Saturday, November 15, 2014

Dari Mata Orang Seberang

“Can I go with you?” tanya pria itu ringan, tapi penuh harap. Rambutnya yang pirang tersembunyi di balik topi hitamnya. Matanya biru. Ranselnya terlampau ramping untuk perjalanan seminggu yang ia katakan akan diselesaikannya sehari lagi.

Laki-laki yang menyebut Australia sebagai tempat tinggalnya itu berujar akan meninggalkan Jakarta menuju Medan pukul tujuh malam. Sementara menunggu waktu itu tiba, ia belum punya agenda ke mana pun. Matanya langsung berbinar saat saya menyebut “Museum Nasional” sebagai tempat tujuan saya siang itu.
“Sure,” jawab saya. Tidak yakin, tapi pasrah.
“Great!” ia tertawa senang seperti anak kecil, lalu kami berjalan bersama.

Seperti kebanyakan pria Barat, laki-laki bernama Steve itu memang sama sekali tidak membosankan dan cenderung blak-blakan. Usianya 50. Tapi saya sama sekali tidak merasa sedang ngobrol dengan seorang bapak.

Di Melbourne, kota asalnya, ia hidup sebagai produsen madu. Dengan menabung selama sebelas bulan, ia selalu berlibur setahun sekali ke beberapa negara, dengan Indonesia sebagai tempat transit.

“You know what, men fall in love three times a day,” laki-laki itu berujar tanpa bermaksud berkelakar. “Pardon? Oh, I see. I believe so,” saya merespon, membenahi keterkejutan menjadi tawa. Saya tidak terkejut pada fakta yang diucapkan Steve. Saya hanya terkejut karena laki-laki itu mengungkapkannya.

“When I thought that I fall in love with you, I saw the woman beside you and admire her beautiful hair,” ia mengoceh tanpa basa-basi. “But you know why I’m still single? It’s because I always want to be with a woman who don’t want to be with me. But in the other time, I met a woman who I don’t want to be with, but she wants to be with me. It’s tragic!” ia tertawa. Saya hanya tersenyum, bingung merespon apa.
           
Sampai di tujuan, Steve menunjukkan kekagumannya pada apapun yang dipajang di ruang pameran Museum Nasional. Ia membaca detail setiap data, dan memperhatikan setiap peraga dari dekat. “It’s amazing!” katanya setiap lima menit, lalu membidikkan kameranya ke segala arah.

Saya bersyukur semua keterangan yang diperlukan untuk menjelaskan setiap baju adat, kegiatan di masa lampau, senjata, hingga bentuk rumah adat dari seluruh propinsi sudah ada di setiap display dalam dua bahasa. Saya sendiri tak akan mampu menjelaskan semuanya dengan bahasa dan ingatan di kepala saya sendiri.

“Sit over here!” Steve memerintah. Laki-laki itu duduk di sebuah bangku kayu di tengah-tengah ruangan. Kami sedang berada dalam ruangan penuh jajaran kain tradisional. Sambil menarik napas, Steve berkata, “This is the way we feel them. See and absorb…” ia melebarkan tangannya, kemudian menarik napas. Diam-diam saya juga menghirup dan menghembuskan napas perlahan seperti yang dilakukan Steve sambil menatap kain-kain batik dan songket indah di sekeliling.

Damai.

Satu jam kemudian, kami berada di tempat lain, Galeri Nasional. Kebetulan, katanya, ia akan naik bus Damri ke bandara dari Stasiun Gambir, di seberang galeri. Ia bercerita tentang begitu banyak tempat di Indonesia yang hingga kini belum juga saya kunjungi dengan berbagai alasan. Dua di antara alasan-alasan itu adalah waktu dan uang.

Ia membuat saya lagi-lagi merasa seakan-akan ia yang adalah orang Indonesia, sedangkan saya hanya pendatang yang menumpang. “I know your country better than you,” kata-katanya makin memperlebar jurang.

Sejurus kemudian, tiba-tiba laki-laki itu menatap ke kejauhan, lalu terdiam sejenak, dan berujar, “It’s a beautiful country. But I’ve also seen so many heartbreaking moment…” Sebagai backpacker, Steve biasa berjalan kaki menyusuri jalan-jalan raya tak bertrotoar di Jakarta, melintas di sela-sela pengemis, naik Kopaja usang, juga ojek jika tak tahan tersandera macet. Setiap kali datang ke Jakarta, ia selalu bermalam di sebuah penginapan di Jalan Jaksa. “No luxury…” ia berujar berulang kali. Kamar sempit, tak ada AC, tanpa pemanas air. 

