Saturday, May 3, 2014

(Para Mantan) Jenderal Marah-marah...Lewat Puisi

Karena puisi, Wiji Thukul diburu.
Para Jendral Marah-marah.
Begitu bunyi salah satu judul puisinya.


Begini penggalannya:
Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton. Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku. Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya. Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa? Hanya beberapa patah kata keluar dari mulutnya: “Namamu di televisi…”
Kalimat itu terus ia ulang seperti otomatis.
Aku tidur lagi dan ketika bangun wajah jendral itu sudah lenyap dari televisi.
Karena acara sudah berganti
….
“Namamu ada di televisi…” ternyata istriku jauh lebih cepat mengendus bagaimana kekejaman kemanusiaan itu daripada aku.

Kini, 14 tahun setelah Wiji Thukul  (di)hilang(kan), seorang mantan jendral dan pendukungnya berpuisi.
Mereka tak diburu, tentu saja, tapi memburu. Menyerang lawan politiknya, juga dengan puisi.
Agar puisinya dinilai hebat, beberapa kali si pendukung mantan jenderal menyebut jabatannya sebagai anggota redaksi sebuah majalah sastra.

Ah, Wiji Thukul, puisi kini telah turun tahta.
Jika kekuasaan menyimpang, puisi akan membersihkan, kata John F. Kennedy.
Kataku, itu dulu.
Di masa yang tak akan kembali.

No comments:

Share this blog