisa dibilang saya terputus dengan langit, sebagai salah satu elemen besar alam. Di Jakarta, sejauh mata memandang, yang tampak adalah tembok dan atap. Sebelum membuat tulisan ini saya bahkan mencoba keberuntungan, kalau-kalau malam ini saya bisa melihat bintang di langit Jakarta. Tapi ternyata saya tidak beruntung.

Dan saya tahu, bahwa ada yang salah di sekitar saya ketika saya tak dapat melihat bintang, saat seharusnya kita dapat melihatnya. Langit di sini bahkan tidak berwarna hitam. Kelabu tepatnya. Bias dengan warna asap yang keluar dari ribuan knalpot. Si asap membumbung ke atas dan menutupi si bintang.

Sedih... Entah kapan lagi saya bisa memandangi bintang, apalagi belasan bintang jatuh, seperti saat kami duduk menonton pertunjukan wayang (yang tak sempat kami selesaikan) di Gemawang.

Tapi kemudian, seorang sahabat mengingatkan : “Anugerah Tuhan tidak hanya lewat bintang. Dia akan tetap menyapamu bahkan di kota seribu menara...kalau kamu cukup peka mendengar.”

Stories inside my head

Share this blog