Saturday, April 5, 2014

#SayaGolput

Beberapa waktu sebelum genderang Perang Bharatayudha ditabuh, kesatria besar Balarama mendatangi Yudhistira. Di hadapan anak Batara Dharma itu, Balarama bersumpah tak akan memihak Pandawa maupun Kaurawa. Ia muak terhadap kejahatan dunia dan memutuskan tak akan turut campur dalam perang. Ketika perang berakhir, Balarama datang ke padang Kurukshetra. Ia mengutuk Bhimasena yang mengabaikan aturan perang dengan menyerang Duryodhana yang sudah tak kuasa melawan. 

#SayaGolput...Administratif
Sejak dua bulan lalu, saya tahu, nama saya tak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di situs KPU. Saat saya konfirmasi ke Malang (alamat sesuai KTP saya), orangtua saya – yang baru pindah ke RT baru itu 3 tahun terakhir -  berkata juga belum mendapat pemberitahuan perihal lokasi TPS, dsb. Untuk meminta tolong mengkonfirmasi keberadaan nama saya ke kelurahan/KPUD setempat, saya enggan. Mereka sudah sepuh.

Setelah menonton iklan KPU di TV perihal kesempatan mendaftar dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK) H min 14, sebulan lalu saya datang ke kelurahan setempat (Pondok Benda, Tangerang Selatan), untuk mendaftar. “Sudah terlambat” adalah jawaban yang diberikan (padahal itu H min sebulan). Si petugas hanya meminta fotokopi KTP saya, tapi hingga kini tak ada kabar. Tetangga saya berkata juga belum terdaftar. Toh, dia tidak peduli. Saya khawatir banyak penghuni RT saya tak terdaftar karena sebagian besar adalah warga pendatang dari luar Jawa yang hanya singgah alias ngontrak. 

Dua pekan kemudian, berdasarkan info tentang kesempatan mendapatkan formulir A5, saya beralih bertandang ke KPUD Tangerang Selatan di Serpong. Di sana, saya mendapat kalimat yang sama, “Sudah terlambat.” Apalagi, jika nama saya belum terdaftar di DPT dan alamat KTP saya di Malang, berarti saya harus minta A5 bukan dari KPUD Tangsel, tapi dari KPUD Malang. 

Lima menit kemudian, datang seorang bapak yang dengan bersemangat juga meminta form A5. Untungnya, nama bapak itu telah tercantum di DPT. Alih-alih dijawab “Sudah terlambat,” (seperti jawaban yang saya terima), si petugas KPUD  berkata, “Ditinggal dulu ya Pak. Nanti suratnya bisa diambil lagi.” Si Bapak yang ternyata lebih garang dari saya,  menjawab, “Oo nggak bisa! Saya hari ini tidak bekerja, khusus untuk datang ke sini. Mbak perlu dibantu apa biar urusan saya bisa cepat selesai?” 
Saya terkekeh. 
Saya melangkah keluar dari pintu KPUD dengan vonis “sudah terlambat.” Meski begitu, setelah pemilihan legislatif (pileg), saya bertekad untuk mengejar dan memaksa siapapun yang bertugas untuk mencatatkan nama saya sebagai pemilih dalam pemilihan presiden (pilpres) nanti. 

Golput yang Kaffah (Sempurna)
Sementara ada orang seperti di atas yang cuti bekerja untuk mengurus hak pilihnya, di sisi lain, ada orang-orang, teman-teman saya sendiri, yang terang-terangan berteriak tidak akan memilih siapapun/partai apapun dalam pemilu nanti. Teman saya, @imandnugroho, setiap hari berkicau di Twitter dengan tagar #SayaGolput. Salah satu kicauannya berbunyi, “Kata kawan, Golput yang kaffah adalah Golput yang namanya terdaftar, lalu secara sadar memutuskan Golput.”
Sebagai golongan yang ingin memilih, tapi tidak terdaftar, saya terusik. Di Pileg nanti kami akan menjadi sesama golput. Tapi ada jurang perbedaan bernama kendala adminstratif yang menjadikan saya terpaksa golput.  

Saya yang di tahun 1998 masih duduk di bangku SMP di sebuah kota kecil, tentu punya sudut pandang dan pengalaman jauh berbeda dari teman saya, Iman. Sebagai wartawan yang pernah ditangkap ABRI (kini TNI) pada 1996, aktivis di kampus di masa reformasi, dan pernah bergabung dalam Election Observer AS, Carter Center, ia akhirnya tiba pada kesadaran yang katanya sulit dipahami orang : Negara hasil pemilu ternyata tidak mampu menyejahterakan masyarakat dari berbagai sisi. Inti persoalannya, kata Iman, berpusat pada penyelenggara dan peserta Pemilu. Ketika KPU/Bawaslu gagal, maka pemilu akan menghasilkan keburukan. 

Soal peserta pemilu, Iman berujar, “Saya tidak melihat partai-partai peserta pemilu serius memperbaiki diri. Karena itu, saya memilih untuk tidak membeli ‘dagangan’ mereka. Apakah semua buruk? Tentu tidak. Tapi saya tidak yakin yang baik akan terpilih, ketika yang buruk begitu banyak.” Bahwa tidak ada partai ataupun calon pemimpin yang sesuai dengan hati pun jadi alasan beberapa teman lain yang menyatakan golput. “Kalau nggak yakin, ya gak usah milih,” kata rekan lain, Ivan Setyanto

www.formatnews.com

Kalau Nggak Nyoblos, Lalu Ngapain?
Golput, mulanya lahir pada masa Orba dimaknai sebagai gerakan moral menentang kekuasaan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya mengikuti pemilu di zaman 3 warna itu, apalagi dengan hasil absolut yang bahkan sudah ada sebelum pemilu diadakan. Di masa itu, memilih justru berperan serta melanggengkan kekuasaan absolut itu. Maka, frase "tidak memilih berarti membiarkan negara dipimpin orang yang tidak tepat," bagi saya, hanya tepat diucapkan pada masa sekarang. Sehingga di masa kini, makin kencanglah anggapan bahwa golput adalah kelompok yang tidak loyal terhadap eksistensi kebangsaan dan apatis. 

