Thursday, November 4, 2010

Cuma Ada 2 Wilayah di Indonesia : Jawa dan Luar Jawa

Mungkin kata-kata jenakanya Pak Marzuki Alie tempo hari ada benarnya. Emang dasar nasib jadi orang yang tinggal di kepulauan, apalagi pulau pinggir seperti Mentawai. Sudah dari jaman Pak Harto sampai Pak Beye taraf hidup gitu-gitu aja, pas kena bencana mesti pasrah pula nunggu bantuan karena akses ke dan dari mana-mana susah. Saudara setanah air yang mau jadi relawan aja harus balik lagi karena nggak bisa mendarat di lokasi (tapi kok relawan dari luar negeri banyak yang sudah lama sampai ya?). Korban jiwa jauh lebih banyak di Mentawai, tapi malah Merapi yang diekspos sampai berepisode-episoden(regardless letusannya memang terjadi berhari-hari). 

Bukannya nggak bersimpati sama saudara-saudara yang di sekitar Merapi. Tapi sebenarnya nggak cuma pas bencana, saudara kita yang di “luar Jawa” itu dari lahir sepertinya ditakdirkan hidup lebih susah daripada yang kebetulan lahir di Jawa (kecuali Bali kali ye). Saat warga Jabodetabek ngomel karena kena pemadaman bergilir setengah hari(termasuk saya), teman-teman yang di Kalimantan, Sulawesi, apalagi Papua sudah biasa hidup tanpa listrik lebih dari 12 jam setiap harinya karena listriknya memang mati melulu.    


Taraf hidup relatif lebih rendah daripada di Jawa, tapi untuk beli ini itu mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak daripada penduduk Jawa. Lihat aja iklan produk mulai snack sampai majalah yang biasanya menerapkan 2 harga : harga untuk di Jawa & Bali, dan harga untuk di luar dua pulau itu.
Untuk produk baru, kadang juga ada tulisan : Untuk sementara hanya tersedia di Jawa & Bali. Bisa dipahami sih. Produsen nggak mau (atau males) keluar ongkos banyak untuk pengiriman ke luar Jawa, padahal daya beli di sana juga relatif lebih rendah dibanding penduduk Jawa.


Saya sendiri kalau kirim barang ke luar Jawa juga selalu was-was. Kasihan sama orang yang beli barang (dan menanggung ongkos kirimnya). Pernah saya kirim barang ke sebuah kabupaten di Kalimantan yang ongkos kirimnya 2kali lipat dari harga barangnya sendiri! Mahal pula’. Saya sampai bolak balik tanya apa dia yakin mau beli. Apaaa namanya kalau bukan nasib jadi penduduk negara kepulauan.



Nah, kalau pulau Jawa sendiri ternyata juga cuma punya 2 wilayah : Jakarta dan daerah. Kalau yang ini saya rasakan sendiri saat pertama kali masuk UI. Di hampir setiap kelas baru sering ditanya, “Siapa yang dari daerah?”
Paling kesal sih pas ada seorang teman baru yang begitu saya bilang kota asal saya langsung tanya : “Eh, Malang itu udah ada kendaraan sama mall ya? Kirain cuma ada gunung-gunung aja.”
Saya : melongo. Wondering how did he get through SPMB & dapet kursi di salah satu jurusan ilmu pengetahuan sosial di UI.

1 comment:

Sam Surya said...

Insight yang sangat bagus dan semakin membuka mata terhadap kenyataan hidup di Indonesia yang begitu senjang adanya. Mudah2an tulisan ini bisa jadi motivasi bagi kita untuk menjadikan Indonesia tempat hidup yang lebih ramah dan nyaman untuk semua kalangan :)

Share this blog