Friday, July 3, 2015

The Job That I'm (Not) Proud Of

If your job is not your career (said career coach Rene Suhardono), then what kind of job that will support your career? And what career do you choose? Do you proud of it?

Sejak awal saya tahu cita-cita saya bukan jadi pekerja kantoran. It’s just not the life that I’ve been imagined. Buat saya, hal paling berharga yang dimiliki tiap manusia adalah waktu. Dan meski bekerja adalah untuk mencari penghidupan, tapi menyerahkan waktu 8 jam (minimal) tiap hari, plus 2x2 jam perjalanan (kalau kerja di Jakarta) untuk pekerjaan adalah hal yang berlebihan. TAPI…apa boleh buat, kondisi keuangan freelancer yang serupa sinyal HP di pedalaman membuat saya mesti ikut berdesakan juga di kereta dan jalanan tiap hari demi ngantor.  

Kantor demi Kantor
Kantor pertama saya adalah majalah gaya hidup untuk wanita. Aktivitas menulis dan mewawancara orang, di manapun, selalu menyenangkan dan menjadikan kaya. Tapi terlepas dari usia si majalah yang sudah 42, kesenangan menulis tetap akan terkalahkan dengan manajemen dan sistem kerja (dan atasan!) yang buruk. Ada perbedaan besar antara media sebagai lembaga independen dan media sebagai korporasi (sama seperti perbedaan antara informasi dengan pengetahuan). Kantor tanpa visi, passion, apalagi idealisme (meski masih ada ratusan ribu pelanggan yang setia membacanya), membuat saya berhenti dengan mudah.

Kantor kedua…masih di majalah wanita lain (katanya pekerjaan tetap pertamamu akan menentukan perjalanan kariermu selanjutnya). Saya bisa bilang majalah yang juga sudah berusia 40-an ini adalah sekolah menulis dan mungkin juga sekolah hidup terbaik. Idealisme dan gaya tulisan dianggap penting. Dengan manajemen dan suasana kerja yang menyenangkan (meski banyak event), saya bisa bertahan lebih lama. Tapi…persoalan bekerja di semua media tetap sama: waktu. Saya harus menjual hampir seluruh waktu saya, nyaris tanpa sisa. Tidak ada waktu untuk mengejarkan mimpi dan rencana-rencana kecil (tapi sebenarnya besar).

What Do You Really Really Want?
Butuh bertahun-tahun hingga saya tiba pada titik kesadaran saat saya menanyakan pertanyaan yang membunyikan gong besar di kepala: What you really really want in life? Impian saya tentang hidup sebenarnya terdiri dari rangkaian kegiatan sederhana sehari-hari: menyiapkan bekal sekolah anak, mengetik dari sisi jendela rumah, menjalankan usaha yang tidak harus besar- tapi punya dampak signifikan, merapikan buku di rak dan alas tempat anak-anak taman baca duduk membaca, dan yang pasti berkata ya saat ibu saya minta diantar ke pasar. Oh, plus sesekali jalan-jalan untuk volunteer dan mengumpulkan bahan tulisan. Sesederhana, tapi juga serumit itu.

Rumit karena untuk menjalani hidup “mewah” seperti itu, saya juga harus punya uang sendiri untuk hidup dan menghidupi keluarga. Maka, kejujuran dan keberanian untuk bermimpi besar pastilah harus diiringi kejujuran pada kemampuan dan kebutuhan sendiri.

Oleh karenanya, saya mau sebuah pekerjaan dengan jam kerja tetap dan pasti: delapan jam sehari (dan itu bukan di media). Datang jam 8, pulang jam 17. Sabtu Minggu, ngga kerja. Saya bisa memastikan untuk berkata ya pada acara keluarga ataupun kegiatan volunteer. Tidak perlu pekerjaan level manajerial (meski gajinya lebih tinggi). Penulis saja, asal saya punya waktu dan masih ada tenaga serta ruang pikir sebagai bahan bakar mimpi saya sendiri. Anehnya, semua kebutuhan itu terpenuhi di tempat kerja terakhir saya. Saya bahkan bisa menentukan waktu sendiri. Mau pulang jam 4? Datanglah jam 7 pagi. Mau izin untuk mengantar anak yang sakit ke dokter? Bisa datang siang atau tukar hari kerja.

Pekerjaan yang ini jauh dari hingar bingar sorotan kamera khas media, tidak ada undangan pertunjukan seni, liputan jalan-jalan ke luar kota/negeri, tidak ada kesempatan bertemu tokoh. Sayang? Mungkin iya. Tapi toh semua hal itu – di era ini – bisa dilakukan oleh siapapun. Tidak mudah, tapi bisa. Dan saya ngga begitu peduli sih. Membeli kembali waktu untuk bersama keluarga dan menjalankan mimpi-mimpi pribadi bagi saya jauh lebih penting daripada mengikuti arus cepat tapi mungkin tak berarah. Direction is more important than speed. Many are going nowhere fast.

Pada akhirnya, pekerjaan paling sempurna barangkali adalah pekerjaan yang dapat kita desain sendiri, apalagi kalau periuk nasi kita sudah tidak tergantung pada atasan – tapi milik sendiri. Tapi jika masa itu belum dapat diraih, setidaknya pilih pekerjaan yang sesuai kebutuhan. Sesuai kebutuhan. Sesuai kebutuhan, dan keinginan.

Bulan lalu, seorang teman saya bilang, “Ini saatnya kamu ‘lebaran.’ Idealisme bertemu  terpenuhinya kebutuhan finansial.” Benar juga. Bulan ini saya akan pindah ke Malang. Alasan utama adalah untuk bersama orangtua saya yang kini berusia 72. Selain itu, semua mimpi besar kecil saya bisa dicapai dari mana pun. Sesederhana itu. Sesederhana waktu yang tidak bisa kita beli. Pekerjaan saya? Syukurlah bos saya yang sedikit gila (baca: sangat pintar), mengizinkan saya untuk bekerja dari Malang (atau tempat manapun). Titik ini, sesederhana, tapi juga serumit itu untuk dicapai.


What you really want in life? To be happy! :)



7 comments:

Dina Rahmawati said...

Selamat kembali ke Malang Rini! Smoga hepi lahir batin.. :D

mythink said...
This comment has been removed by the author.
tirahasna said...

Selamat lebaran mba Rini, semoga mimpi-mimpi sesederhana apapun itu bisa tecapai. Rencana baik insha allah akan dikabulkan. Semoga kalau ke Malang bisa mampir :)

Lucia Priandarini said...

Makasihhh Tira& Dina! sukses & bahagia selalu di manapun :)

Ririn Sjafriani said...

aamiin. Semoga tercapai semua mimpimu ya, rin. But, sure gonna miss your presence in our office *pelukkkkk*

Ragil Angga said...

Selamat datang mbak rini

BPN TANGSEL said...

saya coba nelpon ,,, masa judes sih, gimana jagain anak yang rewel atau agak nakal ihh serem

Share this blog