Namun, menurut Ivan, demokrasi tidak bisa dimaknai hanya sebagai momen yang hanya berlaku lima tahun sekali : saat para wakil rakyat membutuhkan hak pilih kita. Menurutnya, berkontribusi nyata untuk negara seharusnya justru adalah tindakan yang dilakukan setiap hari, dalam pekerjaan, kampus, komunitas. “Golput akan tetap berkontribusi dan loyal untuk negara Indonesia, dengan cara apapun yg mereka bisa dan sekecil apapun kontribusinya,” ungkapnya.  Sejalan dengan Ivan, Iman berucap, “Thank God, saya jurnalis yang aktivis. Saya punya ‘kuasa’ untuk membuat perubahan melalui banyak jalan, tapi bukan lewat pemilu.” 
Catatan : Ivan adalah teman relawan di sebuah komunitas. Dan Iman adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Jadi, saya adalah saksi bahwa mereka golput yang tidak apatis. Hehe. 

Jadi, Kapan Nggak jadi Golput?
Menerangkan kegundahan Balarama di atas, sesungguhnya, dalam perang saudara itu, nyaris tak ada kesatria yang benar-benar menaati peraturan perang zaman itu yang antara lain berbunyi: perang harus dihentikan menjelang matahari terbenam, pertarungan satu lawan satu hanya diperkenankan antara dua pihak yang setara, yang bersenjata tidak boleh menyerang yang tidak bersenjata, tidak boleh ada yang menyerang atau membela kawan yang sedang bertarung satu lawan satu.

Dikisahkan, pada perang hari ke-13, Abhimanyu, putra Arjuna, tewas dikepung para senapati tua Kaurawa : Drona, Kripa, Karna, Duhsasana, Aswatthama, Sengkuni. Sebaliknya, Gatotkaca, putra Bhimasena, yang bertambah kuat dan sakti saat langit gelap, membabat musuh di malam hari. Bahkan, Dharmaputra (Yudhistira), kesatria yang terkenal jujur, akhirnya mengikuti saran Khrisna untuk menipu Mahasenapati Drona demi membunuhnya. 
Sebutlah saya naif. Tapi menurut saya, sayangnya, mirip kisah peperangan di atas, mengharapkan Pemilu yang benar-benar bersih itu seperti mengharapkan dunia yang bebas dari kejahatan. Seperti juga mengharapkan (ada) calon-calon yang dipilih 100% tak tercela itu seperti menanti nabi baru. Jika ada orang yang benar, di area lain akan selalu ada orang-orang yang tidak jujur. Bagi saya, kondisi yang sempurna itu tidak akan pernah ada. 

Menjawab pertanyaan “kondisi apa yang akan membuat Anda tidak golput,” Iman berucap, “Saya tidak tahu. Yang pasti, dengan ‘kekuasaan’ yang saya punya, saya coba mewujudkannya. Apakah bisa terwujud? Saya tidak tahu. Lebih tepatnya, tidak peduli. Saya hanya percaya, proses yang baik akan membuahkan hasil baik.” Sementara, Ivan menjawab, baru akan memilih seseorang kalau kinerja orang itu sudah terbukti nyata selama lima tahun, jujur, dan bertanggung jawab. Teman saya yang lain, Donny Pratomo menjawab, “Kalau ada calon yang saya kenal dengan baik.” 

Memang, nyatanya, tak terhitung orang yang kita “kenal” baik sebagai orang yang “baik” atau garang di masa lalu, kemudian menjadi entah siapa setelah punya posisi. Orang tidak memerintah dalam sebuah ruang vakum sehingga semua situasi akan bisa selalu ia kendalikan selama bertahun-tahun. Selalu ada berbagai kepentingan. Selalu ada alasan yang membuatnya tidak menjadi yang seperti yang diharapkan orang. Orang secerdas Obama pun kini tidak terus menerus mendapat dukungan sekuat sebelum ia terpilih. Meski dirinya sendiri “benar,” tapi kebenaran seorang pemimpin akan selalu didefinisikan oleh hal-hal yang mengelilinginya. 

Namun setidaknya, dibanding 5 tahun lalu, menurut saya KPU dan Bawaslu sekarang lebih gesit dan bergigi. Dibanding 5 tahun, apalagi 20 tahun lalu, sekarang ada calon-calon yang lebih tidak buruk di antara yang buruk. Di antara caleg-caleg yang asal naik itu, saya yakin ada orang-orang yang sedang berjalan menuju kebaikan dan ingin memperjuangkannya dalam sistem. Setidaknya, bagi saya, itu cukup untuk saat ini. 

Pada akhirnya, di tengah gemuruh genderang perang, saya tidak ingin seperti Balarama yang mengasingkan diri dari pertempuran, lalu datang setelah perang usai untuk merutuki segala sesuatu. Jika tak mau angkat senjata, bisa jadi sais kereta seperti Khrisna. Atau...menciptakan pertempuran sendiri.

***

No comments:

Share this blog