Friday, September 26, 2008

SIMBOL dan TAWA


Saya kristen. Tapi hampir tak pernah memakai aksesoris apapun berbentuk salib atau bergambar sosok tertentu. Semata-mata karena tidak ingin mengecilkan arti seorang kristen. Toh sebuah simbol yang bertujuan menyampaikan pesan tertentu akan segera kehilangan makna ketika si penyampai pesan berperilaku berlawanan dengan isi pesan. Mafia dan pemadat juga memakai kalung salib. Mungkin agar terlihat keren. Mungkin juga memang di KTP mereka tertulis kristen atau katolik. Terserah mereka lah.
Selain itu, tidak seperti orang suku lain yang dengan mudah bisa diidentifikasi dari nama marga atau ciri-ciri fisiknya, orang sering salah menebak saya dari suku apa. Biasanya yang paling sering disebut adalah Indonesia timur. Tak apa juga kan kalau mereka berpikir begitu.

Orang tak pernah benar-benar tahu siapa saya sebelum mereka bertanya sendiri.
(maka orang tak pernah berhak menghakimi siapapun sebelum benar-benar mendekat dan berdialog).

Agustus lalu saya mengikuti sebuah kegiatan anak muda di Jawa Tengah. Setelah saling mengenal, dengan segera saya akrab dengan seorang pria yang ternyata mahasiswa jurusan Tafsir Quran. Saya katakan “ternyata” karena ia sama sekali tidak menampakkan atribut-atribut tertentu seperti layaknya orang yang fokus mempelajari ajaran agama. Awalnya saya ketakutan ketika dia bertanya, “Mbak nasrani ya?” Tetapi ternyata kekhawatiran saya sama sekali tidak beralasan.
Pembicaraan-pembicaraan panjang terjadi. Tentang apapun. Keyakinan, keluarga, Tuhan, tradisi, negara. Saling memperkaya, dan tanpa tendensi. Sesekali saya ikut mendengarkan lantunan ayat Qur’an dari MP3-nya, meski tak mengerti artinya. Dengarkan saja kata dia.

Sampailah rangkaian kegiatan pada hari Jumat. Hari pendek. Hari ibadah.
Yang muslim sholat Jumat, dan yang kristen persekutuan doa bersama.
Saat berkumpul, seorang teman kristen yang tak menduga keyakinan saya sama dengannya, kaget melihat saya ikut bergabung. “Oh, Mbak Kristen?” katanya.
Saya hanya tersenyum.

Menjelang selesai acara, ahli tafsir yang kemudian menjadi sahabat baru saya itu bercerita :
“Tadi ada teman yang nyangka aku bukan muslim lho! Karena kita sering keliatan ngobrol bareng, dia pikir aku juga kristen.”
“Oya?!” kata saya. Lucu juga. Teman lain juga berpikir demikian tentang saya.

Dan kami tertawa.

Laughter ... the shortest distance between two people.

Ketika orang-orang yang sebenarnya sangat jauh berbeda latar belakang bisa berbagi dan tertawa bersama... saya pikir berita-berita di televisi tak akan riuh dengan pertengkaran antarkelompok manusia.

1 comment:

Mallikarjuna said...

hey r u in this photo clip?

Share this blog