Beberapa detik kemudian, raut wajah Steve berubah serius. Seperti sebuah akuarium, ia begitu terbuka hingga setitik saja mendung di wajahnya dapat terlihat. Lalu perlahan laki-laki itu berkisah tentang pengalamannya tempo hari. Saat berjalan pulang dari sebuah kafe ke penginapannya, ia berpapasan dengan seorang wanita yang terlihat tengah memukuli seorang anak. Pukul satu dini hari.

Terkejut, Steve mencoba melerai. Tapi wanita itu tidak membiarkan Steve, tentu saja. Ia menarik tangan si bocah, lalu pergi membawanya. Steve menduga, wanita itulah yang sedang mabuk. Steve berteriak meminta siapapun yang melihat mereka saat itu untuk menghentikan si wanita. Tapi semua orang yang melintas benar-benar menyangka ia hanya seorang bule yang sedang mabuk.

Dengan frustasi, saat itu juga Steve pergi ke kantor polisi tak jauh dari Jalan Jaksa. Saya membayangkannya melapor pada polisi dengan cara berapi-api seperti yang sedang ia lakukan saat itu di hadapan saya. Polisi bilang, mereka menerima laporan Steve, dan akan menghubunginya kembali dalam waktu 1x24 jam. Tapi seperti dugaan saya, itu tidak terjadi.

Hampir dua kali 24 jam, tak ada kabar, ia kembali mendatangi kantor polisi. Polisi yang sedang piket adalah polisi yang berbeda dengan yang ia temui tempo hari. Keterbatasan bahasa membuat si polisi tak begitu mengerti apa yang dikatakan Steve. Steve pun tak paham apa yang coba dikatakan si polisi. Namun dari cara polisi itu bicara, Steve yakin, laporannya tidak ditindaklanjuti. 

Tak surut semangat, Steve bergegas menuju ke sebuah stasiun TV yang sudah ia lewati berulang kali dalam perjalanannya ke tempat lain di Jakarta. Tak jauh dari Jalan Jaksa. Ia mengulang cerita itu dengan detail dan semangat yang sama. Namun, ia kembali harus menelan kecewa. Bukan saja tak ditanggapi, ia ditertawakan. Raut wajah Steve yang detik itu masih terlihat kecewa membuat hati saya serasa ditusuki jarum runcing.

 “Your country has a very serious problem!” ia menggeleng keras, menutup ceritanya.
 “Despite the fact that we’re religious country...” saya merespon, mengangkat kedua telunjuk dan jari tengah, membuat tanda kutip pada kata religious.
“You got my point!” ia mengangguk kencang sambil mengetuk daun meja dengan keras.

Dalam hati saya berkata, Ah Steve. Terima kasih sudah berbuat sejauh itu. Tapi kadang satu-satunya hal yang kita terima setelah mengerahkan segenap diri untuk kebaikan hanyalah kekecewaan. Apalagi di negara ini .

Kemarin,  kami  baru saja bertemu lagi. Ia sedang membaca Plato saat saya datang di tempat bertemu. Lusa ia akan bepergian ke Dubai dan Maroko.

Ia bilang sangat membenci Tony Abbott. “But I like your new President!  And he likes my favorite music,” ujarnya antusias. 
Dalam perjalanan, sambil menatap jajaran mobil yang semakin padat karena pembangunan MRT di Sudirman, ia berkata lirih, “I really wish he could make  changes. Corruption, children's welfare, those forests, Sumatran tigers, and the sea, they can not wait any longer….”   

Saturday, October 4, 2014

Soal Piknik dan Menemukan Kembali


Berkali-kali jalan-jalan, pulang tanpa catatan dan bahkan tanpa foto! Yang kedua masih termaafkan karena tempat yang kita kunjungi memang sebuah kehidupan, bukan latar studio foto, apalagi kalau fotonya melulu kita. Tapi tanpa catatan? Ah...

