Friday, March 2, 2012

Indonesia Bagian Kiri

View from the top 


Saat berada di Maumere, seorang teman wartawan menceritakan celetukan seorang warga Papua - yang menurut saya pasti isi hatinya tidak jauh berbeda dengan warga Flores : "Saya ingin bertanya. Mengapa Garuda itu selalu menoleh ke kanan? Ke Jawa, ke Jakarta. Tidak bisakah sekali-sekali ia menoleh ke kiri, memikirkan nasib kami warga Indonesia timur ini?" :(

Bandara Frans Seda. Tragedi tas saya yang jebol - tanpa kompensasi


Tidak hanya pemerintah, disadari atau tidak, kita sendiri enggan menoleh, apalagi bertandang ke Indonesia bagian kiri. Perlu 2 - 3 kali transit dari Jakarta untuk bisa sampai ke tanah Flores, dengan mempersiapkan nominal yang mungkin sama dengan berlibur 2 -3 kali ke Singapura atau Bangkok. Ditambah, harus siap bersahabat dengan listrik (dan air) yang kadang antara ada dan tidak, dan juga sarana dan layanan seadanya.


 "Sebuah rumah itu belum lengkap tanpa babi," kata Ryan, LO kami di Maumere. Di Flores, babi diternakkan sebagai harta yang punya nilai tukar tinggi. Saya duga, babi-babi ini juga hidup makmur. Dugaan itu terkonfirmasi setelah Ryan menambahkan, "Kami hanya makan buah segar, langsung dipetik dari pohon. Kalau sudah jatuh ke tanah, kasih ke babi saja!" :)


Kami - yang datang dari Jakarta - selalu berteriak heboh setiap aneka olahan ikan khas Flores sampai di meja kami. Apalagi yang disajikan bersama ALPUKAT. 
Di saat seperti itu, teman-teman Flores akan memandangi kami dengan heran & berkata, "Kasihan ya orang Jakarta. Tidak pernah makan ikan segar." 





Warga Flores - setidaknya Maumere - punya minuman fermentasi sendiri serupa arak Bali. Namanya MOKE. Cara penyulingannya seperti di gambar di samping.
Mereka membawa moke saat bekerja - misalnya di ladang, sebagai penambah tenaga (katanya). 
Saat mencobanya pertama kali, saya menyimpulkan bahwa itu minuman alkohol terenak dan paling bersahabat yang pernah saya minum. Tapi, saat saya mencobanya lagi di sebuah akhir pekan, saya merevisi kesimpulan itu. Rasanya jauh lebih keras. "Moke yang beredar di malam minggu selalu adalah moke kualitas terbaik," sahut seorang teman Flores, terkekeh, saat saya komplain. 


Kain tenun Flores (yang terkenal dari Sikka) ini dijual terlalu murah! Setelah mewarnainya selama berbulan-bulan, dan menenunnya berminggu-minggu, mereka hanya menjualnya seharga seratus ribu rupiah! (seukuran taplak meja makan yang panjang).
Belum ada pusat penjualan kain tenun yang layak dan terorganisir. Saat saya datang ke Sikka, mama-mama penenun itu menjual kain mereka di DEPAN RUMAH mereka. Menanti turis datang. LSM yang membeli kain mereka untuk dijual kembali ke luar negeri, membelinya dengan harga yang tidak sepadan dengan jerih payah mereka.  
 



Tidak ingin berpisah jauh dengan kerabat yang sudah meninggal, warga Flores menempatkan makam leluhur mereka di depan/ samping rumah.



Seperti di belahan Indonesia lain, di Flores, sehari-hari mama-mama tua mengunyah  sirih dan pinang


MUSIK. Warga Flores tak bisa hidup tanpa musik (dan menari). Kendaraan umum (mikrolet) di Maumere - dan di sebagian besar kota memutar musik dengan suara kencang, menciptakan dentuman-dentuman yang memekakan telinga. 

Jual ikan pun harus sambil mendengarkan musik!


Gereja tertua di Kabupaten Sikka, sekaligus tertua di Flores. Didirikan Portugis pada 1889


Nasi merah organik di Flores justru lebih murah dibanding nasi putih. Mereka menanamnya sendiri di pekarangan rumah. 



Mana yang pertama dipegang? Selanjutnya? Lalu yang mana lagi? :)












It's called naive fashion :)












Wanita Flores & kain-kain cantiknya



Tenun lintas generasi :).
Diperlukan kerjasama dua orang untuk menenun sehelai sarung.
Greenland-nya Indonesia :)

No comments:

Share this blog