Wednesday, November 23, 2011

Someone Else's Father

Dalam perjalanan menuju stasiun, pengemudi ojek itu mengangkat telepon genggamnya yang berdering.
“Halo? Iya, Nak. Bapak masih nganter penumpang nih.”
Jeda. Saya memandangi tato di tangannya.
“Iya, sebentar lagi bapak pulang. Adik mau dibawakan apa?”
Saya tertegun. 


Sering saya memandang tukang ojek (atau sebagian besar orang) sebagai sosok yang menawarkan jasa mengantar orang ke sebuah tempat. That’s it.
Kadang mereka menyebut nominal tak masuk akal sebagai tarif yang dikenakan.
Foto : http://antossip.files.wordpress.com/
Tugas saya, pengguna jasa, adalah mengembalikan mereka ke bumi dengan menawar harga serendah mungkin.
Kadang saya yang menyerah, kali lain mereka yang pasrah. 

Saya sering lupa bahwa seorang pengemudi ojek (atau orang berprofesi apapun) bisa jadi adalah ayah dari seorang anak yang sedang sakit, suami dari seorang istri yang mungkin besok akan melahirkan, atau anak dari seorang bapak yang di-PHK. Kadang tidak begitu perlu menawar harga tarif membabi buta.
Toh kita tak pernah minta kembalian pada pengemis jadi-jadian…yang tidak mencoba menawarkan jasa.

2 comments:

zahidayat said...

tawarlah. tapi pas bayar, kasih sesuai yg dia minta. ojeknya senang, kita juga. :)

ilhabibi said...

wa ini, nawar ya nawar tapi sewajarnya, sebaiknya itu prinsipnya, saling menguntungkan dan saling menghargai, itu kuncinya ;)

Share this blog