Saturday, October 7, 2017

Salah Satu, Benar Sembilan


Sabtu pagi, saya mendapati diri berdiri tak sabar di depan kasir minimarket yang antriannya tersendat. Seorang pembeli yang sedang bertransaksi ternyata sedang berbincang ringan dengan penjaga kasir. Dari obrolannya saya tahu mereka tidak saling kenal.

"Anak saya juga minum ini. Bagus kok, Bu," kata Mbak Kasir sambil memasukkan sebotol multivitamin ke kantong. Kemudian Si Pembeli menimpali. Bolak  balik begitu beberapa lama. What the…

Sedetik saya berpikir untuk segera jadi tokoh antagonis dengan menyela obrolan mereka dan berkata bahwa Mbak Kasir tidak profesional, membiarkan pembeli lain menunggu untuk hal enggak penting. Tetapi saya lihat dua orang di antrian depan saya santai-santai saja. Malah sepertinya berniat ikut ngobrol.

Seketika saya sadar, oh ya, ini bukan di Jakarta yang berpacu (tidak) dalam melodi. Saya sedang di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Bahkan ekspedisi/kargo cuma punya jadwal seminggu sekali untuk mengantar barang kemari. 

Meski tentu jangan sampai semua petugas kasir dan pembeli ngobrol akrab seperti di kafe, after all mereka hanya sekedar manusia yang saling bicara. Hal yang seharusnya paling normal dan alami.


Saya enggak akan bilang hal klise seperti hidup di kota kecil/desa lebih bernilai ketimbang di kota besar. Enggak. Momen di atas cuma mengingatkan bahwa yang kita anggap paling salah bisa jadi benar atau punya sisi benar. Dua tahun terakhir saya makin sadar, semua hal di sekitar kita itu enggak harus terjadi seperti rancangan skenario atau nilai benar dan salah di kepala kita atau yang dibilang banyak orang. 


Sebaliknya, kalau ada teman yang tanya, “Kok betah sih di Jakarta?” Saya malah bingung mau jawab apa. Emang apa yang bikin enggak betah? Karena terbiasa (ataupun pasrah), lama-lama saya bisa-bisa saja  berkontemplasi saat berjejalan dalam commuter line, atau diam santai di tengah macet, meleburkan kerumitan isi kepala dengan semrawutnya tata kota. Toh semua teman baik dan kejutan yang bisa diterima dan ciptakan di kota itu (seperti juga di semua tempat) selalu membuat saya ingin kembali.

Di sisi lain, hidup di kota kecil juga tidak lantas membuat hidup yang kita jalani juga serba kecil. Masa dari lahir sampai mati tinggal di kota kecil yang sama? Sekolah, kuliah, kerja di tempat yang ga jauh dari rumah, terus nikah, tinggal di kota itu juga?

Kalau iya emang kenapa?

Orang bisa merantau, tapi enggak harus. Enggak perlu dibikin harus dan yang tidak melakukannya bukan berarti enggak bisa. Ada yang enggak mau. Ada yang setelah merantau tanpa ragu kembali ke kampung halaman atau bahkan menetap di tempat yang lebih terpencil padahal tahu persis secara finansial mereka lebih terjamin di kota besar/negara lain (yang ini bukan saya). Orang yang merantau pun pada satu titik akan tiba pada kenyataan bahwa orang tua mungkin membutuhkannya pulang di hari tua. 

Sebaliknya, ada juga sahabat yang ingin terus tinggal di luar negeri, enggak balik-balik ke Indonesia. Alasannya sesederhana karena jengah ditanya kapan nikah dan merasa tanah orang itu lebih terasa “rumah” daripada tanah kelahirannya. Kalau diceritakan ke orang lain, mungkin dia bakal kena pidato soal nasionalisme dan sejenisnya. Ya kalau saya sih…

Semakin berumur, tanpa sadar doa dan impian kita (setidaknya saya) semakin sederhana. Karena yang paling sederhana sekalipun kadang sudah terlalu rumit dicapai. Seperti bisa jemput anak sekolah atau nyiram kembang di halaman jam 4 sore itu bisa jadi cuma impian buat pekerja kantoran yang tiap hari baru bisa menggapai gagang pintu rumah jam 9 malam.

