Friday, September 3, 2010

My Pregnancy Journal (The Truth Part) : Something was Wrong

A Confession before The Baby’s Coming Out

Sepertinya ada yang salah (setidaknya menurut saya). Orang menghabiskan waktu berbulan-bulan dan uang puluhan, bahkan ratusan juta rupiah untuk menyelenggarakan sebuah acara bernama pesta pernikahan – yang umumnya hanya berlangsung satu – dua hari.

Tapi berapa lama dan berapa besar dana (juga mental dan pengetahuan) yang dipersiapkan untuk menyambut kelahiran seorang bayi yang akan menjadi tanggung jawab seumur hidup? Seadanya. Sekedarnya. Semampunya. Nanti-nanti saja, nunggu Tuhan yang ngasih. Masih banyak waktu.

Well-prepared

Saya adalah orang yang akan dengan tulus mengucapkan selamat pada teman-teman yang sudah menikah beberapa lama tapi belum punya anak. Entah karena menunda atau menunggu. I’d say, “Hey, good for you! Kalian masih punya waktu untuk mempersiapkan semuanya!” (meski biasanya akan dibalas dengan tatapan “ah, orang ini hanya mencoba menghibur” atau “kamu kan sudah akan punya bayi. tak mungkin mengerti perasaan kami”).

Tapi sungguh, saya sangat mendukung pasangan yang memutuskan menunda kehamilan karena berbagai alasan (yang positif). Menurut saya itu sama sekali bukan berarti menolak pemberian Tuhan (berupa anak). Justru karena menganggap bahwa ini adalah peristiwa mahapenting, jadi kedatangan seorang manusia – titipan Allah –seharusnya memang  dipersiapkan dengan matang (well, tapi dengan bodohnya kami tidak ber-KB sejak awal karena mengira si bayi masih lama datang).

That’s why, our “we’re gonna have a baby" moment was so unlike what you usually saw in common dramas. Tidak ada teriakan gembira, air mata bahagia, sujud syukur, atau juga lompatan sorak sorai. Yang ada adalah wajah pucat saya dan tatapan kosong suami memandangi testpack yang menunjukkan dua garis merah.

Kami baru menikah beberapa minggu, dan kebetulan adalah tipe orang yang merencanakan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Sejujurnya, kata “bayi” sama sekali belum tertulis dalam rencana jangka pendek kami. Momen testpack  itu datang saat kami sedang gencar-gencarnya ke sana kemari mensurvey harga rumah dan menghitung berapa penghasilan ideal yang harus kami capai agar semua kebutuhan dasar bisa terpenuhi dengan baik. Dalam otak kami, urutannya adalah : 1. Rumah - 2. Mobil (karena tak ingin membawa bayi kami di atas roda dua - di bawah terik matahari Jakarta, atau berjejalan dalam kendaraan umum)  - 3. Anak. Kami hanya ingin si bayi datang ketika semua yang ia butuhkan sudah siap.

Ternyata bayi kami mau ada di urutan pertama.

Dan dimulailah masa-masa penuh emosi negatif,  yang secara tidak adil selalu saya tumpahkan pada suami saya. Apalagi beberapa bulan kemudian pernikahan kami masih akan dirayakan lagi di kota asal suami dengan jumlah undangan, dan tentunya budget yang konon tiga kali lebih besar daripada saat pernikahan kami di Malang. Oh pleeaasseee… itu jumlah dana yang sama dengan yang dibutuhkan untuk pendidikan anak kami minimal dalam dua-tiga tahun pertama. Kami tidak menyalahkan budaya ataupun orangtua di Sumatra yang memilih menyelenggarakan acara itu. Hanya saja jika anak kami menikah nanti, kami pasti akan mengambil jalan yang berbeda dari mereka.

Grew-up

But everything happened for a reason. Ternyata dalam rentang waktu sembilan bulan ini, bukan cuma bayi kami yang tumbuh dan membuat perut saya semakin besar. Kami juga bertumbuh. Sepanjang hidup saya, ini adalah masa saat saya dipaksa belajar banyak hal yang tak mungkin bisa dipelajari dalam keadaan senang dan tenang, tapi harus dalam situasi (yang tampaknya) buruk dan tidak menyenangkan. Ada saat-saat saya dan suami saya berpelukan dan menangis. Saling minta maaf telah melontarkan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan. Di saat lain kami menangis karena baru menyadari bahwa kami terlalu banyak mengeluh padahal tak terhitung hal yang harus disyukuri.

My eyes were burst into tears saat dokter pertama kali memperdengarkan musik paling indah yang pernah ada : suara detak jantung bayi kami. Ada dua jantung berdetak dalam tubuh saya. Ada sebuah kehidupan yang tak mungkin salah tempat. Bagaimanapun, kehidupan kecil itu tidak bersalah karena didatangkan lebih awal dari perencanaan egois kami.  Tuhan memilih kami dan memilih sekarang untuk membawa ciptaan-Nya yang satu itu ke dunia. That’s the very first  moment I embrace the child in our life.

These last weeks, setiap hari kami bertanya pada si bayi dalam perut : “Kapan kamu keluar, Nak… Semua sudah siap…” Dan seperti biasa dia hanya menggerakkan kakinya ke kanan kiri, memaksa kami belajar lagi untuk sabar, dan menyadari bahwa ada waktu yang tepat untuk setiap peristiwa yang ada di luar kendali kami. Tidak selalu sesuai rencana kami, tapi selalu yang terbaik. 


2 comments:

Aar said...

Lucia,
Tulisannya bagus sekali. Jujur dan mengalir. Saya suka membacanya.. :)

Lucia Priandarini said...

Wah terimakasih Pak Aar. Terutama karena sudah menyempatkan diri mampir ke blog saya. Saya memang tipe orang yang bisa lebih jujur pada layar laptop daripada pada (sembarang)orang. hehe. Salam buat keluarga ya Pak :-)

Share this blog