Thursday, July 10, 2008

PUNK di MAMPANK

Saya selalu waswas setiap kali bus yang saya tumpangi memasuki Jalan Mampang. Pastinya karena jalan ini adalah rajanya macet (sebelum memasuki Kuningan yang maha macet juga). Akhir-akhir ini rasa waswas saya bertambah karena kehadiran gerombolan pengamen jadi-jadian yang dengan lincah berpindah dari bus ke bus.

Saya sebut pengamen jadi-jadian karena pengamen jenis ini akan membuat penumpang ketakutan saat mendengar mereka berteriak...eh...menyanyi. Apalagi jika ada penumpang yang tidak memasukkan uang ke dalam kantong yang mereka edarkan setelah mereka (merasa) menghibur orang yang (terpaksa) mendengarkan mereka bernyanyi.

Bagaimana tidak ketakutan. Jika biasanya pengamen hanya bernyanyi sendirian atau berdua, para pengamen jadi-jadian ini berjumlah tiga hingga empat orang. Bukan karena beragamnya alat musik yang mereka mainkan. Tak ada alat musik. Hanya tepukan tangan untuk memberi irama pada nyanyian.

Biasanya mereka akan memasuki bus dari dua pintu bus yang berbeda secara bersamaan. Dua orang dari pintu belakang, dan dua lagi dari pintu depan. Sehingga penumpang merasa seperti disandera!

Begitu mereka masuk, semua penumpang akan diliputi rasa mencekam (setidaknya saya). Para “pengamen” ini mengenakan kaos dan celana hitam dengan model skinny yang pas di badan. Dengan dandanan dan aksesoris yang tak pernah saya bayangkan bisa dikenakan. Anting di telinga, bibir, lidah, hidung. Rantai-rantai, ikat pinggang mencolok, rambut acak-acakan. Dan yang paling mengganggu (maaf)...bau tidak sedap yang menyengat.

Lalu mereka bernyanyi...sepertinya lagu yang sama karena saya mulai hapal liriknya. Lagu itu berisi kemarahan mereka pada pemerintah yang mereka nilai telah membuat rakyat sengsara. Reff-nya begini : “Salah siapa? Pemerintah! Yang rugi...rakyatnya!” (dinyanyikan dengan amarah membara dan suara yang sangat lantang saat mengucapkan kata “pemerintah”).

Kemudian tibalah saat paling mencekam. Pengedaran kantong dari depan ke belakang untuk diisi uang. Entah karena ketakutan atau apa, hampir semua memberi. Seorang penumpang yang enggan atau mungkin tak punya uang diam saja ketika disodori kantong. Si pengamen jadi-jadian yang bertugas menyodorkan kantong itu tiba-tiba kalap dan berteriak “Hargailah suara kami!!”

Saya yang berada di belakangnya tersentak. Menurunkan earphone yang sedang saya kenakan (khawatir dibilang tidak menghargai juga), dan merogoh saku mencari uang receh. Tadinya saya tidak mau memberi uang pada orang-orang yang membuat perjalanan saya semakin suram. Tapi saat itu saya membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi jika saya tidak memberikan uang.

Setelah keempat pengamen jadi-jadian itu turun dari bus, semua penumpang menarik napas lega. Seorang anak SMP yang duduk di sebelah saya berkata pada temannya,”Gila. Serem abis! Ngapain sih mereka maksa gitu?”

Saya juga mempertanyakan hal yang sama sambil memandang para “pengamen” itu menaiki bus lain.

No comments:

Share this blog