Wednesday, April 22, 2009

Generasi SUPERmarket

Para pedagang pasar tradisional di kota kecil saya, Malang, tidak begitu khawatir saat sebuah hipermarket modern pertama berdiri. Orang-orang seperti ibu saya hingga sekarang tetap setia berbelanja di pasar tradisional. Padahal pasar tradisional terdekat berjarak satu kali naik angkutan umum, sedangkan hipermarket baru itu bahkan bisa dicapai dengan jalan kaki dari rumah saya.
Betapapun saya menyebut hipermarket sebagai one stop place untuk belanja hampir semua barang, ibu saya selalu mencibir setiap saya mengajak beliau ke sana. Ibu saya selalu menemukan alasan untuk tidak pergi ke sana, seperti : sayur dan buahnya penuh pestisida, bangunan mall-nya berdiri di atas lahan sengketa, takut naik escalator, sampai berita di televisi tentang hipermarket yang ceroboh menjual produk yang sudah kadaluarsa.
Well…meski bukan ketua asosiasi pedagang pasar seperti Prabowo, tentu saja saya juga tidak setuju jika perputaran uang dikuasai pemilik hipermarket-hipermarket saja dan meminggirkan pedagang tradisional (ngomong-ngomong keluarganya Prabowo belanja di pasar tradisional juga gak ya?).
Tapi sayangnya saya sendiri tak bisa memungkiri bahwa saya lebih memilih untuk berbelanja di supermarket dibanding di pasar tradisional. Bukan karena supermarket itu full AC, sedangkan pasar tidak. Bukan juga karena harga atau jaraknya yang dekat dari rumah. Tapi karena beberapa alasan konyol berikut :
- Saya tidak pintar berbahasa jawa selain ngoko (tingkat paling kasar). Karena itu pasar tradisional yang mengharuskan saya menawar harga dan berinteraksi dengan pedagang dalam bahasa sedikit lebih sopan, jelas membuat saya kikuk. Lagipula, saya tak tahu berapa harga yang “pantas” untuk setiap bahan makanan. Pun saya bukan tipe orang yang pandai menawar.
Jadi karena alasan di atas, saya memilih belanja “dalam diam” di super/hipermarket. Tinggal mengambil barang, melihat harga dan memilih mana yang murah, bayar ke kasir. Toh mbak-mbak pramuniaga cantik itu juga pasti akan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan costumernya.
- Selain itu, kadang saya bahkan tak tahu bentuk sebuah bahan makanan seperti sayur atau bumbu dapur tertentu (hahaha). Atau sebaliknya, saya tahu bentuknya, tapi tak tahu namanya. Saya pernah berbelanja di pasar tradisional seorang diri dengan hanya menunjuk bahan yang saya maksud. “Beli ini, beli itu” kata saya. Merasa konyol. Uh…saya tak mau mengulanginya lagi.
Maka belanja di hipermarket memungkinkan saya untuk mengambil apapun yang saya mau, sekaligus belajar mengenali nama-nama sayuran seperti “timun suri” atau “kecipir,” lewat tulisan yang tertera.

Dasar anak jaman sekarang…:-D

No comments:

Share this blog