Tempo hari seorang teman baik dengan santai bilang, "Aku belum kebayang tuh beli rumah." Usianya kepala tiga seperti saya, belum nikah. Tapi 8 tahun terakhir dia mengerjakan hal yang selalu ingin saya kerjakan tapi belum berani: punya usaha yang dia sukai yang bisa menghidupi banyak orang.   

Dan seketika saya merasa (semakin) iri sama dia yang enggak terganggu ujaran motivator dan para pakar finansial. Tidak terusik pada ide bahwa hidup itu baru akan terasa lengkap setelah nikah, punya rumah, atau baru aman setelah punya simpanan dengan nominal sekian di bank.

Lebih senang lagi saat tahu tiap anggota keluarga si Teman ini punya usaha/brand sendiri yang dikerjakan di tempat yang sama, enggak jauh dari rumah. Dan mereka tinggal di rumah yang bahkan juga digunakan mendatangkan uang, sekaligus teman baru. They’re stick together in happiness and storm, dengan yang ada, enggak sibuk cari atau pergi ke mana-mana.

That's exactly how I'm going to teach my son. Penting untuk mengajar diri bertahan di tanah orang, tapi juga penting untuk survive di mana kita berada. 

Pada akhirnya enggak ada satu rumus yang harus ditempuh untuk jadi “sukses.” Orang tidak harus ngantor, tidak harus S2 di luar negeri, enggak harus nikah sebelum 35 (dan bahkan enggak harus nikah). Enggak harus tinggal di rumah sendiri setelah nikah. Pun juga enggak harus terus tinggal sama-sama kalau sendiri bisa jadi lebih baik.

Kadang untuk sekedar menerima dan bahagia di tengah semua keharusan ataupun ketidakharusan saja sudah cukup pelik. 


Kalau hidup itu ibarat tes tulis di atas kertas, buat saya tiap orang tuh dapat daftar pertanyaan beda-beda. Soalnya enggak diacak, tapi sudah dipilihkan khusus buat masing-masing. Percuma nyontek kanan kiri ikut jawaban orang. Yang ada malah kita akan nulis jawaban yang salah untuk pertanyaan yang bahkan enggak kita baca.

Dan kalau pun jawaban kita salah meski sudah mikir dan merencanakan mati-matian, masih ada soal lain, ada remidial, ada tes lain. Lagipula, katanya kan kalau di sekolah kita belajar dulu baru ujian. Tapi dalam hidup,  ujian (salah) dulu, baru belajar. 






2 comments:

Yhosie said...

compare to my blog .. this is the real blogger :D
hahahhaa
miss this spot a lot ^_^

Mungkin temen kamu bukan tidak kepikiran untuk beli rumah , tapi masing2 kita punya prioritas di atas prioritas ...
for now ..

enggak sibuk cari dan pergi kemana2 ?
well , there were time when we keep looking for other options ..
but maybe ... maybe .. He put us back where we supposed to be .
or maybe we were just give up ?? hahhaha #excuse
Kita hanya bisa berencana , tp tetap Tuhan yang punya wewenang :D

Lucia Priandarini said...

Temen kamu yg mana ya. Haha. Iya benerrr. Pengen usaha juga tapi kayaknya baru akan fokus setelah prioritas lain. Prioritas yg kadang jadi excuse juga. Zzz. Aku yakin Tuhan juga yang kasih banyak pilihan. Kita dikasih akal&hati buat milih. Semoga tiap keputusan bisa yg paling bermanfaat aja. Kalau engga ya cari jalan lagi :D. Makasih udah mampir ya Mbak Ci. I Love u :p

Share this blog