Sunday, March 2, 2014

Gerilya Zaman Ini


Mudah untuk mengayuh sepeda di tengah jalanan lapang saat car free day. Tapi menghalau terik di sela kendaraan pembuang asap dengan membonceng kardus penuh buku? Siapapun harus punya alasan yang sepadan.


Paket buku ke Himmata, Plumpang ini diantar saat Jakarta masih dikepung banjir  
Teman saya, Muhammad Akbar, punya alasan yang bisa membuatnya mengayuh sepeda dari Manggarai, Jakarta Selatan (sekretariat  Komunitas 1001 buku) hingga ke Taman Baca Himmata di Plumpang, Jakarta Utara, lalu beberapa hari kemudian ke Taman Baca Asmanadia di Solear, Tangerang. 


Antar buku bersama Ian &Yadi, 
teman yang juga bersepeda ke kantor, anggota JGS 



“Prihatin banyak anak di bawah umur mengendarai sepeda motor. Dengan mengantar buku dengan bersepeda, saya ingin mengingatkan mereka akan bahayanya mengendarai sepeda motor di jalan raya, dan mengajak anak kembali membaca buku. Dengan buku, anak-anak bisa pintar dan berwawasan luas. Dengan bersepeda, mereka bisa hidup sehat. Seimbang antara otak kiri dan kanan,” ungkap Staf Pelayanan Lapangan (SPL) Secure Parking di Gandaria City ini. 


“Sempat salah jalan & meleset 20 kilometer. 
Tapi capek terbayarkan setelah lihat senyum anak-anak 
melihat kami datang bawa buku.” (Manggarai – Solear)
Program jemput buku dari donatur, dan mengantar buku ke taman baca itu dinamai Akbar : Bike for Hope, Book for Hope. Buku-buku yang sudah disortir di sekretariat 1001 buku memang biasanya dikirim via pos. Namun, biaya pengiriman buku memang cukup besar (2 – 3 juta sekali pengiriman). Jadi, Akbar berpikir untuk mengantarnya dengan sepeda. Sekalian kenalan sama pengelola taman baca, katanya. 











Program Akbar mendapat dukungan penuh dari pendiri Jakarta Games Society, Alfa Febrian, yang adalah mantan ketua Bike to Work. Pagi tadi (2/3), bersama rekan JGS lain, Akbar menjemput donasi buku dari warga komplek PELNI Depok. Ada 10-an kardus besar, diangkut dengan mobil bak millik Alfa. Selain buku, JGS juga mengantarkan paket jajanan anak. “Paket bantuan banjir dari JGS yang belum terdistribusi,” kata Akbar.  



Dan ini yang kelelahan ngangkutin buku, adalah Yanuardi Tofan, 
relawan 1001 buku, mahasiwa Bina Sarana Informatika :)

Saya tercenung mengamati bagaimana perjalanan buku-buku itu hingga tiba di tangan-tangan mungil di taman-taman baca. Ucapan Mahatma Gandhi ternyata belum usang. Be the change you wish to see in this world. They did it. 

NB : Dan status WhatsApp Akbar (yang biasa dapet shift kerja malam) saat saya mengetik ini berbunyi "Kapan tidurnya ini." :D


4 comments:

donie.. said...

luar biasa sobat gw satu ini...\m/

Naomi said...

Bike for Hope, Book for Hope. Luar biasa Mas Akbar ini mau dipakai Tuhan utk memberi ilmu & kebahagiaan bagi orang lain...semoga hidupnya terus diberkati, Amin

riverflow said...

mba, boleh minta alamat email atau nmr kontak mas Akbar?

Lucia Priandarini said...

Hai mohon maaf baru balas. Bisa SMS saja di 081311158136. Nanti saya infokan nomernya :)

Share this blog