Kali ini pun sebenarnya saya juga nyaris tak mencatat. Agak linglung dan sibuk dengan pikiran sendiri, karena hidup selama tidak piknik pun demikian. Tapi setidaknya saya mencoba mengunggah foto-foto yang agak berlimpah ini. Cerita foto pun kadang lebih informatif kan (menghibur diri). Karena kata, tentu saja, kadang gagal menceritakan sudut terkecil. 

Bermula dari perjumpaan virtual dengan teman lama, Ellie, saya kemudian maksa ikut pikniknya akhir pekan, 26 - 28 September lalu, bersama 5 temannya. 

Berangkat dari Jakarta pukul 15 siang (saya tentu izin dari kantor - bahagia banget izin tinggal email), mampir Bandung, kemudian lanjut ke Garut. Perhentian dan penginapan pertama adalah di pemandian air panas Darajat Pass. Di dekat situ ada PLTU...yang harusnya bikin Garut anti-mati listrik. 
Pas buat keluarga! Kolamnya ada 4 area. Untuk dewasa 190-an cm & 150-an, anak-anak, dan yang ini kolam arus. Saya tentu saja di kolam ini :p
Tiap 25 menit, sebaiknya keluar dari kolam. Airnya memang panas banget.
Terus terang bikin pusing.

Nggak ingat berapa lama nyemplung pindah2 kolam. Keluar makan, nyemplung lagi, sampai kisut :D


Tempat makannya bersih

Sarapan pagi!

Sepasang suami istri sedang menerapi anaknya yang lumpuh layu

Kamar yang kami tempati bertujuh. 800-an kalau nggak salah. 


Formasi lengkap teman jalan

Perhentian kedua: Kampung Naga di perbatasan Tasikmalaya dan Garut. 113 rumah yang hidup tanpa penerangan listrik. Saya sih kagum sekaligus agak miris dengan kesabaran mereka tiap hari didatangi tamu yang hampir tiap akhir pekan menginap. Kalau dibilang hidup mereka dari situ, iya juga sih. Tapi sempat terpikir tidakkah mereka lebih bahagia duluuuu entah kapan saat mereka belum seterkenal sekarang? Kebutuhan sudah terpenuhi dari hasil sawah sendiri. Kurang apa lagi?






Perjalanan ke Kampung Naga kurang lebih menuruni 200-an anak tangga sepanjang 1 kilometer.


Disucikan,
Tempat pertama kalinya warga Kampung Naga sholat
 

Rumah warga Kampung Naga terdiri dari 2 pintu:
1 pintu ke ruang tamu. Satu lagi ke dapur.
Sama kayak rumah mediteranian modern:)
Souvenir di halaman rumah 


Masjid Kampung Naga. Adzannya pakai kentongan itu. 
Pak Maun. Pembuat segala kerajinan. 

Tempat sampah di atas.
Solusi elegan biar nggak diacak2 kucing. 
Dapur warga Kampung Naga 


Bapak Usuk Karinding. Nama belakangnya adalah nama alat musik khas Sunda :)


"Pamali. Satu kata yang menjaga kami untuk selalu ingat bahwa setiap tindakan punya konsekuensi. Kalau pemerintah, bikin undang-undang malah makin banyak yang melanggar," ujar seorang warga yang mendampingi kami berkeliling (lupa namanya. Ya Tuhan!)

Perhentian ketiga: Gunung Galunggung atau Gunung Geulis.
Melihat medannya yang bahkan ada anak tangganya (meski jumlahnya lumayan, 620 anak tangga), sudah dapat diduga, ini "mainan" anak SD. Terbukti emang yang kemah di kawah anak2 Pramuka :D.






Yah, karena saya lama banget nggak piknik. Jadi ya semua perjalanan terasa wah dan lumayan ngos-ngosan (selain karena faktor usia ya). 

Dan akhirnya, hikmah piknik ini saya comot dari celetukan si Ellie:

"Traveling itu soal mengalahkan diri sendiri." :) 
(menatap nanar tangga di atas) 

Tuesday, August 12, 2014

Viel Gluck, Tonggie! :)

Untuk sahabat Tonggie Theodora Siregar,

Hari ini adalah hari esok yang kita nantikan kemarin. Di hari lalu, beberapa waktu setelah meletakkan toga, kita menyusuri relief Candi Cetho dan bertanya-tanya, kapan kita akan memahat sejarah kita sendiri.

