Saturday, January 20, 2007

To Papua with Love

Bagi orang Papua, Indonesianisasi mungkin lebih mengkhawatirkan daripada Amerikanisasi.

(Sebuah kalimat dalam buku kuliah Cultural Studies-ku, Chris Barker, SAGE Publication)


“Anda berasal dari mana?” tanya si bapak dosen pada salah satu teman saya yang berkulit hitam dan berambut keriting. “Saya lahir di Jakarta,Pak. Ibu saya yang dari Kupang.” “Oh, saya kira dari Papua,” komentar bapak dosen disambut tawa (hampir) seluruh kelas, termasuk saya. Tetapi teman di sebelah saya diam saja.

Sambil menyalin catatan, ia bertanya sesuatu yang membuat saya berpikir lama, " Ada apa dengan orang Papua? Kenapa sih semua orang ketawa kalo denger kata Papua? Lo pasti juga gak mau kan kalo dikira dari Papua?” Saya diam saja. Melihat saya diam tak bisa menanggapi, dia bicara sendiri. Panjang lebar…yang intinya : “Mereka juga orang Indonesia. Nggak lebih rendah dari kita kan? Kita nertawain mereka seakan-akan jadi orang Papua itu naas dan bodoh banget, nggak ngerti apa-apa.”

Saya memang tidak tahu banyak tentang Papua, tapi setidaknya dengan pengetahuan terbatas ini, saya ingin berpendapat tentang mereka. Sudah sejak lama pemerintah Indonesia menetapkan standar tunggal ”kesejahteraan” atas berbagai propinsi yang pasti punya karakteristik berbeda, seperti Papua . Dengan standar ini pastinya orang-orang Papua ini berada jauh di bawah garis kemiskinan. Padahal sejak zaman dulu memang begitulah cara mereka hidup.

Akhirnya mereka dipaksa berlomba-lomba supaya bisa sejajar dengan Jawa. Dipaksa mengikuti lompatan budaya yang tak selalu membuahkan kebijaksanaan, dan cenderung hanya bersifat inferior,meniru. Saya pernah membaca tentang orang Papua yang bangga punya telepon genggam, padahal tak ada listrik di rumahnya; sehingga ia harus pergi ke kota untuk mengisi baterainya. Tak jelas apakah ia benar-benar membutuhkan alat komunikasi itu. Tak kalah “hebat” orang-orang dengan mobil mewah datang dan pergi ke dan dari lokasi Freeport , menjadikan orang Papua seakan jadi orang asing yang sekedar menumpang di tanah kelahiran mereka sendiri. Yang lebih menyedihkan lagi mereka harus mencuri untuk sekedar dapat makanan.

Kemarin, setelah menonton Film Denias, saya jadi semakin ingin pergi ke Papua. Mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi suatu saat nanti saya pasti ke sana. Bukan sok pahlawan, tapi setidaknya orang-orang Papua ini harus tahu bahwa mereka punya hak untuk hidup sejahtera, sama dengan orang lain. Sejahtera dengan cara mereka sendiri, bukan dengan cara meniru orang Jawa atau siapapun yang datang ke tanah mereka dan mengambil seluruh isi perut bumi Papua tapi membiarkan mereka tetap berada jauh di belakang.

No comments:

Stories inside my head

Share this blog