Saturday, January 20, 2007

Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya*

Saya selalu mengalami dilema saat berpapasan dengan pengemis. Kadang saya merasa bersalah jika tidak merogoh dompet untuk memberi sekedarnya pada tangan-tangan yang ditengadahkan pada saya. Saya tahu bahwa para pengemis ini kadang juga menggunakan berbagai trik untuk mendatangkan rasa iba demi mengeruk isi kantong kita. Bawa anak orang, bikin replika luka berdarah darah dan bernanah, bergaya lumpuh, pasang tampang nggak makan berhari-hari, sampai sindikat yang mempekerjakan anak-anak. Semua cara asal bisa dapat "seiklhlasnya."

Tapi tetap saja saya bingung membedakan, mana yang asli harus ditolong, mana yang tidak. Yang ada di pikiran saya adalah "Apa benar dia nggak mampu?" atau "Ah, badan masih kuat begitu. Kenapa gak kerja sih?" atau "Duh, kasihan. Dia dah makan belum ya?" atau yang paling sering, "Mau ngasih tapi ragu-ragu nih. Biar yang laen aja deh yang ngasih."


Sore itu saya sedang menunggu kereta ke Juanda. Ternyata di sebelah saya duduk seorang pengemis yang sering saya llihat "beroperasi" di jalan menuju kampus saya. Ia melihat saya membawa tas besar, kemudian bertanya.

Si bapak : "Neng, mau pergi jauh ya?"

Saya : "Iya Pak."

Si bapak : "Ke mana Neng?"

Saya : "Ke Malang Pak."

Si Bapak : "Pemalang? Wah jauh bener!"

Saya : "MALANG, Pak."

Si Bapak : "Wah, lebih jauh lagi."

Saya : "Bapak rumahnya di mana?"

Si Bapak : "Di Kramat jati... (menurut pendengaran saya)

Cari duit sekarang susah Neng. Kebutuhan juga makin

tinggi..."

Saya : "Emang Bapak tinggal sama siapa Pak?" (saya ingin tau

jumlah orang yang bergantung hidup padanya)

Si Bapak : " Ya ini berdua... (sambil menunjuk seorang perempuan yang

berusia jauh lebih muda darinya. Si perempuan berdiri di

sebelah si Bapak, sedang menengadahkan tangan ke

orang2 yang baru membeli karcis di peron)

Saya : "Oh..." (saya kurang tertarik untuk mengetahui, apakah

perempuan itu anaknya atau istrinya, atau siapa)

Si Bapak : (tanpa saya tanya, si Bapak menceritakan sesuatu yang ingin

saya ketahui sekian lama)

"Setiap hari kita dapat 50 ribu, Neng. Dibagi berdua. Saya

25, dia 25."

Saya : (Otak saya mengkalkulasi jumlah itu jika ditotal dalam

sebulan)

"Wah, banyak dong Pak!" (SATU SETENGAH JUTA hanya

dengan meMINTA-minta!)

Si Bapak : "Iya...tapi kebutuhan saya juga banyak Neng!"

Saya : "Oo...buat bayar sekolah anak? Atau apa Pak?"

Si Bapak : "Ya enggak... Saya berangkat kerja (ini sebutan untuk

kegiatan menengadahkan tangannya tiap hari) jam 7,

pulang jam 5 sore. Nah kan lama tuh. Nggak di satu tempat

doang. Cepet laper & haus. Jadinya sering jajan."

Saya : (saya mengerutkan kening) "Lha...kenapa nggak bawa

makan minum dari rumah Pak? Kan biar hemat."

(tadinya saya semangat ingin bercerita bahwa saya sendiri

selalu membawa minum dari kos untuk seharian di kampus.

Dan kadang saya juga beli & bawa makan dari warteg, biar

nggak jajan di kantin kampus yang aduhai mahalnya untuk

keuangan saya. Dengan cara ini saya bisa menghemat

biaya makan sehari jadi hanya 10ribu).

Si Bapak : (jawabannya setelah ini membuat saya urung bercerita dan

langsung malas melanjutkan percakapan)

" Ya kan laen Neng. Orang kan banyak maunya. Kadang

saya pinginnya yang dingin. Kayak Aqua gitu kan enak.

Kadang pingin yang manis, ya beli teh botol. Kalau bawa

dari rumah kan nggak dingin lagi. Jadi 25 ribu itu abis

untuk jajan sehari.”

Saya : (menghela napas panjang) "Ohh....

Ya sudah....saya naik dulu ya Pak!"

Aduuhhh...ternyata si Bapak bukan miskin materi (1,5 juta perbulan tanpa skill ! Bayangkan !), tapi miskin MENTAL !

Untung kereta yang saya tunggu sudah datang. Jadi saya tidak harus berlama-lama lagi bergondok ria!

Saya tak bisa men-generalisasi bahwa cerita nyata ini adalah juga cerita semua pengemis.

Tapi kalau cerita si Bapak di atas adalah juga cerita sebagian besar pengemis...maka alangkah bodohnya jika saya terus mendanai jajan mereka tiap hari untuk Aqua, teh botol, dan berbagai makanan yang bahkan tidak setiap hari bisa disantap oleh orang-orang yang memilih berHEMAT dan bekerja keras, daripada menghabiskan uang untuk hal-hal yang bisa dikendalikan.

Hemat dan kerja keras, merupakan dua kata yang mungkin tak pernah dikenal atau terlalu MALAS untuk dikerjakan oleh si pengemis.

*(judul bukunya Aa’ Gym)

1 comment:

dinantonia said...

waw, seriously? ive never heard bot this before! tapi emang ya, klo kita bersentuhan dengan dunia luar kita malah sering dpt unik2nya dunia... nggak seperti kalo melihat dunia dari kotak kaca dingin bernama mobil. hehe. kadang2 gw lbh sk nek angkot.
tapi sekarang ga plu k dpok lagi.
rini, aku lulus-lulus-lulus-lulus! :)

Stories inside my head

Share this blog