Ini adalah hari yang kita bisikkan dalam doa bertambahnya (atau berkurangnya?) usia. Ultahku di Pelabuhan Ratu, dan ultahmu di Ujung Genteng. Doa di perbatasan harap dan ragu, memohon (atau menodong?) Tuhan membukakan rencana-Nya, atau kita menyodorkan angan-angan kita.

Ini adalah hari yang kerap kita bicarakan di kantin kampus, setelah kita menggerutu tak berdaya, menerima kenyataan bahwa satu-satunya sponsor besar yang mau mendanai acara LINGKUNGAN yang dibuat Senat saat itu (kamu humas, saya panitia  ) adalah FREEPORT.

Ini adalah hari yang untungnya masih juga kita ucapkan lambat-lambat, dalam pertemuan-pertemuan singkat yang kita jejalkan di sela kesibukan kerja. Hari-hari saat rutinitas menggerus harapan-harapan sesederhana mengajar di taman baca.

Baru bulan lalu, kamu berujar, kita harus bangga bisa hadir di Gelora Bung Karno bersama puluhan ribu orang tanpa bendera partai, mendukung calon presiden yang sama. Kamu bilang akan menyimpan hari itu dalam ingatan terdalam, dan menceritakannya untuk anakmu kelak. Kubilang, "Kamu harus menceritakan revolusi penuh keriaan ini ke orang-orang Jerman!" 


Hari jelang keberangkatanmu ini tiba saat saya dalam puncak masa bertanya-tanya, (meminjam puisi Taufik Ismail), benarkah satu tambah satu sama dengan dua?

Ini hari yang sekali lagi membuat saya menyadari bahwa kita memang hanya sedang menanti. Barangkali kita hanya sekedar berjalan memutar untuk memungut bekal yang kita sangka tidak kita perlukan, untuk kemudian tiba di tujuan yang sudah lama kita tetapkan dan dibuatkan Tuhan.

Tapi...hei, S2 ke Jerman tentu bukan tujuan kan?  Ia adalah bagian dari perjalanan besar. Tujuan besar yang kita baca dalam Purpose Driven Life-nya Rick Warren yang terjemahannya masih dalam hati kita masing-masing. We don't know the way, but we'll be there soon .

Viel Gluck Tonggie!

Bahagia bisa jadi bagian perjalananmu. Semoga peristiwa-peristiwa yang kita alami bersama tersimpan dalam memori yang dapat diputar berulang kali, untuk membuat hati hangat atau syukur-syukur, memantik api semangat 

Saturday, May 3, 2014

(Para Mantan) Jenderal Marah-marah...Lewat Puisi

Karena puisi, Wiji Thukul diburu.
Para Jendral Marah-marah.
Begitu bunyi salah satu judul puisinya.


Begini penggalannya:
Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton. Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku. Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya. Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa? Hanya beberapa patah kata keluar dari mulutnya: “Namamu di televisi…”
Kalimat itu terus ia ulang seperti otomatis.
Aku tidur lagi dan ketika bangun wajah jendral itu sudah lenyap dari televisi.
Karena acara sudah berganti
….
“Namamu ada di televisi…” ternyata istriku jauh lebih cepat mengendus bagaimana kekejaman kemanusiaan itu daripada aku.

Kini, 14 tahun setelah Wiji Thukul  (di)hilang(kan), seorang mantan jendral dan pendukungnya berpuisi.
Mereka tak diburu, tentu saja, tapi memburu. Menyerang lawan politiknya, juga dengan puisi.
Agar puisinya dinilai hebat, beberapa kali si pendukung mantan jenderal menyebut jabatannya sebagai anggota redaksi sebuah majalah sastra.

Ah, Wiji Thukul, puisi kini telah turun tahta.
Jika kekuasaan menyimpang, puisi akan membersihkan, kata John F. Kennedy.
Kataku, itu dulu.
Di masa yang tak akan kembali.

Saturday, April 5, 2014

#SayaGolput

Beberapa waktu sebelum genderang Perang Bharatayudha ditabuh, kesatria besar Balarama mendatangi Yudhistira. Di hadapan anak Batara Dharma itu, Balarama bersumpah tak akan memihak Pandawa maupun Kaurawa. Ia muak terhadap kejahatan dunia dan memutuskan tak akan turut campur dalam perang. Ketika perang berakhir, Balarama datang ke padang Kurukshetra. Ia mengutuk Bhimasena yang mengabaikan aturan perang dengan menyerang Duryodhana yang sudah tak kuasa melawan. 

