Wednesday, October 15, 2008

AKU BUKAN CINA !


“Waktu itu saya ikut pasukan berani mati. Bukan karena alasan ini itu. Semata-mata karena saya ingin negara Indonesia ini tetap ada!” kata Wang Zhongming.

Klenteng Eng An Kiong sudah berdiri sejak 1825, jauh sebelum gereja dan masjid pertama didirikan di Malang. Tapi baru beberapa hari lalu saya menjejakkan kaki di sana, mengikuti Om Eka dan Melanie Budianta, teman ayah yang akan mewawancarai beberapa warga keturunan Tionghoa di sana. Tak menyangka bahwa perjalanan iseng itu menjadi sebuah pengalaman yang memperkaya jiwa. Sebuah dunia lain yang bercerita bahwa harusnya tak ada lagi sebutan “pribumi” dan “keturunan.”

Wang Zhongming adalah seorang kakek keturunan Tionghoa kelahiran 1924 yang masih gagah berjalan dan lantang berbicara. Selain sang kakek, dalam ruangan ada juga beberapa bapak lain yang lebih muda, tapi yang jelas lebih sepuh dari ayah saya. Para pengikut Buddha ini bercerita tentang masa lalu. Tentang berhentinya kegiatan perkumpulan kesenian Ang Hien Hoo, tempat mereka bernanung, karena dituduh sebagai antek PKI.

Tahun 1965 memang masih dan akan selalu menjadi masa kelam dalam sejarah Indonesia. Berbicara tentang tahun itu ternyata memunculkan kemarahan, terlebih dari pelaku sejarah yang hidupnya saat itu benar-benar terancam. “Kamu orang sekarang, jangan pernah menebak apa yang terjadi saat itu!” hardik Wang Zhongming pada Pak Waluyo, yang mencoba menjelaskan tentang apa yang terjadi di 1965. Pak Waluyo lebih muda 20 tahun dari kakek Wang.

Seorang bapak lain yang jauh lebih muda bercerita tentang sejarah etnisnya di tanah Jawa. “Nenek moyang saya datang ke kepulauan ini tahun 1600. Memang saat itu sebagai orang asing. Tapi sebenarnya siapa sih yang bisa dibilang asli? Almarhum ayah saya semangat sekali mengajak orang-orang ikut main wayang orang dan liong. Dia juga mendalami kebatinan Jawa.” Matanya yang sipit mengerjap. Di akhir pertemuan, saya baru tahu ternyata namanya Pak Ragil (bahasa Jawa untuk bungsu).

Saat diajak berkeliling klenteng, saya takzim melihat betapa tempat itu lebih dari sekedar tempat ibadah. Ada balai pengobatan, pelayanan untuk lansia, pendidikan bahasa Mandarin, dan balai kesenian. Bahkan liong & say serta karawitan punya divisi sendiri dalam kepengurusan. Tempat pertemuannya begitu besar. Di situ untuk pertama kalinya saya melihat seperangkat gamelan paling megah dan paling lengkap yang pernah saya lihat! Semua itu dalam sebuah area klenteng.

Di hari yang sama kami beruntung boleh bertemu dengan saksi sejarah yang lain. Seorang nenek. Saya lupa namanya, tapi ingat betul tahun kelahirannya : 1913. Jadi usianya 95 tahun! Orang tertua yang pernah saya temui seumur hidup saya! Bagaimana rasanya hidup selama itu? Yang menakjubkan, ingatannya masih begitu kuat, berbicara dengan cukup lancar dan mendengar dengan baik. Sang nenek dulunya adalah pemain wayang orang. Saya sempat melihat foto salah satu pertunjukannya yang begitu sesak dipenuhi pengunjung. Beliau pasti sangat terkenal saat itu. Uniknya ketika ditanya berapa honor yang ia peroleh sekali pentas, sang nenek menjawab, “Ndak dibayar kok!” Bagaimana mungkin ia melakukan peran sesulit itu, dari kota ke kota, tanpa bayaran?
Pada bagian belakang foto tertulis tahun pertunjukan : 1962. Saat itu tak satu pun orang dalam foto itu yang tahu bahwa 3 tahun kemudian kesenian itu akan dilarang.

Ada juga sosok lain, Dani, yang adalah keturunan Tionghoa, “wakil” dari generasi muda. Dia baru menyelesaikan studi S2-nya di China, dikirim oleh pihak yayasan Eng An Kiong supaya kemudian ia bisa mengajar bahasa Mandarin. Disertasinya adalah tentang persepsi kaum muda Indonesia (keturunan Tionghoa) di China tentang keberadaan mereka dan rasa kebangsaan terhadap Indonesia. Dani bercerita bahwa bagaimanapun kaum muda keturunan menganggap tak ada lagi yang mereka sebut sebagai “tanah air” selain Indonesia. Jika seandainya ada perang antara Indonesia dengan China, mereka pasti akan memilih membela Indonesia. No doubt.

Saya jadi ingat atlet-atlet bulutangkis Indonesia yang kebanyakan juga merupakan warga keturunan Tionghoa.
Betapa berdosanya masih menyebut mereka sebagai warga “keturunan,” dan kamilah “yang asli.” Hanya karena budaya dan ciri-ciri fisik mereka berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan. Perkara sepak terjang di dunia bisnis, apa pula masalahnya jika kita mau belajar dari mereka?

Nama jawa, karawitan, wayang orang, pasukan berani mati, bulutangkis... lama kelamaan saya bertanya-tanya...sebenarnya siapa yang lebih Indonesia di antara kami?

2 comments:

Catur Ratna Wulandari said...

Mereka tercabut dari akarnya sendiri...
Kamu benar, sebenernya siapa siy yang orang asli Indonesia?

Kurindukan hari dimana tak ada lagi sekat yang menempatkan tiap-tiap orang di dalamnya. Tak hanya sekat, mereka memberikan label di di tiap jidat penghuninya...
Tidak manusiawi...

Perbedaan selalu menjadi pisau tajam yang mencerai-beraikan...
Seharusnya dia bisa menjadi perekat yang mempersatukan...

Ahmad Subhan said...

Saya pernah menjadi pembenci keturunan Cina. Kira-kira sewaktu saya berusia sekolah SMP. Padahal, waktu saya SD di Bangka, saya punya teman akrab yang keturunan Cina. Di Bangka, keturunan Cina memang cukup inklusif. Bahkan saya dengar, ketika kerusuhan 98, Bangka adalah salah satu tujuan "pengungsian" mereka, selain Singapura.

Entah kenapa, kebencian itu ada pada saya. Mungkin karena saya terlalu sering mendengar omongan bahwa Cina itu adalah (maaf) parasit, dll.

Tapi sekarang saya menganggap masa itu adalah lembaran hitam dalam hidup saya :-)

Perubahan drastis pandangan saya pada mereka terjadi setelah saya membaca "Anak Semua Bangsa", dimana Pram bercerita tentang Khouw Ah Soe dan Ang San Mei. Bahkan novel itu sempat bikin saya kepingin punya pacar yang keturunan Cina...hahaha...dasar philogynik.

Share this blog