Thursday, August 14, 2008

Kapan Terakhir Kali Melihat Bintang?

Pertanyaan macam apa itu? Penting ya lihat bintang atau enggak? Itu yang terlintas di pikiran saya begitu pertanyaan di atas terlontar. Pak Lawu, seorang pembicara dalam sebuah sarasehan acara youth confrence di Gemawang, Karangpandan (sekitar satu jam dari Solo), mengajak kami berdialog dengan dan tentang alam. Tapi ketika saya benar-benar akan menjawab pertanyaan itu, ternyata saya kesulitan menentukan jawabannya.

Kapan terakhir kali melihat bintang?
Beberapa bulan lalu? Atau bahkan setahun lalu? Itu pun bukan di bawah langit Jakarta. Pasti saat saya pulang ke Malang dan kebetulan keluar rumah saat malam.
Kata Pak Lawu, melihat bintang = merenung. Jadi...apakah ketika saya tidak melihat bintang, berarti saya tidak pernah merenung? Tidak juga. Hanya saja...saya merenung dalam bus yang terjebak kemacetan, dalam kamar saat malam ketika saya sudah sangat mengantuk, atau dalam kelas ketika kuliah sedang tidak menarik. Dan biasanya “renungan” saya berakhir dengan...tidur.

Ah ya...ini dapat diartikan saya tidak pernah benar-benar ingin merenung (di luar saat ibadah). Bisa dibilang saya terputus dengan langit, sebagai salah satu elemen besar alam. Di Jakarta, sejauh mata memandang, yang tampak adalah tembok dan atap. Sebelum membuat tulisan ini saya bahkan mencoba keberuntungan, kalau-kalau malam ini saya bisa melihat bintang di langit Jakarta. Tapi ternyata saya tidak beruntung.

Dan saya tahu, bahwa ada yang salah di sekitar saya ketika saya tak dapat melihat bintang, saat seharusnya kita dapat melihatnya. Langit di sini bahkan tidak berwarna hitam. Kelabu tepatnya. Bias dengan warna asap yang keluar dari ribuan knalpot. Si asap membumbung ke atas dan menutupi si bintang.

Sedih... Entah kapan lagi saya bisa memandangi bintang, apalagi belasan bintang jatuh, seperti saat kami duduk menonton pertunjukan wayang (yang tak sempat kami selesaikan) di Gemawang.

Tapi kemudian, seorang sahabat mengingatkan : “Anugerah Tuhan tidak hanya lewat bintang. Dia akan tetap menyapamu bahkan di kota seribu menara...kalau kamu cukup peka mendengar.”

1 comment:

Catur Ratna Wulandari said...

Langit kita benar2 sudah tercemar...
Aku selama satu minggu ini meliput ttg Olimpiade Astronomi, sempat main2 ke Bosscha, obseravorium yang seharusnya bisa kita banggakan.
Kemampuannya sekarang sudah berkurang banyak gara2 polusi cahaya dari daerah sekitar!
Egoisnya manusia jaman sekarang ini...
Entah apa yang bisa kita wariskan untuk anak cucu kita kelak.

Share this blog