#SayaGolput...Administratif
Sejak dua bulan lalu, saya tahu, nama saya tak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di situs KPU. Saat saya konfirmasi ke Malang (alamat sesuai KTP saya), orangtua saya – yang baru pindah ke RT baru itu 3 tahun terakhir -  berkata juga belum mendapat pemberitahuan perihal lokasi TPS, dsb. Untuk meminta tolong mengkonfirmasi keberadaan nama saya ke kelurahan/KPUD setempat, saya enggan. Mereka sudah sepuh.

Setelah menonton iklan KPU di TV perihal kesempatan mendaftar dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK) H min 14, sebulan lalu saya datang ke kelurahan setempat (Pondok Benda, Tangerang Selatan), untuk mendaftar. “Sudah terlambat” adalah jawaban yang diberikan (padahal itu H min sebulan). Si petugas hanya meminta fotokopi KTP saya, tapi hingga kini tak ada kabar. Tetangga saya berkata juga belum terdaftar. Toh, dia tidak peduli. Saya khawatir banyak penghuni RT saya tak terdaftar karena sebagian besar adalah warga pendatang dari luar Jawa yang hanya singgah alias ngontrak. 

Dua pekan kemudian, berdasarkan info tentang kesempatan mendapatkan formulir A5, saya beralih bertandang ke KPUD Tangerang Selatan di Serpong. Di sana, saya mendapat kalimat yang sama, “Sudah terlambat.” Apalagi, jika nama saya belum terdaftar di DPT dan alamat KTP saya di Malang, berarti saya harus minta A5 bukan dari KPUD Tangsel, tapi dari KPUD Malang. 

Lima menit kemudian, datang seorang bapak yang dengan bersemangat juga meminta form A5. Untungnya, nama bapak itu telah tercantum di DPT. Alih-alih dijawab “Sudah terlambat,” (seperti jawaban yang saya terima), si petugas KPUD  berkata, “Ditinggal dulu ya Pak. Nanti suratnya bisa diambil lagi.” Si Bapak yang ternyata lebih garang dari saya,  menjawab, “Oo nggak bisa! Saya hari ini tidak bekerja, khusus untuk datang ke sini. Mbak perlu dibantu apa biar urusan saya bisa cepat selesai?” 
Saya terkekeh. 
Saya melangkah keluar dari pintu KPUD dengan vonis “sudah terlambat.” Meski begitu, setelah pemilihan legislatif (pileg), saya bertekad untuk mengejar dan memaksa siapapun yang bertugas untuk mencatatkan nama saya sebagai pemilih dalam pemilihan presiden (pilpres) nanti. 

Golput yang Kaffah (Sempurna)
Sementara ada orang seperti di atas yang cuti bekerja untuk mengurus hak pilihnya, di sisi lain, ada orang-orang, teman-teman saya sendiri, yang terang-terangan berteriak tidak akan memilih siapapun/partai apapun dalam pemilu nanti. Teman saya, @imandnugroho, setiap hari berkicau di Twitter dengan tagar #SayaGolput. Salah satu kicauannya berbunyi, “Kata kawan, Golput yang kaffah adalah Golput yang namanya terdaftar, lalu secara sadar memutuskan Golput.”
Sebagai golongan yang ingin memilih, tapi tidak terdaftar, saya terusik. Di Pileg nanti kami akan menjadi sesama golput. Tapi ada jurang perbedaan bernama kendala adminstratif yang menjadikan saya terpaksa golput.  

Saya yang di tahun 1998 masih duduk di bangku SMP di sebuah kota kecil, tentu punya sudut pandang dan pengalaman jauh berbeda dari teman saya, Iman. Sebagai wartawan yang pernah ditangkap ABRI (kini TNI) pada 1996, aktivis di kampus di masa reformasi, dan pernah bergabung dalam Election Observer AS, Carter Center, ia akhirnya tiba pada kesadaran yang katanya sulit dipahami orang : Negara hasil pemilu ternyata tidak mampu menyejahterakan masyarakat dari berbagai sisi. Inti persoalannya, kata Iman, berpusat pada penyelenggara dan peserta Pemilu. Ketika KPU/Bawaslu gagal, maka pemilu akan menghasilkan keburukan. 

