Saturday, January 20, 2007

GREEN CAMPUS ?

WORKSHOP dan PENCANANGAN “KAMPUS BERWAWASAN LINGKUNGAN”

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) mengadakan acara Workshop dan Pencanangan Green Campus, Kamis, 14 September 2006 di Plaza FISIP UI. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Research Days FISIP UI, 12-15 September 2006.

Dalam sambutannya, Dekan FISIP UI, Dr. Gumilar R. Soemantri menyatakan bahwa pencanangan FISIP UI sebagai Green Campus merupakan bagian dari corporate social responsibility dari FISIP UI. Walikota Depok, Dr. H. Nur Mahmudi Ismail, hadir memaparkan program Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu (SiPesat) yang sedang digalakkan di kota Depok. Setelah tahun lalu mendapat predikat sebagai kota terkotor di Indonesia, Nur Mahmudi mengajak warga Depok untuk bersama-sama mengolah sampah di tingkat lokal/ keluarga. “Selama ini orang berpikir bahwa pengelolaan sampah hanya bisa dilakukan di TPA. Padahal bisa dilakukan pengelolaan dari setiap keluarga produsen sampah itu sendiri,” katanya.

Sementara itu Sri Bebbasari dari Dana Mitra Lingkungan menyatakan pentingnya aspek hukum dalam pengelolaan sampah. Ia mencontohkan Jepang yang telah memiliki undang-undang sampah sejak 100 tahun yang lalu. Penyusunan undang-undang khusus tentang sampah dibahas oleh lebih dari 10 menteri negara. Hal ini membuktikan bahwa pada sampah melekat berbagai aspek budaya, sosial, teknologi dan hukum. “Indonesia itu seperti rumah dengan ruang tamu bintang lima, tapi tak punya WC yang memadai. Ini budaya kita, budaya pamer!” Sri Bebbasari menegaskan.

Dari kalangan akademisi, Dra.Shanty Novrianty, M.Si dari Departemen Sosiologi memaparkan tahapan-tahapan penyelesaian masalah sampah. Dimulai dengan melihat konstruksi sosial yang mendefinisikan rumusan masalah, kemudian dilakukan pemasaran sosial tentang masalah tersebut kepada masyarakat. Yang ketiga adalah contesting, berhubungan dengan agenda politik, memperjuangkan isu ini di tengah berbagai isu-isu lain.

Dari bidang media, Nia Soewardi dari JDFI, menyatakan bahwa orang tak akan mau melakukan suatu langkah nyata untuk pelestarian lingkungan jika tindakan itu tidak mendatangkan keuntungan untuknya sendiri. Karena itu Nia menekankan perlunya ada kompetisi yang memberikan insentif, seperti menggelar lomba Green & Clean yang penah diadakan JDFI.

Kepala Bappenas, Dr.Paskah Suzetta, MBA yang berhalangan hadir digantikan oleh Staf Ahli Bidang Teknologi dan Pembangunan Berkelanjutan. Dalam sambutan tertulisnya Paskah Suzetta menyatakan pentingnya penghematan energi dan minimalisir sampah mulai dari pihak industri sebagai produsen sampah pertama.

- Rini -

Klaim “FISIP UI Green Campus” di mata penulis

(it’s just an opinion, don’t take it for granted.he2)

Sebuah spanduk yang dipasang di dekat rektorat UI, bertuliskan : “Pemangkasan, Pemotongan dan Penebangan Pohon di Kampus merupakan Bagian dari Perawatan Pohon.”

Lalu saya berpikir, bagaimana bisa merawat jika pohonnya sudah ditebang? Karena kenyataannya dengan dalih keamanan, FISIP UI sendiri telah menebang puluhan pohon untuk kemudian lahannya dijadikan lapangan basket, gedung dosen, dan lapangan parkir.

Setelah terjadi pembunuhan dan pemerkosaan di UI beberapa waktu lalu, pohon-pohon di kampus ini memang telah dituduh menjadi “oknum” penyebab terjadinya kejahatan di kampus. Karena dianggap terlalu lebat, sebagian pohon ditebang. UI menempatkan sebuah pos keamanan di bekas tempat kejadian perkara. Tetapi hingga kini pos itu kosong, tanpa penjaga.

Dalam dua tahun terakhir ini FISIP UI sedang giat-giatnya membangun. Nyaris tak ada lahan kosong tersisa. Berjalan di lantai dasar gedung dosen serasa berada di sebuah selasar mall. Ada Restoran Korea, toko buku (yang harga bukunya selangit), toko IT, bahkan kabarnya akan ada tempat fitness Ade Rai (man!!). Sementara itu Research Days yang disponsori PT.Freeport Indonesia dan Bank Dunia ini sendiri diselenggarakan oleh dan di FISIP UI, tetapi sepertinya jauh dari jangkauan para mahasiswa. Stand buku-buku berjajar di lobi FISIP. Semua buku bagus. Tapi sebaiknya jangan banyak berharap karena akan segera kecewa melihat harga mimimal sebuah buku yang sama dengan uang kos sebulan.

Kapitalisasipendidikan,pendidikankapitalis…


No comments:

Stories inside my head

Share this blog