Soal peserta pemilu, Iman berujar, “Saya tidak melihat partai-partai peserta pemilu serius memperbaiki diri. Karena itu, saya memilih untuk tidak membeli ‘dagangan’ mereka. Apakah semua buruk? Tentu tidak. Tapi saya tidak yakin yang baik akan terpilih, ketika yang buruk begitu banyak.” Bahwa tidak ada partai ataupun calon pemimpin yang sesuai dengan hati pun jadi alasan beberapa teman lain yang menyatakan golput. “Kalau nggak yakin, ya gak usah milih,” kata rekan lain, Ivan Setyanto

www.formatnews.com

Kalau Nggak Nyoblos, Lalu Ngapain?
Golput, mulanya lahir pada masa Orba dimaknai sebagai gerakan moral menentang kekuasaan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya mengikuti pemilu di zaman 3 warna itu, apalagi dengan hasil absolut yang bahkan sudah ada sebelum pemilu diadakan. Di masa itu, memilih justru berperan serta melanggengkan kekuasaan absolut itu. Maka, frase "tidak memilih berarti membiarkan negara dipimpin orang yang tidak tepat," bagi saya, hanya tepat diucapkan pada masa sekarang. Sehingga di masa kini, makin kencanglah anggapan bahwa golput adalah kelompok yang tidak loyal terhadap eksistensi kebangsaan dan apatis. 

Namun, menurut Ivan, demokrasi tidak bisa dimaknai hanya sebagai momen yang hanya berlaku lima tahun sekali : saat para wakil rakyat membutuhkan hak pilih kita. Menurutnya, berkontribusi nyata untuk negara seharusnya justru adalah tindakan yang dilakukan setiap hari, dalam pekerjaan, kampus, komunitas. “Golput akan tetap berkontribusi dan loyal untuk negara Indonesia, dengan cara apapun yg mereka bisa dan sekecil apapun kontribusinya,” ungkapnya.  Sejalan dengan Ivan, Iman berucap, “Thank God, saya jurnalis yang aktivis. Saya punya ‘kuasa’ untuk membuat perubahan melalui banyak jalan, tapi bukan lewat pemilu.” 
Catatan : Ivan adalah teman relawan di sebuah komunitas. Dan Iman adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Jadi, saya adalah saksi bahwa mereka golput yang tidak apatis. Hehe. 

Jadi, Kapan Nggak jadi Golput?
Menerangkan kegundahan Balarama di atas, sesungguhnya, dalam perang saudara itu, nyaris tak ada kesatria yang benar-benar menaati peraturan perang zaman itu yang antara lain berbunyi: perang harus dihentikan menjelang matahari terbenam, pertarungan satu lawan satu hanya diperkenankan antara dua pihak yang setara, yang bersenjata tidak boleh menyerang yang tidak bersenjata, tidak boleh ada yang menyerang atau membela kawan yang sedang bertarung satu lawan satu.

Dikisahkan, pada perang hari ke-13, Abhimanyu, putra Arjuna, tewas dikepung para senapati tua Kaurawa : Drona, Kripa, Karna, Duhsasana, Aswatthama, Sengkuni. Sebaliknya, Gatotkaca, putra Bhimasena, yang bertambah kuat dan sakti saat langit gelap, membabat musuh di malam hari. Bahkan, Dharmaputra (Yudhistira), kesatria yang terkenal jujur, akhirnya mengikuti saran Khrisna untuk menipu Mahasenapati Drona demi membunuhnya. 
Sebutlah saya naif. Tapi menurut saya, sayangnya, mirip kisah peperangan di atas, mengharapkan Pemilu yang benar-benar bersih itu seperti mengharapkan dunia yang bebas dari kejahatan. Seperti juga mengharapkan (ada) calon-calon yang dipilih 100% tak tercela itu seperti menanti nabi baru. Jika ada orang yang benar, di area lain akan selalu ada orang-orang yang tidak jujur. Bagi saya, kondisi yang sempurna itu tidak akan pernah ada. 

Menjawab pertanyaan “kondisi apa yang akan membuat Anda tidak golput,” Iman berucap, “Saya tidak tahu. Yang pasti, dengan ‘kekuasaan’ yang saya punya, saya coba mewujudkannya. Apakah bisa terwujud? Saya tidak tahu. Lebih tepatnya, tidak peduli. Saya hanya percaya, proses yang baik akan membuahkan hasil baik.” Sementara, Ivan menjawab, baru akan memilih seseorang kalau kinerja orang itu sudah terbukti nyata selama lima tahun, jujur, dan bertanggung jawab. Teman saya yang lain, Donny Pratomo menjawab, “Kalau ada calon yang saya kenal dengan baik.” 

Memang, nyatanya, tak terhitung orang yang kita “kenal” baik sebagai orang yang “baik” atau garang di masa lalu, kemudian menjadi entah siapa setelah punya posisi. Orang tidak memerintah dalam sebuah ruang vakum sehingga semua situasi akan bisa selalu ia kendalikan selama bertahun-tahun. Selalu ada berbagai kepentingan. Selalu ada alasan yang membuatnya tidak menjadi yang seperti yang diharapkan orang. Orang secerdas Obama pun kini tidak terus menerus mendapat dukungan sekuat sebelum ia terpilih. Meski dirinya sendiri “benar,” tapi kebenaran seorang pemimpin akan selalu didefinisikan oleh hal-hal yang mengelilinginya. 

Namun setidaknya, dibanding 5 tahun lalu, menurut saya KPU dan Bawaslu sekarang lebih gesit dan bergigi. Dibanding 5 tahun, apalagi 20 tahun lalu, sekarang ada calon-calon yang lebih tidak buruk di antara yang buruk. Di antara caleg-caleg yang asal naik itu, saya yakin ada orang-orang yang sedang berjalan menuju kebaikan dan ingin memperjuangkannya dalam sistem. Setidaknya, bagi saya, itu cukup untuk saat ini. 

Pada akhirnya, di tengah gemuruh genderang perang, saya tidak ingin seperti Balarama yang mengasingkan diri dari pertempuran, lalu datang setelah perang usai untuk merutuki segala sesuatu. Jika tak mau angkat senjata, bisa jadi sais kereta seperti Khrisna. Atau...menciptakan pertempuran sendiri.

***

Friday, March 21, 2014

A French Introduced Me to My Own Land

When he was about my age, Francois-Robert Zacot went and lived in Badjo, Gorontalo, for several years.

I didn’t even know where Badjo is by the time he mentioned it to me, 1,5 year ago. That night, he was sitting next to me, watching Bedhoyo Dirodometo, a traditional Javanese (Mataram) dance performance in Taman Ismail Marzuki. I was there to make a report and busy with my cell phone, while he was watching the dance like a seven-year-old kid watching his favorite magician.

In the book program of the dance festival, Dirodo Meto was translated as “the angry elephant.” But the gamelan dan the dancers were moving so slowly (yes, I’m writing it as if I’m not a Javanese woman). When the dance ended, that man beside me made a long ovation and said, “Magnificent! Magnificent!”    

I forgot how it starts. At the break time, we talked while walking out of the theater. He was holding his Blackberry but didn’t know his pin number. He could speak Bahasa and said that he lived in some place in Indonesia, years ago (I think he mentioned Badjo, but I thought it was Labuan Badjo in Flores). He handed me his name card, I gave mine (or not?). And I went home.

The day after, I said to a friend, a journalist focusing on cultural issue, that I met a French  anthropogist (it’s stated in his name card). She asked, “Who? My favorite is Francois-Robert Zacot.” I looked at the name card, starred at my friend’s eyes, and said, “Then I met your idol.”

And so… 30 years ago, this man lived in Pulau Nain, North Manado, and Desa Torosiaje, Gorontalo for years. Along with his girlfriend, they live together with Badjo people. He wrote his observations into a book entitled Peuple nomade de la mer : les Badjos d'IndonĂ©sie. Published in Indonesia by Gramedia, Orang Bajo: Suku Pengembara Laut(Pengalaman Seorang Antropolog). The book which the royalty he never receives (he told me).  His observation was considered the pioneer research towards the Badjo people, and become the reference for another studies afterwards.

I met him several times after the dance performance, during his visit to Indonesia.
Last year, he went back to Jakarta, looking for a networking to start his project, The Badjo Network Program.
Thirty years gone by, yet he still devotes his life for Badjo people.  

“Why?” I asked him.
“Sometimes I think of doing another project. But then I realize…no…Badjo is more important. Badjo are deserve to be helped.”
“But why?”
“Because  they are unique. And when it’s unique, it belongs to the universe. Not to your country alone.”
It was like a punch on my chest.

By the time I write this, he is still struggling for the program, trying to keep it up from Paris.
It breaks my heart when I realize that things we do for goodness, non-profit, to preserve environment, won’t come easy in Indonesia.

I admire his sincere heart and the way he feed his curiousity.
One day, when we met, he suddenly said, “How about if we go to the bird market?”
“What for?” I hesitate.
“I want to know why people are so obsessed keeping birds in the cage. And then we will release all those birds from their cages!” he laughed.

He is one of those people we often ask about our own country, our own history. 
He is just like Harry Poeze who writes a long story of Tan Malaka, or Dr. Werner Kraus who could tell a lot about Raden Saleh.

Francois-Robert makes me feel like a tourist in the land I born. 
Urge me to jump out of my office for a quest. 
And I’m glad I could call him a friend.

***

About Badjo :

Sunday, March 2, 2014

Gerilya Zaman Ini


Mudah untuk mengayuh sepeda di tengah jalanan lapang saat car free day. Tapi menghalau terik di sela kendaraan pembuang asap dengan membonceng kardus penuh buku? Siapapun harus punya alasan yang sepadan.


Paket buku ke Himmata, Plumpang ini diantar saat Jakarta masih dikepung banjir  
Teman saya, Muhammad Akbar, punya alasan yang bisa membuatnya mengayuh sepeda dari Manggarai, Jakarta Selatan (sekretariat  Komunitas 1001 buku) hingga ke Taman Baca Himmata di Plumpang, Jakarta Utara, lalu beberapa hari kemudian ke Taman Baca Asmanadia di Solear, Tangerang. 


Antar buku bersama Ian &Yadi, 
teman yang juga bersepeda ke kantor, anggota JGS 



“Prihatin banyak anak di bawah umur mengendarai sepeda motor. Dengan mengantar buku dengan bersepeda, saya ingin mengingatkan mereka akan bahayanya mengendarai sepeda motor di jalan raya, dan mengajak anak kembali membaca buku. Dengan buku, anak-anak bisa pintar dan berwawasan luas. Dengan bersepeda, mereka bisa hidup sehat. Seimbang antara otak kiri dan kanan,” ungkap Staf Pelayanan Lapangan (SPL) Secure Parking di Gandaria City ini. 


“Sempat salah jalan & meleset 20 kilometer. 
Tapi capek terbayarkan setelah lihat senyum anak-anak 
melihat kami datang bawa buku.” (Manggarai – Solear)
Program jemput buku dari donatur, dan mengantar buku ke taman baca itu dinamai Akbar : Bike for Hope, Book for Hope. Buku-buku yang sudah disortir di sekretariat 1001 buku memang biasanya dikirim via pos. Namun, biaya pengiriman buku memang cukup besar (2 – 3 juta sekali pengiriman). Jadi, Akbar berpikir untuk mengantarnya dengan sepeda. Sekalian kenalan sama pengelola taman baca, katanya. 











Program Akbar mendapat dukungan penuh dari pendiri Jakarta Games Society, Alfa Febrian, yang adalah mantan ketua Bike to Work. Pagi tadi (2/3), bersama rekan JGS lain, Akbar menjemput donasi buku dari warga komplek PELNI Depok. Ada 10-an kardus besar, diangkut dengan mobil bak millik Alfa. Selain buku, JGS juga mengantarkan paket jajanan anak. “Paket bantuan banjir dari JGS yang belum terdistribusi,” kata Akbar.  



Dan ini yang kelelahan ngangkutin buku, adalah Yanuardi Tofan, 
relawan 1001 buku, mahasiwa Bina Sarana Informatika :)

Saya tercenung mengamati bagaimana perjalanan buku-buku itu hingga tiba di tangan-tangan mungil di taman-taman baca. Ucapan Mahatma Gandhi ternyata belum usang. Be the change you wish to see in this world. They did it. 

NB : Dan status WhatsApp Akbar (yang biasa dapet shift kerja malam) saat saya mengetik ini berbunyi "Kapan tidurnya ini." :D


Stories inside my head

Share this blog